Arti Kata Itadakimasu
“Itadakimasu” adalah salah satu ungkapan penting dalam bahasa Jepang. Frasa ini sering diterjemahkan sebagai “saya menerima dengan rendah hati”, tetapi dalam konteks waktu makan, maknanya mirip dengan “selamat makan”, ucapan terima kasih atas makanan, atau bahkan doa sebelum makan dalam tradisi keagamaan.
Namun, penggunaan frasa ini tidak sebatas pada makanan saja. Meskipun akarnya sudah ada sejak zaman kuno, kebiasaan mengucapkan frasa ini sebelum makan sebenarnya merupakan tradisi yang relatif baru di Jepang. Mari pelajari sejarah, penggunaan, arti, serta filosofi di balik kata itadakimasu.
Secara paling mendasar, Itadakimasu 頂きます digunakan sebelum menerima sesuatu. Itulah sebabnya terjemahan paling umumnya adalah:
- 頂きます(いただきます)
- menerima; mendapatkan; menerima; mengambil (bentuk sopan).
Hal inilah yang menjelaskan alasan frasa tersebut diucapkan sebelum makan, karena seseorang sedang “menerima” makanan.
Itadakimasu (dan bentuk kamusnya itadaku 頂く) berakar dari ajaran Buddha di Jepang yang mengajarkan penghormatan kepada semua makhluk hidup. Pandangan ini tercermin saat waktu makan dalam bentuk ucapan terima kasih kepada tumbuhan, hewan, petani, pemburu, koki, serta segala hal yang berperan dalam penyediaan hidangan tersebut.
Terdapat dua bentuk kanji untuk kata itadaku:
- 頂く
- 戴く
Kedua penulisan tersebut benar, tetapi kanji 頂 lebih sering digunakan.
Cara Menggunakan Itadakimasu

Mengetahui arti itadakimasu saja belum cukup; Anda juga perlu memahami pelafalan serta waktu yang tepat untuk menggunakannya.
Pelafalan Itadakimasu
- いただきます。
Kutipan audio di atas dapat dijadikan panduan untuk melafalkan itadakimasu dengan benar.
Praktik Itadakimasu
Mengucapkan itadakimasu sebelum makan merupakan bagian penting dari etika di Jepang, sehingga penting untuk mengetahui cara melakukannya dengan tepat. Biasanya, seluruh orang akan mengucapkan frasa ini bersama-sama, tetapi lumrah juga bagi setiap individu untuk mengucapkannya secara mandiri saat mulai makan.
Tata cara mengucapkan itadakimasu sebelum makan sangatlah sederhana dan hanya terdiri dari empat langkah:
- Menangkupkan kedua tangan
- Mengucapkan “itadakimasu”
- Membungkuk sedikit
- Mengambil sumpit dan mulai makan
Contoh video pendek berikut memperlihatkan langkah-langkah tersebut beserta sedikit perbedaan dalam bahasa tubuh dan pelafalan, tergantung pada situasi dan orang-orang yang menemani Anda makan:
Sopan:
Normal:
Kasual:
Satu-satunya perbedaan utama pada contoh-contoh tersebut terletak pada posisi tangan. Pada situasi kasual, Mami tampak tidak menangkupkan kedua tangan. Selebihnya, perbedaan tersebut sangat tipis dan tidak akan mengganggu orang di sekitar. Praktik itadakimasu saat makan tidaklah kaku seperti upacara minum teh. Selama Anda mengikuti langkah-langkah dasar dan menyesuaikan tingkat kesopanan dengan orang di sekitar, semuanya akan baik-baik saja.
Kapan Menggunakan Itadakimasu

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, itadaku berarti “menerima” atau “mengambil”. Namun, kata ini tidak memiliki padanan langsung yang kaku dalam bahasa Indonesia, dan ada situasi tertentu di mana frasa ini sebaiknya tidak digunakan.
Aturan praktisnya adalah:
Anda dapat menggunakan kata itadaku ketika ditawari objek fisik yang nyata, semacam cara sopan untuk mengatakan, “Saya terima.”
Mulai dari sarung tangan, video game, hingga jaring basket pengganti. Selama benda tersebut berupa objek fisik yang ditawarkan kepada Anda, kata itadaku dapat digunakan untuk menerimanya.
Percakapan umumnya berjalan seperti ini:
- A: この魚いりますか? (Apakah kamu mau ikan ini?)
- B: そうですね。いただきます。ありがとうございます。 (Tentu. Saya terima. Terima kasih.)
Perhatikan tingkat kesopanan saat menggunakan itadaku. Meskipun kata ini lebih sopan daripada morau 貰う, perbedaannya tidak terlalu signifikan jika bentuk dasarnya (itadaku) tidak diubah ke dalam bentuk sopan (itadakimasu).
Tingkat kesopanan kalimat berikut tergolong setara:
- いただく。
- もらう。
Namun, ketika diubah ke bentuk sopan, itadakimasu menjadi jauh lebih sopan daripada moraimasu:
- いただきます。
- もらいます。
Apabila Anda ingin menunjukkan tingkat kesopanan yang paling tinggi, terdapat beberapa bentuk formal tingkat lanjut dari itadakimasu:
- 有り難く頂きます
- 有り難く頂戴します
- 有り難く頂戴致します
Ungkapan-ungkapan tersebut sama-sama bermaksud menyatakan penerimaan, tetapi dengan tingkat kesopanan yang jauh di atas itadakimasu biasa.
Penggunaan Itadaku Lainnya
Lantas, bagaimana jika Anda ditawari sesuatu yang tidak berwujud fisik, seperti saran, pelukan, tumpangan ke bandara, atau sebuah kesempatan?
- Jawaban singkat: Jangan gunakan itadakimasu untuk menerima hal-hal non-fisik.
- Jawaban panjang: Anda dapat menggunakan itadaku untuk meminta hal-hal non-fisik dalam cara tertentu yang spesifik.
Sebagai contoh, Anda tidak bisa menggunakan itadakimasu untuk menerima nasihat setelah nasihat itu diberikan, tetapi Anda bisa menggunakannya untuk meminta nasihat:
- あなたのアドバイスをいただきたいんです。 (Saya ingin meminta nasihat Anda.)
- アドバイスをいただけませんか? (Bisakah saya mendapatkan nasihat Anda?)
- コウイチ大先生からアドバイスをいただきました。 (Saya mendapat nasihat dari Guru Besar Koichi.)
Meminta dengan cara tersebut diperbolehkan, tetapi akan terdengar ganjil jika mengatakan “コウイチ大先生のアドバイスをいただきます” karena nasihat tersebut sudah diberikan sebelumnya. Cara yang lebih tepat untuk menyampaikan hal itu adalah:
- コウイチ大先生のアドバイスに従うことにしました。 (Saya memutuskan untuk mengikuti nasihat Guru Besar Koichi.)
Hal serupa berlaku untuk tumpangan kendaraan. Anda dapat menggunakan itadaku untuk meminta tumpangan, tetapi bukan saat menerimanya setelah perjalanan selesai dengan cara yang kaku.
Salah satu dari sedikit hal non-fisik yang dapat diterima menggunakan itadaku adalah kesempatan. Meskipun demikian, Anda tidak bisa sekadar mengucapkan “itadakimasu” begitu saja ketika diberi kesempatan berbicara, melainkan harus menggunakan ungkapan seperti, “Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk…”
Sejarah Itadakimasu

Saat Anda memegang sumpit, Anda harus berterima kasih kepada alam dan seluruh makhluk hidup, Kaisar, serta orang tua Anda.
Kutipan dari Koukou Michibiki Gusa, 1812
Kanji untuk kata itadaku (頂) memiliki arti puncak gunung. Makna asal dari itadaku adalah “menaruh sesuatu di atas kepala” atau “mengenakan di kepala”, yang merujuk pada bentuk motif gunung yang mengarah ke atas. Seiring berjalannya waktu, kata ini mulai diasosiasikan dengan tindakan menerima sesuatu, khususnya makanan.
Agama Buddha masuk ke Jepang pada periode Asuka, membawa serta tradisi “mengangkat tinggi” ketika menerima sesuatu dari orang berstatus tinggi, atau ketika mengambil makanan dan minuman yang awalnya dipersembahkan kepada para dewa. Oleh karena itu, wajar jika itadaku yang bermakna mengangkat sesuatu di atas kepala mulai digunakan sebagai bentuk rendah hati untuk kata “menerima”.
Namun, bentuk itadakimasu untuk makan baru mulai terbentuk pada tahun 1812 dengan diterbitkannya buku panduan etika sehari-hari berjudul Koukou Michibiki Gusa 孝行導草. Sejarawan menunjuk kalimat di dalam buku tersebut sebagai asal-usul frasa makan modern:
- 箸取らば、天地御代の御恵み、主君や親の御恩あぢわゑ (Saat Anda memegang sumpit, Anda harus berterima kasih kepada alam dan segala makhluk, Kaisar, serta orang tua Anda.)
Setelah buku tersebut terbit, kebiasaan mengucap syukur sebelum makan disebarkan oleh sekte Buddha Jōdo-shinshū. Kendati para biksu berhasil mempopulerkan kebiasaan ini, praktiknya belum merata di seluruh negeri hingga awal abad ke-20 berdasarkan penelitian sejarawan Isao Kumakura pada tahun 1983.
Frasa makan ini akhirnya benar-benar menjadi kebiasaan nasional pada awal era Showa ketika sistem pendidikan dikendalikan oleh pemerintah Kekaisaran Jepang. Para guru mewajibkan siswa untuk berterima kasih kepada seluruh makhluk hidup, kaisar, dan orang tua sebelum makan, yang diakhiri dengan ucapan “itadakimasu”. Sumpah ini dinamakan shokuji-kun 食事訓.
Meskipun akar sejarahnya telah ada sejak periode Asuka, bentuk itadakimasu yang dikenal saat ini baru berusia sekitar 75 tahun.
Menangkupkan Tangan atau Tidak?

Meskipun frasa itadakimasu sudah umum di Jepang, praktiknya tidak seragam di setiap wilayah. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh J-town:
- 64% orang Jepang menangkupkan kedua tangan saat mengucapkan “itadakimasu”
- 28% mengucapkan “itadakimasu” tanpa gerakan tambahan
- 1% menangkupkan tangan tanpa mengucapkan “itadakimasu”
- 6,3% tidak melakukan apa pun
Perbedaan perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor wilayah, yang berkaitan erat dengan sejarah penyebaran ajaran Buddha Jōdo-shinshū di masa lalu. Sebagai contoh, wilayah Hiroshima mencatat 92% warganya menangkupkan tangan karena tingginya konsentrasi pengikut sekte tersebut.
Esensi dari Itadakimasu

Di Jepang, terdapat sebuah peribahasa:
- お米一粒一粒には、七人の神様が住んでいる。 (Tujuh dewa bersemayam di dalam setiap sebutir beras.)
Ungkapan ini menekankan bahwa setiap butir makanan memiliki nilai yang sangat penting.
Inti dari ritual itadakimasu adalah rasa syukur dan refleksi diri. Memulai santapan dengan ucapan ini menyiratkan komitmen untuk menghabiskan makanan tersebut, mengingat ada nyawa yang dikorbankan demi hidangan di atas meja.
Lebih dari sekadar meja makan, esensi dari itadaku merambah ke dalam kehidupan sehari-hari. Segala hal yang diterima—baik itu topi, pekerjaan, maupun tumpangan—seharusnya diterima dengan penuh apresiasi dan tekad untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.








