Home / Travel / Menjelajahi Kota Hagi di Yamaguchi: Kota Kastil Klan Mori

Menjelajahi Kota Hagi di Yamaguchi: Kota Kastil Klan Mori

Mist Over the City of Hagi

Salah satu babak dalam sejarah Jepang yang selalu menarik untuk disimak adalah runtuhnya hegemoni Keshogunan Tokugawa pada pertengahan tahun 1800-an. Era yang kini dikenal sebagai Bakumatsu ini menyimpan begitu banyak peristiwa penting. Bagi para penggiat sejarah Jepang, Klan Mori merupakan salah satu tokoh kunci pada masa tersebut. Hingga hari ini, Anda masih dapat menelusuri bekas basis utama mereka di Hagi, yang terletak di pesisir Laut Jepang di Prefektur Yamaguchi. Wilayah ini menawarkan keseimbangan yang sempurna antara nilai budaya yang mendalam dan pesona pedesaan yang menawan.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai daya tarik Hagi, penting untuk memahami latar belakang Klan Mori agar Anda dapat mengapresiasi kota ini sepenuhnya. Klan Mori awalnya meraih kejayaan pada periode Sengoku (1467-1603) sebagai salah satu keluarga samurai paling berkuasa di Jepang bagian barat. Mereka menguasai sebagian besar wilayah tersebut dan berperan penting dalam mendukung penyatuan Jepang di bawah kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi. Namun, setelah kekalahan telak dalam Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600, sebagian besar wilayah kekuasaan mereka dicabut oleh Keshogunan Tokugawa yang keluar sebagai pemenang. Mereka dipaksa pindah ke domain Hagi yang jauh lebih kecil di Prefektur Yamaguchi.

Konon, penguasa Klan Mori tidak pernah melupakan kekalahan tersebut dan menyimpan dendam terhadap Keshogunan Tokugawa selama berabad-abad. Bahkan, para pemimpin Klan Mori memiliki kebiasaan unik tidur dengan kaki mengarah ke Edo (Tokyo modern) sebagai bentuk pembangkangan terang-terangan. Rasa benci ini akhirnya berujung pada aksi nyata pada masa Bakumatsu, di mana Klan Mori memegang peranan penting dalam gerakan untuk menggulingkan keshogunan. Bersama domain-domain kuat lainnya, mereka membentuk Aliansi Satcho yang secara aktif menentang aturan Tokugawa. Pada akhirnya, kekuatan gabungan mereka memberikan dukungan militer dan politik yang krusial bagi pasukan kekaisaran, yang berujung pada kejatuhan keshogunan dan restorasi kekuasaan kepada Kaisar pada tahun 1868.

Meskipun kota kastil di tepi laut ini terkenal karena perannya dalam mengakhiri periode Edo (1603–1868), Hagi sebenarnya jauh lebih populer berkat keramiknya. Dikenal dalam bahasa Jepang sebagai Hagi-yaki, gaya keramik ini terkenal akan keindahan yang sederhana serta warna-warna bumi yang lembut. Hagi-yaki berawal pada awal abad ke-17, ketika para pembuat tembikar asal Korea yang dibawa ke Jepang setelah invasi Korea memperkenalkan teknik mereka. Ditandai dengan tanah liat yang lembut dan glasir retak-retak yang unik, Hagi-yaki sangat dihargai karena kemampuannya untuk berubah dan mengembangkan patina yang indah seiring waktu pemakaian. Saat ini, pengunjung dapat menjelajahi berbagai kiln di Hagi dan mencoba membuat karya seni mereka sendiri.

Kendati menawarkan banyak keistimewaan, Hagi tetap berada di luar jalur wisata utama di ujung Prefektur Yamaguchi. Oleh karena itu, perjalanan ke Hagi memerlukan perencanaan yang matang. Anda disarankan untuk menggabungkan kunjungan ke Hagi dengan beberapa destinasi lain di wilayah Setouchi agar waktu liburan Anda menjadi lebih optimal.

Cara Menuju ke Sana

A panoramic view of the city of Hagi from a mountain on its outskirts, with a vivid sunset casting pink and purple hues over the landscape. The city stretches out below, with its streets illuminated, leading towards the Sea of Japan. Small islands dot the coastline, while lush green fields and distant mountains frame the scene, showcasing the natural beauty surrounding the city.

Perjalanan menuju Hagi cukup memakan usaha. Pertama-tama, Anda harus mencapai Prefektur Yamaguchi dengan menaiki Shinkansen menuju Stasiun Shin-Yamaguchi. Dari sana, cara paling mudah untuk mencapai Hagi adalah dengan menggunakan bus jalan raya “Super Hagi” yang memakan waktu sekitar 60 menit. Perlu diingat bahwa jadwal keberangkatan bus ini cukup terbatas setiap harinya, jadi sebaiknya Anda memeriksa jadwalnya terlebih dahulu.

Sebagai alternatif, Anda bisa menjelajahi jalur pesisir Laut Jepang di Prefektur Yamaguchi seperti rute yang melewati Kuil Motonosumi Inari dan Jembatan Tsunoshima. Memilih rute ini akan memungkinkan Anda menikmati keindahan Prefektur Yamaguchi dan wilayah Setouchi secara lebih menyeluruh sebelum tiba di Hagi.

Setibanya di Hagi, sarana transportasi terbaik untuk berkeliling adalah dengan menyewa sepeda listrik. Meskipun ada bus dan kereta api yang beroperasi di dalam kota, frekuensinya yang sangat jarang membuat Anda akan banyak menghabiskan waktu menunggu. Anda dapat menemukan tempat penyewaan sepeda di dekat Stasiun Higashi-Hagi maupun di beberapa titik lainnya.

Menembus Waktu ke Periode Edo

Two girls dressed in colorful kimono, one in green and the other in red, stroll along a narrow street in the former castle town of Hagi. The street is lined with traditional white lattice walls and tiled rooftops, reflecting the historical charm of the area.

Daya tarik utama Hagi terletak pada suasana kotanya yang masih sangat tradisional. Bekas kota kastil yang berada tepat di tengah Hagi adalah lokasi terbaik untuk menikmati atmosfer masa lampau ini. Berbeda dengan kota periode Edo lainnya, Hagi dipenuhi oleh kediaman samurai dan saudagar kaya yang terawat dengan baik. Berikut adalah beberapa bekas rumah bersejarah di dekat pusat kota Hagi:

  • Kediaman Kikuya
    Rumah berusia 350 tahun ini dulunya milik keluarga samurai yang beralih profesi menjadi pedagang. Tempat ini terkenal dengan desain arsitekturnya yang unik, termasuk pintu geser yang dapat berbelok di sudut ruangan untuk memberikan pemandangan taman tanpa terhalang. Kediaman Kikuya buka setiap hari dengan tiket masuk seharga 620 yen.
  • Kediaman Kubota
    Sebelumnya dimiliki oleh keluarga pedagang kimono dan sake, Kediaman Kubota adalah rumah berusia 200 tahun yang menampilkan ruangan luas, area dapur besar, dan berbagai perkakas dari akhir tahun 1800-an. Tempat ini buka sepanjang tahun dengan tiket masuk 100 yen.
  • Kediaman Takayoshi Kido
    Bangunan ini merupakan bekas tempat tinggal negarawan berpengaruh Takayoshi Kido, yang dikenang sebagai salah satu dari “Tiga Pahlawan” Restorasi Meiji. Rumah berusia 250 tahun ini terletak di jalan samping menuju Kastil Hagi dan memiliki pohon pinus kuno di kebunnya. Tiket masuknya seharga 100 yen.

Selain itu, Anda juga dapat mampir ke Kanal Aiba yang dibangun pada abad ke-18 untuk keperluan transportasi barang sehari-hari seperti kayu bakar dan beras. Saat ini, ikan koi berwarna-warni berenang di airnya, menjadikan kanal ini spot yang indah untuk berjalan-jalan di lingkungan yang tenang. Di dekat area perumahan bersejarah lainnya, Anda juga akan menemukan reruntuhan Kastil Hagi yang dibangun pada tahun 1604. Meskipun sebagian besar kastil dihancurkan pada akhir abad ke-19, parit dan tembok batunya masih berdiri kokoh dan kini menjadi bagian dari Taman Shizuki.

Warisan Klan Mori

A view of the funerary grounds at Toko-ji in Hagi, Japan, where the odd-numbered Mori clan lords are interned. The scene features rows of stone lanterns leading toward a large torii gate in the background, with dense green forest surrounding the tranquil site. The symmetrical stone pathways and lanterns create a solemn and spiritual atmosphere.

Hagi memiliki dua kuil yang berfungsi sebagai tempat pemakaman bagi para penguasa Klan Mori. Salah satunya adalah Toko-ji, sebuah kuil Zen yang tenang dan didirikan pada tahun 1691. Terletak di dalam hutan yang damai di sebelah timur pusat Hagi, kuil ini menampilkan arsitektur Buddha yang mencolok dengan gerbang masuk berwarna merah tua dan menara lonceng yang mengesankan.

Daya tarik utama Toko-ji terletak di bagian belakang kompleksnya, di mana terdapat situs pemakaman separuh dari para penguasa Klan Mori yang memerintah Hagi selama periode Edo. Lord bernomor ganjil dimakamkan di sini, sementara lord bernomor genap bersemayam di Daisho-in. Toko-ji dapat dicapai dengan naik sepeda sekitar 10 hingga 15 menit dari Stasiun Higashi-Hagi, atau menggunakan bus Maru Bus East Loop.

Bagi yang memiliki waktu lebih, Anda juga dianjurkan mengunjungi Daisho-in yang dibangun pada tahun 1656. Sebagai kuil keluarga Klan Mori dari aliran Buddha Zen Rinzai, tempat ini dikelilingi oleh taman yang asri dan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para lord pertama serta lord bernomor genap. Area pemakamannya dipenuhi oleh ratusan batu lentera yang disumbangkan selama berabad-abad, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.

Menikmati Hagi-yaki

A close-up of a pottery workshop where a Japanese craftsman and a participant work together to shape a piece of Hagi-yaki on a spinning pottery wheel. Their hands are covered in clay as they mold the vessel, demonstrating the traditional craftsmanship of Hagi-yaki ceramics.

Bagi para pecinta keramik, Hagi adalah sebuah surga tersendiri. Kota kastil ini terkenal dengan keramik Hagi-yaki yang sangat dihargai dalam upacara minum teh karena tanah liatnya yang lembut dan glasir retak-retaknya yang khas. Jika Anda tertarik melihat keramik ini dari dekat, berikut adalah beberapa tempat penting yang patut dikunjungi:

  • Museum Memorial Yoshika Taibi
    Fasilitas ini menyimpan koleksi besar tembikar bergaya Hagi-yaki serta lukisan karya Yoshiaki Taibi. Di bengkel keramik yang berada di sebelah museum, Anda dapat mengamati langsung proses pembuatan Hagi-yaki dengan tiket masuk seharga 600 yen.
  • Museum Hagi Uragami
    Terletak di dekat area pusat bekas kota kastil, museum ini memamerkan koleksi keramik Hagi-yaki, seni Ukiyo-e, dan seni kontemporer dengan tiket masuk seharga 300 yen.
  • Museum Keramik Hagi-yaki
    Terletak di dekat reruntuhan Kastil Hagi, museum kecil ini memamerkan beberapa artefak keramik dari tahun 1600-an dengan tiket masuk seharga 600 yen.

Bagi pengunjung yang menginginkan pengalaman lebih interaktif, beberapa kiln lokal di Hagi menawarkan workshop pembuatan tembikar di mana Anda dapat mencoba membentuk karya Hagi-yaki sendiri. Perlu dicatat bahwa bahasa Inggris jarang digunakan di Hagi, sehingga kemampuan komunikasi non-verbal atau bantuan dari penutur bahasa Jepang akan sangat membantu.

Atraksi Lain di Sekitar Hagi

A stunning view of Motonosumi Inari Shrine’s 123 vermillion torii gates at sunset. The gates stretch down a hillside towards the Sea of Japan, creating a striking contrast between the vibrant red gates, the green landscape, and the soft pink and purple hues of the evening sky. The scenic beauty of the shrine at this time of day is truly breathtaking.

Selain berbagai tempat menarik di pusat kota Hagi seperti Kuil Shoin, Kediaman Mantan Perdana Menteri Ito Hirobumi, Pusat Pengunjung Hagi Meirin Gakusha, Tungku Reverberatory Hagi, dan Galangan Kapal Ebisugahana, ada beberapa destinasi lain di wilayah Setouchi yang sayang untuk dilewatkan.

Terletak di pesisir Laut Jepang di Kota Nagato yang bertetangga, Kuil Motonosumi Inari adalah salah satu kuil paling fotogenik di Jepang dengan 123 gerbang torii berwarna merah vermilion yang membentang menuruni bukit menuju laut. Tidak jauh dari kuil tersebut terdapat Jembatan Tsunoshima, sebuah jembatan lengkung yang membentang di atas perairan biru jernih menuju Pulau Tsunoshima dan menawarkan pemandangan pesisir yang luar biasa menakjubkan.

A peaceful scene of Nagato Yumoto Onsen during autumn, featuring a modern onsen building by a river with colorful autumn foliage in the background. A small bridge spans the river, connecting to traditional ryokan buildings on the other side. The trees are transitioning to shades of orange and red, complementing the serene atmosphere of the onsen town.

Bagi Anda yang ingin menginap di tempat mewah, bermalam di salah satu ryokan di Nagato Yumoto Onsen adalah pilihan yang sangat direkomendasikan. Resor pemandian air panas bersejarah ini menawarkan akomodasi nyaman di mana Anda dapat bersantai di pemandian onsen alami yang dikelilingi oleh alam yang damai. Mengingat lokasinya yang agak terpencil, moda transportasi mobil adalah pilihan terbaik untuk mengunjungi kawasan pemandian air panas ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *