Meskipun bekas ibu kota Jepang ini sempat menghadapi masalah parah akibat lonjakan wisatawan sebelum pandemi, selalu ada permata tersembunyi yang belum banyak dijamah, seperti Iwashimizu Hachimangu. Di saat destinasi utama sering kali dipadati pengunjung, tempat-tempat alternatif ini menawarkan ketenangan yang jauh berbeda.
Kawasan kembar Kurama dan Kibune terletak di ujung paling utara Kyoto. Suasana di kedua desa ini sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota, menghadirkan nuansa pedesaan yang asri dan menenangkan.
Ada banyak alasan untuk memasukkan Kurama dan Kibune ke dalam daftar kunjungan Anda. Selain menjadi tempat perlindungan yang sejuk untuk menghindari teriknya musim panas, lembah kembar ini menyimpan dua tempat suci yang sangat kuno. Kurama memiliki kompleks kuil Kurama-dera, sementara Kibune terkenal dengan Kifune Shrine yang ikonik. Keduanya juga menyajikan pemandangan daun musim gugur terbaik di sekitar Kyoto.
Karena Anda hanya membutuhkan waktu sekitar setengah hari untuk menjelajahi keindahan Kurama dan Kibune, destinasi di luar jalur umum ini sangat layak untuk dimasukkan ke dalam rencana perjalanan Anda.
Cara Menuju ke Sana

Secara umum, akses menuju Kurama dan Kibune tergolong sangat mudah. Langkah awal tentu saja adalah mencapai Kyoto, yang hampir selalu masuk dalam daftar kunjungan wisatawan ke Jepang.
Bagi yang baru pertama kali berkunjung, Anda dapat memanfaatkan layanan seperti Jorudan untuk mengecek jadwal kereta serta koneksi lokal. Disarankan untuk menginap di Kyoto pada malam sebelum keberangkatan agar bisa memulai perjalanan lebih awal dan menyisakan waktu untuk menikmati kuliner malam di kawasan Pontocho dekat Sungai Kamo.
Untuk mencapai lokasi, naiklah Keihan Main Line menuju Stasiun Demachiyanagi, lalu lanjutkan perjalanan dengan Eizan Electric Railway. Karena adanya kerusakan jalur akibat tanah longsor pada tahun 2020, layanan kereta dari Stasiun Ichihara dialihkan menggunakan bus ke Kurama. Meskipun terdengar rumit, seluruh petunjuk di sini telah dilengkapi dengan label berbahasa Inggris yang jelas.
Disarankan untuk mengunjungi Kurama terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kibune agar rute penjelajahan Anda lebih optimal.
Hal yang Dapat Dilihat di Kurama

Kurama terkenal dengan kompleks kuil kuno Kurama-dera yang sejak lama menjadi pusat retret spiritual bagi warga setempat. Tempat ini juga memiliki fasilitas onsen yang mudah diakses dari pusat kota Kyoto, meski sempat ditutup sementara karena pandemi.
Kurama-dera didirikan pada abad ke-8 SM, meski tanggal tersebut masih menjadi perdebatan sejarah. Legenda setempat percaya bahwa Gunung Kurama memancarkan energi spiritual yang kuat, dan kuil ini dibangun untuk mengendalikan kekuatan tersebut.
Meskipun bangunannya sempat beberapa kali terbakar dan dipugar ulang, kompleks kuil ini tetap merawat berbagai arca bersejarah yang kini dilindungi sebagai harta karun nasional. Beberapa di antaranya meliputi patung Bishamonten, Thousand-Armed Kannon, dan Goho Maoson.
Kawasan Kurama juga sangat identik dengan atribut tengu. Patung Goho Maoson di Kurama-dera memiliki ciri fisik berhidung panjang dan bersayap yang mirip dengan sosok makhluk mitologi tersebut, di mana Gunung Kurama diyakini sebagai tempat tinggal sang pemimpin tengu, Sojobo.
Untuk mencapai puncak Gunung Kurama, pengunjung dapat memilih pendakian kaki selama kurang lebih tiga puluh tahun atau memanfaatkan kereta kabel seharga 200 yen. Jalur pendakian akan melewati Yuki Shrine yang terkenal dengan festival api tahunannya.
Pendakian dari Kurama ke Kibune

Meskipun Kurama-dera sempat berganti sekte Buddha sepanjang sejarahnya, akar pertapaan gunung atau yamabushi masih sangat terasa hingga kini. Jejak sejarah tersebut paling jelas terlihat pada jalur hiking yang menghubungkan Kurama menuju lembah tetangga di Kibune.
Cara paling populer untuk menikmati kedua desa ini adalah dengan berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang dimulai dari sisi kiri aula utama Kurama-dera. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam. Meskipun jalurnya menanjak di awal, rute selanjutnya akan melandai turun, sehingga jauh lebih nyaman jika dimulai dari sisi Kurama.
Pastikan Anda mengenakan sepatu kets atau sepatu boot yang nyaman. Jalur ini tidak memerlukan persiapan ekstrem layaknya mendaki gunung tinggi, namun tetap disarankan untuk mengantisipasi cuaca panas apabila berkunjung pada musim panas.
Hal yang Dapat Dilihat di Kibune

Setelah merampungkan pendakian, Anda akan tiba di Kibune dan dapat menikmati makan siang di berbagai restoran lokal yang menyajikan hidangan kaiseki mulai dari harga 3,000 yen. Pada musim panas, pengunjung bahkan dapat menikmati makanan di atas platform khusus yang dibangun di atas aliran sungai.
Daya tarik utama di kawasan ini adalah Kifune Shrine yang didedikasikan kepada dewa air dan hujan. Kuil ini menawarkan tradisi omikuji unik, di mana lembaran ramalan kertas harus dicelupkan ke dalam air suci kuil agar tulisannya dapat terbaca.
Selain bangunan utamanya, terdapat pula bagian kuil bernama Oku-no-Miya yang berjarak sekitar satu kilometer dari aula utama. Di area ini terdapat sebuah batu besar bernama “Boat Stone” yang diyakini menyimpan perahu dari ibu Kaisar pertama Jepang dalam legenda kuno.
Atraksi Lain di Sekitar

“Ada tiga hal yang tidak dapat saya kendalikan. Air Sungai Kamo, lemparan dadu, dan para biksu Gunung Hiei.”
— Kaisar Shirakawa
Wilayah timur laut Kyoto menyimpan banyak destinasi menarik lainnya, salah satunya adalah Gunung Hiei yang suci. Di sinilah kompleks kuil Enryaku-ji berdiri megah di lintas batas Prefektur Shiga, sebagai salah satu institusi keagamaan paling berpengaruh dalam sejarah Jepang.
Meskipun bentuk Enryaku-ji saat ini telah melalui berbagai peristiwa sejarah termasuk penghancuran oleh Oda Nobunaga, kompleks kuil ini tetap menjadi destinasi ziarah yang sarat akan nilai sejarah.
Sebagai alternatif tambahan yang lebih dekat, Anda dapat mengunjungi Sagari-matsu di Ichijo-ji, lokasi di mana pendekar legendaris Miyamoto Musashi pernah bertarung melawan banyak penantang dari Sekolah Yoshioka, serta mampir ke Hachidai Shrine terdekat.








