Sejak kenaikan harga besar-on pada tahun 2023, tiket terusan Japan Rail Pass tidak lagi otomatis menjadi pilihan yang paling hemat biaya seperti dulu. Begitu pula dengan berbagai tiket regional yang dikeluarkan oleh cabang JR lainnya yang turut mengalami penyesuaian harga. Kini, para pelancong harus lebih teliti menghitung apakah membeli tiket terusan ini benar-benar akan menghemat anggaran perjalanan mereka dibandingkan membeli tiket reguler.
Baru-baru ini, saya mencoba menggunakan JR East Pass (Nagano, Niigata Area) selama lima hari pada awal Desember 2024. Perjalanan ini bertujuan untuk menguji sekaligus menunjukkan bagaimana memaksimalkan nilai dari tiket regional tersebut. Meski hayanya naik, tiket ini tetap menjadi pilihan yang sangat baik bagi wisatawan yang ingin menjelajahi prefektur Nagano dan Niigata secara mendalam. Menariknya, tiket ini juga berlaku untuk seluruh jaringan kereta JR di wilayah Greater Tokyo, sehingga Anda bisa menggunakannya untuk berkunjung ke Yokohama, Kamakura, atau bahkan wilayah barat Tokyo seperti Okutama dan Gunung Mitake.
Prosedur reservasi kursi kereta Shinkansen menggunakan JR East Pass (Nagano, Niigata Area) tergolong sangat mudah. Anda bisa memasukkan tiket langsung ke mesin tiket Shinkansen untuk memilih kursi sendiri, atau mendatangi pusat layanan wisatawan JR agar dibantu oleh staf. Jika Anda ingin fleksibilitas lebih, Anda juga bisa langsung menggunakan gerbong non-reservasi atau jiyuseki.
Hari Pertama: Tokyo Bagian Barat

Meskipun dirancang untuk menjelajahi kawasan tengah Jepang, JR East Pass (Nagano, Niigata Area) juga dapat digunakan di area Greater Tokyo. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati sisa keindahan musim gugur di wilayah barat Tokyo. Banyak wisatawan asing yang tidak tahu bahwa area barat Tokyo menyimpan keindahan alam pegunungan yang sangat memukau, terutama saat puncak musim gugur pada November dan Desember.
Perjalanan dimulai dengan naik kereta biasa dari Stasiun Shinjuku melalui Chuo Line, lalu berpindah ke Ome Line di Stasiun Ome menuju Stasiun Mitake. Perjalanan ini menyuguhkan transisi yang kontras dari hiruk-pikuk pusat kota Tokyo menuju ketenangan pedesaan yang asri.
Destinasi pertama saya di pedesaan Tokyo adalah Gunung Mitake yang keramat. Gunung yang merupakan bagian dari Chichibu Tama Kai National Park ini memiliki Kuil Musashi Mitake yang konon telah berdiri lebih dari 2.000 tahun lalu. Pendakian ke puncak kini lebih mudah berkat adanya kereta kabel, meski pengunjung tetap harus menapaki jalur yang cukup curam di dekat puncak.
Setelah merampungkan kunjungan singkat di Gunung Mitake, saya segera turun untuk mengejar bus menuju Stasiun Mitake dan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Okutama, pemberhentian terakhir di jalur Ome Line. Menjelang senja, saya berhasil mendapatkan momen golden hour yang indah untuk kebutuhan konten video.
Menjelang malam, saya kembali ke Stasiun Tokyo dan naik Shinkansen menuju Stasiun Takasaki. Berkat fleksibilitas tiket terusan ini, saya bisa langsung mendekatkan diri ke titik awal perjalanan hari berikutnya dan beristirahat di hotel setempat yang dilengkapi fasilitas pemandian air panas.
Hari Kedua: Togakushi dan Zenko-ji

Menginap di Takasaki memudahkan saya melanjutkan perjalanan ke Nagano pada hari kedua. Di tengah perjalanan, saya sempat singgah sejenak di Karuizawa untuk menikmati suasana kawasan pusat perbelanjaan yang berada persis di dekat stasiun.
Setibanya di Stasiun Nagano, tujuan utama saya adalah Kuil Togakushi yang berselimut salju. Walaupun naik bus menuju ke sana tidak ditanggung oleh JR East Pass, pemandangan sepanjang perjalanan selama 50 menit menaiki jalur pegunungan yang berliku sangat sebanding dengan biaya tambahannya.
Selepas dari Togakushi, saya kembali ke pusat kota Nagano untuk mengunjungi Kuil Zenko-ji yang telah berusia 1.400 tahun. Kuil ini sangat terkenal dan menyimpan salah satu patung Buddha pertama yang dibawa ke Jepang. Salah satu pengalaman paling berkesan di kuil ini adalah menyusuri lorong bawah tanah yang gelap gulita bernama Okaidan untuk mencari Kunci Surga demi meraih pencerahan.
Sebelum hari benar-benar gelap, saya berjalan kaki kembali ke Stasiun Nagano sambil singgah di toko lokal untuk mencicipi penganan oyaki bakar tradisional dan rempah shichimi yang legendaris.
Hari Ketiga: Monyet Salju Nagano

Pagi-pagi sekali setelah menikmati kuliner basashi di Nagano, saya mengunjungi Snow Monkey Park untuk melihat kera-kera liar yang berendam di pemandian air panas. Tempat ini kerap dipadati wisatawan, namun pemandangan unik tersebut tetap menarik untuk diabadikan.
Puas dari taman monyet, saya berjalan santai melewati dua kota pemandian air panas bersejarah di dekat sana, yaitu Shibu Onsen dan Yudanaka Onsen. Shibu Onsen terutama sangat memikat karena mempertahankan nuansa tradisional yang kental dengan tradisi sembilan pemandian umumnya.
Perjalanan kembali ke Stasiun Nagano menggunakan kereta Nagano Electric Railway memerlukan tiket terpisah karena tidak dicakup oleh JR East Pass. Kendati demikian, biaya tersebut tidak terlalu berpengaruh pada total anggaran liburan secara keseluruhan.
Mengingat fasilitas Shinkansen yang bebas digunakan berkat tiket terusan, saya memutuskan untuk kembali ke Tokyo pada malam ketiga guna menghemat biaya penginapan, sebelum melanjutkan petualangan ke Prefektur Niigata keesokan harinya.
Hari Keempat: Tsubame-Sanjo

Hari keempat dimulai dengan kunjungan ke Museum Perindustrian Tsubame yang berjarak sekitar 30 menit berjalan kaki dari Stasiun Tsubame-Sanjo. Museum ini memamerkan sejarah kerajinan tangan lokal dari era Edo, mulai dari pengolahan logam hingga kerajinan pernis.
Setelah itu, saya naik kereta lokal menuju Stasiun Yahiko untuk mengunjungi Kuil Yahiko yang sangat dihormati. Kuil kuno ini tampil sangat memukau di tengah suasana musim gugur.
Menjelang malam yang semakin dingin, saya bertolak ke Kota Niigata untuk mencicipi sake khas setempat di Ponshukan seharga 500 yen, di mana pengunjung dapat mencoba berbagai varian sake menggunakan lima koin dan cangkir kecil choko. Tidak lupa, saya juga menikmati Bakudan Onigiri berukuran besar dengan isian tuna gancu dan kuning telur mentah yang lezat.
Hari Kelima: Niigata dan Yuzawa

Destinasi terakhir saya di Kota Niigata adalah Pier Bandai, sebuah pusat kuliner dan pasar basah yang menyajikan berbagai hidangan laut segar langsung dari Laut Jepang. Tempat ini sangat sempurna bagi para pecinta kuliner yang ingin menikmati tangkapan laut terbaik di wilayah tersebut.
Dari Niigata, saya menggunakan Shinkansen kembali ke arah Tokyo dan turun di Stasiun Echigo-Yuzawa untuk singgah sebentar di Museum Sejarah dan Rakyat Yuzawa. Sayangnya, jadwal mendadak mengharuskan saya untuk segera bertolak ke Prefektur Nara keesokan harinya, sehingga waktu saya di Niigata harus dipersingkat. Sebelum mengakhiri perjalanan dengan JR East Pass, saya sempat mampir sekali lagi ke cabang Ponshukan di Stasiun Echigo-Yuzawa untuk menikmati satu buah Bakudan Onigiri terakhir.
Ringkasan Itinerary JR East Pass (Nagano, Niigata Area)

Berikut adalah rangkuman rute perjalanan lima hari yang bisa Anda jadikan inspirasi:
Hari Pertama
- Gunung Mitake
- Okutama
- Takasaki
Hari Kedua
- Karuizawa
- Kuil Togakushi
- Zenko-ji
- Oyaki dan Basashi
Hari Ketiga
- Snow Monkey Park
- Shibu dan Yudanaka Onsen
Hari Keempat
- Museum Perindustrian Tsubame
- Kuil Yahiko
- Ponshukan
Hari Kelima
- Pier Bandai
- Museum Sejarah dan Rakyat Yuzawa
- Stasiun Echigo-Yuzawa
Perjalanan ini sebenarnya baru mencakup sebagian kecil dari potensi wilayah yang bisa dijelajahi. Cakupan wilayah JR East Pass (Nagano, Niigata Area) bahkan mencapai Sakata dan Tsuruoka di Prefektur Yamagata serta mencakup akses ke jalur kereta Tobu Railway menuju Nikko.








