Dunia medis dan tubuh manusia menyimpan banyak sekali kesalahpahaman. Bahkan dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, cara kerja tubuh manusia masih menyisakan banyak misteri. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orang masih mengandalkan pengobatan tradisional dan mitos medis untuk memahami tubuh mereka, seperti anggapan bahwa wortel dapat meningkatkan ketajaman penglihatan atau makan satu buah apel sehari bisa menghindarkan kita dari kunjungan ke dokter.
Jepang juga memiliki bagian mitos medisnya sendiri. Namun, apakah mitos-mitos tersebut memiliki dasar kebenaran, atau sekadar cerita isapan jempol belaka? Mari kita bedah salah satu mitos populer di Jepang, yaitu keyakinan bahwa suhu perut sangat memengaruhi kesehatan secara menyeluruh. Masyarakat Jepang sangat memerhatikan suhu perut mereka; jika seseorang merasa tidak enak badan, sering kali penyebabnya dianggap karena perut mereka terlalu dingin.

Pandangan mengenai efek makanan terhadap suhu tubuh ini tercermin dalam pola makan vegetarian tradisional. Jenis makanan tertentu diyakini memiliki kualitas yang berbeda bagi tubuh:
Sayuran musim panas dari keluarga melon, seperti tomat, terong, dan mentimun, memberikan efek mendinginkan pada tubuh. Musim gugur menghadirkan panen ubi jalar, labu, dan buah-buahan yang memulihkan tubuh setelah panasnya musim panas. Sementara itu, pada musim dingin, berbagai sayuran akar seperti lobak daikon dan akar teratai berfungsi memberikan kehangatan serta energi.
Gagasan bahwa makanan tertentu dapat memberikan efek mendinginkan atau menghangatkan memang bukan hal yang sepenuhnya asing, tetapi masyarakat Jepang membawanya ke tingkat yang lebih jauh dalam kehidupan sehari-hari.

Mitos perut dingin ini tidak berhenti pada pengaruh makanan saja. Ketika musim dingin tiba, banyak orang mengenakan haramaki, yaitu pelindung perut khusus, untuk menjaga area inti tubuh tetap hangat. Selain menghangatkan, benda ini juga dipercaya memiliki manfaat lain, seperti membantu tubuh memproses alkohol lebih cepat.
Hal yang paling menarik sekaligus mengherankan adalah bagaimana para dokter medis di Jepang terkadang turut mempercayai mitos ini dan menjadikannya dasar diagnosis. Sejumlah orang pernah melaporkan bahwa ketika mereka jatuh sakit di Jepang, dokter mendiagnosis perut mereka “terlalu dingin” akibat terlalu sering mengonsumsi minuman dingin, meskipun saat itu sedang berada di tengah musim panas yang terik.

Lantas, adakah kebenaran di balik berbagai mitos mengenai perut dingin ini? Apakah mengonsumsi makanan dan minuman dingin benar-benar dapat menurunkan suhu lambung dan berujung pada penyakit?
Berdasarkan penelusuran yang ada, tidak ditemukan bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Sebagian besar argumen yang beredar didasarkan pada bukti anekdotal semata, seperti anggapan bahwa makanan bersuhu dingin menyerap energi tubuh untuk menghangatkannya. Namun, klaim-klaim tersebut tidak pernah didukung oleh studi ilmiah atau data yang valid. Meskipun ada ketidakpercayaan kultural yang luas terhadap konsumsi hal-hal yang dingin di beberapa wilayah, landasan medisnya tetap tidak terbukti.
Sebagai perbandingan, para ahli kesehatan pernah menyatakan bahwa perbedaan suhu pada minuman yang masuk ke tubuh tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap suhu inti tubuh secara keseluruhan.
Dengan minimnya bukti ilmiah yang mendukung, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi makanan atau minuman dingin tidak akan membuat seseorang jatuh sakit. Masalah yang mungkin timbul biasanya terbatas pada gigi sensitif atau rasa nyeri di kepala akibat terlalu cepat mengonsumsi sesuatu yang sangat dingin, bukan karena perubahan suhu pada lambung.







