Menyantap Serangga di Jepang
Saya tumbuh dengan kebiasaan makan serangga. Saat berkunjung ke rumah kakek dan nenek di Yokohama, mereka kerap menawarkan inago no tsukudani, yaitu belalang sawah yang dimasak dengan kecap asin, gula, dan sake, sebagai camilan sore. Pada mulanya, saya berusaha menolak dengan sopan karena tampilannya terlihat cukup aneh. Namun, mereka meyakinkan saya bahwa makan serangga akan membuat saya lebih pintar. Setelah berani mencobanya, saya justru terkejut dan menyukai rasanya.
Bagi sebagian orang hal ini mungkin terdengar tidak biasa, tetapi Jepang memiliki tradisi mengonsumsi serangga yang mirip dengan negara-negara Asia lainnya. Catatan sejarah tertua mengenai praktik entomofagi di Jepang berasal dari periode Edo. Konsumsi serangga pada masa itu umumnya ditemukan di desa-desa pertanian, dan popularitasnya meluas ke seluruh negeri selama Perang Dunia II akibat kelangkaan pangan. Selepas perang, dengan semakin banyaknya pilihan makanan serta penurunan populasi serangga akibat penggunaan pestisida, kebiasaan ini mulai ditinggalkan. Praktik makan serangga atas dasar pilihan pribadi pun sangat langka hingga beberapa waktu belakangan ini.
Kini, sebuah gerakan yang dimotori oleh para koki kuliner, aktivis, penulis, dan pakar pangan tengah mempromosikan serangga sebagai makanan lezat di masa depan.
Mengapa Orang Memakan Serangga?

Selain rasanya yang lezat, menyantap serangga juga memberikan berbagai keuntungan lain. Banyak ahli menjuluki serangga sebagai makanan masa depan berkat kandungan nutrisinya yang tinggi, reproduksi yang cepat, serta pertumbuhan yang pesat. Berikut adalah beberapa alasan rasional untuk mulai mengonsumsi serangga:
-
Efektivitas Biaya: Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), serangga menghasilkan jumlah protein yang setara dengan daging babi, unggas, dan domba, namun membutuhkan pakan dua hingga empat kali lebih sedikit.
-
Pertumbuhan Cepat: Serangga tumbuh dengan sangat cepat. Sapi membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga tahun untuk matang sebelum dapat dikonsumsi, sementara sebagian besar serangga tumbuh dalam kurun waktu kurang dari enam bulan.
-
Manfaat Kesehatan: Di samping sifatnya yang berkelanjutan, serangga kaya akan nutrisi. FAO merekomendasikan serangga sebagai sumber makanan sehat yang tinggi lemak, protein, vitamin, serat, dan mineral.
-
Potensi Umur Panjang: Kendati belum terbukti secara ilmiah, kebiasaan mengonsumsi serangga diyakini dapat membantu memperpanjang umur. Nagano, prefektur dengan tingkat konsumsi serangga tertinggi di Jepang, juga tercatat sebagai wilayah dengan angka harapan hidup tertinggi.
Shoichi Uchiyama, Koki Serangga Kelas Dunia
Dalam dunia kuliner serangga, Shoichi Uchiyama merupakan salah satu tokoh terkemuka yang memimpin gerakan makan serangga. Berasal dari Nagano, wilayah di mana tradisi ini mengakar kuat, Uchiyama telah mendedikasikan dirinya untuk meneliti hidangan serangga sejak tahun 1999. Ia telah menerbitkan berbagai buku resep dan aktif mengadakan acara melalui Kelompok Studi Serangga Edible.
Lokakarya Memasak Serangga
Salah satu agenda rutin yang diselenggarakan oleh kelompok riset Uchiyama adalah lokakarya memasak serangga di Tokyo. Dalam acara ini, Uchiyama dan para peserta memasak serta menikmati hidangan serangga bersama-sama.
Dalam sesi tersebut, para peserta biasanya mengolah tiga menu unik:
- Omurice dengan Larva Lebah
- Salad Kentang dengan Serangga Air Raksasa
- Minestrone dengan Bayi Semut
Shoichi Uchiyama, koki serangga kelas dunia, adalah salah satu tokoh utama dalam gerakan makan serangga.
Dari ketiga menu tersebut, salad kentang dengan serangga air raksasa menjadi favorit Uchiyama. Ia mengungkapkan bahwa orang yang jarang makan serangga sering kali tidak menyadari keberadaan serangga di dalam salad tersebut, dan kerap memuji cita rasa elegan yang dihasilkan. Kreasi-kreasi ini terbukti mampu menarik minat masyarakat untuk lebih terbuka terhadap gagasan menyantap serangga.
Resep Olahan Serangga ala Jepang

Bagi yang tidak sempat menghadiri lokakarya secara langsung, menu-menu tersebut dapat dicoba sendiri di rumah. Namun, sebelum mulai mengolah serangga, penting untuk memastikan bahwa Anda tidak memiliki alergi. Orang yang memiliki alergi terhadap kepiting dan udang sebaiknya menghindari serangga karena kandungan tropomiosin di dalamnya dapat memicu reaksi alergi.
Resep Omurice Larva Lebah

Bahan-bahan untuk 4 porsi:
- Nasi Ketchup:
- 12 ons beras putih
- ½ buah bawang bombay
- 1 blok kaldu
- 1 sdm saus tomat
- ½ sdm saus Worcestershire
- 3,5 ons larva atau kepompong tawon Jepang
- 1 sdm saus tomat tambahan
- Telur Dadar:
- 2 butir telur
- ½ sdm mayones
- 1 sdm mentega
- Topping:
- 16 buah kepompong tawon Jepang
Cara Memasak:
- Cuci beras dan rendam di dalam rice cooker, lalu cincang bawang bombay.
- Masukkan blok kaldu, saus tomat, dan saus Worcestershire dengan takaran air sedikit dikurangi.
- Letakkan bawang bombay dan larva lebah di bagian atas, kemudian nyalakan rice cooker.
- Setelah matang, tambahkan saus tomat dan aduk rata, sesuaikan rasa dengan garam serta merica.
- Untuk membuat telur dadar, kocok telur dan mayones hingga tercampur sempurna.
- Panaskan wajan dengan api besar dan lelehkan mentega.
- Tuang adukan telur sebelum mentega meleleh sepenuhnya, lalu aduk perlahan membentuk lingkaran dengan sumpit.
- Sajikan telur dadar di atas nasi.
- Beri tambahan kepompong rebus yang telah dibumbui garam dan merica, serta saus tomat sesuai selera.
Resep Minestrone Bayi Semut

Bahan-bahan untuk 4 porsi:
- 1,5 hingga 2 ons bayi semut
- 1 ekor serangga air Taiwan
- ½ buah bawang bombay
- ½ buah wortel
- 1 batang seledri
- 1 buah tomat
- 1 siung bawang putih
- 1 sdm minyak zaitun
- 1 lembar daun salam
- 1 blok kaldu
- 2,5 cangkir air matang
- Garam dan merica secukupnya
Cara Memasak:
- Rebus sebentar bayi semut, lalu tiriskan menggunakan saringan.
- Rebus serangga air Taiwan, buka cangkangnya dengan gunting untuk mengambil dagingnya, dan potong cangkang menjadi empat bagian.
- Potong dadu bawang bombay, wortel, seledri, dan tomat. Memarkan bawang putih.
- Panaskan minyak zaitun di dalam panci, tumis bawang putih hingga harum, lalu masukkan bawang bombay, wortel, dan seledri hingga lunak.
- Masukkan tomat, aduk sebentar, kemudian tambahkan air matang, kaldu blok, dan daun salam. Tutup panci dan rebus selama 20 menit.
- Masukkan bayi semut dan daging serangga air, bumbui dengan garam dan merica.
- Sajikan dengan hiasan cangkang serangga air di atasnya.
Resep Batangan Granola Belalang Sawah

Resep ini ditemukan melalui layanan berbagi resep populer di Jepang dan menjadi cara kreatif mengolah belalang menjadi camilan sehat.
Bahan-bahan:
- 100 ekor belalang sawah
- 5,5 ons granola
- 5 hingga 6 buah marshmallow berukuran besar
- 3,5 ons selai kacang dengan madu
Cara Memasak:
- Diamkan belalang di dalam wadah selama sehari untuk membersihkan perutnya, lalu masukkan ke dalam freezer untuk mematikannya.
- Sangrai belalang hingga renyah, buang kaki dan antena jika gosong.
- Panaskan marshmallow dan selai kacang menggunakan microwave hingga meleleh, lalu campurkan dengan granola dan belalang.
- Cetak adonan di atas kertas perkamen menjadi bentuk batangan, pastikan tersebar merata tanpa rongga.
- Dinginkan di dalam lemari es sebelum dipotong-potong untuk disajikan.
Mesin Otomatis Penjual Serangga Konsumsi

Bagi yang tidak memiliki waktu untuk mencari dan memasak serangga sendiri, Jepang menyediakan kemudahan melalui mesin penjual otomatis yang beroperasi selama 24 jam. Di Taman Inokashira, Tokyo, terdapat mesin penjual otomatis yang menawarkan dua jenis produk serangga dalam kaleng:
- Belalang Sawah Kanroni
- Larva Lebah
Kedua produk tersebut diolah menggunakan metode tsukudani, yaitu teknik memasak tradisional Jepang dengan kecap asin, gula, dan sake. Varian kanroni memiliki karakteristik rasa yang lebih manis karena kandungan gula yang lebih tinggi.
Ulasan Serangga Kalengan Jepang
Untuk mengetahui cita rasanya secara langsung, beberapa anggota tim Tofugu mencoba produk serangga kalengan bermerek Hanakuyoujirushi yang terdiri dari belalang sawah dan larva lebah.
Setelah kaleng dibuka, belalang sawah tampak berukuran kecil namun tetap mempertahankan bentuk utuhnya. Sementara itu, larva lebah menyerupai kacang berukuran kecil. Keduanya disajikan di atas mangkuk nasi hangat layaknya hidangan tsukudani pada umumnya.
Hasil pengujian menunjukkan respons yang positif. Belalang memberikan sensasi renyah menyerupai kacang, mengingatkan pada camilan gurih, sedangkan larva lebah menghadirkan aroma dan rasa yang unik.
Jenis Serangga yang Umum Dikonsumsi di Jepang

Meskipun praktik makan serangga populer di wilayah tertentu seperti Nagano, masyarakat Jepang pada umumnya hanya mengonsumsi beberapa jenis serangga tertentu saja.
Belalang Sawah

Belalang sawah, atau inago, merupakan jenis serangga yang paling lazim dikonsumsi di Jepang. Hama tanaman padi ini kerap ditangkap di area sawah untuk diolah menjadi hidangan lezat. Saat ini, populasinya di alam bebas semakin berkurang akibat penggunaan bahan kimia pertanian.
Biasanya disajikan sebagai tsukudani, belalang memiliki perpaduan rasa manis dan asin yang khas dari kecap asin. Hidangan ini sangat cocok disantap bersama nasi putih, atau dijadikan pendamping minum teh maupun minuman beralkohol.
Larva Lebah

Jika belalang sawah merupakan hidangan rumahan yang merakyat, larva lebah atau hachinoko diposisikan sebagai sajian yang lebih istimewa. Produk ini umumnya dijual dengan harga yang lebih tinggi di pasaran.
Di daerah Nagano, larva lebah dikenal dengan berbagai sebutan lokal seperti sugara atau sugaru. Sementara di Gifu, masyarakat setempat mengolahnya bersama nasi dengan sebutan hebomeshi. Restoran-restoran tradisional kelas atas bahkan menyajikan hidangan ini sebagai makanan pembuka yang bergizi tinggi.
Kepompong Ulat Sutra

Sejarah konsumsi kepompong ulat sutra telah tercatat sejak masa penyusunan Kojiki, buku sejarah tertua di Jepang. Kaya akan kandungan lemak, protein, dan vitamin B2, kepompong ini dulunya diandalkan sebagai sumber nutrisi pengganti daging sapi atau babi, terutama saat industri sutra masih berjaya.
Kini, Prefektur Nagano menjadi salah satu sedikit wilayah di Jepang di mana produk berbahan dasar ulat sutra masih dapat ditemukan, umumnya diolah melalui metode tsukudani atau kanroni.
Sumber Informasi Seputar Entomofagi di Jepang

Bagi yang tertarik mendalami budaya konsumsi serangga di Jepang, terdapat berbagai referensi menarik mulai dari buku foto hingga blog khusus.
Buku Foto Bug Eating Walk 2033

Karya fotografi dari Kohta Nunokawa ini menggambarkan proyeksi masa depan di tahun 2033 ketika konsumsi serangga telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat.
Blog Entomofagi Jepang
Sebuah blog bernama Mushikui yang dikelola oleh penulis lepas spesialis serangga pangan menyajikan berbagai resep, informasi acara, serta wawasan seputar dunia kuliner serangga di Jepang secara mendalam.








