Home / Travel / Menjadi Anak-Anak di Jepang: Belajar Lewat Rasa Ingin Tahu dan Kerendahan Hati

Menjadi Anak-Anak di Jepang: Belajar Lewat Rasa Ingin Tahu dan Kerendahan Hati

header 640x 5

Mengenal Sisi Anak-Anak Saat Hidup di Luar Negeri

Ketika seseorang sudah dewasa di negeri asal mereka, mereka biasanya memiliki pemahaman yang kuat tentang identitas diri, cara pandang orang lain, serta perilaku yang sesuai dengan norma yang diinginkan. Namun, situasinya berubah drastis saat pindah ke luar negeri yang memiliki bahasa dan budaya yang sama sekali asing.

Dalam situasi ini, seseorang seolah-olah terlahir kembali menjadi anak kecil. Aktivitas yang biasanya bisa dilakukan secara mandiri tiba-tiba menjadi rumit. Gerak-gerik tubuh atau ekspresi yang dulu mencerminkan kepribadian justru bisa disalahartikan oleh masyarakat setempat. Mengutarakan isi hati agar dipahami orang lain secara tepat menjadi tantangan yang berat. Bahkan, orang yang sudah mahir berbahasa asing sekalipun terkadang masih kekurangan wawasan kultural yang mendalam agar bahasa tersebut dapat digunakan secara efektif. Belum lagi masalah fisik yang kerap muncul akibat penyesuaian dengan iklim atau jenis makanan yang baru.

Singkatnya, Anda merasa seperti anak kecil lagi. Sebagian orang memilih menolak kenyataan ini dan berpegang teguh pada budaya asal mereka, sementara yang lain justru merangkul identitas baru tersebut. Anda mungkin sempat merasa kesal dan meluapkan emosi layaknya anak kecil, yang terkadang justru ampuh untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi, kedewasaan sejati di Jepang justru menuntut seseorang untuk berani menerima posisi sebagai seorang anak kecil terlebih dahulu.

Menyadari Diri sebagai “Anak Kecil” secara Kultural

japan infants crossing street
Source: Pieterjan Vandaele

Sebagai seseorang yang secara alami tidak menyukai keharusan meminta bantuan atau penjelasan, beradaptasi di Jepang memberikan pelajaran tersendiri. Di negara asal, meskipun kerap meminta nasihat, orang-orang biasanya justru mendatangi untuk meminta pertolongan. Kemampuan membaca dokumen hukum, menyunting tulisan, atau memperbaiki kerusakan rumah bukanlah hal yang asing.

Sebaliknya, di Jepang, hal-hal sederhana seperti meyakinkan pelayan toko bahwa Anda hanya membutuhkan satu kantong plastik untuk oleh-oleh saja bisa menjadi perjuangan. Belum lagi keharusan mengikuti berbagai tradisi yang belum dipahami atau meraba-raba cara agar rekan kerja mau bekerja sama. Rasanya seluruh isi masyarakat harus mengajari dan menuntun agar Anda bisa menjalani hari-hari.

Kesadaran inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun identitas asing Anda: mengakui bahwa Anda adalah pendatang baru yang masih harus banyak belajar.

Di Jepang, posisi sebagai “anak kecil” ini tercermin dari kebiasaan terus-menerus bertanya. Mengapa perayaan ini diadakan? Mengapa tidak ada yang menatap lawan bicara saat berbicara? Mengapa seluruh isi rapat dibacakan begitu saja dari selembar kertas yang bisa dibaca sendiri? Sering kali, jawaban yang diterima hanyalah, “Memang begitulah caranya,” atau jika beruntung, “Wah, saya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.” Jelas sekali bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa mendasar bagi masyarakat lokal. Dalam konteks ini, identitas asing tersebut memang menyerupai anak kecil, dan seiring waktu, kondisi itu bisa diterima dengan lebih nyaman. Kendati demikian, proses penerimaan tersebut tidak selalu berjalan mulus dan terkadang membutuhkan pengalaman yang cukup menguras emosi.

Pada awal kedatangan, keyakinan untuk bisa beradaptasi secara mandiri begitu kuat. Merasa diri sebagai orang dewasa yang sehat membuat segala rintangan terasa bisa dilewati sendiri tanpa bantuan, termasuk dalam hal mengatasi perbedaan iklim.

Anggapan tersebut ternyata keliru besar. Puncaknya terjadi pada liburan Tahun Baru. Pengalaman jatuh sakit di Jepang sebelumnya memang tergolong ringan dan terjadi di akhir pekan sehingga tubuh bisa pulih dengan cepat. Di negara asal, kondisi tubuh yang kurang sehat masih bisa diatasi sambil tetap bekerja. Namun, situasi kali ini jauh berbeda: jatuh sakit di stasiun kereta yang padat di negeri orang, mengalami muntah hebat tanpa membawa tisu atau kertas pembersih.

Hilangnya kendali atas tubuh sendiri pada usia dewasa menimbulkan rasa malu yang luar biasa, karena masalah tersebut umumnya diidentikkan dengan anak kecil. Keinginan untuk segera bersikap dewasa sangat besar, tetapi rasa malu yang mendalam justru menghalangi langkah untuk mencari solusi.

Melepaskan Rasa Malu

kid eating at diner
Source: Steve Hunt

Pada akhirnya, setiap pendatang akan dihadapkan pada sebuah pilihan: menerima identitas baru, mengakui bahwa diri ini memerlukan bimbingan, lalu mulai memperbaikinya; atau justru membenci negara tempat tinggal, menganggap budayanya aneh, dan menolak kenyataan bahwa pandangan orang lain terhadap diri kita telah berubah akibat status kewarganegaraan.

Titik balik tersebut dirasakan di stasiun Osaka pada tanggal 30 Desember. Kemampuan bahasa Jepang yang dimiliki mendadak gagal total hari itu, ditambah orang-orang sekitar yang tampak enggan berinteraksi. Kondisi fisik yang sedang tidak prima semakin memperburuk keadaan akibat penyakit perut yang mendadak menyerang. Sifat tertutup membuat keputusan diambil untuk menahannya sendiri, mengandalkan obat asal Amerika, dan berharap bisa bertahan seharian.

Sendirian di Osaka dengan gangguan pencernaan bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang tidak menyukai perhatian atau merasa rentan. Jarak yang biasanya dapat ditempuh dalam sepuluh menit berjalan kaki berubah menjadi satu jam penuh karena harus berpindah dari satu toilet ke toilet lainnya di sepanjang jalan. Setelah merasa sedikit lebih baik, perjalanan dilanjutkan dengan kereta menuju stasiun Osaka dengan harapan bisa segera beristirahat di rumah tanpa diketahui orang lain. Namun, di situlah situasi genting yang sebenarnya terjadi.

Dorongan untuk segera menggunakan toilet datang seketika. Beruntung lokasi toilet sudah dekat, tetapi nasib kurang beruntung menghampiri ketika bilik yang dipilih ternyata tidak menyediakan tisu toilet.

Toilet di Jepang umumnya dilengkapi gulungan cadangan di sebelah gulungan utama, tetapi saat itu gulungan tersebut kosong. Meskipun tisu gratis kerap dibagikan di Tokyo, persediaan di dalam tas sudah habis digunakan sebelumnya. Tanpa sehelai kertas pun di tangan, kebutuhan mendesak itu berada di tingkat yang mengkhawatirkan.

Momen tersebut menuntut keputusan yang cepat. Setelah seharian meragukan kemampuan bahasa sendiri, satu-satunya cara adalah berteriak meminta tisu menggunakan bahasa Jepang yang terbatas—yang selama ini dikhawatirkan membuat orang-orang ketakutan atau menghindar. Opsi untuk menunggu pakaian kering dan berjalan pincang keluar dengan menanggung malu sempat terlintas, meski terdengar sangat menyedihkan.

Situasi serupa kerap terulang dalam bentuk yang berbeda. Tantangan terhadap kedewasaan diri sering kali muncul dari cara orang lain memandang ketidakpahaman kultural kita. Mulai dari murid yang terang-terangan membangkang di kelas, staf yang panik dan mengabaikan saat diajak berbicara dalam bahasa Jepang, hingga pertanyaan meragukan terhadap kalimat yang sebenarnya sudah diucapkan dengan benar hanya karena tidak sesuai dengan kebiasaan lokal. Bahkan, berbohong terkadang menjadi jalan keluar terbaik dan paling wajar dalam situasi tertentu.

Kemarahan sebenarnya bisa dilampiaskan setiap kali kejadian tersebut berulang, termasuk saat harus berteriak meminta tisu toilet dan berharap orang-orang Jepang yang pemalu bisa memahami situasi. Namun, cara paling efektif adalah dengan selalu mengingatkan diri sendiri bahwa status kita adalah pihak yang berbeda. Sebagai orang asing sekaligus “anak kecil” secara kultural, proses belajar mengenai tata cara bertindak dan berbicara yang benar merupakan sebuah kewajiban. Konsekuensinya adalah harus berani meminta bantuan, sebuah hal yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang, terutama untuk urusan yang bersifat sangat pribadi.

Menerima Status sebagai “Anak Kecil” Asing dan Belajar Beradaptasi

mother and daughter riding a scooter
Source: David

Langkah awal dimulai dengan merelakan diri menghadapi situasi yang memalukan. Bertanya tentang cara menyebut kata tertentu dalam bahasa Jepang, mencari tahu cara mendisiplinkan siswa di kelas, atau berteriak meminta tisu toilet di stasiun yang sibuk sampai mendapat respons yang tepat dari orang sekitar. Hal terpenting bukanlah seberapa canggung prosesnya, melainkan keberanian untuk meminta tolong. Menunjukkan kerentanan di hadapan orang lain, khususnya di Jepang, justru akan mendatangkan bantuan.

Sebagai orang asing di Jepang, hak istimewa untuk meminta bantuan tetap melekat pada diri Anda, terlepas dari seberapa baik penguasaan bahasa dan budaya lokal Anda. Masyarakat setempat pun sering menggunakan ungkapan “onegaishimasu” dalam keseharian mereka. Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai apakah budaya ketergantungan di Jepang mencerminkan sifat seperti anak kecil, pengalaman membuktikan bahwa masyarakat Jepang pada dasarnya memiliki keinginan kuat untuk membantu.

Ketika rasa malu dan canggung melanda, jangan ragu melontarkan pertanyaan yang mungkin terkesan kurang sopan namun memang dibutuhkan. Pelajaran yang didapat dari pengalaman tersebut akan selalu melekat di ingatan. Permintaan sederhana seperti “Toire peipaa onegaishimasu” terbukti ampuh mendatangkan tisu toilet yang sangat dibutuhkan. Begitu pula dengan pengalaman menegur siswa yang tidak sopan, atau memahami bahwa kata “sukin” (kulit) memiliki makna tersendiri dalam konteks bahasa Jepang yang tidak akan terlupakan.

Menjadi Anak Kecil yang Penuh Rasa Ingin Tahu

children stone wall and cherry blossoms
Source: philHendley

Tidak semua pelajaran berharga didapat dari pengalaman yang buruk. Sebagian besar wawasan justru lahir dari pertanyaan-pertanyaan yang terkesan blak-blakan mengenai fungsi dan alasan di balik berbagai hal yang berlaku di Jepang. Sikap ingin tahu ala anak-anak ini disambut baik oleh masyarakat Jepang yang senang memberikan penjelasan. Meskipun informasi yang diterima terkadang saling bertentangan, hal tersebut bukanlah masalah besar. Berbekal kedewasaan yang dimiliki dari budaya asal, seseorang dapat memilah berbagai pengalaman tersebut dan menerapkan pola yang paling umum, efektif, serta dapat diandalkan.

Artikel ini bukanlah sekadar kumpulan aturan baku, melainkan sebuah panduan sekaligus ajakan untuk mendengarkan dan menggali informasi sebelum melompat pada penghakiman atau reaksi negatif. Menerapkan pola pikir ini dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya mengurangi kesan kekanak-kanakan, tetapi juga membantu membangun persona dewasa yang utuh di tengah masyarakat Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *