
Menghabiskan waktu bersama keluarga tempat saya dulu tinggal saat program homestay di Jepang menyadarkan saya kembali tentang berbagai perbedaan budaya yang halus antara orang Amerika dan Jepang. Karena sebagian besar waktu kami dihabiskan untuk wisata kuliner, saya jadi memerhatikan bagaimana dinamika bersantap di restoran Jepang memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari kebiasaan di Barat.
Memanggil Pelayan
Bagi pendatang baru, terbiasa memanggil pelayan secara langsung di restoran Jepang bisa jadi mengejutkan. Anda tidak perlu menunggu pelayan menghampiri meja Anda. Di Jepang, wajar dan diterima untuk memanggil staf dengan suara yang cukup jelas, misalnya mengucapkan “sumimasen!” agar pesanan segera dicatat atau bantuan Anda direspons.
Gelas Air Berukuran Kecil
Bagi yang terbiasa minum dalam jumlah banyak saat makan, ukuran gelas air di restoran Jepang mungkin terasa sangat mini. Tidak seperti di restoran Amerika di mana pelayan akan sigap mengisi ulang gelas besar Anda, restoran di Jepang umumnya menyediakan gelas kecil dan jarang melakukan refill otomatis. Sebagai trik, Anda bisa meminta air disajikan dalam gelas bir agar kapasitasnya lebih memadai.
Memesan Makanan Tanpa Bisa Membaca Menu
Menghadapi menu yang sepenuhnya berbahasa Jepang tanpa ada gambar atau replika plastik makanan di luar restoran kecil bisa menjadi tantangan tersendiri. Namun, ada trik mudah: perhatikan tulisan Katakana pada menu. Sebagian besar menu makanan asing atau modern ditulis dalam aksara Katakana, seperti “ramen” atau “katsu”. Dengan mengenali huruf-huruf ini, Anda bisa menunjuk menu pilihan dan memesannya tanpa harus menebak-nebak secara buta.
Mengambil Makanan dari Piring Bersama
Saat menikmati hidangan tengah meja atau gaya keluarga, etika penggunaan sumpit punya aturan tersendiri. Jika makan bersama keluarga atau teman sangat dekat, menggunakan ujung sumpit yang biasa dipakai untuk makan adalah hal biasa. Namun, jika Anda makan bersama orang yang belum begitu akrab, disarankan untuk membalik sumpit atau menggunakan bagian pangkalnya demi menjaga kebersihan.
Rebutan Membayar Tagihan
Tradisi membayar tagihan atau gochisousama di Jepang bisa menjadi sebuah “pertarungan” tersendiri, terutama jika melibatkan senior dan junior atau hierarki sosial. Orang yang berstatus lebih senior biasanya akan bersikeras menraktir yang lebih muda. Kendati demikian, menunjukkan gestur ingin ikut membayar tetap dianggap sopan. Jika Anda ditraktir, pastikan untuk membalas kebaikan tersebut di lain kesempatan.
Budaya Tanpa Tipping
Kabar baiknya bagi wisatawan, Jepang sama sekali tidak mengenal budaya memberikan tips. Anda tidak perlu merasa wajib meninggalkan uang tambahan di atas meja berapapun kualitas pelayanannya. Harga yang tertera pada tagihan adalah jumlah final yang harus dibayar, sehingga hal ini justru membantu menghemat pengeluaran selama berwisata kuliner.
Waktunya Menikmati Kuliner
Memahami kebiasaan kecil ini akan membuat pengalaman kuliner Anda di Jepang menjadi jauh lebih menyenangkan. Jangan biarkan kendala bahasa atau ketiadaan gambar menu menghalangi Anda untuk menjelajahi berbagai tempat makan lokal yang autentik dan menawarkan cita rasa luar biasa.







