Home / Study / Kunci Lancar Bahasa Jepang Adalah Berlomba Membuat Kesalahan Sebanyak-Banyaknya: Apakah Anda Bisa Sampai ke Garis Finish?

Kunci Lancar Bahasa Jepang Adalah Berlomba Membuat Kesalahan Sebanyak-Banyaknya: Apakah Anda Bisa Sampai ke Garis Finish?

header 640x 64

Di dalam buku karya Daniel Kahneman yang berjudul “Thinking, Fast & Slow”, ia menjelaskan bagaimana otak manusia dapat dibagi menjadi dua sistem pemikiran utama, yaitu System 1 dan System 2.

System 1: Cepat, bersifat naluriah, dan emosional.
System 2: Lebih lambat, penuh pertimbangan, dan logis.

System 1 mencakup segala bentuk pemikiran yang muncul secara otomatis di dalam benak kita. Sebagai contoh, ketika seseorang bertanya “2+2=?”, Anda pasti langsung terpikir angka “4” tanpa harus berpikir panjang.

Atau, coba perhatikan pertanyaan yang sedikit lebih rumit berikut ini:

“Anda membeli sebuah pemukul bisbol dan sebuah bola seharga $1.10. Pemukul tersebut berharga $1.00 lebih mahal daripada bolanya. Berapa harga bolanya?”

Kira-kira separuh dari Anda mungkin menjawab dengan benar, tetapi hampir semua orang pasti sempat berpikir sejenak bahwa jawabannya adalah “$0.10”. Di sinilah System 1 bekerja. Sistem ini memunculkan informasi dengan sangat cepat tanpa melibatkan proses berpikir yang rumit atau kendali sadar. Bahkan bagi mereka yang menjawab dengan benar yaitu “$0.05”, angka “$0.10” kemungkinan besar sempat tebersit di kepala mereka selama sedetik, sebelum akhirnya System 2 mengambil alih untuk menyaring dan mengoreksi jawaban tersebut.

Di sisi lain, System 2 adalah bagian otak yang bersifat rasional dan analitis. Menggunakan System 2 hampir selalu terasa melelahkan karena membutuhkan usaha mental yang besar, berbanding terbalik dengan System 1 yang instan. Contoh penggunaan System 2 adalah ketika Anda mencoba menghitung perkalian berikut di dalam kepala: 343 × 934. Semakin keras Anda berpikir, pupil mata Anda akan semakin melebar dan detak jantung pun meningkat. Sebagian orang mungkin akan mencapai batas kemampuan kognitifnya lalu menyerah, sementara yang lain mungkin lebih terbiasa dengan angka sehingga membutuhkan usaha yang lebih sedikit. Namun, terlepas dari hasilnya, Anda semua sedang menggunakan System 2.

Lalu, apa hubungannya konsep ini dengan proses mempelajari bahasa baru?

System 1 adalah representasi dari kefasihan. Dalam berbagai komunitas pembelajaran bahasa, hal ini sering disebut sebagai pengetahuan yang telah diakuisisi (acquired knowledge).

System 2 adalah pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar (learned knowledge). Ini adalah metode belajar tradisional yang biasa kita temui di sekolah, di mana Anda harus berpikir secara sadar untuk mengingat dan menggunakan sesuatu. Proses ini tidak otomatis, tidak intuitif, dan tentunya belum mencapai tingkat kefasihan seperti System 1.

Tujuan utama dalam berbagai platform pembelajaran seperti Tofugu dan WaniKani adalah mencari cara agar kemampuan bahasa Jepang Anda dapat bergeser menjadi tugas bagi System 1. Pada intinya, tujuannya adalah membantu Anda berbahasa Jepang secara fasih tanpa harus berpikir dan menimbang-nimbang setiap kosakata yang ingin diucapkan.

Ada banyak sekali pendapat mengenai cara terbaik untuk mencapai hal tersebut. Namun, mari kita mulai dari satu strategi penting yang patut dicoba:

Membuat Banyak Kesalahan untuk Mencapai Kefasihan Berbahasa Jepang

Membuat kesalahan dalam jumlah yang banyak adalah salah satu cara tercepat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang Anda—atau keterampilan apa pun pada umumnya. Lebih tepatnya, bukan sekadar membuat kesalahan itu sendiri yang membuat Anda mahir, melainkan mentalitas yang terbuka untuk membuat banyak kesalahan, lalu memperbaikinya secara langsung saat itu juga. Itulah kunci utama kesuksesan.

Hal ini mengingatkan kita pada sebuah kisah dalam buku Art & Fear:

Seorang instruktur seni keramik membagi kelasnya menjadi dua kelompok pada hari pertama perkuliahan. Kelompok di sisi kiri studio akan dinilai semata-mata dari jumlah (kuantitas) karya yang mereka hasilkan, sementara kelompok di sisi kanan dinilai berdasarkan kualitas karya mereka. Pada hari penilian akhir, sang dosen akan menimbang karya kelompok kuantitas: lima puluh pon keramik mendapatkan nilai “A”, empat puluh pon mendapatkan nilai “B”, dan seterusnya. Sebaliknya, kelompok kualitas hanya diwajibkan membuat satu buah karya saja, asalkan karya tersebut sempurna untuk mendapatkan nilai “A”.

Ketika hari penilaian tiba, sebuah fakta menarik terungkap: karya-karya dengan kualitas terbaik justru dihasilkan oleh kelompok yang dinilai berdasarkan kuantitas. Rupanya, saat kelompok kuantitas sibuk memproduksi berbagai macam benda dan belajar dari kesalahan-kesalahan mereka, kelompok kualitas justru menghabiskan waktu berteori tentang kesempurnaan. Pada akhirnya, kelompok kualitas tidak menghasilkan apa pun selain teori yang muluk-muluk dan segumpal tanah liat yang tak berbentuk.

Kelompok kuantitas membuat lebih banyak kesalahan, tetapi setiap kali mereka berbuat salah, mereka langsung membuat karya baru dengan mencoba memperbaiki kesalahan sebelumnya. Mereka mengulang proses tersebut hingga mampu menghasilkan karya berkualitas tinggi dengan cepat. Dapat diasumsikan bahwa pada akhir perkuliahan, mereka mampu membuat keramik dengan menggunakan kapasitas otak yang lebih sedikit (mengandalkan System 1) dibandingkan kelompok kualitas. Dalam artian tertentu, membuat keramik berkualitas tinggi telah menjadi hal yang “lancar” bagi mereka.

Rows of pottery that achieve japanese fluency
Sumber: Heather Cowper

Melalui latihan yang konsisten dan keberanian untuk membuat banyak kesalahan, seseorang dapat mengubah suatu tindakan yang rumit menjadi proses otomatis di dalam System 1. Prinsip yang sama juga berlaku saat Anda mempelajari bahasa Jepang.

Cara Menyikapi Kesalahan dalam Belajar

A Honda automobile crashed on its side
Sumber: Aaron Parecki

Banyak orang merasa takut untuk membuat kesalahan, padahal hal tersebut sangat krusial jika Anda ingin menguasai suatu keahlian. Setiap orang yang telah fasih berbahasa Jepang sebagai bahasa kedua pasti telah melewati jumlah kesalahan yang kurang lebih sama untuk mencapai titik tersebut. Karena Anda tidak dapat melewatkan fase ini, cara terbaik adalah menghadapinya sesegera mungkin.

Kendati demikian, mempraktikkan hal ini tidak selalu mudah karena beberapa hambatan:

  1. Banyak orang tidak memiliki akses ke sumber daya yang tepat, atau bahkan tidak tahu di mana harus menemukannya.
  2. Banyak yang merasa terlalu malu ketika membuat kesalahan di depan umum.

Jika kedua kendala ini dapat diatasi, membuat kesalahan tidak hanya akan menjadi hal yang mungkin dilakukan, tetapi juga terasa jauh lebih mudah.

Memanfaatkan Sumber Daya yang Tepat

Cara paling mudah untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya adalah melalui latihan percakapan langsung. Anda berbicara, seseorang mengoreksi bagian yang salah, lalu Anda memperbaikinya. Proses ini membuat Anda belajar dari kesalahan secara instan hingga akhirnya pola yang benar terserap secara alami.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki akses ke lawan bicara yang siap mengoreksi setiap saat. Jika Anda ingin fasih berbahasa Jepang dengan cepat, latihan percakapan ini idealnya dilakukan setiap hari, yang mana mungkin berada di luar anggaran finansial sebagian orang.

Kendati demikian, kemudahan internet saat ini sangat membantu. Platform seperti italki memungkinkan Anda menyewa tutor privat dengan harga yang cukup terjangkau untuk sekadar berlatih percakapan santai dengan penutur asli.

Sebagai alternatif, Anda bisa mencari partner pertukaran bahasa (language exchange). Namun, metode ini terkadang memiliki kekurangan, seperti kewajiban bagi Anda untuk membantu mereka mempelajari bahasa ibu Anda, yang membuat waktu belajar menjadi terbagi. Selain itu, tingkat konsistensi partner biasanya tidak setinggi tutor profesional yang dibayar.

Mengatasi Rasa Malu

Jika hambatan utama Anda adalah rasa malu atau keinginan untuk selalu tampil sempurna, cobalah membalikkan sudut pandang. Ketika seseorang sedang belajar bahasa ibu Anda, apakah Anda akan menghakimi atau mengolok-ngolok mereka karena membuat kesalahan? Tentu saja tidak. Anda pasti ingin membantu mereka agar menjadi lebih baik.

Menjadikan Kesalahan Sebagai Sebuah Permainan

Sorry board game slightly askew
Sumber: John Liu

Salah satu trik yang efektif untuk mengatasi rasa enggan membuat kesalahan adalah dengan mencatat setiap kesalahan yang Anda buat. Dengan begitu, Anda bisa memantau perkembangan harian Anda, misalnya dengan melihat penurunan jumlah kesalahan dari hari ke hari.

Jadikan kesalahan sebagai sesuatu yang ingin dicapai alih-alih dihindari. Jika Anda menargetkan jumlah kesalahan tertentu setiap harinya, Anda secara tidak langsung dipaksa untuk mencoba struktur kalimat yang lebih menantang. Seiring meningkatnya kemampuan bahasa Jepang Anda, membuat kesalahan akan menjadi semakin sulit, sehingga Anda harus terus mendorong diri menggunakan materi yang lebih kompleks. Dengan konsistensi tinggi, kemajuan yang Anda peroleh akan sangat luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *