Bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan pariwisata terkini, masalah overtourism di Jepang tentu bukan lagi sebuah rahasia. Fenomena ini paling terasa di kota-kota besar, dengan Kyoto yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Kendati pesona sejarah dan tradisi di ibu kota kuno Jepang ini sangat memikat, kepadatan pengunjung kerap membuat pengalaman wisata menjadi kurang nyaman, bahkan bagi pendatang baru. Untuk menghindari kerumunan wisatawan dalam jumlah besar, menjelajahi kawasan di luar jalur utama adalah pilihan terbaik, seperti mengunjungi desa Miyama dan wilayah Kayabuki-no-Sato yang memukau.
Pemandangan rumah beratap jerami di Miyama sebenarnya kerap menghiasi lini masa media sosial. Sayangnya, meskipun lokasinya hanya berjarak sekitar 90 menit di sebelah utara pusat kota Kyoto, tidak banyak warganet yang menyadari aksesibilitasnya. Padahal, Kayabuki-no-Sato di Miyama merupakan destinasi tersembunyi yang sangat ideal untuk dimasukkan ke dalam Rencana Perjalanan wisata asing di Jepang.
Meskipun ada banyak rumah bersejarah beratap jerami di Miyama, daya tarik utamanya adalah gugusan yang terdiri dari sekitar 40 bangunan yang dikenal sebagai Kayabuki-no-Sato. Berbeda dengan kawasan serupa di tempat lain, rumah-rumah di dusun perbukitan ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal dan area kerja warga lokal. Hal ini memang menghadirkan atmosfer pedesaan Jepang yang sangat autentik dan penuh nostalgia, tetapi juga berarti hanya sebagian kecil bangunan saja yang dibuka untuk umum.
Secara keseluruhan, Miyama dan Kayabuki-no-Sato menawarkan suasana segar yang sangat dibutuhkan oleh pelancong yang ingin melarikan diri dari keramaian Kota Kyoto. Wisatawan disarankan untuk menyediakan waktu setidaknya setengah hari untuk kunjungan ke kawasan ini, karena perjalanan tersebut memberikan nuansa keaslian yang sulit ditemukan di tempat lain. Perlu diingat pula bahwa warga setempat sangat menyambut wisatawan mancanegara, asalkan para pengunjung tetap menghormati komunitas lokal.
Cara Menuju ke Sana
Perjalanan menuju rumah-rumah beratap jerami di Kayabuki-no-Sato memerlukan beberapa kali transit. Dengan asumsi perjalanan dimulai dari pusat Kyoto, langkah pertama adalah naik JR Sagano Line menuju Stasiun JR Sonobe, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Stasiun Hiyoshi.
Setibanya di Stasiun Hiyoshi, pengunjung harus menunggu keberangkatan bus Nantan. Perjalanan bus dari Stasiun Hiyoshi ke Miyama memakan waktu sekitar 40 hingga 50 menit. Secara total, perjalanan menuju Kayabuki-no-Sato membutuhkan waktu sedikit kurang dari tiga jam. Jadwal keberangkatan kereta dapat dicek melalui layanan seperti Jorudan, sementara jadwal bus dapat dilihat menggunakan Google Maps.
Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, mobilitas di sekitar Miyama akan jauh lebih mudah. Namun, disarankan untuk menyewa kendaraan di luar pusat kota karena lalu lintas di pusat Kyoto sangat padat. Pengunjung dapat singgah terlebih dahulu di Arashiyama dan Kameoka sebelum mengambil mobil sewaan. Waktu tempuh berkendara menuju Kayabuki-no-Sato hanya sekitar 90 menit jika kondisi jalanan lancar.
Hari Rabu adalah waktu yang kurang ideal untuk mengunjungi desa beratap jerami ini karena sebagian besar tempat usaha dan objek wisata tutup. Meskipun berjalan-jalan menikmati suasana Kayabuki-no-Sato tetap menyenangkan, hanya ada segelintir tempat makan yang beroperasi pada hari Rabu.
Desa Beratap Jerami Miyama

Tujuan utama berkunjung ke Kayabuki-no-Sato adalah menikmati atmosfer pedesaan yang tenang. Bangunan-bangunan di sini sebagian besar masih berfungsi sebagai hunian pribadi. Meskipun bernilai sejarah, sebagian besar rumah tidak dibuka sebagai atraksi wisata komersial. Selain satu atau dua kafe, daya tarik terbesar kawasan ini terletak pada keindahan estetika pemandangannya.
Tata kota Kayabuki-no-Sato berada di atas lereng bukit. Kondisi ini membuat pemandangan desa tampak jelas dari kejauhan, sekaligus mengharuskan pengunjung berjalan menanjak. Beberapa titik menarik yang patut dikunjungi meliputi:
- The Miyama Folk Museum
Terletak di bagian atas desa, museum ini merupakan salah satu bangunan yang terbuka untuk umum. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat bentuk interior rumah Kayabuki-no-Sato serta koleksi alat tradisional yang mencerminkan kehidupan masa lalu masyarakat Miyama. - The Indigo Musem
Berlokasi tidak jauh dari museum rakyat, tempat ini berfungsi ganda sebagai studio pewarnaan dan museum indigo. Fasilitas ini masih menjadi tempat kerja aktif bagi seniman kenamaan Shindo Hiroyuki. - Chii Hachiman Shrine
Kuil kecil ini terletak di area hutan pada bagian luar desa. Didirikan sekitar seribu tahun lalu pada tahun 1071 dan didedikasikan untuk dewa perang Hachiman, kuil ini telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Prefektur Kyoto.
Bagi yang ingin merasakan pengalaman maksimal, tersedia beberapa pilihan akomodasi minshuku di Kayabuki-no-Sato untuk menginap semalam di rumah bersejarah tersebut.
Mengikuti Tur Jalan Kaki Berpemandu

Pengalaman menjelajahi Kayabuki-no-Sato akan jauh lebih berkesan dengan menyewa pemandu lokal berbahasa Inggris. Untuk kelompok beranggotakan kurang dari lima orang, tarifnya dipatok sebesar 11.000 yen per grup, sebanding dengan wawasan mendalam mengenai sejarah dan rahasia desa pedesaan di Prefektur Kyoto ini.
Pemesanan tur berpemandu dapat dilakukan melalui situs resmi Miyama. Perlu dicatat bahwa layanan ini tutup pada hari Senin dan Rabu, serta memerlukan reservasi setidaknya tiga hari sebelum tanggal kunjungan.
Menjelajahi Lebih Jauh dari Rumah Beratap Jerami

Miyama menawarkan lebih dari sekadar Kayabuki-no-Sato bagi pencinta aktivitas luar ruangan. Wilayah ini juga memiliki desa beratap jerami lainnya, seperti Ishida Farm House yang telah berusia 350 tahun. Aktivitas populer lainnya di Miyama meliputi memancing ikan manis ayu serta mendaki di sepanjang Sungai Yura.
Bagi petualang yang menyukai tantangan, Hutan Ashiu di perbatasan timur Miyama menyimpan keanekaragaman hayati tertinggi di Jepang dan dikelola oleh Universitas Kyoto. Pengunjung memerlukan izin khusus untuk masuk, dan area hutan ini paling aman dieksplorasi dengan mengikuti tur berpemandu dari Shizen Bunkamura Kajikaso.
Sementara itu, pada akhir Januari hingga awal Februari, desa ini menyelenggarakan Festival Lampion Salju. Penduduk setempat membuat lampion salju secara manual dan menyalakannya dengan bohlam elektrik, menciptakan pemandangan malam yang magis dan bernuansa nostalgia. Pertunjukan kembang api juga diadakan pada malam hari antara tanggal 31 Januari hingga 3 Februari mulai pukul 18.30.
Destinasi Wisata di Sekitar Miyama

Perjalanan ke Miyama dapat dilanjutkan dengan menjelajahi bagian lain Prefektur Kyoto, seperti Kastil Fukuchiyama. Kompleks benteng abad pertengahan ini sangat memukau saat musim semi dan menawarkan alternatif bebas kerumunan dibandingkan kuil-kuil populer di pusat kota. Struktur kastil ini diakui sebagai salah satu dari 100 Kastil Bagus Lanjutan di Jepang.
Pilihan lainnya adalah meneruskan perjalanan menuju Amanohashidate dan Ine untuk menikmati kawasan yang dikenal sebagai “Kyoto di Tepi Laut”. Perjalanan setengah hari di Miyama dapat dikombinasikan dengan kunjungan ke wilayah pesisir ini, dengan catatan jadwal keberangkatan kereta pedesaan perlu diperiksa terlebih dahulu.








