Home / Travel / Kenapa Harus Keluar dari Jalur Mainstream? Wisata Autentik di Jepang

Kenapa Harus Keluar dari Jalur Mainstream? Wisata Autentik di Jepang

Part of the Kumano Kodo in Wakayama Prefecture

“Donny, mengapa kamu selalu berfokus pada destinasi yang jarang dijamah orang?”

— Semua Orang

Sejujurnya, saya sering sekali menerima pertanyaan ini dalam berbagai bentuk setiap minggunya. Bukankah sebagian besar wisatawan lebih tertarik mengunjungi tempat-tempat populer seperti Fushimi Inari Taisha? Mengingat industri pariwisata asing di Jepang sedang berkembang pesat, mengapa tidak membuat konten yang hanya menyoroti destinasi paling mainstream saja?

Alasan singkatnya adalah karena tempat-tempat populer tersebut kini telah terlalu dikomersialkan hingga kehilangan keasliannya. Lokasi yang terkenal secara historis, seperti Kiyomizu-dera di Kyoto, sekarang begitu dipadati oleh rombongan tur wisata sehingga suasananya lebih mirip seperti berkunjung ke taman hiburan. Anda tentu bisa membayangkan betapa sulitnya meresapi nilai spiritual dari sebuah tempat suci ketika Anda harus khawatir tersolok tongkat selfie orang lain.

Dengan menghindari kerumunan pelancong dan menjelajahi tempat-tempat tersembunyi, pengunjung Jepang sebenarnya memiliki kesempatan untuk terhubung secara lebih mendalam dengan kebudayaan lokal. Mereka yang gagal keluar dari jalur mainstream sering kali hanya bisa melihat negara ini melalui kacamata orang lain yang sudah disesuaikan. Pengalaman instan yang serba mudah ini hampir selalu berujung menjadi bentuk tiruan dari budaya yang sesungguhnya.

Untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi, kita perlu melihat dinamika yang sedang berlangsung di dalam industri pariwisata saat ini. Meskipun mencatatkan kesuksesan, Jepang sedang menghadapi beberapa persoalan pelik. Hanya sedikit pihak berwenang yang benar-benar memahami kebutuhan wisatawan mancanegara, apalagi cara dan lokasi yang tepat untuk memasarkannya. Kondisi ini memicu penumpukan wisatawan di destinasi utama sekaligus minimnya informasi mengenai alternatif tempat lainnya.

Pemerintah Jepang sendiri sempat menargetkan angka 40 pengunjung, sehingga perubahan strategi yang mendesak mutlak diperlukan. Secara pribadi, saya merasa hal yang paling krusial saat ini adalah kurangnya keaslian dan narasi yang kuat. Oleh karena itu, saya suka mendekati tantangan ini dengan menggunakan kerangka berpikir berikut:

Atraksi Hebat + Konteks Budaya — Kerumunan = Keaslian

Mari kita bedah setiap elemen tersebut satu per satu…

Sebuah Destinasi Membutuhkan Atraksi yang Hebat

Destinasi paling ikonik di Jepang seperti Chureito Pagoda sangatlah padat pengunjung

Salah satu hal terbaik dari berwisata ke Jepang adalah Anda memiliki pilihan yang sangat melimpah. Apapun minat Anda, negara ini dapat memfasilitasinya dengan mudah. Walaupun mayoritas pelancong langsung menuju kuil-kuil utama di Tokyo dan Kyoto, masih ada banyak sekali lokasi bersejarah menakjubkan lainnya yang menunggu untuk dieksplorasi. Saya sendiri merasa telah tinggal di Jepang dalam waktu yang sangat lama, namun daftar tempat yang ingin saya kunjungi justru semakin bertambah.

Perlu dicatat pula bahwa daya tarik Jepang tidak hanya terbatas pada pengalaman budaya saja. Kawasan pusat budaya pop seperti Akihabara telah menjadi legenda di kalangan penggemar selama bertahun-tahun, namun ada banyak tempat alternatif yang kurang begitu tersohor seperti Nakano Broadway. Belakangan ini, tren kegiatan seperti wisata alam bebas dan hobi-hobi khusus lainnya juga mengalami peningkatan yang pesat. Sungguh, baik Anda pencinta sejarah, budaya pop, atau bahkan kegiatan memetik daun teh, Jepang memiliki semuanya!

Kendati demikian, ini berarti Anda harus meluangkan waktu untuk melakukan riset. Lakukan pencarian daring sebelum keberangkatan untuk mencari objek wisata yang selaras dengan minat Anda. Wisatawan yang baru pertama kali berkunjung mungkin lebih memilih tempat wajib seperti Senso-ji di Asakusa, namun para pelancong yang sudah sering datang hampir selalu merasa jauh lebih puas ketika mereka mendatangi tempat-tempat yang sesuai dengan hobi mereka. Dengan banyaknya penawaran yang ada, Anda hampir tidak mungkin salah memilih destinasi di Jepang!

Anda Perlu Memahami Konteks Budayanya

Dua pelancong di Jepang menemukan keaslian di sebuah kuil Zen Buddhisme

Dalam mengapresiasi berbagai daya tarik di Jepang secara utuh, salah satu unsur terpenting adalah pemahaman terhadap latar belakang sejarah tempat tersebut. Walaupun tempat-tempat seperti Nikko dengan Kuil Toshogu yang terkenal sudah sangat indah dipandang, bangunan-bangunan tersebut akan terasa semakin luar biasa ketika Anda mengetahui kisah di baliknya. Mempelajari konteks sejarah mampu menyulap tempat yang tampak biasa saja seperti Sekigahara dari sekadar lapangan kosong menjadi saksi bisu salah satu pertempuran abad pertengahan terbesar di Jepang.

Tantangannya terletak pada cara menyampaikan informasi relevan agar wisatawan dapat mengikutinya dengan baik tanpa merasa terbebani oleh detail yang terlalu rumit. Sayangnya, banyak pelaku di industri pariwisata yang kerap terjebak pada dua kutub ekstrem. Akibatnya, narasi yang disampaikan gagal menonjolkan makna kultural suatu situs, atau yang lebih parah lagi, justru membingungkan pelancong. Layaknya konsep The Force dalam Star Wars, keseimbangan yang pas sangat dibutuhkan di sini.

Perlu diingat bahwa “konteks budaya” tidak selalu berarti hafalan trivia yang membosankan tentang tokoh-tokoh masa lalu. Faktanya, latar belakang etnologis semacam ini justru memberikan warna yang esensial untuk memahami nilai sejati dari sebuah destinasi. Ambil contoh fenomena ziarah anime atau manga, di mana para penggemar mendatangi lokasi-lokasi nyata yang muncul dalam serial favorit mereka. Tempat-tempat semacam ini mungkin tidak berarti banyak bagi orang awam, tetapi bagi para penggemar fanatik, lokasi tersebut adalah tempat wajib yang harus dikunjungi.

Kerumunan Membuat Perjalanan Kurang Menyenangkan

Peningkatan jumlah wisatawan asing ke Jepang membuat pencarian pengalaman wisata otentik semakin sulit

Grafik di atas yang bersumber dari Organisasi Pariwisata Nasional Jepang memperlihatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan asing dari tahun ke tahun. Sejak 2013, Jepang mencatatkan kemajuan pesat dalam menarik minat pelancong baru. Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja, angka kunjungannya meningkat lebih dari dua kali lipat. Kendati demikian, kesadaran tentang destinasi di luar prefektur utama masih tergolong rendah, khususnya di kalangan wisatawan barat. Hal ini berimbas pada keterbatasan fasilitas akomodasi serta penumpukan pengunjung di lokasi-lokasi populer.

Untungnya, masalah ini dapat diatasi dengan mudah dengan cara mengalihkan fokus ke prefektur-prefektur yang jarang dikunjungi. Langkah ini juga tidak berarti Anda harus mengorbankan pengalaman berkualitas tinggi. Sebagai contoh, Kota Kanazawa di Prefektur Ishikawa menawarkan pesona sejarah yang tidak kalah menawan dibandingkan Kyoto, namun tanpa lautan turis yang memadati jalanan. Begitu pula dengan berbagai kuil terkenal yang terletak di wilayah pedesaan, seperti Izumo Taisha di Prefektur Shimane. Keluar dari jalur wisata umum bukan berarti Anda harus puas dengan pengalaman kelas dua!

Terakhir, perlu diingat bahwa destinasi yang populer sekalipun tetap bisa dinikmati dengan cara-cara yang menghindarkan Anda dari keramaian. Menginap semalam di Miyajima, misalnya, merupakan cara terbaik untuk menghindari rombongan pelancong harian. Demikian pula, mendatangi situs-situs seperti Kuil Fushimi Inari pada pagi hari atau petang hari akan memungkinkan Anda terhindar dari kerumunan massa yang membludak.

Keaslian adalah KUNCI Pengalaman Perjalanan yang Hebat

Seorang pelancong di Jepang mencari keaslian di hutan bambu Hokoku-ji Kamakura

Sebagaimana yang diungkapkan oleh rekan saya Ashley Harvey, mantan COO Go Central Japan dalam sebuah artikelnya, sebenarnya tidak ada hal yang bisa didefinisikan secara mutlak sebagai “Jepang yang asli”. Seperti yang ia kemukakan dengan jeli, segala hal mulai dari kuil tertua hingga toko kelontong yang ada di setiap sudut jalan sama-sama merupakan bagian dari negara tersebut. Lebih dari itu, melabeli sesuatu sebagai “asli” secara otomatis menyiratkan bahwa hal lain di luar itu adalah tiruan. Tentu saja pandangan ini tidak masuk akal dan tidak memberikan manfaat apa pun bagi siapapun, termasuk para pelancong.

Jika istilah “Jepang yang asli” ingin digunakan, maka penggunaannya harus dilepaskan dari batasan geografis tertentu. Menilai suatu tempat sebagai yang original sementara tempat lain sebagai replika sama sekali tidak membawa kita ke mana-mana. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menggunakan sudut pandang keaslian (authenticity). Saya rasa inilah esensi yang ingin disampaikan orang-orang ketika mereka menggunakan frasa “Jepang yang asli”, namun sayangnya konsep tersebut terlalu sering disangkutpautkan secara kaku dengan suatu lokasi tertentu.

Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat sebuah pengalaman wisata terasa otentik? Meskipun jawabannya cenderung subjektif, saya berpendapat bahwa keaslian sangat berkaitan erat dengan koneksi langsung terhadap suatu kebudayaan. Hal ini tentu mustahil tercapai jika Anda hanya mendatangi tempat-tempat yang dirancang khusus untuk melayani wisatawan asing belaka. Keaslian justru ditemukan di luar batasan narasi buatan yang kerap menghilangkan keunikan tersendiri dari suatu kebudayaan.

Berbicara soal Jepang, pilihannya sangatlah beragam. Saya telah menyinggung beberapa lokasi bersejarah yang belum terlalu tersentuh komersialisasi. Selain tempat-tempat tersebut, saya menyarankan Anda mencoba petualangan seperti mengunjungi kedai-kedai minum sederhana yang berderet di bawah jalur kereta Yurakucho. Tempat-tempat favorit para pekerja kantoran ini menawarkan pengalaman yang jauh lebih otentik dibandingkan Robot Restaurant yang kerap diagung-agungkan. Lokasi-lokasi ini jarang dikunjungi pelancong asing dan menyuguhkan sekilas gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat kelas pekerja di Jepang.

Kesimpulan: Wisata Jepang & Keaslian

Sepasang pelancong di Jepang mencari pengalaman otentik di luar jalur wisata umum

Jepang menyimpan persediaan destinasi menakjubkan yang tak ada habisnya, masing-masing dengan kisah uniknya tersendiri. Kendati demikian, mereka yang bersedia menggali sedikit lebih dalam akan dapat memperoleh pengalaman yang jauh lebih otentik dengan cara keluar dari jalur umum dan mencoba hal-hal baru. Langkah ini akan membantu Anda menghindari kerumunan wisatawan pemegang tongkat selfie sekaligus menumbuhkan rasa apresiasi yang lebih tinggi terhadap tempat yang dikunjungi.

Silakan saja tetap mengunjungi beberapa objek wisata populer; hanya saja jangan lupa untuk melangkah keluar dan menjelajahi lingkungan luar biasa lainnya. Ingatlah selalu rumusnya: Atraksi Hebat + Konteks Budaya  — Kerumunan = Keaslian.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya, para pelancong…


Subscribe to My Newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *