Home / Travel / Mengenal Berbagai Kalender Jepang dan Cara Jepang Menghitung Waktu

Mengenal Berbagai Kalender Jepang dan Cara Jepang Menghitung Waktu

header 640x 11

Bagi siapa pun yang baru mengenal budaya Jepang, mungkin sistem penanggalan di sana terasa cukup unik. Selain kalender Gregorian yang umum digunakan secara internasional, Jepang hingga saat ini masih mempertahankan sistem penanggalan tradisional yang didasarkan pada masa pemerintahan kaisar, atau yang dikenal sebagai sistem nengō. Pemerintah dan berbagai urusan bisnis di Jepang kerap menggunakan metode ini secara berdampingan dengan kalender Barat.

Nama-nama era seperti Showa, Heisei, atau Meiji tentu sudah tidak asing lagi bagi pencinta budaya Jepang. Sistem penamaan periode berdasarkan masa kekuasaan kaisar ini awalnya diadaptasi dari Tiongkok berabad-abad lalu sebagai cara untuk memperkuat legitimasi kekuasaan.

Nama-Nama Indah untuk Menandai Era Baru

painting of Chinese Han emperor

Tradisi penamaan tahun masa pemerintahan ini berawal dari Dinasti Han di Tiongkok, di mana kaisar mulai menyematkan gelar khusus yang mencerminkan harapan atau cita-cita dari masa kepemimpinan mereka. Kaisar Kōtoku kemudian mengadopsi kebiasaan ini ke Jepang pada tahun 645 Masehi. Istilah nengō sendiri merujuk pada nama era tersebut, di mana kanji 号 diartikan sebagai nama, bukan angka.

Era Taika yang dimulai pada tahun 645 M di bawah kepemimpinan Kaisar Kōtoku menjadi nengō pertama dalam sejarah Jepang. Alih-alih menyebut tahun tertentu berdasarkan nama kaisarnya, masyarakat biasa menggunakan tahun ke berapa dari suatu era, mirip seperti menyebut tahun pertama era Heisei pada 1989.

Seorang kaisar di Jepang tidak harus menggunakan satu nama era saja selama masa jabatannya. Kaisar Go-Daigo bahkan tercatat pernah menggunakan delapan nama era yang berbeda. Penggantian nengō biasanya menandakan awal yang baru, lembaran baru, atau peristiwa penting tertentu. Dalam sejarahnya, periode tertentu seperti era Genroku sering kali diasosiasikan dengan berbagai peristiwa bersejarah, meskipun masa tersebut juga diwarnai berbagai tantangan alam dan sosial.

Sejak Restorasi Meiji, aturan diubah sehingga seorang kaisar hanya menggunakan satu nama era selama masa bertahtanya. Hal ini membuat penanggalan modern menjadi jauh lebih sederhana dan mudah dipahami.

Siklus Seksagesimal: Perpaduan Langit dan Bumi

coins on zodiac stone
Source: Tranpan23

Selain penamaan era kaisar, Jepang juga mengadopsi sistem “Siklus Seksagesimal” dari daratan Asia. Sistem ini menggabungkan “Sepuluh Batang Langit” dan “Dua Belas Cabang Bumi” untuk menciptakan siklus 60 kombinasi tahun yang berulang secara teratur.

Batang Langit:

Kanji On’yomi Kun’yomi
kinoe
otsu kinoto
hei hinoe
tei hinoto
bo tsuchinoe
ki tsuchinoto
kanoe
shin kanoto
jin mizunoe
ki mizunoto

Cabang Bumi:

Kanji On’yomi Kun’yomi
shi ne
chū ushi
in tora
u
shin tatsu
shi mi
go uma
mi (or) bi hitsuji
shin saru
tori
jutsu inu
gai i

Cabang Bumi ini juga berkaitan erat dengan shio dalam astrologi Tiongkok dan penanggalan surya. Kombinasi dari batang dan cabang ini menghasilkan 60 variasi penamaan tahun yang konsisten digunakan di berbagai wilayah Asia Timur untuk menandai peristiwa bersejarah.

Nama Hari dan Pengaruh Filosofi Elemen

Jepang resmi mengadopsi varian kalender Gregorian pada tahun 1873. Sebelum itu, mereka menggunakan sistem kalender lunisolar selama hampir 1200 tahun. Kendati beralih ke sistem internasional, penamaan hari dalam bahasa Jepang tetap mempertahankan warisan filosofi elemen Taoisme dan konsep yin-yang.

Hari Bahasa Jepang Elemen
Minggu 日曜日 Matahari (Yang)
Senin 月曜日 Bulan (Yin)
Selasa 火曜日 Api
Rabu 水曜日 Air
Kamis 木曜日 Kayu
Jumat 金曜日 Logam (Emas)
Sabtu 土曜日 Tanah (Bumi)

Kalender Rokuyō dan Penanda Hari Baik

rokuyo calendar
Source: 小さなお葬式

Selain penanggalan standar, terdapat pula sistem kalender tradisional bernama Rokuyō yang berfungsi untuk menunjukkan hari-hari baik atau kurang beruntung. Kalender ini terdiri dari enam siklus hari yang bersumber dari astrologi Tiongkok kuno.

Bahasa Jepang Arti
先勝 Keberuntungan di pagi hari, kesialan di sore hari.
友引 Keberuntungan sepanjang hari kecuali tengah hari.
先負 Kesialan di pagi hari, keberuntungan di sore hari.
仏滅 Kesialan sepanjang hari.
大安 Keberuntungan penuh sepanjang hari.
赤口 Kesialan sepanjang hari kecuali tengah hari.

Meskipun sebagian anak muda masa kini hanya melihatnya sekilas melalui ponsel atau menganggapnya mirip ramalan zodiak modern, sistem ini masih memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam kehidupan masyarakat Jepang. Sebagai contoh, jumlah pernikahan yang dilangsungkan pada hari Taian jauh lebih tinggi dibandingkan hari Butsumetsu, yang sering kali berdampak pada perbedaan biaya penyelenggaraan acara.

Pembagian Waktu Berbasis Shio

Sebelum mengenal pembagian waktu modern seperti jam 1 atau jam 2, masyarakat tradisional Jepang menggunakan sistem jam yang didasarkan pada hewan-hewan zodiak. Jam tradisional yang disebut wadokei ini dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu siang dan malam, yang masing-masing dipetakan ke dalam lambang hewan zodiak.

Waktu siang hari dimulai sejak matahari terbit, di mana titik tengah hari berada pada jam kuda. Sementara itu, waktu malam hari dimulai saat matahari terbenam, dengan tengah malam jatuh pada jam tikus.

Meskipun pengaruh dunia Barat telah menggeser penggunaan jam tradisional dan sistem era lama dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman mengenai warisan penanggalan ini tetap memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana masyarakat Jepang memandang dan menghitung perjalanan waktu dari masa lampau hingga sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *