Bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke kuil di Jepang dan terpesona dengan keindahannya, memiliki altar Buddha rumah tangga yang disebut butsudan (仏壇) mungkin bisa menjadi cara untuk membawa suasana tersebut ke dalam rumah. Secara fisik, benda ini menyerupai lemari kecil dengan dua pintu yang dapat dibuka ke luar, meskipun desainnya bisa jauh lebih rumit dan elegan.
Bagian dalam butsudan memuat ikon keagamaan, seperti patung atau gambar Buddha, yang ditempatkan berdampingan secara harmonis dengan papan nama leluhur. Selain itu, berbagai perlengkapan ritual yang disebut butsugu juga ditata di dalam ruang suci ini.
Tradisi butsudan tergolong unik karena sebagian besar hanya ditemukan di Jepang dan tidak lazim di negara-negara penganut Buddha lainnya, kecuali sebagian kecil di Mongolia. Di negara Asia lain, banyaknya kuil membuat warga tidak merasa perlu membangun altar di kediaman mereka. Namun, Jepang sendiri sebenarnya juga memiliki sangat banyak kuil, yang menimbulkan pertanyaan mengapa tradisi altar rumah tangga ini bisa bermula.
Apa Itu Butsudan?

Akar sejarah butsudan sebenarnya berasal dari India kuno, tempat para praktisi awal Buddhisme membuat panggung dari tanah liat untuk memuja dewa, yang kemudian diberi atap untuk pelindung cuaca—cikal bakal dari bangunan kuil. Ajaran Buddha kemudian menyebar ke Jepang melalui China dan berkembang pesat di sana.
Pada 27 Maret 685, Kaisar Tenmu mengeluarkan dekrit yang memerintahkan setiap keluarga di berbagai wilayah untuk mendirikan altar Buddha berisi patung serta kitab suci, serta rutin melakukan doa dan kegiatan peringatan di depannya. Tanggal 27 setiap bulannya bahkan ditetapkan sebagai “Hari Butsudan” oleh koperasi penyalur perlengkapan keagamaan di Jepang.
Kendati demikian, bentuk butsudan modern tidak serta-merta diturunkan langsung dari dekrit kekaisaran tersebut. Sejarah kemunculannya umumnya dijelaskan melalui dua teori utama.
1. Aula Patung Buddha Pribadi Milik Kalangan Bangsawan

Para bangsawan pada masa lampau memiliki tempat ibadah pribadi yang disebut jubitsudou (持仏堂) untuk menyimpan patung Buddha dan tablet leluhur. Pada periode Nara, fasilitas ini biasanya diletakkan di bangunan terpisah di luar rumah, tetapi mulai dipindahkan ke dalam hunian pada periode Heian.
Contohnya dapat dilihat pada kompleks megah milik Fujiwara-no-Yorimichi yaitu Byoudouin-Hououdou, atau Rokuonji milik Ashikaga Yoshimitsu. Menurut sejarawan Takeda Choshu, fasilitas pribadi yang luas ini lambat laun diperkecil menjadi ruangan khusus Buddha bernama butsuma, yang kemudian disusutkan kembali menjadi lemari butsudan agar praktis diletakkan di dalam ruangan.
2. Rak Arwah (Tamadana)

Istilah tamadana (魂棚) secara harfiah berarti rak arwah. Altar ini digunakan untuk menyambut arwah leluhur serta kerabat yang baru meninggal selama festival Obon. Bentuknya bervariasi, seringkali berupa papan yang ditopang empat tiang bambu atau kayu, atau bahkan memanfaatkan meja teh.
Pelopor ilmu folklor Jepang, Yanagida Kunio, meyakini bahwa tamadana inilah yang melahirkan butsudan modern. Dari fungsinya yang semula bersifat sementara saat perayaan Obon, altar tersebut bertransformasi menjadi instalasi permanen di dalam rumah.
Meskipun terdapat dua teori yang berkembang, teori pertama mengenai aula pribadi bangsawan dianggap sebagai asal-usul yang lebih mendekati kenyataan.
Penyebaran Tradisi Butsudan

Selama periode Muromachi, pemimpin kedelapan Kuil Hongan-ji bernama Rennyo (蓮如) merevitalisasi sekte Jodo Shinshu. Ia membagikan gulungan bertuliskan frasa namuamidabutsu (南無阿弥陀仏) kepada para pengikutnya dan menganjurkan agar gulungan tersebut diemban di dalam butsudan masing-masing.
Para pengikut meniru desain dari kuil utama dan membuat altar mereka dari lapisan emas, yang menjadi cikal bakal kin-butsudan atau butsudan emas. Sekte Jodo Shinshu menetapkan berbagai aturan baku, termasuk keharusan menggunakan gulungan gantung dari kuil leluhur sebagai citra utama.
Tradisi ini kemudian meluas ke luar sekte seiring dengan semakin umum ditemukannya tablet peringatan keluarga. Pada periode Edo, Keshogunan memberlakukan sistem terauke-seido yang mewajibkan setiap penduduk mendaftarkan diri sebagai anggota kuil Buddha tertentu. Untuk membuktikan keanggotaan tersebut dan menunjukkan ketaatan beribadah, setiap rumah tangga diharuskan memiliki butsudan untuk sembahyang pagi dan sore, serta mengundang pendeta kuil untuk mengadakan upacara peringatan kematian leluhur.
Apa Saja yang Disimpan di Dalam Butsudan?

Tata letak dan isi butsudan dapat berbeda-beda tergantung pada sekte dan ukurannya. Secara umum, butsudan memiliki pintu dengan hiasan gerbang kuil serta tiga tingkat anak tangga.
Tangga paling atas yang dinamakan shumidan (須弥壇) diperuntukkan bagi benda paling penting, yakni patung Buddha. Area di atasnya disebut kyuuden (宮殿) yang dianggap sebagai ruang suci tempat bersemayamnya patung atau gambar Buddha. Patung pendiri sekte keagamaan tertentu biasanya diletakkan di sisi mendampingi patung utama tersebut.
Benda yang Seharusnya Tidak Ditempatkan di Butsudan

Meskipun memuat banyak barang sakral, ada beberapa hal yang sebenarnya tidak pantas disimpan di dalam butsudan. Secara resmi, foto pribadi, sertifikat, piala, hingga tiket lotere dilarang diletakkan di sana karena butsudan bukanlah tempat untuk mengharapkan keuntungan duniawi.
Kendati demikian, banyak orang tetap melakukannya dalam praktiknya dengan alasan untuk memberi tahu leluhur mengenai kabar terbaru keluarga yang masih hidup.
Berapa Biaya untuk Membeli Butsudan?

Berdasarkan survei yang dilakukan pada Juni 2011, mayoritas masyarakat menghabiskan dana antara 100.000 hingga 500.000 yen untuk membeli butsudan. Meskipun bukan jumlah mayoritas, sekitar 20 persen pembeli mengeluarkan lebih dari 500.000 yen, bahkan 1,2 persen di antaranya merogoh kocek lebih dari 2.000.000 yen.
Insiden Butsudan di Niconico Douga

Jika pengeluaran dua juta yen sudah tergolong besar, harga senilai 63 juta yen tentu terdengar sangat tidak masuk akal. Namun, pada Agustus 2008, situs berbagi video Jepang Niconico Douga dikejutkan dengan transaksi penjualan butsudan seharga 63.000.000 yen.
Transaksi ini memecahkan rekor penjualan tertinggi di platform tersebut yang sebelumnya dipegang oleh perangkat lunak vocaloid Hatsune Miku. Yang lebih mengejutkan, butsudan berharga fantastis itu terjual kembali keesokan harinya dengan harga yang sama, disusul beberapa transaksi serupa pada hari-hari berikutnya.
Kendati sempat disangka sebagai lelucon atau pesanan palsu, pihak toko akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib untuk melacak pelaku pesanan palsu dan menuntut kompensasi. Penawaran produk tersebut kemudian dihapus dari situs pada 24 Agustus.
Tempat Membeli Butsudan

Mengingat butsudan merupakan karya seni kerajinan tangan yang sangat indah dan bernilai tinggi, membelinya secara daring mungkin bukan pilihan terbaik bagi sebagian orang. Di Jepang, terdapat berbagai toko fisik yang menyediakan barang ini, bahkan ada pula tempat unik di Kanagawa di mana pembeli dapat memesan butsudan melalui layanan jalur kendaraan (drive-thru).








