Saat krisis kesehatan global memaksa banyak orang untuk tetap berada di rumah, agenda perjalanan terpaksa ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Meskipun demikian, eksplorasi cerita tentang sejarah Jepang tetap bisa dilakukan sebagai bentuk pelarian dari kejenuhan rutinitas karantina.
Kali ini, pembahasan berfokus pada salah satu bencana terbesar dalam sejarah Jepang, yaitu Kebakaran Besar Meireki. Peristiwa kelam ini menghancurkan sebagian besar wilayah Edo, yang kini dikenal sebagai Tokyo modern. Meskipun sebagian sejarawan meragukan keakuratan detail cerita rakyatnya, legenda di balik kebakaran ini tetap menjadi catatan sejarah yang sangat menarik.
Kisah bermula pada pertengahan tahun 1600-an dengan sebuah kimono yang diyakini membawa kutukan. Tiga gadis remaja berturut-turut meninggal dunia secara misterius sebelum sempat mengenakan pakaian tersebut. Merasa khawatir, warga setempat memutuskan untuk memusnahkan kimono tersebut agar petaka tidak berlanjut.

Pakaian beracun tersebut dibawa ke kuil Honmyo-ji untuk dibakar oleh seorang pendeta Buddha. Namun, api justru membesar secara tidak wajar, melalap bangunan kuil, dan dengan cepat merembet ke seluruh pemukiman kayu di sekitarnya.
Bencana tersebut melahap sekitar 70 persen infrastruktur kota Edo. Api baru padam setelah tiga hari berkobar, dan butuh waktu tiga hari lagi sebelum bantuan bisa disalurkan. Lebih dari 100.000 jiwa melayang, termasuk hancurnya benteng utama Kastil Edo yang tidak pernah berhasil dibangun kembali sepenuhnya oleh Keshogunan Tokugawa.
Seri tulisan bertema pariwisata alternatif ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana kekuatan narasi dan sejarah mampu menghidupkan suatu lokasi di Jepang, meskipun tempat tersebut bukan destinasi utama yang wajib dikunjungi pelancong dalam kunjungan singkat.
Asal Usul Kebakaran

Setelah insiden Meireki, Edo kembali dibangun sebelum akhirnya harus rata dengan tanah akibat Gempa Besar Kanto pada tahun 1923 dan pengeboman semasa Perang Dunia II. Inilah alasan mengapa Kyoto memiliki lebih banyak peninggalan budaya yang utuh dibandingkan Tokyo yang kerap diterpa bencana.
Kuil Honmyo-ji sendiri telah dibangun kembali dan terletak tidak jauh dari kawasan Sugamo. Lokasi ini dapat diakses menggunakan jalur kereta Yamanote atau Mita menuju Stasiun Sugamo.
Kuil tersebut berada di ujung sebuah kompleks pemakaman yang tenang. Area ini menawarkan pemandangan yang sangat indah pada musim semi saat bunga sakura bermekaran, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi pelancong yang berkunjung ke sana.
Kondisi Honmyo-ji Saat Ini

Secara arsitektur, bangunan Honmyo-ji masa kini tampak seperti kuil modern pada umumnya. Di bagian belakang kompleks kuil, terdapat sebuah monumen batu lengkap dengan keterangan berbahasa Inggris yang didedikasikan untuk mengenang para korban jiwa dalam Kebakaran Besar Meireki.
Destinasi Wisata Sekitar

Karena letaknya yang berada di dekat Sugamo, pengunjung juga dapat mampir ke taman tradisional Rikugi-en yang sering dinobatkan sebagai salah satu taman terindah di Tokyo.








