Perayaan Unik di Jepang
PERHATIAN KERAS! Artikel ini tentu saja tidak disarankan untuk dibaca di kantor atau bersama anak-anak. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi setelah Anda membaca tulisan ini. Namun, jika Anda sudah terlanjur mengeklik tautan dengan judul seperti ini, kemungkinan besar Anda sudah siap mental. Mari kita langsung bahas Kanamara Festival atau yang lebih dikenal secara internasional sebagai “Festival Penis”. Jangan katakan penulis tidak memberikan peringatan sebelumnya!
Kanamara Festival pertama kali diselenggarakan pada tahun 1969 di Kanayama Shrine yang berukuran sangat kecil. Sejak saat itu, festival ini menjelma menjadi destinasi populer di seluruh dunia berkat sorotan media asing. Kapan lagi Anda bisa menjumpai permen dengan bentuk alat kelamin pria? Waktu penyelenggaraan festival ini umumnya jatuh pada hari Minggu pertama di bulan April setiap tahunnya, dan ini bukanlah sebuah lelucon April Mop!
Tentu ada cerita menarik di balik festival yang tidak biasa ini. Berdasarkan penelusuran sejarah, kuil pemujaan ini dulunya sering dikunjungi oleh para pekerja seks komersial yang memohon perlindungan dari penyakit menular seksual. Hingga saat ini pun, seluruh pendapatan dari Kanamara Festival didonasikan untuk penelitian HIV sebagai bentuk kelanjutan tradisi tersebut. Konon, Kanayama Shrine juga dipercaya memberikan berkah perlindungan bagi kelancaran bisnis, kemudahan persalinan, pernikahan, serta keharmonisan pasangan suami istri.
Akan tetapi, dewa pelindung yang disemayamkan di kuil ini sebenarnya adalah dewa pertambangan dan para pandai besi. Apa hubungannya para dewa tersebut dengan simbol lingga? Konon, kedua dewa ini mengemban tugas berat untuk menyembuhkan bagian intim dewi Shinto Izanami setelah melahirkan dewa api. Berdasarkan mitos inilah masyarakat setempat akhirnya kerap berdoa di Kanayama Shrine untuk memohon kesembuhan dari berbagai masalah kesehatan di area sensitif.
Cerita rakyat setempat juga mengisahkan tentang seorang wanita muda cantik yang mengalami kejadian mistis karena ada sesosok iblis pencemburu bersemayam di dalam tubuhnya. Makhluk tersebut dikabarkan telah menggigit lingga suami wanita itu sebanyak dua kali! Berkat bantuan seorang pandai besi lokal yang merakit lingga logam khusus—yang kini diabadikan di Kanayama Shrine—pasangan malang ini akhirnya berhasil memecahkan gigi sang iblis dan mengusirnya.
Cara Menuju ke Sana

Kanayama Shrine dan lokasi Kanamara Festival terletak hanya beberapa menit dari Stasiun Kawasaki Daishi. Jika Anda berangkat dari pusat Tokyo, Anda harus melakukan transit terlebih dahulu di Stasiun Kawasaki. Sebaiknya gunakan aplikasi layanan transportasi seperti Jorudan untuk merencanakan rute perjalanan terbaik bagi Anda dan rombongan.
Setibanya di Stasiun Kawasaki Daishi, lokasi festival dapat dicapai dengan berjalan kaki sebentar. Anda cukup mengikuti lautan manusia yang memadati area tersebut karena festival ini sudah sangat terkenal dan mudah ditemukan.
Hal yang Dapat Diharapkan di Festival

Selain kerumunan padat dan antrean toilet yang panjang, apa saja yang bisa disaksikan di sini? Festival ini biasanya berlangsung dari pukul 10.00 hingga 17.00 waktu setempat, namun acara utamanya yaitu pawai tandu (mikoshi) dimulai tepat pukul 12.00 siang. Agar tidak ketinggalan kemeriahannya, disarankan untuk tiba di lokasi paling lambat pukul 11.00 pagi.
Berdasarkan tradisi tahunan, pawai ikonik ini menampilkan tiga buah mikoshi yang membawa replika alat kelamin pria dengan bentuk yang unik. Tandu terbesar yang berwarna merah muda diberi nama “Elizabeth”, yang disumbangkan oleh sebuah klub penampil drag queen. Sebagai bentuk penghormatan, para pembawa tandu Elizabeth diwajibkan mengenakan busana drag. Sementara itu, tandu lainnya membawa lingga logam berwarna hitam yang diyakini sebagai replika asli yang digunakan untuk mengusir iblis dalam legenda terdahulu.

Ketiga mikoshi tersebut dikeluarkan secara bergiliran dari Kanayama Shrine untuk mengelilingi kawasan sekitar dengan pengamanan yang cukup ketat. Setelah rombongan lewat, pengunjung biasanya diizinkan untuk ikut bergabung dalam barisan pawai yang bergerak melewati kompleks kuil Kawasaki Daishi menuju Taman Daishi.
Setelah pawai dimulai, pengunjung memiliki beberapa pilihan cara untuk menikmati festival. Anda bisa tetap berada di sekitar Kanayama Shrine untuk menikmati pertunjukan musik langsung dan mencicipi berbagai jajanan berbentuk unik di stan makanan yatai. Namun, bersiaplah untuk mengantre panjang jika ingin memanjatkan doa di kuil tersebut.
Menuju ke Taman Daishi

Jika Anda memilih untuk mengikuti arah pawai, berjalanlah bersama para pengunjung menuju Taman Daishi. Di sana, Anda akan disambut oleh deretan penjual yang menjajakan berbagai suvenir dan makanan bertema unik. Menjelang sore hari, suara teriakan yel-yel khas festival akan terdengar sepanjang perjalanan kembali ke stasiun kereta, menandakan bahwa mikoshi sedang diarak kembali ke kuil utama.
Secara keseluruhan, Kanamara Festival menawarkan pengalaman wisata setengah hari yang tidak biasa dan penuh dengan unsur candaan santai. Kendati demikian, bagi pengunjung yang membawa anak-anak atau merasa kurang nyaman dengan kerumunan wisatawan asing yang cukup ekspresif, mungkin lebih baik mempertimbangkan ulang kunjungan ke acara ini. Seiring dengan popularitasnya di media internasional, jumlah pengunjung yang memadati Kanayama Shrine terus meningkat setiap tahunnya.
Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya…








