Home / Travel / Dua dari Delapan Puluh Delapan | Kunjungan Pertamaku ke Kuil-Kuil dalam Shikoku Henro

Dua dari Delapan Puluh Delapan | Kunjungan Pertamaku ke Kuil-Kuil dalam Shikoku Henro

A Buddhist Statue at Tairyu ji

Sejak pertama kali mendengar tentang Shikoku Henro Pilgrimage, saya sudah lama menyimpan keinginan untuk menyusuri rute suci ini. Perjalanan epik tersebut mencakup rangkaian 88 kuil yang tersebar di Shikoku, pulau terkecil di antara empat pulau utama Jepang. Dengan total panjang mencapai lebih dari 1.200 kilometer, jalur ziarah ini biasanya memakan waktu satu hingga dua bulan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tentu saja, pendakian yang cukup menantang ini masuk dalam daftar impian yang ingin saya tuntaskan suatu hari nanti, kemungkinan besar dengan bantuan sponsor atau urunan dana mengingat jaraknya yang sangat jauh.

Meski baru sebatas mencicipi sebagian kecil dari pengalaman tersebut, saya belum lama ini berkesempatan mengunjungi dua dari 88 kuil yang ada di rute ziarah Shikoku. Kunjungan selama sepekan di wilayah Jepang bagian barat ini bertujuan untuk meninjau beberapa daerah yang akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Masters Games yang kesepuluh. Semula dijadwalkan pada tahun 2021, ajang olahraga internasional ini harus diundur ke tahun berikutnya akibat pandemi virus corona. Bagi Anda yang berencana mengunjungi Jepang saat World Masters Games berlangsung dan ingin tetap aktif bergerak, saya telah merangkum beberapa pilihan kegiatan menarik di bagian akhir artikel ini.

Sebagai informasi tambahan, World Masters Games merupakan kompetisi olahraga multieven internasional populer yang diadakan setiap empat tahun sekali. Ajang besar ini terbuka bagi siapa saja yang berusia di atas 30 tahun. Hingga saat ini, lebih dari 170.000 peserta antusias telah ambil bagian dalam berbagai kategori perlombaan. Edisi kesepuluh ajang ini rencananya akan dilangsungkan di Prefektur Tokushima serta beberapa prefektur lainnya.

Cara Menuju ke Sana

Donny Kimball gazes out over a valley in rural Tokushima Prefecture from a viewpoint near Tairyu-ji

Bagian kecil dari rute ziarah Shikoku yang saya kunjungi terletak di wilayah Prefektur Tokushima. Sebelum membahas dua kuil yang saya sambangi, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai akses transportasinya. Berbeda dengan kota besar seperti Osaka atau Kyoto, kawasan ini sedikit lebih menantang bagi pelancong mancanegara. Meskipun tersedia moda transportasi publik, menjelajahi pedesaan Jepang jauh lebih mudah jika Anda menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan demi kebebasan mobilitas.

Pilihan paling praktis untuk mencapai Prefektur Tokushima adalah dengan mengambil penerbangan domestik. Pelancong yang berangkat dari Tokyo dapat langsung naik pesawat dari Bandara Internasional Tokyo atau Bandara Haneda. Sementara itu, bagi yang tiba melalui Bandara Internasional Kansai, Anda harus menuju ke Bandara Internasional Osaka atau Bandara Itami terlebih dahulu untuk melanjutkan penerbangan domestik ke Bandara Tokushima. Alternatif lainnya, tersedia layanan bus limosin dari Bandara Kansai menuju Stasiun Tokushima dengan durasi perjalanan sekitar dua setengah jam.

Apapun moda transportasi yang Anda pilih untuk tiba di Tokushima, menyewa mobil sangat disarankan. Jika tidak memungkinkan, mau tidak mau Anda harus mengandalkan transportasi umum yang jadwal keberangkatannya cukup terbatas. Pastikan Anda selalu memeriksa jadwal bus dan kereta agar tidak ketinggalan.

Daya Tarik Tairyu-ji

A statue of the Buddhist monk Kukai (Kobo Daishi) near Tairyu-ji in Tokushima Prefecture

Dari total 88 situs dalam Shikoku Henro Pilgrimage, tempat pertama yang saya kunjungi adalah Tairyu-ji, kompleks kuil Buddha luas yang berstatus sebagai situs nomor 21 dalam jalur ziarah ini. Kompleks tersebut berada di puncak gunung setinggi lebih dari 500 meter dan dikategorikan sebagai Nansho atau kuil yang sulit diakses. Di masa lampau, para peziarah harus mendaki puncak ini dengan berjalan kaki, namun kini tersedia Tairyu-ji Ropeway yang membuat perjalanan menjadi jauh lebih singkat dan mudah, meskipun pendaki berpengalaman tetap boleh memilih jalur pendakian darat.

Tairyu-ji memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Meskipun seluruh 88 situs memiliki kaitan dengan Kukai selaku pendiri ziarah Shikoku, Tairyu-ji menyimpan bukti sejarah yang nyata. Berdasarkan catatan, saat berusia 15 tahun, biksu terkemuka tersebut menghabiskan waktu selama 50 hari di sekitar area ini untuk melafalkan mantra demi mencapai pencerahan. Meski belum berhasil saat itu, Kukai kemudian diperintahkan oleh Kaisar Kanmu mendirikan kuil di lokasi tersebut dan mengabadikan Bodhisattva yang mantranya dulu ia lafalkan.

Setelah mendirikan Tairyu-ji, Kukai dikisahkan kembali bermeditasi selama seratus hari. Legenda setempat menyebutkan bahwa seekor naga hijau besar mengawasi Kukai sepanjang masa meditasinya itu. Kisah inilah yang menjadi asal-usul nama Tairyu-ji, yang secara harfiah berarti Kuil Naga Besar.

Selain suasana kompleks kuil yang dipenuhi pohon cedar menjulang tinggi, daya tarik utama bagi saya adalah jalur setapak menuju kuil berikutnya. Dari titik ini, pengunjung bisa merasakan pengalaman berjalan di salah satu bagian kecil jalur ziarah Shikoku. Berjalan sekitar 10 menit menyusuri jalur tersebut, Anda akan menemukan sebuah gardu pandang menawan yang konon merupakan tempat Kukai bermeditasi semasa kecil, lengkap dengan patung sang biksu muda dan pemandangan alam yang memukau.

Akses menuju Tairyu-ji jauh lebih praktis dengan mobil sewaan, tetapi Anda juga bisa menggunakan transportasi umum dengan naik bus tujuan Kawaguchi dari Stasiun Tokushima, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 15 menit menuju stasiun kereta gantung Tairyu-ji Ropeway.

Daya Tarik Yakuo-ji

A pagoda found on the temple complex of Tokushima Prefecture’s Yakuo-ji

Destinasi kedua saya dalam perjalanan ziarah ini adalah Yakuo-ji. Berbeda dengan Tairyu-ji, kuil yang berada di kota nelayan Hiwasa dan menempati urutan ke-23 dalam jalur ziarah ini dapat dikunjungi tanpa harus menaiki kereta gantung. Ciri khas utama Yakuo-ji adalah pagoda berwarna vermilion yang dapat terlihat dari jarak jauh dan menawarkan pemandangan teluk yang indah dari ketinggian.

Sesuai dengan namanya yang berarti kuil raja obat, Yakuo-ji didedikasikan kepada Buddha penyembuhan, Yakushi Nyorai. Legenda lokal mencatat bahwa Kukai memahat patung Yakushi Nyorai saat berkunjung ke kuil ini pada usia 42 tahun, usia yang dianggap membawa kesialan dalam tradisi Jepang.

Membahas mengenai tahun sial atau yang di Jepang dikenal sebagai yakudoshi, usia 4, 25, 42, dan 61 tahun umumnya dianggap sebagai tahun-tahun penuh tantangan bagi pria. Sementara bagi wanita, usia yang dianggap rawan adalah 4, 19, 33, 37, dan 61 tahun. Tradisi perhitungan ini secara tradisional didasarkan pada Hari Tahun Baru, bukan hari ulang tahun biasa, dan tahun-tahun di sekitar usia tersebut juga sering kali dianggap membawa pengaruh kurang baik.

Di kompleks Yakuo-ji, terdapat dua rangkaian tangga batu: satu berisi 42 anak tangga untuk pria dan satu lagi berisi 33 anak tangga untuk wanita, dengan tambahan 61 anak tangga menuju aula utama. Tradisi setempat menganjurkan mereka yang sedang berada di usia yakudoshi untuk meninggalkan koin di setiap anak tangga sambil melafalkan mantra Yakushi demi menangkal nasib buruk.

Bagi pelancong tanpa kendaraan pribadi, Yakuo-ji cukup mudah didatangi dengan naik kereta Jalur Mugi menuju Stasiun Hiwasa, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki singkat melewati berbagai penginapan tradisional, wisma, dan toko suvenir.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Tokushima

Some boats in southern Tokushima Prefecture

Selain menelusuri rute ziarah Shikoku, Prefektur Tokushima menyimpan banyak kegiatan seru lainnya, mulai dari wisata alam luar ruang hingga pengalaman seni tradisional. Berikut adalah beberapa aktivitas yang sempat saya jumpai dan patut dicoba:

  • Kajak Laut: Di ujung selatan Prefektur Tokushima tepatnya di pulau Takegashima, terdapat fasilitas Sea Nature Museum Marine Jam. Di sini, pengunjung dapat menyewa kayak laut untuk mendayung di perairan jernih mengelilingi pulau kecil yang asri.
  • Pewarnaan Nila: Bagi yang menyukai seni kreatif, Anda dapat mencoba teknik pewarnaan kain tradisional Jepang di sanggar keluarga In Between Blues dan mempraktikkan langsung proses pembuatannya.
  • Pabrik Kecap Hama: Kunjungi pabrik kecap keluarga berusia 120 tahun yang terletak hanya beberapa menit dari Stasiun Tatsue untuk melihat proses pembuatan kecap secara tradisional sekaligus mempelajari sejarahnya.
  • Pusaran Air Naruto: Kunjungan ke Tokushima tidak akan lengkap tanpa menyaksikan fenomena alam pusaran air Naruto yang menakjubkan, yang dapat dilihat dengan jelas saat melintasi Jembatan Onaruto yang menghubungkan Tokushima dengan Pulau Awaji di Prefektur Hyogo.

Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *