Home / Travel / Alasan Toilet Jepang Belum Laku di Amerika Serikat Meski Unggul

Alasan Toilet Jepang Belum Laku di Amerika Serikat Meski Unggul

header 640x 18

Bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Jepang, teknologi di sana tentu meninggalkan kesan tersendiri, termasuk fasilitas toiletnya. Berbeda dari toilet jongkok konvensional, toilet modern di Jepang menawarkan berbagai fitur canggih seperti dapat berbicara, mencuci tubuh, hingga menghangatkannya pada pagi hari yang dingin. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa inovasi semacam ini belum populer di Amerika Serikat?

Keunggulan Toilet Canggih Jepang

The wealth of buttons available on a Japanese toilet
Source: Gary Hymes

Kenyamanan yang ditawarkan toilet Jepang sangat beragam. Perangkat ini tidak hanya membersihkan, tetapi juga mampu memutar musik untuk relaksasi sekaligus meredam suara saat pengguna sedang menggunakan fasilitas tersebut.

Kendati demikian, hambatan terbesar bagi masyarakat Amerika dan sebagian warga asing untuk mengadopsi perangkat seperti Toto Washlet adalah keberadaan fitur bidet serta kekhawatiran akan teknologi toilet yang terlalu canggih. Bidet tradisional umumnya berupa basin lonjong rendah untuk membersihkan area pribadi. Pada toilet Jepang, fitur bidet ini sudah terintegrasi langsung. Sebagian masyarakat mungkin merasa asing dengan konsep pembersihan ini, dan hal tersebut bukan tanpa alasan.

Alasan Masyarakat Amerika Belum Menerima Bidet

American man tries to fix his Japanese Toilet

Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu menilik sejarah bidet yang pertama kali muncul di Prancis pada awal tahun 1700-an. Sejak saat itu, penggunaannya meluas ke berbagai negara di Eropa, Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia, di mana sekitar 80 persen kamar mandi di wilayah tersebut telah dilengkapi bidet. Sebaliknya, fasilitas ini hampir tidak ditemukan di Amerika.

Terdapat beberapa teori mengenai alasan di balik keengganan ini. Sebagian berpendapat bahwa karena ditemukan oleh orang Prancis, konsep tersebut sempat ditolak oleh Inggris dan sentimen itu terbawa oleh para imigran ke Amerika. Teori lain menyebutkan bahwa para tentara Amerika sering kali melihat bidet di rumah bordil Eropa pada masa lalu, sehingga keliru mengasosiasikannya dengan hal-hal amoral.

Group of five European women discussing bidets

Selain faktor budaya, ukuran kamar mandi di Amerika pada umumnya tidak dirancang untuk menampung bidet terpisah. Meskipun desain toilet Jepang mengatasi masalah ruang ini karena bidetnya sudah menyatu, adopsinya tetap jalan di tempat.

Pada era 1960-an, seorang pria bernama Arnold Cohen berupaya memasarkan bidet di Amerika, namun gagal karena 99 persen calon pembeli belum pernah mendengarnya, sehingga merasa ragu. Situasi serupa dialami oleh perusahaan asal Jepang, Toto, ketika mulai memperkenalkan toilet hibrida ini pada tahun 1980-an.

A cat unwittingly falls into Japanese toilet

Menariknya, perbedaan pandangan juga terlihat dari kebiasaan penggunanya. Orang yang terbiasa menggunakan bidet sering kali menganggap metode tisu toilet saja sebagai sesuatu yang kurang higienis, begitu pula sebaliknya. Meskipun demikian, manfaat dari penggunaan bidet secara nyata diakui oleh mereka yang telah mencobanya.

Kehadiran Toilet Jepang di Amerika

Kendala lain dalam pemasaran toilet canggih ini adalah harganya yang relatif mahal. Penutup toilet seperti Toto Washlet dijual dengan kisaran harga ratusan hingga lebih dari seribu dolar di pasaran. Meskipun sudah mengintegrasikan fungsi bidet untuk menghemat ruang, investasi finansial yang dibutuhkan tidak sedikit.

Selain itu, kebiasaan masyarakat yang sulit diubah turut memperlambat proses adopsi. Pernyataan dari seorang pimpinan perusahaan rintisan toilet merangkum situasi ini:

Bagi masyarakat di AS, kendala utamanya adalah kurangnya pengalaman langsung serta keengganan yang besar untuk membahas urusan kamar mandi atau mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging. Banyak yang tertawa gugup atau menyebutnya menjijikkan saat diperkenalkan dengan keunggulan bidet, padahal mereka tetap menggunakan kertas sebagai cara membersihkan diri yang jauh lebih tidak efektif.

– Steve Scheer

Jaapnese toilet reminding Americans about Washlet
Source: Anne

Ulasan untuk produk Toto Washlet sebenarnya sangat positif, dan para pemiliknya merasa sangat puas. Namun, upaya untuk memperluas antusiasme tersebut ke seluruh wilayah Amerika sejauh ini belum membuahkan hasil yang signifikan.

Dari segi instalasi, produk ini membutuhkan stopkontak denganarde tiga cabang yang memadai. Bergantung pada tata letak kamar mandi, penambahan atau pemindahan instalasi listrik ini bisa memakan biaya tambahan yang tidak sedikit. Walaupun terdapat opsi sambungan bidet non-elektrik yang lebih ekonomis, produk tersebut umumnya bukan buatan Jepang.

Socket of a Japanese toilet

Secara keseluruhan, tantangan utama bagi pemasar bidet di Amerika adalah meyakinkan publik bahwa fasilitas yang ada saat ini dapat ditingkatkan kualitasnya. Selama masyarakat merasa toilet konvensional sudah berfungsi dengan baik dan higienis, mengeluarkan biaya ekstra untuk sebuah pembaruan tentu bukan prioritas. Keberhasilan mereka di masa depan akan sangat bergantung pada strategi pemasaran yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *