Home / Travel / Kuil Shinto vs Buddha di Jepang: Cara Mudah Membedakannya

Kuil Shinto vs Buddha di Jepang: Cara Mudah Membedakannya

Tourists Walk Down the Stairs of Jishu Shrine at Kiyomizudera

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Jepang, singgah di tempat ibadah tradisional adalah agenda yang hampir wajib. Arsitekturnya yang klasik dan kaya nilai sejarah selalu berhasil memikat wisatawan dari berbagai latar belakang. Namun, di balik keindahan struktur bangunannya, sering kali sulit membedakan mana yang merupakan kuil Shinto dan mana yang kuil Buddha. Panduan ini dirangkum untuk membantu Anda memahami persamaan, perbedaan, serta hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mengunjungi keduanya.

Perbedaan Keagamaan

Buddhist monks recite the sutras at a temple in Japan

Perbedaan mendasar antara tempat ibadah ini bersumber dari ajaran yang dianutnya. Shinto merupakan sistem kepercayaan asli Jepang yang bersifat animisme, berpusat pada roh atau dewa yang disebut kami yang dapat berwujud apa saja, termasuk fenomena alam. Shinto tidak memiliki pendiri tunggal maupun doktrin tertulis yang kaku pada masa lalu, hingga akhirnya pemerintah modern pada zaman Meiji mendefinisikannya secara resmi sebagai sebuah agama.

Dewa tertinggi dalam mitologi Shinto adalah Amaterasu, sang dewi matahari, yang diyakini sebagai leluhur garis keturunan kekaisaran Jepang. Karena kami juga diyakini bersemayam di alam seperti gunung, pohon, atau air terjun, sebuah kuil Shinto bahkan tidak selalu harus memiliki bangunan utama. Sebagai contoh, Omiwa Shrine di Nara tidak memiliki bangunan suci utama (honden) karena Gunung Miwa itu sendiri dipandang sebagai objek pemujaan yang suci.

Di sisi lain, agama Buddha masuk ke Jepang melalui Korea pada abad ke-6 dan mulai dianut oleh kalangan penguasa saat itu. Tradisi Buddha kemudian mengambil peran dalam urusan kematian dan akhirat, yang sebelumnya dihindari oleh tradisi Shinto. Seiring waktu, agama Buddha berkembang menjadi berbagai aliran seperti Tendai, Shingon, Zen, dan Tanah Suci, dengan pusat-pusat keagamaan penting seperti di Mt. Koya dan Kamakura.

Meskipun memiliki akar yang berbeda, praktik keagamaan masyarakat Jepang umumnya tidak bersifat eksklusif. Banyak warga yang menjalani tradisi Shinto sekaligus Buddha dalam kehidupan sehari-hari, tecermin dari jumlah data resmi penganut kedua kepercayaan di Jepang yang bahkan melampaui jumlah total populasi penduduknya.

Abad-Abad Sinkretisme

Shinto fox statues that are dressed in Buddhist robes as representation of the syncretic Shinbutsu Shugo system

Keterkaitan arsitektur dan budaya antara keduanya berakar dari sejarah panjang Shinbutsu Shugo, sebuah sistem di mana dewa-dewa Shinto dan Buddha disatukan dalam tatanan spiritual yang sama selama sekitar seribu tahun. Konsep ini membuat keberadaan kuil Shinto di dalam kompleks Buddha atau sebaliknya menjadi hal yang lumrah pada masa lampau.

Situasi ini berubah drastis pada tahun 1868 ketika pemerintah Meiji mengeluarkan dekrit pemisahan resmi antara Shinto dan Buddha. Kebijakan tersebut memicu gerakan pembersihan yang berujung pada perusakan properti keagamaan Buddha. Meskipun demikian, warisan sinkretisme selama satu milenium tidak dapat dihapus begitu saja dari kebudayaan Jepang.

Contoh perpaduan unik ini dapat dilihat di Toyokawa Inari di Aichi, yang secara resmi merupakan kuil Buddha Zen tetapi memiliki gerbang torii dan ribuan patung rubah batu di halamannya. Sebaliknya, di Tokyo terdapat Asakusa Shrine yang berdiri berdampingan dengan Senso-ji, menceritakan kisah pendirian kuil yang erat kaitannya dengan para nelayan lokal dan tokoh pendiri di masa lalu.

Perbedaan Visual yang Dapat Diamati

The ever-iconic floating torii gate of Miyajima’s Itsukushima Shrine in Hiroshima Prefecture.

Cara paling cepat mengenali tempat ibadah di Jepang adalah melalui bagian pintu masuknya. Kuil Shinto ditandai dengan keberadaan gerbang torii sebagai batas area suci. Sementara itu, kuil Buddha biasanya menyambut pengunjung dengan bangunan gerbang berukuran besar bergaya Niomon atau Sanmon, serta sering kali dilengkapi dengan bangunan pagoda bertingkat.

Pada peta Jepang, kedua jenis tempat ibadah ini juga dibedakan menggunakan simbol yang berbeda. Kuil Buddha umumnya dilambangkan dengan simbol Manji (卍), sedangkan kuil Shinto menggunakan piktogram torii.

Patung penjaga di pintu masuk juga memberikan petunjuk. Kuil Buddha sering kali dijaga oleh patung raja surgawi Nio dengan posisi mulut terbuka dan tertutup. Di sisi lain, kuil Shinto lazimnya menampilkan sepasang patung singa-anjing komainu, atau patung rubah jika kuil tersebut didedikasikan untuk dewa Inari.

Konvensi Penamaan

The Kompira-san or Kotohiragu shrine grounds have all sorts of things to visit such as the art and pantings at Omote Shoin, one of Japan’s Important Cultural Properties, the Nakatado-gun, a tea room cafe, and the ema hall.

Nama lokasi sering kali menjadi cara tercepat untuk mengenali jenis tempat ibadah sebelum mengamati arsitekturnya. Kuil Shinto biasanya diakhiri dengan akhiran seperti -jinja, -taisha, -jingu, atau -gu. Sebagai contoh, Fushimi Inari Taisha dan Kotohira-gu adalah destinasi Shinto.

Sebaliknya, kuil Buddha ditandai dengan akhiran nama seperti -ji, -dera, atau -in, yang dapat ditemukan pada nama-nama populer seperti Senso-ji, Kiyomizu-dera, atau Daisho-in. Mengenali akhiran nama ini akan sangat membantu wisatawan dalam mengidentifikasi jenis lokasi yang dikunjungi.

Dasar Etika Pemujaan

A pair of travelers sit at a Buddhist temple in Japan

Baik kuil Shinto maupun Buddha biasanya menyediakan area pembersihan diri yang disebut temizuya di dekat pintu masuk. Pengunjung dibimbing untuk membasuh tangan kiri, tangan kanan, lalu membersihkan mulut menggunakan air dari gayung sebelum mendekati area utama.

Meskipun ritual pembersihan awal serupa, tata cara berdoa di dalam kedua tempat ini berbeda. Di kuil Shinto, tradisi umumnya melibatkan pelemparan koin, membunyikan lonceng, membungkuk dua kali, menepuk tangan dua kali, melafalkan doa singkat, dan diakhiri dengan satu kali membungkuk. Tepuk tangan merupakan ciri khas ritual Shinto yang tidak dilakukan di kuil Buddha.

Berdoa di kuil Buddha dilakukan secara lebih tenang tanpa tepuk tangan. Pengunjung cukup melemparkan koin dan merapatkan kedua tangan dalam doa. Sebagian kuil Buddha juga menyediakan dupa yang dibakar dan asapnya diarahkan ke bagian tubuh tertentu. Selain itu, pengunjung sering kali diwajibkan melepas alas kaki saat memasuki aula utama kuil Buddha.

Jam Operasional, Biaya, dan Perencanaan

The stone garden of a Buddhist temple in Japan

Kuil-kuil Buddha di kota besar seperti Kyoto dan Nara umumnya mematok jam buka yang teratur serta mengenakan biaya tiket masuk berkisar ratusan yen. Sebaliknya, sebagian besar kuil Shinto dapat dikunjungi secara gratis dan sering kali terbuka sepanjang hari tanpa gerbang penutup, meski ada pula pengecualian seperti Meiji Jingu yang mengikuti jadwal matahari terbit hingga terbenam.

Kedua tempat ibadah ini juga menawarkan Goshuin, yaitu stempel kaligrafi khusus yang dikumpulkan dalam buku catatan bernama Goshuincho. Pengunjung disarankan untuk berdoa terlebih dahulu sebelum meminta stempel ini di area yang telah ditentukan.

Festival dan Acara Tahunan

A crowd of participants carry a mikoshi through Yasukuni Shrine during the Mitama Festival. Glowing rows of yellow lanterns flank the procession, while beams of light and the silhouette of a torii gate create a dramatic backdrop against the evening sky.

Sebagian besar festival tradisional di Jepang berkaitan erat dengan kuil Shinto, yang biasanya menampilkan mikoshi atau altar portabel untuk diarak keliling lingkungan sekitar. Contohnya adalah Mitama Festival di Tokyo atau Sanja Festival di Asakusa yang memadukan unsur perayaan Shinto dengan latar belakang sejarah kuil Buddha terdekat.

Di sisi lain, kuil Buddha juga menyelenggarakan acara tahunan penting yang bernuansa liturgis, seperti ritual Omizutori di Todai-ji yang telah berlangsung selama lebih dari satu milenium. Meskipun memiliki tata cara ritual yang berbeda, skala kemeriahan perayaan Buddha sering kali sama megahnya dengan festival Shinto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *