Kamakura mungkin tidak sepenuhnya menjadi jebakan turis seperti Asakusa, meski tempat ini memang sering dikunjungi oleh pelancong asing. Bagaimanapun, antara tahun 1185 hingga 1333, kota ini berfungsi sebagai ibu kota militer Jepang, sementara kawasan Kyoto tetap menjadi pusat spiritualnya. Kamakura berhasil menarik wisatawan lokal maupun mancanegara berkat berbagai atraksi menarik, seperti patung Buddha raksasa di Kotoku-in. Kendati selalu ramai oleh pengunjung, banyak aset sejarahnya yang kurang dikenal justru terabaikan, bahkan oleh penduduk setempat.
Mengikuti pola pertahanan pendahulunya, Kamakura terletak di sebuah lembah yang menyerupai benteng alami. Perbukitan yang ditumbuhi pepohonan lebat melingkari wilayah ini di sisi utara, timur, dan barat, sedangkan Teluk Sagami menjaga sisi selatan. Kondisi ini membuat akses masuk ke ibu kota militer kuno tersebut sangat sulit, bahkan dalam masa damai. Tersembunyi di balik hutan perbukitan ini, jauh dari pandangan pelancong biasa, terdapat salah satu rahasia terbaik Kamakura: Mandarado Yagura.
Istilah yagura merujuk pada makam berbentuk gua di Jepang yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para samurai dan biksu Buddha. Meskipun yagura dapat ditemukan di berbagai wilayah Jepang, topografi Lembah Kamakura membuat konsentrasi makam ini sangat tinggi di perbukitannya. Situs Mandarado Yagura khususnya memiliki jumlah terbanyak dibandingkan wilayah lain di Jepang, dengan menyimpan lebih dari 160 lubang makam yang unik.
Cara Menuju ke Sana

Mencapai Mandarado Yagura bukanlah hal yang mudah. Gua-gua tersebut terletak jauh di dalam perbukitan yang memisahkan Kamakura dari wilayah Zushi di sekitarnya. Bahkan jika Anda naik kendaraan sampai ke kaki bukit situs ini, Anda masih harus berjalan kaki melintasi medan yang cukup menantang. Persiapkan rencana dengan matang dan kenakan pakaian yang sesuai karena Anda akan menyusuri jalur kuno yang dulunya digunakan oleh para pedagang dan prajurit.
Tujuan pertama kita adalah teluk kecil Kotsubo. Anda memang bisa naik bus menuju titik awal pendakian dari stasiun terdekat, namun berjalan kaki dari Kamakura menyusuri garis pantai sangat disarankan. Rute ini menawarkan pemandangan yang indah dan cara yang bagus untuk melemaskan kaki. Angin laut yang sepoi-sepoi juga menjadikan tempat ini sangat ideal untuk berhenti sejenak dan menikmati makan siang.
Sebagai alternatif, Anda dapat mempercepat perjalanan dengan naik kereta Enoden yang ikonik menuju Stasiun Yuigahama atau Hase. Cara ini juga memberi Anda kesempatan untuk singgah di tempat lain seperti Hase-dera di sepanjang perjalanan. Pastikan Anda membawa cukup air dan mengisi perut sebelum mencoba pendakian ini, sebab tidak ada mesin penjual otomatis di jalur perdagangan berusia ribuan tahun ini!
Pendakian dari Kotsubo

Setelah berangkat dari Kotsubo, mulailah mendaki secara perlahan ke arah pegunungan menuju persimpangan jalan berbentuk huruf U. Ambil jalur ke kanan dan teruslah berjalan hingga Anda menemukan area di mana kendaraan keluar dari sebuah terowongan lalu masuk kembali ke terowongan lainnya. Jika petunjuk arah benar, Anda akan melihat sebuah tempat daur ulang barang bekas di dekat situ serta tangga tersembunyi yang melingkar di atas terowongan sebelah kiri. Di sinilah jalur menuju Mandarado Yagura bermula.
Naiki tangga beton modern tersebut hingga Anda tiba di jalur yang ditumbuhi tanaman liar. Inilah titik awal dari jalur pendakian yang sebenarnya. Mulai dari sini, Anda akan meninggalkan seluruh tanda-tanda modernisasi dan memasuki dunia yang seolah tidak tersentuh selama ratusan tahun. Medan bisa menjadi agak terjal, jadi perhatikan langkah Anda baik-baik karena sinyal seluler di area ini cukup buruk jika Anda membutuhkan bantuan darurat.
Nagoe Kiridoshi

Setibanya di jalur utama, Anda akan dihadapkan pada sebuah persimpangan. Berbelok ke kiri akan membawa Anda langsung ke situs Mandarado Yagura. Kendati demikian, sangat disarankan untuk meluangkan waktu menjelajahi celah batuan yang berada tepat di sebelah kanan Anda. Celah sempit ini merupakan bagian dari jalur bersejarah penting bernama Nagoe Kiridoshi yang menghubungkan Kamakura dengan Semenanjung Miura. Guna memudahkan akses masuk ke ibu kota kuno tersebut, Keshogunan Kamakura memperlebar celah-celah alami pada tebing batu menjadi jalur lintas yang disebut kiridoshi. Secara total, terdapat tujuh jalur masuk ke Kamakura, dan jalur inilah yang paling terkenal di antaranya.
Nagoe Kiridoshi memiliki jalur yang amat curam dengan lebar kurang dari 2 meter, nyaris hanya cukup dilalui oleh satu orang yang menunggang kuda. Sambil mengamati celah batu ini, bayangkan bagaimana rasanya melintasi perbukitan tersebut sebagai seorang pedagang lebih dari 800 tahun lalu sambil membawa seluruh barang dagangan, atau yang jauh lebih menegangkan, menyerang wilayah Kamakura sebagai seorang prajurit.
Menjelajahi Mandarado Yagura di Kamakura

Meskipun jalur di sebelah kanan berlanjut turun menuju Zushi, tujuan utama kita berada di arah sebaliknya. Setelah mengagumi kerja keras pembuatan jalur setapak ini pada zaman Kamakura (1185–1333) yang hanya mengandalkan perkakas tangan, saatnya kembali ke persimpangan menuju atraksi utama: Mandarado Yagura.
Lanjutkan perjalanan menyusuri cabang jalur yang lain melintasi perbukitan Kamakura yang dipenuhi pepohonan lebat. Setelah berjalan sekitar lima menit, Anda akan menemukan tangga tersembunyi yang ditumbuhi tanaman di sisi kanan yang akan membawa Anda ke gerbang masuk situs Mandarado Yagura.

Situs ini sempat ditutup untuk umum pada tahun 1996, sehingga pengunjung tidak bisa masuk secara resmi. Sebelumnya, Mandarado Yagura cukup populer dan ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Nasional yang Penting. Namun, faktor usia membuat kondisi makam-makam tersebut mengalami kerusakan, sehingga harus ditutup kecuali selama dua bulan di musim gugur ketika tim restorasi melakukan perbaikan.
Meskipun kemajuan besar telah dicapai sejak penutupan pertamanya, pekerjaan pemugaran masih terus berlangsung. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Jepang saat situs ini dibuka, memasukkannya ke dalam rencana perjalanan adalah keputusan yang tepat karena menawarkan pengalaman misterius yang jarang ditemukan di tempat lain.
Catatan: Berdasarkan informasi yang ada, Mandarado Yagura kini telah dibuka kembali secara terbatas sejak kunjungan perdana pada tahun 2016. Situs ini dibuka setiap hari Minggu dan Senin pada musim semi dan gugur, antara pukul 10.00 hingga 16.00.
Jalur Pendakian Kamakura

Setelah merasakan suasana magis di kompleks makam tersebut, saatnya kembali ke jalur setapak dan menjelajahi lebih jauh kawasan perbukitan Kamakura. Teruskan perjalanan menelusuri jalan kuno ini hingga Anda mendapati persimpangan berikutnya. Jalur pertama akan membawa Anda kembali ke Stasiun Kamakura dengan cepat, sementara jalur lainnya mengarah lebih dalam ke rute bersejarah.
Jika Anda memilih jalur atas, Anda akan menghabiskan sebagian besar hari berjalan di jalur pendakian ini. Beberapa hal menarik yang patut diperhatikan di sepanjang jalur meliputi:
- Sebuah rumah megah terpencil yang terkenal karena menginspirasi berbagai kisah horor selama lebih dari 30 tahun.
- Bekas tambang batu dari abad ke-14 dan ke-15 yang dulunya menjadi lokasi wisata populer.
- Kuil Buddha tersembunyi yang hampir dilupakan oleh dunia luar.
- Anjungan pandang dengan panorama 30 derajat yang menghadap ke lautan dan pegunungan sekitar.
Terdapat beberapa titik untuk keluar dari jalur pendakian jika Anda merasa lelah, namun sangat dianjurkan untuk terus melanjutkan perjalanan menuju Hokoku-ji.
Kembali ke Kamakura

Ikuti jalur setapak hingga Anda tiba di sebuah area terbuka kecil yang dilengkapi meja piknik. Mulai dari titik ini, Anda akan kembali memasuki kawasan hutan lebat. Jalur menjadi semakin menantang, jadi manfaatkan tempat istirahat yang tersedia untuk menghindari cedera kaki akibat kelelahan. Tidak ada lagi persimpangan menuju Hokoku-ji, Anda hanya akan menyusuri jalan berusia ratusan tahun yang bentuknya tidak banyak berubah sejak zaman Kamakura (1185–1333).
Setelah berjalan sekitar 20 menit, Anda akan menemukan pahatan patung Buddha yang diukir langsung pada dinding bukit berabad-abad lalu. Perhatikan pula area sekitar karena terdapat beberapa yagura tersembunyi dengan nuansa yang jauh lebih liar dan alami dibandingkan Mandarado Yagura.
Hutan Bambu Hokoku-ji

Sebelum kembali ke pusat Kamakura, sempatkan diri mampir ke Hokoku-ji. Sebagian besar pelancong tidak tahu bahwa Kamakura memiliki hutan bambu sendiri yang mampu menyaingi keindahan rumpun bambu di Arashiyama, Kyoto. Mengingat lokasinya yang cukup jauh dari stasiun, kuil ini menjadi tempat yang sempurna untuk mengakhiri perjalanan seharian.
Sangat disarankan untuk membeli tiket teh hijau seharga 700 yen agar Anda dapat menikmati secangkir matcha hangat sambil memandang ke arah hutan bambu yang menenangkan. Terlebih lagi, terdapat sebuah yagura terawat dengan baik di bagian ujung hutan bambu tersebut.
Destinasi Wisata Terdekat Lainnya

Jika masih ada waktu tersisa setelah menikmati teh, Anda bisa mengunjungi Tsurugaoka Hachimangu atau singgah di makam shogun pertama Keshogunan Kamakura, yaitu Minamoto Yoritomo, yang terletak di jalur pulang menuju stasiun. Stupa kecil ini berdiri sebagai pengingat khidmat akan sejarah masa lampau.
Bagi yang ingin menikmati suasana yang sama sekali berbeda setelah seharian menjelajahi makam abad pertengahan, Anda dapat bertolak ke Enoshima, sebuah pulau pasang surut kecil yang dapat dicapai dengan menaiki kereta Enoden menyusuri pesisir Shonan. Pulau ini menawarkan Kuil Enoshima, gua laut Iwaya, serta menara observasi mercusuar yang menyegarkan setelah lelah berjalan di tengah hutan.








