Mengenal Gunung Osore, Lanskap Spiritual di Ujung Utara Jepang
Terletak jauh di bagian utara Prefektur Aomori, tepatnya di Semenanjung Shimokita, terdapat sebuah situs suci yang sering diasosiasikan dengan konsep neraka dalam ajaran Buddha. Dikenal sebagai Osorezan atau Gunung Osore, kawasan pegunungan terpencil ini diakui sebagai salah satu dari tiga lokasi paling sakral di Jepang, sejajar dengan Mt. Koya dan Mt. Hiei. Selama lebih dari seribu tahun, situs ini telah menarik para peziarah dan praktisi spiritual.
Secara geografis, Prefektur Aomori berada di ujung utara pulau utama Honshu. Wilayah ini memiliki bentuk yang menyerupai huruf “W” dengan dua semenanjung di sisi timur dan barat. Gunung Osore berdiri di sisi timur Semenanjung Shimokita, sebuah wilayah bergunung-gunung yang bentuknya kerap dianalogikan sebagai sebuah kapak. Karakteristik geografisnya yang sangat terisolasi membuat akses kereta api hanya mencapai batas pertemuan bagian gagang dan kepala kapak tersebut.

Meskipun catatan tertulis mengenai awal mula pendiriannya tidak banyak tersimpan, legenda setempat meyakini bahwa situs ini pertama kali ditemukan sekitar 1.200 tahun lalu oleh seorang biksu Buddha bernama Ennin. Dalam sebuah visi setelah bermalam di Cina, ia mendapat petunjuk untuk kembali ke Jepang dan berjalan ke arah timur selama tiga puluh hari guna menemukan gunung suci. Di sana, ia diperintahkan untuk memahat patung Bodhisattva Jizo dan menyebarkan ajaran Buddha.
Nama Gunung Osore secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “gunung ketakutan”. Penamaan ini sangat berkaitan dengan kondisi topografinya yang tidak biasa. Aktivitas vulkanik yang tinggi di kawasan ini telah membentuk lanskap alam yang dipenuhi bebatuan tandus berwarna abu-abu dan aroma belerang yang pekat.

Kendati atmosfernya tampak suram, kawasan ini juga menyimpan keindahan alam yang memukau. Salah satunya adalah Danau Usori, sebuah danau vulkanik berwarna mencolok yang mengandung racun, terletak di tengah delapan puncak gunung. Delapan puncak tersebut melambangkan kelopak bunga teratai, ikon yang sangat penting dalam filosofi Buddha.
Objek pemujaan utama di Gunung Osore adalah Bodhisattva Jizo, sesosok figur welas asih yang memilih menunda pencerahan demi menyelamatkan para arwah tersesat di alam penderitaan. Berkat kehadiran Jizo, lanskap Gunung Osore yang menyerupai neraka diubah secara simbolis menjadi jalan menuju keselamatan. Perlu dicatat bahwa kawasan ini hanya dibuka untuk umum dari bulan April hingga akhir Oktober karena tumpukan salju yang terlalu tebal di musim dingin.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan menuju Gunung Osore membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Dari Tokyo, perjalanan dimulai dengan menaiki kereta peluru Hayabusa menuju Hachinohe, kota terbesar kedua di Prefektur Aomori, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta lokal menuju Semenanjung Shimokita. Mengingat jaraknya yang jauh, disarankan untuk menginap semalam di Hachinohe pada malam sebelum kunjungan.
Setibanya di Stasiun Shimokita, pengunjung harus berpindah ke bus lokal yang berangkat dari halte nomor satu di luar stasiun. Bus ini beroperasi beberapa kali sehari dengan jadwal yang dapat berubah setiap tahunnya. Perjalanan bus memakan waktu sekitar 40 menit melewati jalan pegunungan yang terjal dengan tarif sekitar 800 yen.


Dalam perjalanan, bus akan melewati sebuah jembatan merah terang yang melintasi Sungai Sanzu-no-Kawa. Dalam mitologi Buddha, sungai ini diibaratkan sebagai Sungai Styx, yaitu batas yang harus dilewati oleh setiap arwah orang mati dalam perjalanan mereka menuju akhirat. Pengunjung dapat turun di halte dekat sungai ini untuk melihat langsung lokasi yang sarat dengan nuansa mistis tersebut.
Bodai-ji dan Pemandian Air Panas

Kompleks kuil utama di Gunung Osore bernama Bodai-ji, yang bernaung di bawah sekte Soto Zen dan didirikan pada pertengahan abad ke-16. Dengan biaya masuk sebesar 500 yen, pengunjung disambut oleh gerbang kuil yang mengarah ke aula utama Jizo-den. Di dalamnya terdapat patung Jizo setinggi dua meter mengenakan jubah biksu, yang menurut legenda sering berkeliling kompleks kuil pada malam hari untuk menolong jiwa-jiwa yang menderita.

Keunikan lain dari Bodai-ji adalah tersedianya empat fasilitas pemandian air panas (onsen) di dalam kompleks kuil. Mata air panas ini telah lama dikunjungi oleh para peziarah karena dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Komunikasi dengan Leluhur Melalui Itako

Gunung Osore juga dikenal sebagai pusat para medium spiritual wanita tunanetra yang disebut sebagai Itako. Saat ini, hanya tersisa sekitar 20 praktisi yang mewarisi tradisi kuno ini. Melalui ritual dan pelatihan asketis yang ketat sejak usia dini, para Itako diyakini mampu menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan arwah orang yang telah meninggal.
Setiap tahunnya pada tanggal 22 hingga 24 Juli, Bodai-ji menyelenggarakan festival besar yang dihadiri oleh para Itako serta keluarga yang berduka dari seluruh penjuru Jepang. Meskipun festival ini menjadi daya tarik utama, pengunjung juga dapat membuat janji temu dengan Itako di luar hari raya tersebut.
Sai-no-Kawara dan Tumpukan Batu Spiritual

Di sebelah kiri kompleks Bodai-ji terdapat Sai-no-Kawara, sebuah kawasan lembah sungai kering di alam kubur yang tercipta akibat aktivitas vulkanik. Area ini dipenuhi oleh bebatuan tajam dan lubang-lubang uap belerang aktif yang disebut jigoku (neraka).

Di sepanjang jalur ini, pengunjung akan melihat banyak tumpukan kecil batu yang disusun oleh para orang tua yang berduka. Berdasarkan tradisi, tumpukan batu tersebut melambangkan usaha anak-anak yang meninggal dunia sebelum waktunya untuk menyusun batu demi mencapai keselamatan dari purgatorium, di mana Bodhisattva Jizo hadir untuk melindungi mereka dari roh-roh jahat.








