Jepang selalu menyimpan banyak kejutan menarik bagi para pelancong. Semakin sering menjelajahi negeri ini, semakin terlihat pula betapa kaya dan beragamnya destinasi wisata yang tersembunyi. Salah satu penemuan yang paling memukau adalah Pantai Tanesashi. Terletak di bagian utara dari Jalur Pesisir Michinoku yang jauh lebih panjang, kawasan pesisir di Hachinohe ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa spektakuler. Menjelajahi jalur pendakian di Pantai Tanesashi ternyata memberikan pengalaman magis yang tidak terduga sebelumnya.
Bagi yang belum pernah mendengarnya, Jalur Pesisir Michinoku merupakan rute trekking jarak jauh yang membentang dari Matsukawaura di Kota Soma, Fukushima, hingga Pulau Kabushima di Prefektur Aomori. Meskipun tidak sepopuler Kumano Kodo atau ziarah Shikoku Ohenro, jalur ini menawarkan panorama laut yang epik serta garis pantai berbatu yang masih sangat alami dan bebas dari pariwisata massal.
Bagi para pelancong yang merencanakan perjalanan jalan kaki di pesisir Jepang, memasukkan Pantai Tanesashi ke dalam daftar kunjungan adalah keputusan yang tepat. Bagian paling utara jalur ini sangat ramah untuk dijelajahi oleh wisatawan rata-rata. Rutenya menyajikan variasi lanskap yang luar biasa dalam jarak yang relatif mudah dijangkau, mulai dari garis pantai berbatu dan Samudra Pasifik yang luas hingga padang rumput hijau serta kawasan hutan.
Cara Menuju ke Sana
Pantai Tanesashi berada di dalam wilayah administratif Kota Hachinohe. Perjalanan dimulai dengan menaiki Tohoku Shinkansen menuju Stasiun Hachinohe. Disarankan untuk bermalam terlebih dahulu di salah satu hotel bisnis di kota seperti Dormy Inn, sehingga keesokan harinya perjalanan bisa dimulai pagi-pagi sekali tanpa perlu khawatir tertinggal jadwal transportasi umum di pedesaan yang cukup jarang.
Titik awal resmi Jalur Pesisir Michinoku berada di pulau tempat Kuil Kabushima berdiri. Namun, rute yang lebih logis untuk menikmati Pantai Tanesashi adalah berjalan dari arah sebaliknya. Alih-alih memulai dari Kabushima, mulailah dengan naik kereta pagi di Jalur JR Hachinohe menuju Stasiun Okuki, lalu berjalan kaki menyusuri garis pantai ke utara hingga berakhir di Stasiun Same.
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan rute jalan kaki ini sekitar setengah hari jika berjalan dengan santai. Total jarak dari Stasiun Okuki ke Kabushima memakan waktu sekitar enam jam, tergantung seberapa sering berhenti untuk mengambil foto atau menikmati pemandangan. Karena transportasi umum di wilayah pedesaan ini cukup terbatas, penting untuk memeriksa jadwal keberangkatan secara teliti agar tidak perlu menunggu terlalu lama di stasiun atau halte.
Dari Stasiun Okuki ke Stasiun Same

Memulai penjelajahan dari Stasiun Okuki berarti pelancong akan tiba dekat dengan titik awal jalur. Namun, bagian awal jalur ini didominasi oleh area hutan lebat yang tertutup tanaman liar dan minim pemandangan. Kecuali jika ingin menuntaskan seluruh jalur secara utuh, kebanyakan pelancong lebih memilih untuk memulai perjalanan langsung dari Padang Rumput Alami Tanesashi.
Padang rumput ini sangat mudah diakses karena berada tak jauh dari Stasiun Tanesashi Kaigan atau dapat dicapai menggunakan bus wisata musiman Umineko yang berhenti di Pusat Informasi Pantai Tanesashi.
Padang Rumput Alami Tanesashi

Padang Rumput Alami Tanesashi merupakan salah satu ciri khas utama kawasan pesisir ini, berupa hamparan rumput luas yang membentang langsung menghadap Samudra Pasifik. Menariknya, lanskap ini terbentuk berkat sejarah masa lalu ketika kuda-kuda merumput di Padang Pastura Myono hingga sekitar tahun 1965. Kombinasi aktivitas hewan, angin laut Yamase yang sejuk, kabut laut, serta salju musim dingin yang ringan menciptakan ekosistem pesisir yang unik ini.
Bagi yang berjalan ke arah utara, padang rumput ini menjadi tempat beristirahat yang ideal. Pusat Informasi Pantai Tanesashi terletak persis di sebelah padang rumput, menjadikannya titik singgah yang nyaman untuk mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yodo-no-Matsubara dan Titik Pemandangan Ashigezaki.
Hutan Pinus dan Pantai Osuka

Melangkah ke utara dari padang rumput, rute berikutnya memasuki kawasan hutan pinus hitam Yodo-no-Matsubara sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Ditanam lebih dari satu abad lalu oleh para pemuda setempat untuk mendukung perkembangbiakan ikan, jalur di sini menyajikan suasana yang lebih teduh dan tertutup.
Di sepanjang jalur hutan pinus ini, pengunjung dapat menemukan beberapa titik menarik seperti “Gua Pertapa” dan Komori-no-Ana yang dulunya menjadi habitat kelelawar. Setelah melewati kawasan hutan, pemandangan berubah drastis saat jalur mengarah ke Pantai Osuka dan Pantai Shirahama. Pantai Osuka terkenal dengan pasirnya yang dapat mengeluarkan suara berdecit saat diinjak akibat gesekan butiran kuarsa. Aktivitas berenang dilarang di Pantai Osuka, sehingga area ini lebih cocok dinikmati sebagai bagian dari jalur jalan kaki.
Pemandangan Taman Nasional Sanriku Fukko

Perjalanan ke utara melalui Taman Nasional Sanriku Fukko akan membawa pengunjung tiba di Titik Pemandangan Ashigezaki. Dulunya difungsikan sebagai pos pengamatan militer pada Perang Dunia II, bangunan batu ini kini menjadi menara pandang panorama untuk menikmati Samudra Pasifik dan garis pantai berbatu di bawahnya. Terdapat pula sebuah kafe kecil di dekat area parkir yang menyajikan es krim lembut, pas untuk melepas lelah.
Meskipun jalur masih bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke Kuil Kabushima, sebagian besar rute berikutnya berdampingan langsung dengan jalan raya tanpa trotoar. Memanfaatkan bus wisata Umineko dari titik ini adalah pilihan yang jauh lebih nyaman untuk melanjutkan perjalanan menuju Kuil Kabushima.
Berakhir di Kuil Kabushima

Kuil Kabushima yang terletak di Pulau Kabushima menjadi tempat berakhirnya rute trekking di Pantai Tanesashi. Kuil ini memuja Benzaiten, dewi yang disembah untuk memohon kemakmuran bisnis dan keselamatan di laut.
Pulau ini juga terkenal sebagai tempat perkembangbiakan penting bagi puluhan ribu burung cemar hitam atau black-tailed gulls antara bulan Maret hingga Agustus. Setelah puas menikmati suasana kuil dan melihat burung-burung camar, pengunjung dapat berjalan kaki sekitar 15 menit menuju Stasiun Same atau naik bus kota untuk kembali ke pusat Hachinohe.
Kembali ke Stasiun Hon-Hachinohe

Kembali ke pusat kota Hachinohe membuka kesempatan untuk menikmati berbagai kuliner lokal. Miroku Yokocho, sebuah kompleks berisi puluhan warung makan kecil di dalam gang sempit, menawarkan pengalaman kuliner malam yang sangat lokal dan akrab.
Jika berkunjung pada hari Minggu, Pasar Pagi Tatehana Wharf yang membentang sepanjang 800 meter di tepi pelabuhan wajib dikunjungi. Pasar ini menghadirkan ratusan pedagang yang menjual berbagai makanan laut bakar dan jajanan lokal, namun pengunjung harus datang pagi-pagi karena pasar ini sudah tutup sebelum pukul 09.00 pagi.
Bagi yang tertarik dengan sejarah, Museum Kota Hachinohe, situs Kastil Nejo, serta Museum Korekawa Jomon yang menyimpan artefak bersejarah dari era Jomon juga layak untuk dimasukkan ke dalam rencana perjalanan.







