Home / Travel / Kuliah di Jepang: Liburan Musim Semi dalam Hidup Jika Anda punya satu kesempatan terakhir untuk bersantai, bukankah Anda akan mengambilnya?

Kuliah di Jepang: Liburan Musim Semi dalam Hidup Jika Anda punya satu kesempatan terakhir untuk bersantai, bukankah Anda akan mengambilnya?

header 640x 27

Banyak orang di Jepang sering mendeskripsikan masa-masa universitas sebagai liburan musim semi dalam kehidupan seseorang. Ada sebuah pandangan umum bahwa kesempatan untuk menikmati waktu luang dan bersenang-senang hanya bisa didapatkan selama seseorang masih berstatus sebagai mahasiswa.

Jika Anda memegang stereotip bahwa orang Jepang selalu bekerja keras, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi para mahasiswa mereka. Perguruan tinggi di Jepang pada umumnya tidak dirancang untuk memberikan rangsangan intelektual yang mendalam atau ketatnya gemblengan akademis, kecuali untuk jurusan tertentu seperti kedokteran.

Sebagian besar mahasiswa menjalani masa kuliah mereka dengan santai tanpa beban serius. Namun, karena masa perkuliahan berlangsung selama empat tahun, muncul pertanyaan: untuk apa mereka pergi ke kuliah jika hanya dihabiskan untuk bersantai?

Menelusuri Konsep Liburan Musim Semi

japanese college easy drinks
Suasana yang lumrah dijumpai dalam kehidupan mahasiswa Jepang.

Sebagai ilustrasi, mari kita ambil contoh seorang pemuda fiktif bernama Takashi yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa di sebuah universitas papan atas.

Takashi hampir tidak pernah serius belajar selama kuliah, dan ia tidak sendirian. Berbagai data menunjukkan bahwa durasi belajar mahasiswa Jepang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan mahasiswa di Amerika Serikat. Takashi sering membolos beberapa kelas dalam seminggu. Bahkan ketika ia hadir secara fisik, sebagian besar teman sekelasnya justru melamun atau tidur sementara dosen sedang mengajar.

Lalu, apa yang dilakukan Takashi dan rekan-rekannya? Banyak dari mereka menghabiskan waktu dengan menghadiri pesta, mengikuti kikon, bermain video game, atau berkumpul untuk bermain mahjong semalaman di rumah teman. Sebagian mahasiswa memanfaatkan waktu luang untuk bekerja paruh waktu. Bagi mereka yang berasal dari universitas bergengsi, tidak sedikit yang mencari penghasilan dengan cara mengajar anak-anak SMA cara menghadapi ujian.

Selain itu, ada pula mahasiswa yang mendedikasikan seluruh waktunya untuk klub olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Singkat kata, mereka melakukan apa saja kecuali membaca buku pelajaran.

Sebelum dan Sesudah Masuk Universitas

japanese-college-easy-celebrating-good-grades
Selamat atas keberhasilan diterima di universitas ternama, yang sering kali disebut sebagai jeda studi selama empat tahun!

Sebelum menikmati masa santai tersebut, Takashi sempat mengalami masa-masa sekolah yang melelahkan, sebuah situasi yang lumrah dijumpai di kawasan Asia Timur. Sejak tahun kedua sekolah menengah, ia harus mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk universitas yang sangat menentukan.

Ia harus berjuang memahami kalkulus yang rumit dan menghafal materi sejarah yang begitu banyak. Ketika mempelajari sastra klasik Jepang, ia sering kali merasa kesulitan memahami bahasa dari leluhurnya sendiri.

Jika gagal dalam ujian, ia harus mengikuti kelas tambahan di bimbingan belajar atau juku. Apabila belum berhasil masuk universitas impian, pilihannya adalah menjadi ronin, yakni menunda satu tahun penuh untuk belajar dan kembali mengikuti ujian masuk pada tahun berikutnya.

Setelah melewati masa persiapan yang panjang dan melelahkan, Takashi akhirnya diterima di sebuah universitas di Tokyo. Pada hari pertamanya, ia naik kereta pukul 08.30 pagi dan terjepit di antara lautan pekerja kantoran yang tampak mengantuk dan mengenakan dasi yang menyesakkan. Pemandangan pagi di dalam kereta Tokyo hampir tidak pernah diwarnai oleh senyuman.

japanese college easy crammed train

Takashi menyelesaikan semua kelas pada hari itu dan baru bisa pulang menjelang pukul enam sore, berbarengan dengan jam pulang para pekerja yang tidak lembur. Pada hari lain di minggu pertama, ia menghadiri orientasi klub kampus dan baru pulang pukul sembilan malam. Kereta masih padat oleh para pekerja yang lembur.

Ketika mengikuti pesta penyambutan atau shinkan, ia baru naik kereta pukul sebelas malam. Suasana gerbong sedikit lebih longgar, namun aroma alkohol dari para pekerja yang mengikuti nomikai atau pesta minum sangat menyengat.

Melihat para pekerja yang mabuk di dalam kereta, ia menyadari bahwa empat tahun ke depan ia akan menjadi bagian dari mereka. Kuliah pada akhirnya hanyalah batu loncatan untuk mendapatkan gelar, mencantumkan nama universitas bergengsi di dalam daftar riwayat hidup, lalu bekerja seumur hidup.

Keesokan harinya, meskipun memiliki jadwal kuliah pukul sembilan pagi, ia memilih untuk tidak hadir karena kesulitan bangun tidur. Pikirannya sederhana: toh pada akhirnya ia akan bekerja tanpa henti di masa depan, jadi tidak perlu terlalu memaksakan diri sekarang.

Kebiasaan membolos ini lambat laun menjadi rutinitas karena tidur terasa jauh lebih penting. Tanpa pengawasan orang tua, tingkat kehadirannya di kelas pagi merosot drastis.

Faktor Pendukung di Luar Akademis

japanese college easy lines
Para pencari kerja sedang menuju ke tempat wawancara di Nissan.

Alasan konvensional di balik santainya kehidupan mahasiswa seperti Takashi adalah karena kenyataan bahwa nilai akademik yang buruk ternyata tidak berdampak buruk pada karier masa depan mereka.

Perusahaan-perusahaan di Jepang umumnya tidak terlalu memperhatikan transkrip nilai pelamar kerja. Alih-alih melihat nilai IPK, mereka lebih berfokus pada nama besar universitas asal pelamar, lalu menyaring mereka melalui serangkaian wawancara, tes internal, dan diskusi yang diadakan tepat di tengah semester akademik.

Takashi mungkin memilih untuk bergabung dengan klub olahraga yang menuntut latihan fisik ketat pada pagi dan sore hari yang berbenturan dengan jadwal kuliah. Jika harus memilih, ia tentu akan memprioritaskan kegiatan klubnya, bahkan jika hal itu membuatnya harus mengulang tahun akademik.

Bagi Takashi, hal tersebut merupakan investasi jangka panjang. Sebagai imbalan atas dedikasinya menjaga prestasi klub, para alumni biasanya akan membantu para anggota junior dalam mencari pekerjaan. Anggota klub olahraga tertentu bahkan sering kali mendapat perhatian khusus saat menjalani wawancara kerja di perusahaan tempat para senior mereka telah bekerja.

Sistem Perkuliahan yang Longgar

lion japanese college easy

Faktor lain yang membuat mahasiswa jarang hadir di kelas adalah metode pengajaran itu sendiri. Dalam beberapa mata kuliah besar, ratusan mahasiswa dikumpulkan dalam satu aula kuliah sehingga absensi sering kali diabaikan. Kalaupun ada presensi, mahasiswa bisa menitipkan tanda tangan kepada teman.

Ujian akhir juga tergolong tidak terlalu sulit. Sebagian besar ujian sosiologi, misalnya, berbentuk pilihan ganda dan mengisi titik-titik. Karena jumlah mahasiswa yang terlalu banyak, para dosen biasanya hanya mengandalkan satu ujian akhir semester saja untuk penilaian, menghindari repotnya memeriksa ratusan tugas esai.

Beban kerja untuk kelas-kelas kecil pun terbilang ringan. Banyak mahasiswa pertukaran pelajar yang merasa bahwa jumlah bahan bacaan di universitas Jepang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan universitas asal mereka. Di sisi lain, mahasiswa sering kali mengambil hingga enam belas mata kuliah berbeda dalam satu semester, yang justru menunjukkan bahwa setiap mata kuliah tersebut tidak terlalu intensif.

Kesimpulan

sakura road japanese college easy
Pemandangan di luar Hitotsubashi University pada musim semi.

Sistem pendidikan tinggi di Jepang memang tidak menuntut kerja keras yang berlebihan, meski hal ini bervariasi tergantung pada jurusan, institusi, dan individu masing-masing. Takashi hanyalah gambaran umum dari sebagian mahasiswa yang memanfaatkan masa kuliah sebagai liburan panjang.

Meski demikian, mengabaikan perkuliahan formal bukan berarti sepenuhnya hal yang negatif. Sebagian mahasiswa menggunakan waktu luang tersebut untuk terlibat dalam kegiatan sukarela, aktivisme, atau memperluas wawasan di luar lingkungan kampus.

Namun, kelompok mahasiswa yang produktif di luar kelas bukanlah mayoritas. Jangan mengharapkan peningkatan akademis yang signifikan jika Anda memutuskan untuk berkuliah di Jepang.

Situasi ini perlahan mulai bergeser seiring dengan mengetatnya persaingan kerja di Jepang dalam beberapa tahun terakhir, di mana perusahaan mulai lebih teliti mengamati rekam jejak aktivitas pelamar selama kuliah. Kendati demikian, pola keseharian sebagian besar mahasiswa Jepang masih tetap sama.

Keputusan untuk datang ke Jepang mungkin tidak didasari oleh kualitas pendidikannya semata, melainkan karena berbagai alasan lain yang menarik untuk dijelajahi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *