Home / Study / Cara Berkomunikasi dengan Orang Jepang Tanpa Harus Bicara

Cara Berkomunikasi dengan Orang Jepang Tanpa Harus Bicara

Banyak orang suka terpesona oleh perbedaan antara budaya Jepang dan budaya mereka sendiri. Bahasa, makanan, dan sejarah biasanya menjadi hal pertama yang menarik perhatian.

Namun, perbedaan terbesar antarbudaya sebenarnya tidak selalu berwujud fisik. Ciri pembeda yang sesungguhnya berada di dalam pikiran manusia dan sulit dijelaskan secara langsung.

Menurut pandangan saya, perbedaan terbesar antara budaya Jepang dan kebanyakan budaya lainnya terletak pada cara komunikasi. Yang saya maksud bukanlah bahasa lisan, aksara kanji, atau penanda komunikasi yang kasat mata, melainkan gaya komunikasi serta arus bawah yang mengalir di balik bahasa lisan dan tulisan tersebut.

Bagi sebagian orang, komunikasi dalam budaya Jepang bisa terasa seperti sebuah labirin yang penuh dengan jalan buntu dan teka-teki di setiap tikungannya. Anda mungkin bisa mencari istilah kuukiyomenai (空気読くうきよめない) atau “tidak bisa membaca udara,” yang merujuk pada orang-orang yang gagal memahami situasi sosial. Itu hanyalah puncak gunung es dari masalah miskomunikasi di Jepang.

Bentuk miskomunikasi yang dapat terjadi antarbudaya ini bahkan membuat kesalahpahaman remaja tampak sepele.

Konteks Tinggi dan Rendah

Para akademisi gemar membuat model untuk menjelaskan cara kerja dunia guna menyederhanakan situasi yang rumit agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam. Salah satu model khususnya telah membantu saya memahami komunikasi di Jepang dengan lebih baik. Pada akhir tahun 1970-an, seorang antropolog bernama Edward Hall memperkenalkan gagasan mengenai budaya “konteks tinggi” dan “konteks rendah”.

Perbedaan antara budaya konteks tinggi dan konteks rendah berkaitan erat dengan cara mereka berkomunikasi. Budaya konteks rendah menyampaikan sesuatu secara sangat jelas dan terus terang. Sebaliknya, budaya konteks tinggi seperti Jepang berasumsi bahwa setiap orang memiliki kumpulan pengetahuan bersama, sehingga berbagai hal tidak perlu dijelaskan secara blak-blakan.

Tentu saja, kedua gaya komunikasi ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam budaya konteks rendah, segala sesuatunya dijabarkan dengan sangat jelas sehingga orang luar pun dapat dengan mudah memahami situasi yang sedang terjadi. Kendati demikian, gaya komunikasi tersebut terkadang terasa terlalu blak-blakan dan menyakitkan. Kesopanan yang terselubung jarang ditemukan dalam budaya konteks rendah.

Communicating without talking with yellow up and down arrows
Sumber: J Heffner

Sebaliknya, komunikasi dalam budaya konteks tinggi seperti di Jepang sangat efisien dalam banyak hal karena banyak asumsi yang tidak diucapkan secara lisan. Sayangnya, ini berarti jika Anda bukan bagian dari “kelompok internal” tersebut, Anda tidak akan sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi, dan mencoba memaksa seseorang untuk memberikan penjelasan lengkap rasanya bagaikan mencabut gigi.

Beberapa cerita dari blog This Japanese Life mengilustrasikan jenis hambatan komunikasi yang dapat terjadi ketika orang-orang membuat asumsi yang sangat luas. Masalah semacam ini menunjukkan betapa rentannya kesalahpahaman ketika makna disampaikan secara tidak langsung.

Banyak dari dampak kehidupan di masyarakat berkonteks tinggi ini tidak selalu ringan. Bagi warga asing yang tinggal di Jepang dan mencoba beradaptasi, atau bahkan bagi orang Jepang sendiri yang hidup di dalam budaya tersebut, perbedaan gaya komunikasi ini dapat menimbulkan dampak yang cukup luas.

Sebagai contoh, ada kalanya tenaga medis di Jepang menyembunyikan kebenaran besar, seperti tidak memberitahu pasien bahwa mereka menderita kanker. Dokter dan pasien mungkin merasa memiliki pemahaman yang sama, padahal kepentingan mereka sebenarnya saling bertentangan.

Ketika orang-orang dalam masyarakat berkonteks tinggi secara keliru menganggap bahwa mereka membagikan asumsi yang sama, hasil akhirnya bisa berakibat fatal.

“Apa yang Dipikirkan Pikiran, Disampaikan oleh Hati”

Paradigma budaya konteks tinggi dan rendah terkadang tampak terlalu menyederhanakan masalah. Membagi dunia ke dalam dua kategori yang terpisah tentu mengundang keraguan. Teori ini bersifat umum untuk berbagai budaya di dunia tanpa kekhususan khusus tentang Jepang, dikembangkan puluhan tahun lalu, dan berasal dari sudut pandang pengamat luar yang mungkin belum sepenuhnya memahami budaya Jepang secara mendalam.

Kendati demikian, ada beberapa hal yang memperkuat gagasan mengenai budaya konteks tinggi dan rendah ini. Edward Hall sempat meneliti Jepang secara khusus dalam beberapa karyanya, namun bukti paling meyakinkan bagi saya berasal dari teori-teori lokal yang kurang lebih mengonfirmasi hal serupa.

Communicating without talking with red heart on yellow wall
Sumber: Doug88888

Dalam bahasa Jepang, terdapat sebuah idiom empat kanji yang sangat mendukung teori ini, yaitu ishindenshin (以心伝心いしんでんしん). Salah satu terjemahan yang paling akurat dari ishin denshin adalah “apa yang dipikirkan pikiran, disampaikan oleh hati”, tetapi apa arti sebenarnya dari ungkapan tersebut?

Sebagian orang menyebut ishin denshin sebagai bentuk telepati. Meskipun istilah tersebut terdengar dramatis, fungsinya kurang lebih mirip, meskipun prosesnya tentu saja berbeda.

Jika telepati menggunakan kekuatan supranatural yang tidak dijelaskan untuk menyelami pikiran orang lain, ishin denshin bekerja dengan premis yang lebih sederhana bahwa semua orang sudah sepemahaman. Anda tidak perlu membaca pikiran seseorang karena kalian berdua memiliki seperangkat asumsi yang sama, sebagaimana lazimnya orang dalam budaya konteks tinggi.

Ishin denshin bukan satu-satunya konsep semacam itu dalam budaya Jepang. Konsep lain yang serupa, yaitu haragei (腹芸はらげい), mencakup prinsip dasar yang mirip namun dengan penerapan yang berbeda. Berbagai seni bela diri menggunakan istilah ini untuk merujuk pada kemampuan mengantisipasi gerakan lawan berikutnya.

Haragei juga dapat merujuk pada seni melukis wajah di bagian perut.

Apa yang Sebenarnya Bisa Kita Ketahui?

Saya adalah orang pertama yang mengakui bahwa analisis terhadap komunikasi Jepang semacam ini tampak meragukan. Meskipun merasionalisasi dan mengklasifikasikan hal-hal yang sulit kita pahami dapat memberikan rasa tenang, model-model ini akan selalu mengandung generalisasi serta kekurangan.

Sayangnya, ilmu-ilmu sosial tidak mampu mengukur segala sesuatu secara presisi seperti bidang ilmu lainnya. Sosiolog, antropolog, dan linguis memang dapat mengukur faktor-faktor komunikasi tertentu yang sangat spesifik—seperti frekuensi kata dan panjang kalimat—tetapi elemen lainnya tetap sulit dijangkau. Bagaimana Anda bisa mengukur konsep ishin denshin secara pasti? Anda tentu tidak bisa memotongnya begitu saja dan mengukur berat atomnya.

Belum lagi kenyataan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang statis. Meskipun semua budaya memiliki ciri khas dan akar sejarah yang kuat, kebudayaan selalu berubah, bergeser, mengalami regresi, dan berkembang maju.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ishin denshin benar-benar ada di Jepang, dan kita juga tidak bisa serta-merta mengabaikan Jepang sebagai budaya konteks tinggi. Namun, sebagaimana ada orang di Barat yang mempraktikkan hal serupa dengan sebutan berbeda, ada pula orang Jepang yang menentang stereotip tersebut dan memilih untuk berbicara secara blak-blakan serta apa adanya.

Variasi-variasi inilah yang membuat studi tentang budaya Jepang selalu menarik. Memahami struktur dan sistem tersebut sangat mengasyikkan, tetapi menemukan anomali dan pengecualian di dalamnya adalah hal yang akan terus memicu rasa ingin tahu Anda selama bertahun-tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *