Sebuah artikel dari Mutantfrog Travelogue berjudul “My Japanese sucks and always will” sempat menarik perhatian. Tulisan tersebut membahas seseorang yang telah lama belajar bahasa Jepang, lulus ujian JLPT level 1, serta sudah bekerja dan tinggal di Jepang selama bertahun-tahun, tetapi masih merasa kemampuan bahasanya belum cukup baik.
Bagi pembelajar bahasa Jepang, mendengar hal semacam ini tentu terasa sangat mematahkan semangat. Anda mungkin berpikir, jika seseorang dengan pengalaman seperti itu saja merasa kemampuan bahasanya kurang, bagaimana dengan diri sendiri?
Namun, jika kita menyelami bagian diskusi di kolom komentar, ada sudut pandang lain yang lebih luas daripada sekadar keluhan awal tersebut.
Sebagian pembaca merasa relate dan sepakat dengan sang penulis bahwa mereka berada di posisi yang serupa. Di sisi lain, banyak juga yang berpendapat bahwa penulis terlalu keras menilai dirinya sendiri.
JLPT dan Standar Kefasihan Bahasa Jepang
Ketika topik kefasihan berbahasa Jepang diangkat, ujian JLPT (Japanese Language Proficiency Test) hampir pasti menjadi hal pertama yang dibahas.
JLPT adalah ujian resmi yang diselenggarakan beberapa kali dalam setahun oleh pemerintah Jepang bagi warga asing yang ingin membuktikan kemampuan bahasa mereka. Di antara berbagai ujian bahasa Jepang yang ada, JLPT merupakan tolok ukur yang paling diakui dan valid.
Kendati demikian, JLPT bukanlah ujian yang sempurna. Karena berbentuk pilihan ganda, kemampuan berbicara dan menulis seseorang—yang notabene sangat penting untuk komunikasi sehari-hari—sama sekali tidak diuji.

Lantas, jika JLPT bukan penentu utama kefasihan, apa ukurannya? Di sinilah batasan tersebut menjadi kabur dan definisi kefasihan menjadi sangat subjektif.
Setiap orang tampaknya memiliki standar masing-masing. Apakah fasih berarti mampu bekerja sebagai penerjemah? Atau ketika seseorang sudah bisa mengobrol santai dengan orang asing?
Standar kefasihan paling unik yang ditemukan dalam kolom komentar artikel tersebut adalah kemampuan untuk berselingkuh sepenuhnya menggunakan bahasa Jepang. Tentu saja, itu adalah cara pandang yang tidak biasa.
Jika ada banyak perbedaan pendapat mengenai arti fasih dalam bahasa Jepang, mungkin lebih mudah untuk merenungkan makna fasih pada bahasa ibu kita sendiri. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda benar-benar fasih berbahasa sehari-hari?
Kefasihan Bahasa Ibu
Bahkan dalam bahasa ibu sendiri, akan selalu ada momen di mana kita lupa kata-kata tertentu, kesulitan mencari istilah yang tepat, atau merasa kosakata yang ada masih kurang. Bahasa pada dasarnya adalah alat ekspresi manusia yang luas, kompleks, dan tidak sempurna.
Sering kali kita lupa bahwa dalam bahasa ibu pun, kita hanya menguasai sebagian kecil dari keseluruhan kosakata yang ada. Aksen dan gaya bicara kita tidak berlaku di semua tempat, kita tidak menguasai slang dari setiap subbudaya, dan sudah pasti kita tidak akrab dengan seluruh istilah teknis.

Jadi, ketika orang berargumen bahwa seseorang baru bisa disebut fasih berbahasa Jepang jika menguasai on’yomi dan kun’yomi dari seluruh Joyo Kanji, coba pikirkan apa arti pemikiran serupa jika diterapkan pada bahasa Anda sendiri.
Apa padanan dari konsep tersebut dalam bahasa Inggris? Mungkin analoginya adalah menghafal puluhan kosakata tingkat lanjut, lalu membedahnya hingga ke akar bahasa Latinnya.
Meskipun kemampuan bahasa Inggris seseorang sudah cukup baik, tantangan seperti itu tentu terasa sangat berat. Apakah Anda akan menuntut hal sedemikian rupa dari setiap penutur asli yang fasih?
Jangan mematok standar yang jauh lebih tinggi untuk bahasa Jepang dibandingkan standar yang Anda terapkan pada bahasa ibu Anda sendiri.
Hal yang Seharusnya Menjadi Tujuan
Jika Anda sedang belajar bahasa Jepang dan merasa berkecil hati setelah membaca tulisan mengenai kesulitan mempertahankan kemampuan bahasa, jangan lekas menyerah. Frustrasi semacam itu adalah hal yang wajar dalam proses belajar, dan itu bukanlah hambatan yang bersifat selamanya.
Alih-alih merasa terbebani, jadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dari mereka yang sudah lebih dulu menyelami bahasa Jepang dan menghadapi berbagai rintangan lebih awal.

Sebagai pembelajar, tetapkan target yang konkret dan dapat diukur alih-alih sekadar berkeinginan untuk menjadi “fasih.” Kefasihan adalah konsep yang terlalu luas dan abstrak, sehingga kurang efektif dijadikan panduan belajar.
Dengan menentukan target kecil yang jelas, Anda akan lebih mudah memantau perkembangan dan mencapai tujuan belajar dengan baik.







