Apakah meluncur menuruni bukit dengan kecepatan tinggi di atas sebatang kayu raksasa terdengar berbahaya bagi Anda? Bagus sekali. Jika demikian, Anda mungkin ingin berada di tengah kerumunan penonton festival Onbashira-sai yang diadakan setiap enam tahun sekali di kawasan Danau Suwa, Nagano, Jepang. Festival ini terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2010 dan berhasil menarik perhatian hingga 500.000 pengunjung. Suasana ini mungkin mirip dengan kemeriahan Colosseum pada zaman Romawi kuno yang memicu adrenalin primitif. Festival ini dikenal memakan korban jiwa secara berkala, dan setidaknya selalu ada peserta yang mengalami luka-laporan cedera. Untuk sebuah tradisi yang diyakini telah berlangsung secara terus-menerus selama 1.200 tahun, jumlah korban jiwa dan luka-luka tentu tidak sedikit. Menariknya, posisi paling diincar di atas batang kayu tersebut adalah bagian depan, yang ironisnya merupakan titik paling berbahaya.
Mengenal Tradisi Menunggang Kayu

Festival ini terdiri dari dua rangkaian utama yang masing-masing memakan waktu cukup panjang, memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk menikmati kemeriahan dalam waktu lama. Kedua bagian utama tersebut sama-sama menjanjikan aksi yang ekstrem dan penuh risiko.
Yamadashi
Yamadashi adalah tahap pertama yang berarti “keluar dari pegunungan.” Dalam prosesi ini, sebanyak 16 pohon pilihan ditebang secara manual menggunakan perkakas bergaya zaman besi, kemudian ditarik sejauh sepuluh kilometer menuju Kuil Suwa Grand. Ritual ini melibatkan banyak orang, tali tambang, aksi menarik beban berat, dan tentu saja, aksi menunggangi kayu. Ketika jalur turunan menjadi sangat curam, berlumpur, dan licin, beberapa anggota tim yang beruntung akan dipilih untuk duduk di atas batang kayu guna merasakan pengalaman meluncur yang mendebarkan. Aktivitas ini mirip dengan wahana permainan air di taman hiburan, namun dalam versi yang jauh lebih berbahaya.

Setiap kelompok biasanya menghabiskan waktu sekitar tiga hari untuk membawa batang kayu seberat 20.000 pon menuruni gunung. Tujuannya adalah Kuil Suwa Grand, di mana kayu-kayu tersebut akan digunakan untuk menggantikan pilar di keempat sudut bangunan utama. Proses ini kemudian dilanjutkan ke tahap berikutnya:
Satobiki
Satobiki adalah prosesi mengarak batang kayu melewati perkampungan menuju Kuil Suwa Grand. Acara ini diramaikan oleh peserta berkuda, penunggang kayu, serta lautan manusia yang memadati lokasi. Kepadatan penonton merupakan salah satu ciri khas yang paling terkenal dari festival ini.
Rangkaian kegiatan mulai dari mengarak hingga mendirikan pilar ini tidak lepas dari risiko kecelakaan. Pada penyelenggaraan sebelumnya, sebuah tali penarik yang putus sempat merenggut satu nyawa dan melukai beberapa orang lainnya. Meskipun penuh ancaman bahaya, festival ini pada akhirnya berhasil menghasilkan 16 pilar baru serta memberikan kepuasan tersendiri bagi masyarakat.
Festival Onbashira mendatangkan gelombang wisatawan dalam jumlah besar ke prefektur Nagano, yang tentunya membawa dampak positif bagi pariwisata lokal. Sebagai salah satu festival paling ikonik di Jepang, wajar jika ratusan ribu orang berbondong-bondong datang untuk menyaksikannya secara langsung. Meski warga negara asing tidak diizinkan untuk ikut serta menaiki batang kayu, wisatawan tetap dapat menikmati kemeriahan pesta rakyat dan melihat hasil akhir dari ritual tersebut.

Hasil akhir dari ritual ini mungkin tampak biasa saja jika dibandingkan dengan segala kemeriahan dan bahaya yang dihadapi selama prosesnya. Namun, filosofi dari festival ini sekali lagi membuktikan bahwa perjalanan di balik pencapaian tersebut jauh lebih berharga daripada bentuk fisiknya.







