Menjadi manusia biasa di dunia Dragon Ball bukanlah hal yang mudah, bahkan bagi para petarung terkuat di Bumi sekalipun. Dalam semesta di mana musuh-musuh paling berbahaya mampu memusnahkan seluruh galaksi dan dimensi hanya dengan serangan pamungkas mereka, ruang bagi manusia untuk memberikan dampak yang berarti sangatlah terbatas—terutama jika harus berhadapan dengan kekuatan para dewa.
Meskipun demikian, segelintir manusia dalam Dragon Ball berhasil melakukan hal yang tampak mustahil dan mencapai level kekuatan dewa berkat tekad baja mereka. Para pejuang terhebat Bumi ini memang tidak akan bisa menyusul tingkat kekuatan Goku dan Vegeta dalam waktu dekat, namun kemampuan mereka sudah lebih dari cukup untuk bertarung di ajang Tournament of Power, menghadapi pasukan Moro, hingga mengimbangi beberapa wujud dewa terkuat yang ada.
Master Roshi Menciptakan Versi Ultra Instinct Miliknya Sendiri
Master Roshi sempat memutuskan pensiun pada akhir cerita asli Dragon Ball, namun setelah sempat tertinggal jauh selama era Dragon Ball Z, ia mulai berlatih secara diam-diam demi mengejar ketertinggalan dari muridnya. Memasuki era Dragon Ball Super, Master Roshi bukan hanya cukup kuat untuk melawan pasukan Frieza dan terpilih mengikuti Tournament of Power menggantikan Yamcha, melainkan ia juga mampu bertahan lebih lama daripada Krillin dan Tien di turnamen tersebut, yang menunjukkan bahwa ia adalah petarung yang lebih unggul dari keduanya.
Di dalam versi manga Dragon Ball Super, justru Master Roshi yang membimbing Goku cara mengakses wujud Ultra Instinct. Sebagai seorang guru seni beladiri berpengalaman ratusan tahun, Master Roshi secara naluriah memahami prinsip dasar di balik teknik Ultra Instinct. Walaupun tidak memiliki God Ki, Master Roshi memanfaatkan versinya sendiri saat bertarung melawan Jiren, yang memungkinkannya menghindari berbagai serangan tanpa kesulitan dan bahkan memenangkan pujian dari anggota Pride Troopers tersebut.








