Dalam proses mempelajari bahasa Jepang, sering kali tiba saatnya kita ingin menggali lebih dalam melampaui kosakata dasar, tata bahasa, dan latihan membaca standar. Kita mencari kedalaman melalui lirik lagu, sastra, atau hiburan. Bagi sebagian orang, haiku menjadi daya tarik tersendiri karena kemampuannya menyampaikan makna yang luas hanya lewat tiga baris sederhana.
- 駄洒落(だじゃれ)
- lelucon hambar, permainan kata buruk
Sementara itu, bagi yang lain, ketertarikan muncul dari humor Jepang, baik melalui anime, televisi, maupun seni tradisional seperti rakugo. Komedi di Jepang terbagi secara tegas antara komedi fisik yang ekstrem dan permainan kata yang disampaikan secara datar. Jenis yang terakhir inilah yang dikenal sebagai dajare (駄洒落), yaitu plesetan atau pun dalam bahasa Jepang. Meskipun sering kali memicuhela napas panjang atau justru gelak tawa, dajare sangat berguna untuk memperkaya kemampuan berbahasa Anda.
Selain itu, memahami beberapa lelucon ringan ini tentu akan sangat membantu ketika Anda mendapati diri terjebak dalam keheningan canggung saat bersantap di Jepang.
Cara Kerja Plesetan dalam Bahasa Jepang dan Inggris

Plesetan atau pun umumnya didefinisikan sebagai permainan kata. Definisi umum ini berlaku dalam bahasa Inggris maupun Jepang, meskipun ada beberapa perbedaan mencolok dalam hal penggunaan dan cara orang menerimanya.
Dalam bahasa Inggris, plesetan sering kali memanfaatkan kemiripan bunyi untuk mengejutkan pendengar seiring berjalannya kalimat. Contoh yang cukup terkenal adalah kalimat tentang lalat buah:
“Time flies like an arrow; fruit flies like a banana.”
Bagi para ahli bahasa, kalimat ini memuat ambiguitas sintaksis, di mana kata yang sama memiliki fungsi dan makna berbeda pada setiap bagian kalimat. Hal ini disebut sebagai homonymic pun, yaitu kata yang sama tetapi memiliki arti yang berlainan tergantung konteksnya.
Jenis plesetan lain dalam bahasa Inggris mengandalkan homofon, yaitu kata-kata yang terdengar sama namun memiliki arti dan ejaan yang berbeda. Komedian asal Amerika, George Carlin, pernah berkata:
“Atheism is a non-prophet organization.”
Di sini, kata “prophet” (nabi) dan “profit” (keuntungan) dipertukarkan karena kemiripan bunyinya, mempermainkan frasa umum “non-profit organization” dengan konteks ateisme.
Plesetan dalam bahasa Jepang umumnya menggunakan salah satu dari pola tersebut, atau bahkan gabungan keduanya. Sebagian besar dajare bersandar pada pengulangan dan homofon. Sebagai contoh:
- アルミ 缶の 上にあるみかん。
- Sebuah jeruk mandarin di atas kaleng aluminium.
Frasa “あるみかん” muncul dua kali. Bagian pertama merujuk pada kaleng aluminium (アルミ缶), sedangkan bagian kedua dipecah menjadi “ある” (ada) dan “みかん” (jeruk mandarin).
- 親父ギャグ(おやじぎゃぐ)
- lelucon bapak-bapak
Dajare sangat erat kaitannya dengan oyaji gyagu (親父ギャグ) atau “lelucon bapak-bapak”, mirip dengan guyonan garing yang biasa ditemukan pada bungkus permen anak-anak. Reaksi standar warga Jepang saat mendengar oyaji gyagu biasanya adalah berkomentar betapa tiba-tiba ruangan menjadi dingin. Namun, dalam konteks komedi profesional, dajare justru disampaikan dengan wajah tanpa ekspresi.
Sejarah Plesetan di Jepang

Karena merupakan perangkat linguistik, sulit untuk melacak garis waktu pasti perkembangan dajare. Namun, ada dua aspek penting yang menonjol. Pertama berkaitan dengan prinsip rebus dalam sistem penulisan Tiongkok, di mana simbol gambar digunakan untuk mewakili bunyi tertentu tanpa melihat arti aslinya.
Di masa lalu, para bangsawan pada Periode Heian (794-1185) gemar menulis puisi yang dipenuhi permainan kata dan makna ganda yang disebut share (洒落), yang berarti lelucon atau kecerdasan. Ini adalah cara mereka memamerkan kepintaran. Ketika rakyat biasa mencoba hal serupa, para bangsawan menyebutnya dajare, di mana kanji 駄 memiliki arti “remeh” atau “tidak berharga.”
Memanfaatkan Dajare untuk Belajar Bahasa
Bagi pembelajar bahasa Jepang, dajare dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal:
- Kosakata: Seperti halnya jembatan keledai (mnemonik), plesetan membantu suatu kata lebih mudah menempel di ingatan karena dikemas bersama struktur kalimat sederhana.
- Memahami Budaya: Humor mencerminkan karakteristik suatu budaya. Dengan memahami dajare, Anda bisa menangkap nuansa budaya implisit yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh penutur asli.
Contoh Dajare Standar

Berikut adalah beberapa contoh dajare umum yang dikategorikan berdasarkan strukturnya:
Menggunakan Bunyi yang Sama Dua Kali
- いくらはいくら?
- Berapa harga ikura (telur ikan salmon)?
- スキーが 好き。
- Saya suka bermain ski.
- 電話に 誰もでんわ(でない)。
- Tidak ada seorang pun yang mengangkat telepon.
Kalimat dengan Berbagai Makna (Ginatayomi)
Tanpa bantuan kanji atau konteks yang jelas, sebuah kalimat bahasa Jepang dapat memiliki arti ganda yang menggelitik:
- パン 作ったことある? / パンツ 食ったことある?
- Pernahkah kamu membuat roti? / Pernahkah kamu memakan pakaian dalam?
Plesetan Campuran Jepang dan Inggris
- 穴をホール。
- Menggali lubang. (Memadukan kata ana dan kata pinjaman hōru dari kata Inggris hole).

- ボートを 買った。
- Saya membeli sebuah perahu. (Kata bōto terdengar mirip dengan kata kerja bahasa Inggris bought, yang dipadukan dengan kata katta).
Teka-Teki Dajare

Dajare juga sering dijumpai dalam bentuk teka-teki anak-anak:
- 「パンダが 食べるのは 何?」
「パンだ。」 - Apa yang dimakan oleh panda?
Roti (pan da / itu adalah roti).
Dajare dalam Budaya

Beberapa dajare telah menjadi bagian integral dari budaya Jepang, terutama yang berkaitan dengan takhayul atau doa keberuntungan (genkatsugi), seperti tradisi memberikan cokelat Kit Kat menjelang ujian sekolah karena namanya mirip dengan frasa kitto katsu (きって勝つ) yang berarti “pasti menang.”








