Home / Travel / Jejak Misteri Yotsuya: Sisi Tersembunyi Tokyo Pusat

Jejak Misteri Yotsuya: Sisi Tersembunyi Tokyo Pusat

A Woodblock Print of the Yotsuya Kaidan

Bagi para penjelajah yang mencari sisi lain dari Jepang, kawasan Yotsuya di Tokyo menyimpan sejarah tersembunyi yang lekat dengan kisah mistis, hantu gentayangan, hingga legenda ninja. Terletak di pusat kota dan menjadi lokasi Sophia University, kawasan ini dulunya menyaksikan berbagai peristiwa kelam yang jarang diketahui wisatawan.

Cara Menuju ke Sana

Yotsuya Sation on Tokyo’s Marunouchi Line

Petualangan dimulai dari Stasiun Yotsuya, sebuah titik transit strategis yang disinggahi berbagai jalur kereta JR maupun kereta bawah tanah. Anda bisa merencanakan rute terbaik menggunakan layanan seperti Jorudan berdasarkan titik keberangkatan Anda. Jika berencana datang bersama rombongan, area gedung Atre—khususnya kedai kopi di dalamnya—menjadi tempat berkumpul yang ideal untuk menghangatkan diri sebelum berjalan-jalan.

Ninja Legendaris di Yotsuya

The grave market of the legendary ninja Hattori Hanzo

Sebelum menelusuri jejak makhluk halus, sempatkan singgah di Sainen-ji. Kuil yang tampak tenang ini merupakan tempat peristirahatan terakhir Hattori Hanzo, tokoh ninja paling masyhur dalam sejarah Jepang yang turut berjasa mendirikan Keshogunan Tokugawa pada abad ke-16. Berbeda dari penggambaran populer di media modern yang kerap menampilkannya sebagai pembuat pedang, Hattori Hanzo sebenarnya merupakan seorang maestro tombak.

Pada masa senjanya, ia mendalami agama Buddha dan mengambil nama religius Sainen, serta mendirikan kompleks kuil Sainen-ji sebelum tutup usia pada umur 55 tahun. Makamnya dapat ditemukan tepat di sebelah kanan area kuil. Selain itu, kuil ini juga menyimpan tombak sepanjang 4,2 meter milik sang ninja legendaris yang dianugerahkan oleh Tokugawa Ieyasu setelah Pertempuran Mikatagahara pada tahun 1573.

Sisi Lain Sharikimon-dori

A lamp post that’s decorated with a rickshaw leading down to Yotsuya’s Sharikimon-dori

Perjalanan berlanjut ke Jalan Sharikimon-dori, ditandai oleh tiang lampu dengan hiasan penarik becak yang mengingatkan pada masa lalu kawasan ini sebagai area hiburan malam. Selama periode Edo (1603–1868), jalan ini dipadati oleh rumah-rumah bordil. Kini, suasananya jauh lebih tenang dan dihiasi oleh bar-bar kecil yang beroperasi di sepanjang jalur lerengnya.

Tsunokami Benzaiten near the Sharikimon-dori in Yotsuya

Lebih jauh ke dalam jalan tersebut, terdapat sebuah kuil dan kolam kecil bernama Benzaiten. Berdasarkan cerita rakyat setempat, kolam ini dulunya dihuni oleh kappa, makhluk mitologi air berwujud reptil humanoid. Konon, para kappa gemar mengincar korban di sekitar kawasan hiburan malam tersebut dengan cara mengambil bagian tubuh mistis dari para pengunjung yang lengah.

Kisah Tragis Istri yang Dikhianati

Oiwa Inari Shrine in Yotsuya, a site linked the famous Yotsuya Kaidan ghost story

Yotsuya juga menjadi latar dari salah satu cerita hantu paling terkenal di Jepang, yaitu Yotsuya Kaidan. Kisah ini berpusat pada Oiwa, seorang wanita malang yang dikhianati dan diracuni oleh suaminya sendiri, Iemon, hingga mengalami disefiabilitas parah sebelum akhirnya mengakhiri hidup dan bersumpah untuk menghantui suaminya selamanya.

Untuk menenangkan arwahnya, didirikanlah sebuah tempat pemujaan yang dikenal sebagai Oiwa Inari Shrine di lorong-lorong kawasan Yotsuya Sanchome. Legenda tragis ini bahkan diyakini menjadi inspirasi di balik karakter hantu dalam film horor populer seperti Ring. Bagi yang merasa lapar di sekitar area ini, terdapat kedai mi Black Scorpion yang menyajikan menu tantanmen tanpa kuah yang unik.

Menuju Gerbang Neraka di Taiso-ji

A building at Tokyo’s Taiso-ji that houses statues of King Enma and Datsue-ba

Perjalanan penelusuran horor berlanjut menuju kompleks kuil Taiso-ji yang berdiri sejak tahun 1596. Kuil ini menyimpan salah satu dari enam patung Jizo terbesar di Edo, serta dua bangunan paviliun yang bernuansa kelam.

A statue of King Enma, judge of the dead, at Tokyo’s Taiso-ji

Di dalam paviliun sebelah kanan, pengunjung dapat mengintip patung Raja Enma, sang pengadil alam kematian dalam ajaran Buddha yang menentukan nasib arwah sebelum berinkarnasi atau dikirim ke alam penderitaan. Di sebelah patung Raja Enma, terdapat pula patung Datsue-ba, sesosok nenek mengerikan yang bertugas melucuti pakaian para pendatang di neraka.

Warisan Kelam Shinjuku

A common grave for over 2,000 sex workers at Shinjuku’s Jokaku-ji

Jejak masa lalu Shinjuku sebagai pusat keramaian dan hiburan malam sudah bermula sejak zaman Edo, ketika wilayah ini menjadi kota pos di sepanjang jalur perjalanan utama. Praktik prostitusi pada masa itu berkembang pesat di berbagai penginapan.

Sisa-sisa sejarah tersebut kini dapat ditemukan di Kuil Jokaku-ji, yang menaungi makam massal bagi lebih dari 2.200 pekerja seks dari periode Edo yang wafat tanpa mendapat layak. Selain itu, kuil ini juga menjadi lokasi monumen peringatan untuk mengenang berbagai peristiwa tragis bunuh diri pasangan kekasih yang terjadi pada awal abad ke-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *