Jika sering berselancar di media sosial, Anda mungkin kerap melihat foto-foto Motonosumi Inari Shrine. Tempat suci Shinto yang terletak di sepanjang pesisir Laut Jepang di Prefektur Yamaguchi ini merupakan salah satu spot paling fotogenik di Jepang. Berkat popularitasnya di Instagram, 123 gerbang torii di tempat ini telah menjadi daya tarik bagi para kreator konten yang mencari latar foto menarik. Meskipun pamornya sedang naik daun, lokasinya yang terpencil membuat Motonosumi Inari Shrine tetap terasa seperti destinasi yang jarang dijamah wisatawan biasa.
Dibandingkan tempat suci Shinto lainnya di Jepang, Motonosumi Inari Shrine tergolong baru. Tempat ibadah berukuran kecil ini didirikan pada tahun 1995 setelah seorang warga lokal di Nagato menerima pesan spiritual dari roh rubah putih. Rubah-rubah ini dikenal sebagai utusan dewa kesuburan, beras, teh, sake, pertanian, dan industri, yaitu Inari Okami, sehingga kuil ini memiliki keterkaitan erat dengan sang kami. Kini, masyarakat setempat datang untuk memanjatkan doa demi memohon keberuntungan serta kelancaran dalam proses persalinan.
Secara umum, letak Motonosumi Inari Shrine cukup jauh dari kota-kota besar sehingga kurang ideal jika dikunjungi sendirian hanya untuk tujuan wisata singkat, kecuali bagi para pencari konten. Kendati demikian, jika Anda sedang menjelajahi kawasan utara Prefektur Yamaguchi, melewatkan kunjungan ke tempat ini tentu menjadi sebuah kerugian. Banyak pelancong memasukkan kuil ini ke dalam daftar destinasi impian mereka saat berkunjung ke Hagi.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan menuju Motonosumi Inari Shrine bukanlah hal yang mudah. Cara terbaik untuk mencapainya adalah dengan menggunakan mobil sewaan. Dengan berkendara sendiri, Anda bisa langsung menuju Kota Nagato melalui Jalan Tol Chugoku. Sementara itu, bagi pelancong yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, Anda harus naik kereta lokal menuju Stasiun Nagato-shi.
Perhentian akhir Anda adalah Stasiun Nagato Furuichi. Terkadang, jalur kereta menuju stasiun kecil ini mengalami kendala atau perbaikan, sehingga JR West menyediakan layanan bus pengganti untuk segmen rute tertentu, sementara titik pemberhentiannya tetap sama. Jadwal transportasi umumnya sudah disesuaikan pada aplikasi perjalanan seperti Jorudan, sehingga Anda dapat merencanakan waktu keberangkatan dengan mudah.
Tantangan sebenarnya dimulai setibanya di Stasiun Nagato Furuichi. Berbeda dengan kuil di daerah pedesaan lainnya yang menyediakan layanan bus khusus, tidak ada bus umum yang langsung menuju area parkir kuil ini. Oleh karena itu, Anda harus menggunakan taksi. Biaya perjalanannya berkisar sekitar 3.000 yen untuk sekali jalan, yang cukup masuk akal terutama jika Anda bepergian secara berkelompok. Berjalan kaki sebenarnya bisa dilakukan, namun jalurnya cukup berat dan berbukit sehingga tidak disarankan.
Tidak seperti stasiun besar di Tokyo atau Hiroshima, Anda tidak akan menemukan deretan taksi yang langsung siap beroperasi di luar stasiun kecil ini. Untungnya, terdapat kantor perusahaan taksi lokal tepat di dekat Stasiun Nagato Furuichi. Pengemudi di sana sudah terbiasa mengantar wisatawan asing yang ingin menyaksikan keindahan Motonosumi Inari Shrine, sehingga kendala bahasa biasanya dapat diatasi dengan mudah.
Menjelajahi Motonosumi Inari Shrine

Motonosumi Inari Shrine memiliki karakter yang sangat berbeda dari kuil utamanya, Fushimi Inari Taisha di Kyoto. Meskipun 123 gerbang torii merahnya tampak begitu memukau, daya tarik utama di tempat ini adalah kontras warna yang mencolok antara gerbang merah tersebut dengan biru kobalt Laut Jepang. Prosesi gerbang torii ini tidak membutuhkan waktu seharian untuk dijelajahi, sehingga Anda bisa menikmati suasana pesisir pantai dengan santai.
Daya tarik utama kuil ini tentu saja barisan gerbang torii yang membentang dari area parkir hingga turun ke arah tebing karang. Menyusuri tangga di bawah naungan 123 gerbang torii memberikan pengalaman tersendiri, meskipun tidak sepanjang rute di kuil utama Kyoto. Di ujung barisan torii, terdapat beberapa patung Jizo serta titik pandang yang menawarkan pemandangan jernih Laut Jepang.
Kembali ke bagian atas dekat awal prosesi gerbang merah, Anda akan menemukan area utama kuil. Yang unik, kotak amal atau offertory box di kuil ini tidak diletakkan di depan bangunan utama seperti pada umumnya, melainkan dipasang di bagian atas gerbang torii yang tinggi. Pengunjung ditantang untuk melempar koin mereka ke dalam kotak amal yang tergantung di atas tersebut.
Konon, jika lemparan koin Anda berhasil masuk ke dalam kotak amal, utusan rubah putih Inari akan mengabulkan permohonan Anda. Tradisi unik ini memberikan sentuhan interaktif pada ritual berdoa. Suasana di sekitar area ini kerap ramai oleh pengunjung yang antusias mencoba peruntungan mereka untuk melempar koin ke atas.
Kembali ke Stasiun Nagato Furuichi
Bagi pelancong yang menggunakan mobil sewaan, bagian perjalanan ini tentu dapat dilewati. Namun bagi yang menggunakan transportasi umum, perjalanan pulang membutuhkan sedikit perencanaan. Karena Anda datang menggunakan taksi, Anda juga harus memesan taksi untuk kembali ke stasiun. Pastikan untuk meminta tanda terima pembayaran dari pengemudi karena nomor kontak perusahaan taksi tertera di sana, yang akan Anda butuhkan untuk memanggil taksi jemputan.
Tantangan berikutnya adalah jadwal keberangkatan kereta di wilayah kawasan Setouchi yang tergolong jarang. Anda perlu memperhitungkan waktu dengan cermat agar tidak terlalu lama menunggu di stasiun kecil tersebut. Ketika singgah di sana, wisatawan kerap harus meluangkan waktu sekitar 90 menit hingga kereta berikutnya tiba.
Sebagai tips, terdapat gerai Lawson dan 7-Eleven yang dapat dicapai dalam waktu sekitar lima menit berjalan kaki dari stasiun. Anda bisa memanfaatkan waktu tunggu tersebut untuk membeli camilan atau minuman dingin guna mengisi waktu luang sebelum kereta datang.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

Berkunjung ke wilayah terpencil ini akan lebih maksimal jika digabungkan dengan destinasi lain di Prefektur Yamaguchi. Anda bisa memulai perjalanan dari kota pelabuhan Shimonoseki yang bersejarah, yang terletak di ujung pulau utama Honshu.
Selain itu, di sebelah timur Motonosumi Inari Shrine terdapat bekas kota kastil Hagi. Kawasan ini dulunya merupakan pusat kekuasaan Klan Mori yang memegang peranan penting menjelang akhir Keshogunan Tokugawa. Selain kaya akan nilai sejarah, Hagi juga terkenal sebagai salah satu pusat kerajinan tembikar terbaik di Jepang.
Bagi yang menggunakan mobil sewaan, menjajal Jembatan Tsunoshima dan menyeberang ke pulau di sekitarnya adalah aktivitas yang sangat direkomendasikan. Sebagai salah satu jembatan lengkung terpanjang di Jepang, pemandangan di kawasan ini sering menjadi ikon pariwisata Yamaguchi. Pulau Tsunoshima sendiri menawarkan pantai-pantai berpasir putih dengan air laut berwarna pirus yang jernih, yang kini sudah diizinkan bagi pengunjung untuk berenang.








