Home / Travel / Mengenal Budaya Jepang: Perjalanan Saya Menjelajahi Tokyo

Mengenal Budaya Jepang: Perjalanan Saya Menjelajahi Tokyo

Donny Kimball Plays the Shamisen in Asakusa

Membahas mengenai kebudayaan sering kali membawa kita pada pertanyaan mendasar tentang apa sebenarnya arti dari istilah tersebut. Secara luas, kebudayaan dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang terbentuk dari cipta, rasa, dan karsa manusia, baik dalam wujud karya seni, pemikiran, maupun tatanan sosial masyarakat.

Jika berbicara tentang identitas suatu tempat, beberapa wilayah mungkin langsung dikenal karena kekayaan tradisinya. Kota Kyoto, misalnya, kerap dianggap sebagai penjaga warisan leluhur Jepang berkat banyaknya kuil dan bangunan bersejarah yang menarik jutaan pengunjung setiap tahun. Lantas, bagaimana dengan Tokyo? Sebagai kawasan metropolitan terbesar di dunia, Tokyo sempat mengalami kerusakan parah akibat Perang Dunia II.

Akibat hancurnya sebagian besar wilayah di masa lalu, peninggalan fisik masa lampau di Tokyo tidak sebanyak yang bisa ditemukan di Kyoto. Kendati demikian, kota ini menyimpan sejarah yang mendalam bagi mereka yang jeli mencarinya. Walaupun kehilangan banyak warisan kasatmata, Tokyo menawarkan dinamika budaya yang kaya melalui tradisi historis serta seni pertunjukan yang hidup.

Bagi pelancong awam, menemukan sisi kultural di tengah hutan beton Tokyo terkadang bukan perkara mudah. Untungnya, berbagai lembaga seperti Arts Council Tokyo berupaya membantu wisatawan asing untuk menikmati keunikan dan keragaman budaya ibu kota melalui beragam pengalaman autentik yang mungkin terlewatkan.

Budaya Jepang dalam Wujud Musik

Kunjungan ke Tokyo umumnya belum terasa lengkap tanpa mampir ke Senso-ji dan kawasan tradisional Asakusa. Namun, bagi para pelancong yang ingin keluar dari jalur wisata konvensional, Pusat Informasi Wisata Budaya Asakusa kini menyediakan berbagai program pengalaman kebudayaan secara langsung.

Salah satu kegiatan menarik di kawasan bersejarah tersebut adalah lokakarya Shamisen of Nagauta. Dipandu oleh seorang maestro berpengalaman, sesi singkat ini memperkenalkan dasar-dasar bermain shamisen, mulai dari cara memegang alat musik berdawai tiga tersebut hingga memainkan lagu tradisional populer seperti Sakura Sakura. Kelas ini dirancang ramah pemula dan menyediakan pendampingan berbahasa Inggris.

Meskipun tampak sederhana dengan hanya memiliki tiga senar, menguasai shamisen bukanlah hal yang mudah. Koordinasi tangan kiri dan kanan yang harus dilakukan secara bersamaan membutuhkan latihan, mirip seperti saat seseorang baru belajar memainkan gitar.

Bagi wisatawan yang tertarik mendalami seni tradisional, Arts Council Tokyo menyediakan berbagai program dan seminar menarik lainnya yang dapat dilihat langsung melalui situs resmi mereka.

Budaya Jepang dalam Wujud Seni

An artwork on display at Tokyo Metropolitan Teien Art Museum

Dari segi arsitektur tradisional, Tokyo memang tidak sekaya kota-kota lain di Jepang. Namun, kekurangan tersebut dibayar tuntas melalui kreativitas dalam merayakan berbagai bentuk seni. Ibu kota ini dipenuhi oleh puluhan museum luar biasa, yang memamerkan koleksi mulai dari cetakan kayu ukiyo-e hingga karya-karya seni kontemporer.

Selain galeri populer seperti Mori Art Museum, Tokyo Metropolitan Teien Art Museum merupakan salah satu destinasi yang patut dikunjungi. Museum ini menempati bekas kediaman Pangeran Asaka Yasuhiko yang dibangun dengan gaya Eropa antara tahun 1933 hingga 1947, menawarkan keindahan arsitektur yang berpadu selaras dengan karya seni di dalamnya.

Kompleks museum ini juga dilengkapi dengan bangunan rumah teh yang diakui sebagai Properti Budaya Penting serta taman belakang yang tertata indah. Jadwal pameran berganti secara berkala, dan pengunjung dapat memantau situs resmi mereka sebelum merencanakan kunjungan.

Selain pameran rupa, seni pertunjukan di Tokyo juga sangat beragam, mencakup musik klasik, teater Kabuki, Noh, hingga pementasan cerita komedi tradisional Rakugo di Shinjuku Suehiro-tei bagi yang memahami bahasa Jepang.

Budaya Jepang dalam Wujud Tradisi

A statue of a Tengu at Yakuo-in on Tokyo's sacred Mt. Takao

Meskipun sebagian besar bangunan kuno musnah dalam perang, Tokyo tetap menyimpan destinasi spiritual yang memukau. Salah satu lokasi terbaik untuk merasakan nuansa tradisional di pinggiran Tokyo adalah Gunung Takao.

Terletak di ujung barat Prefektur Tokyo, Gunung Takao menjadi tempat pelarian yang sempurna dari hiruk-pikuk kota. Di kawasan pegunungan ini, pengunjung dapat mendatangi kuil Yakuo-in yang telah berdiri lebih dari seribu tahun.

Selain menikmati keindahan alam, wisatawan berkesempatan mencicipi Shojin Ryori (hidangan vegetarian gaya Buddha yang diolah dengan cita rasa khas) atau menyaksikan Ritual Api Goma yang megah. Sebagian besar kegiatan ini memerlukan reservasi berbahasa Jepang, sehingga bantuan dari staf hotel atau pemandu lokal sangat dianjurkan.

Budaya Jepang dalam Wujud Rekreasi

Shinjuku’s Golden Gai drinking area

Kebudayaan juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya, termasuk tradisi bersosialisasi dan menikmati minuman bersama rekan kerja. Budaya minum kelas pekerja ini dapat disaksikan secara langsung di Shinjuku Golden Gai, sebuah kawasan labirin gang sempit yang mempertahankan suasana tempo dulu di tengah gemerlap lampu neon Shinjuku.

Dulu area ini lebih banyak dikunjungi oleh warga lokal, namun kini Golden Gai juga sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara. Sejumlah pemilik tempat kini menyediakan layanan berbahasa Inggris untuk memudahkan para pelancong asing yang berkunjung.

Bagi masyarakat setempat, menikmati malam panjang dengan minuman beralkohol kerap diiringi dengan konsumsi suplemen kesehatan seperti Ukon no Chikara untuk membantu mencegah atau mengurangi efek mabuk keesokan harinya, sebuah trik yang membuat para pekerja kantoran Jepang tetap dapat beraktivitas normal setelahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *