Home / Travel / Berjalanlah Seperti Orang Jepang dengan Cara Ini

Berjalanlah Seperti Orang Jepang dengan Cara Ini

header 640x 41

Setiap hari saya menggunakan transportasi umum untuk berangkat ke Tofugu World Headquarters. Selama beberapa tahun belakangan, saya kerap menyaksikan berbagai pelanggaran etika dan tindakan yang kurang masuk akal dari para pejalan kaki.

Mulai dari orang-orang yang nekat menyeberang di depan kendaraan yang tengah melaju, meludah sembarangan, hingga mengabaikan norma dasar kesopanan. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya menjadi lebih peka terhadap perilaku pejalan kaki, terutama saat berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan negara seperti Amerika Serikat yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi, Anda tidak akan bisa menjelajahi Jepang tanpa banyak berjalan kaki. Oleh karena itu, memahami etika berjalan kaki di sana menjadi hal yang cukup penting agar Anda tidak terlihat kaku sebagai pelancong.

Sesuaikan Kecepatan Berjalan

Salah satu hal menarik yang saya pelajari adalah adanya korelasi antara ukuran sebuah kota dan kecepatan berjalan warganya. Semakin besar sebuah kota, semakin cepat pula langkah orang-orang di sana; sebaliknya, di kota kecil, ritme berjalan cenderung lebih santai.

Fakta ini tentu sangat relevan jika Anda berencana mengunjungi kota-kota besar di Jepang yang padat penduduk. Anda mungkin perlu sedikit mempercepat langkah agar tidak menghalangi arus orang banyak.

Illustration from the book The Tortoise and the Hare

Tentu Anda tidak ingin menjadi pejalan kaki lambat yang justru menyumbat jalur trotoar, bukan?

Sebaliknya, jika Anda sudah terbiasa dengan hiruk-pikuk perkotaan yang serba cepat, Anda mungkin perlu sedikit mengerem kecepatan saat berkunjung ke daerah pedesaan di Jepang. Nikmati suasana sekitar secara lebih santai dan ramahlah kepada penduduk setempat.

Perhatikan Perbedaan Regional

Perbedaan antara berjalan kaki di kota besar seperti Tokyo atau Osaka dengan kawasan pedesaan tentu sangat jelas. Namun, ada pula perbedaan regional yang lebih subtil.

Wilayah Kansai dan Kanto (yang masing-masing mencakup Osaka dan Tokyo) telah lama menjadi rival secara budaya selama ratusan tahun, dan persaingan tersebut termanifestasi dalam hal-hal yang cukup unik.

A map of the Kansai and Kanto region

Contohnya adalah aturan berdiri di eskalator. Jika Anda berada di Osaka, Anda harus berdiri di sisi kanan dan berjalan di sisi kiri; sementara di Tokyo, aturan tersebut berlaku sebaliknya.

Hal ini terkadang bisa membingungkan, terutama jika Anda bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain. Kuncinya adalah selalu perhatikan kebiasaan orang-orang di sekitar Anda berdasarkan lokasi tempat Anda berada.

Perhatikan Rambu dan Suara Sekitar

Peringatan ini mungkin terdengar mendasar, tetapi tetap penting untuk diingat ketika berada di negara asing. Bagaimanapun, aturan etika, petunjuk arah, serta bahasa yang digunakan tentu berbeda.

Untungnya, meskipun Anda belum menguasai bahasa Jepang, kota-kota besar di sana umumnya menyediakan rambu-rambu serta sinyal yang sangat jelas, termasuk fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas yang dapat membantu Anda memahami situasi.

Jangan Terlalu Cemas

Jika Anda merasa bingung, luangkan waktu sejenak untuk mengamati orang-orang di sekitar dan ikuti apa yang mereka lakukan. Hal ini tidak rumit, dan tidak akan ada konsekuensi besar jika Anda melakukan sedikit kesalahan, selama Anda tetap bersikap pertimbangan dan tidak ceroboh.

Hal terburuk yang mungkin terjadi hanyalah seseorang di belakang Anda yang mengamati perilaku Anda secara diam-diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *