Home / Study / Kenapa Bahasa Inggris Itu Susah dan Bahasa Jepang Itu Gampang (Serta Alasan Keduanya Bikin Orang Lain Ingin Menangis)

Kenapa Bahasa Inggris Itu Susah dan Bahasa Jepang Itu Gampang (Serta Alasan Keduanya Bikin Orang Lain Ingin Menangis)

header 640x 54

Menilai Tingkat Kesulitan Bahasa

Secara ilmiah, tidak ada bahasa di dunia ini yang benar-benar lebih sulit daripada bahasa lainnya. Di mana pun seorang anak dilahirkan dan bahasa apa pun yang digunakan di sekitarnya, bayi tersebut akan mampu menyerap bahasa ibu mereka dengan sangat mudah. Kendalanya adalah manusia tidak bisa memilih di mana mereka dilahirkan. Bagi penutur asli English yang ingin menguasai Japanese, terlahir kembali sebagai bayi tentu bukan pilihan yang masuk akal.

Bagi orang dewasa, tingkat kesulitan sebuah bahasa bersifat relatif dan sangat bergantung pada titik awal seseorang. Butuh waktu lebih lama bagi penutur English untuk mencapai tingkat lancar dalam Japanese dibandingkan saat mempelajari Spanish. Hal ini wajar karena struktur Japanese jauh berbeda dari English, sementara Spanish memiliki kemiripan yang lebih besar. Tidak ada jawaban mutlak mengenai seberapa sulit suatu bahasa, melainkan seberapa sulit bahasa tersebut bagi orang dewasa tertentu.

Pertarungan Pelafalan: English vs Japanese

Meskipun setiap bayi dapat melafalkan bahasa ibu mereka tanpa masalah, beberapa bunyi dalam bahasa tertentu tergolong langka di dunia. Ketika penutur dari berbagai bahasa lain mencoba mempelajari bunyi yang tidak biasa ini, mereka biasanya akan mengalami kesulitan.

Konsonan

English memiliki beberapa bunyi konsonan yang sangat jarang ditemukan di bahasa lain. Contoh paling nyata adalah dua bunyi yang ditulis dengan huruf th, yaitu bunyi nirsuara θ pada kata thin dan bunyi bersuara ð pada kata the. Berdasarkan data linguistik, bunyi-bunyi ini hanya dijumpai pada kurang dari sepuluh persen bahasa di seluruh dunia.

Sebagian besar pembelajar English otomatis mengganti bunyi tersebut dengan t, d, s, atau z. Sebagai contoh, penutur Japanese kerap menyerap kata asing dengan mengganti bunyi tersebut, seperti pada kata marathon yang menjadi marason dan leather yang berubah menjadi rezaa. Selain itu, cara pelafalan huruf R dalam American English juga terkenal menyulitkan pembelajar asing karena posisi lidah yang melingkar di tengah mulut, sementara Japanese tidak memiliki konsonan yang langka seperti itu.

Keunggulan: Japanese

Vokal

English hanya memiliki lima huruf vokal tetapi memiliki jauh lebih banyak bunyi vokal yang diucapkan secara berbeda. Sistem vokal English tergolong sangat kaya, kompleks, dan memiliki banyak variasi pelafalan antar-dialek. Kompleksitas ini sering kali membingungkan pembelajar asing, misalnya dalam membedakan bunyi vokal panjang dan pendek pada kata seen dan sin.

Sebaliknya, Japanese menerapkan sistem vokal klasik yang berjumlah lima dan kurang lebih bersesuaian dengan abjad dasar. Penutur English yang belajar Japanese tidak akan kesulitan beradaptasi dengan vokal tersebut, sedangkan pembelajar Japanese harus bekerja keras mengenali bunyi baru yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui.

Keunggulan: Japanese

Struktur Suku Kata dan Gugus Konsonan

Kompleksitas sebuah bahasa juga terlihat dari cara berbagai bunyi digabungkan dalam satu suku kata. English memiliki struktur yang lebih rumit daripada rata-rata bahasa lain dalam hal penumpukan konsonan. Sebuah kata dalam English bisa diawali dengan tiga konsonan sekaligus seperti pada kata strike atau diakhiri empat konsonan seperti pada kata texts.

Di sisi lain, Japanese memiliki struktur suku kata yang jauh lebih sederhana dan terbatas. Kombinasi konsonan yang berdekatan sangat jarang ditemui, kecuali untuk jenis konsonan kembar tertentu di tengah kata. Itulah sebabnya kata-kata serapan dalam Japanese sering kali ketambahan bunyi vokal di antara konsonannya.

Keunggulan: Japanese

Pertarungan Morfologi

Morfologi mempelajari struktur kata dalam suatu bahasa. Dalam hal konjugasi kata kerja, Japanese tergolong cukup sederhana karena tidak ada perubahan bentuk berdasarkan subjek atau persona. Kata hanashimasu digunakan untuk semua subjek, sementara English memiliki sedikit perbedaan seperti pada kata say dan says, yang masih jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan kerumitan konjugasi dalam Spanish.

Baik English maupun Japanese sama-sama tidak menerapkan sistem gender pada kata benda seperti halnya Spanish atau sistem kasus kata benda seperti dalam bahasa Latin. Kendati demikian, Japanese tetap memiliki tantangan tersendiri berupa partikel penbilang atau kata bantu bilangan yang berbeda-beda tergantung jenis objek yang dihitung, seperti cara menghitung pensil, hewan kecil, atau lembaran kertas yang masing-masing menggunakan akhiran berbeda.

Keunggulan: English

Pertarungan Kosakata

Sejarah panjang turut membentuk sistem kosakata English dan Japanese menjadi lebih rumit. English merupakan bahasa Jermanik yang menyerap banyak kosakata berakar Latin dari bahasa Prancis akibat penaklukan bangsa Norman. Demikian pula dengan Japanese yang memiliki kosakata asli yang kemudian diperkaya dengan banyak kata pinjaman dari bahasa Mandarin.

Dampaknya, Japanese memiliki pembagian pembacaan kanji yang disebut kun-yomi dan on-yomi untuk satu karakter yang sama tergantung konteks katanya. English pun mengalami hal serupa ketika menggunakan akar kata yang berbeda untuk konsep yang sama, misalnya kata benda mouth yang berakar dari Jermanik tetapi menggunakan bentuk oral yang berakar Latin untuk bentuk kata sifatnya, atau penggunaan kata cow untuk hewan hidup di kandang tetapi berganti menjadi beef untuk daging di atas piring.

Keunggulan: Keduanya sama saja

Pertarungan Sistem Penulisan

English dan Japanese sama-sama memiliki sistem penulisan yang menantang. Sistem penulisan Japanese menggabungkan kana yang mewakili pelafalan bunyi dan kanji yang mewakili unsur makna. Karena Japanese memiliki kosakata homofon yang cukup banyak akibat sistem bunyi yang terbatas, penggunaan kanji sangat membantu pembaca langsung mengenali arti suatu kata tanpa kebingungan.

Di sisi lain, sistem ejaan English juga terkenal tidak konsisten dan menyimpan banyak penyimpangan historis. Banyak kata dalam English yang tidak dieja sesuai pelafalannya demi mempertahankan hubungan makna atau sejarah kata tersebut, seperti pada kata says atau kelompok kata to, two, dan too. Pergeseran vokal historis atau Great Vowel Shift juga membuat pelafalan vokal English berbeda jauh dari bahasa-bahasa lain yang menggunakan abjad Latin.

Keunggulan: Keduanya memiliki tingkat kesulitan yang sebanding

Kesimpulan

Meninjau perbandingan antara Japanese dan English menunjukkan bahwa masing-masing bahasa memiliki keunikan serta kerumitannya sendiri. Japanese tentu bukan bahasa yang mudah dipelajari oleh penutur asli English, namun menyadari berbagai kerumitan yang juga dimiliki oleh English sendiri dapat membuat siapa pun lebih bijak dalam menilai tingkat kesulitan suatu bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *