Home / Travel / Helvetica Jepang: Ternyata Tidak Sesederhana Itu

Helvetica Jepang: Ternyata Tidak Sesederhana Itu

Bagi kalangan muda yang lekat dengan dunia seni dan budaya, ketertarikan terhadap berbagai bentuk desain—mulai dari arsitektur, desain grafis, hingga tata letak web—sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, dari sekian banyak elemen visual, tipografi atau seni perancangan huruf tampaknya berhasil menarik perhatian paling besar dalam beberapa tahun terakhir.

Topik seputar huruf dan font sering kali memicu perbincangan hangat, mulai dari kecaman terhadap font seperti Comic Sans hingga rasa kagum yang mendalam terhadap kepopuleran Helvetica. Font yang satu ini telah lama dianggap sebagai standar emas dalam dunia desain berkat tampilannya yang bersih, sederhana, dan fungsional. Kecintaan publik terhadap Helvetica bahkan diabadikan dalam sebuah film dokumenter khusus berjudul Helvetica:

Kepopuleran font ini lantas memunculkan pertanyaan menarik: apakah Helvetica juga digunakan dalam bahasa lain, seperti bahasa Jepang?

Secara historis, Helvetica tentu saja tidak diciptakan untuk menuliskan aksara Jepang. Font ini lahir di Swiss, negara yang tidak menggunakan bahasa Jepang dalam kesehariannya. Meskipun ada beberapa pihak yang pernah mencoba menerapkannya, upaya tersebut sering kali dinilai kurang tepat karena banyak nuansa kultural yang hilang dalam proses penyesuaiannya.

Meski demikian, bukan berarti dunia tipografi Jepang tidak berkembang. Jepang memiliki rangkaian font tersendiri, dan salah satu yang sering dianggap sebagai padanan setara dengan Helvetica adalah 新ゴ atau yang dikenal sebagai New Gothic.

Example of New Gothic, Japan's Helvetica

Font ini memiliki banyak kesamaan dengan Helvetica karena mengusung gaya sans-serif yang bersih dan sederhana. Dirancang oleh Morisawa, sebuah perusahaan pembuat font asal Jepang dengan mengambil inspirasi dari Helvetica, New Gothic kini banyak digunakan pada berbagai rambu dan fasilitas publik.

Bagi mereka yang mencari alternatif lain di luar gaya ala Helvetica, dunia tipografi Jepang sebenarnya menyimpan sangat banyak pilihan gaya huruf yang menarik untuk dieksplorasi.

明朝体 written with a blue background

Salah satu gaya yang paling umum dijumpai adalah 明朝体 atau Minchoutai, sebuah jenis huruf yang mengambil nama dari Dinasti Ming. Karakter dari font ini masih mempertahankan kesan tradisional, termasuk adanya guratan kecil pada ujung garis yang menyerupai bekas sapuan kuas tulis di masa lalu sebelum era komputer dan gawai mendominasi.

ゴシック written in a Gothic font

Bagi yang menyukai tampilan lebih modern dan bersih tanpa jejak sapuan kuas, tersedia pilihan font ゴシック atau Gothic. Dengan ketebalan garis yang seragam, jenis huruf ini sangat diandalkan di era modern karena tingkat keterbacaannya yang sangat baik.

Selain dua gaya utama tersebut, variasi font di Jepang sangat beragam. Ada jenis huruf yang terinspirasi dari cetakan balok kayu tradisional, desain segel nama resmi atau hanko, hingga berbagai font tulisan tangan termasuk gaya tulisan tangan yang imut.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa urusan tipografi hanya menarik bagi kalangan tertentu saja, seperti para pengamat desain atau pecinta seni.

Three men in circular glasses that use Helvetica
Each of these guys probably goes nuts over Helvetica

Namun pandangan tersebut perlahan mulai bergeser, terutama mengingat kebiasaan menulis tangan kini semakin jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan survei yang dirilis oleh pemerintah Jepang, lebih dari separuh warga Jepang mengakui bahwa kemampuan mereka dalam menulis kanji mulai menurun akibat terlalu sering mengandalkan ponsel dan komputer alih-alih pena dan kertas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di masa depan, sebagian besar tulisan Jepang akan dibentuk oleh font digital yang dirancang secara profesional oleh tim desainer selama bertahun-tahun, menggantikan goresan tangan pribadi. Perubahan teknologi semacam ini kerap memunculkan kekhawatiran, mirip seperti saat tradisi tulis-menulis pertama kali diperkenalkan di masa lalu.

Kendati demikian, bergesernya kebiasaan dari tulisan tangan ke format digital bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan. Menggunakan font yang dikerjakan secara teliti oleh para ahli justru memberikan nilai tersendiri, terutama jika dibandingkan dengan tulisan tangan personal yang sering kali tidak mengalami banyak perkembangan sejak masa sekolah dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *