Bagi orang yang masih lajang di Jepang, mencari pasangan lewat aktivitas sehari-hari terkadang cukup sulit. Itulah sebabnya muncul tradisi gōkon, yang mirip seperti kencan butuh antarkelompok. Akan tetapi, mengatur acara gōkon membutuhkan banyak waktu dan tenaga, padahal pesertanya terkadang hanya bisa menemui dua atau tiga calon pasangan saja dalam satu sesi.
- 相席居酒屋
- (あいせきいざかや)
- Sebuah izakaya tempat Anda berbagi meja dengan orang asing demi mencari pasangan romantis.
Dari sinilah lahir sebuah inovasi baru dalam dunia kencan, yaitu aiseki izakaya. Istilah aiseki berarti “berbagi meja”, sedangkan izakaya adalah sejenis restoran khas Jepang yang menyajikan minuman serta hidangan porsi kecil. Jika digabungkan, konsep ini menghadirkan restoran tempat pengunjung bisa duduk satu meja dengan orang asing, sehingga peluang untuk berkenalan dengan lebih banyak orang menjadi terbuka lebar.
Namun, apakah restoran jenis ini hanya ditujukan bagi mereka yang mencari hubungan romantis saja? Belum tentu.
Aiseki izakaya ternyata bisa menjadi sarana yang menarik bagi warga negara asing yang tinggal di Jepang untuk melatih kemampuan bahasa Jepang mereka. Untuk menguji asumsi tersebut, sekelompok peserta asing diajak mendatangi salah satu cabang Aisekiya.
Aisekiya, Pelopor Aiseki Izakaya

Aisekiya merupakan jaringan aiseki izakaya terbesar di Jepang yang memiliki puluhan lokasi, di mana para pengunjung sering kali harus mengantre selama berjam-jam hanya untuk bisa masuk. Nama mereka menggabungkan kata ya yang berarti toko atau tempat dengan istilah aiseki.
Sistem penetapan harga di tempat ini menggunakan hitungan waktu. Selama berada di dalam ruangan, pengunjung bebas menyantap makanan dan minuman sepuasnya, termasuk minuman beralkohol. Bedanya, pelanggan pria dikenakan tarif sebesar 1.500 yen setiap tiga puluh menit, sementara pelanggan wanita tidak dipungut biaya sama sekali. Restoran bergaya serupa mungkin memiliki ketentuan tarif yang berbeda, tetapi umumnya wanita selalu membayar lebih murah atau bahkan gratis.
Tujuan utama kunjungan ini adalah menguji potensi restoran tersebut sebagai tempat latihan berbicara bahasa Jepang bagi orang asing. Empat orang peserta relawan dilibatkan, yang terdiri dari dua pria dan dua wanita:
- Elodie: Asal Prancis — telah belajar bahasa Jepang selama 3 bulan.
- Sonia: Asal Prancis — telah belajar bahasa Jepang selama 1 tahun.
- Lucas: Asal Brasil — telah belajar bahasa Jepang selama 1,25 tahun.
- Koichi: Asal Amerika Serikat — telah belajar bahasa Jepang selama bertahun-tahun.
Kedua peserta wanita, Elodie dan Sonia, baru pertama kali bertemu malam itu, tetapi mereka langsung akrab karena sama-sama berasal dari Prancis, memiliki usia yang sama, dan menganut gaya hidup vegetarian.
Selama berada di Aisekiya, pengunjung dapat makan dan minum sepuasnya. Peraturannya adalah pelanggan pria dikenakan biaya 1.500 yen setiap setengah jam, sedangkan pelanggan wanita tidak perlu membayar apa pun.
Elodie baru tiba di Jepang beberapa bulan sebelumnya dan sedang menempuh pendidikan di sekolah bahasa di Tokyo. Sementara itu, Sonia sudah tinggal di Jepang selama satu tahun dengan visa liburan kerja. Meskipun pemahaman mendengarnya cukup baik, Sonia mengaku kurang percaya diri dalam hal berbicara. Secara keseluruhan, kemampuan bahasa Jepang kelompok wanita ini berada di tingkat pemula.
Kelompok pria yang diisi oleh Lucas dan Koichi juga baru berkenalan malam itu. Berkat sifat mereka yang terbuka, keduanya langsung cepat akrab. Lucas merupakan mahasiswa di Tokyo yang pernah mengikuti beberapa kelas bahasa Jepang sebelumnya. Tingkat kemahiran bahasa Jepang kelompok pria ini sudah berada di level menengah hingga mahir.
Cabang Aisekiya di Ginza

Pengujian dilakukan di gerai Aisekiya yang terletak di kawasan Ginza, Tokyo. Ginza dikenal sebagai pusat hiburan malam yang ramai dikunjungi oleh para pekerja kantoran, dan profil pelanggan di lokasi ini pun mencerminkan hal tersebut.
Di depan pintu masuk terdapat papan bertuliskan kuuseki yang menandakan ketersediaan kursi kosong bagi pelanggan pria maupun wanita. Koordinasi dengan pihak staf telah dilakukan sebelumnya agar para peserta mendapatkan tempat duduk tanpa kendala.
Tepat di dekat pintu masuk, terpampang sebuah papan besar berisi sepuluh aturan utama Aisekiya. Secara garis besar, aturan tersebut meliputi kewajiban berbusana yang pantas, melakukan siaran kanpai (bersulang) saat duduk, perkenalan singkat, menjaga etika merokok, tidak memaksa orang lain minum alkohol, mencairkan suasana lewat permainan, menjaga perkataan agar tidak menyinggung, bertukar kontak jika suasana mencair, berhati-hati saat merencanakan acara lanjutan, serta larangan melakukan kegiatan promosi atau penjualan.
Soal aturan berpakaian, pihak pengelola menyarankan agar pengunjung mengenakan pakaian sehari-hari yang wajar dan melarang penggunaan pakaian kerja proyek ataupun sandal jepit. Makanan dan minuman di tempat ini disajikan secara mandiri dengan konsep prasmanan.

Pilihan minuman yang tersedia sangat beragam, mulai dari minuman ringan, berbagai botol sake, shochu, hingga mesin dispenser bir draft otomatis. Pilihan makanannya pun mencakup roti, sup, salad, edamame, yakisoba, karaage, kentang goreng, hingga hidangan deli tradisional Jepang.
Kualitas minuman ternyata melebihi ekspektasi untuk ukuran tempat makan sepuasnya dengan variasi yang cukup banyak. Makanannya sendiri tergolong memuaskan meski tidak istimewa.

Bagi peserta vegetarian seperti Elodie dan Sonia, masih ada cukup banyak pilihan hidangan yang bisa dikonsumsi. Tersedia pula sudut khusus camilan dan es krim untuk dinikmati pengunjung.
Praktik Berbahasa Jepang Selama Sesi Aiseki

Karena kunjungan ini bersifat khusus untuk keperluan peliputan, beberapa ketentuan khusus diterapkan agar prosesnya berjalan lancar. Setiap sesi dibatasi hanya selama tiga puluh menit agar mitra meja tidak merasa keberatan. Selain itu, seorang pendamping disiapkan untuk membantu menerjemahkan bagi Elodie dan Sonia apabila mereka mengalami kesulitan memahami percakapan.
Tim Elodie dan Sonia

Kelompok wanita ini awalnya dipasangkan dengan dua pria pekerja kantoran berjas yang tampak sedikit pemalu. Percakapan dimulai dengan pertanyaan umum seputar hobi, pekerjaan, dan usia. Seiring berjalannya waktu dan setelah suasana mulai mencair, para pria tersebut mulai menggunakan bahasa tubuh serta gambar di ponsel untuk memperlancar komunikasi.
Pada sesi berikutnya, mereka ditempatkan di sebuah ruangan VIP khusus bersama empat pria pekerja kantoran. Kelompok kedua ini jauh lebih enerjik dan pandai menghidupkan suasana meski tidak bisa berbahasa Inggris maupun Prancis. Mereka mengandalkan bahasa tubuh dan lelucon fisik yang membuat suasana dipenuhi gelak tawa, sehingga memberikan pengalaman berbicara bahasa Jepang yang sangat berharga bagi Elodie.
Tim Lucas dan Koichi

Kelompok pria membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit sebelum akhirnya mendapatkan meja pasangan. Pasangan pertama yang duduk bersama mereka terdiri dari satu wanita yang cukup banyak bicara dan satu orang yang lebih pemalu. Karena kemampuan bahasa Jepang Lucas dan Koichi sudah cukup baik, sesi ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.
[Pasangan pertama tampak] agak kurang menunjukkan ketertarikan secara keseluruhan.
— Lucas
Sesi kedua berjalan jauh lebih hidup karena salah satu wanita memiliki hobi bepergian dan berjiwa internasional. Dalam perbincangan tersebut, terungkap bahwa salah satu wanita sering datang ke Aisekiya karena ingin bertemu dengan berbagai macam orang baru yang unik.
Apakah Aiseki Izakaya Tempat yang Bagus untuk Belajar Bahasa Jepang?

Pengalaman setiap orang di tempat seperti ini tentu akan bervariasi karena faktor manusia yang beragam. Berikut adalah tanggapan dari masing-masing peserta setelah mencoba pengalaman tersebut:
Elodie
Tempat ini sangat bagus untuk melatih bahasa Jepang karena orang-orang Jepang yang datang memang berniat untuk bersosialisasi.
— Elodie
Elodie merasa kegiatan tersebut sangat menyenangkan dan menarik. Menurutnya, orang-orang Jepang di sana sangat sabar mencoba memahami mereka meskipun kemampuan bahasa Jepangnya masih terbatas, yang justru memotivasi dirinya untuk terus berbicara dalam bahasa Jepang.
Lucas
Lucas menikmati pengalaman mengobrol dengan orang asing, meskipun ia merasa sebagian besar wanita di sana kurang menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap pertukaran bahasa. Ia berpendapat bahwa tempat ini pada dasarnya memang ditujukan untuk mencari pasangan romantis, sehingga bar biasa atau acara perkumpulan mungkin lebih efektif untuk urusan latihan bahasa.
Sonia
Sonia yang memiliki sifat lebih pemalu mengaku tidak banyak berbicara, namun ia merasa terbantu karena bisa mendengarkan langsung cara orang Jepang bercakap-cakap.
Koichi
Tantangan terbesarnya adalah keluar dari percakapan obrolan ringan yang umum. Terutama jika kemampuan bahasa Jepang Anda sudah cukup baik, Anda harus mengarahkan topik ke hal-hal yang lebih menantang.
— Koichi
Koichi menilai bahwa kegiatan tersebut cukup menyenangkan untuk sekadar menemui orang baru, meskipun ia tidak yakin apakah tempat ini adalah pilihan terbaik khusus untuk belajar bahasa jika dilakukan secara rutin.
Kesimpulan Mengenai Aisekiya

Berdasarkan pengamatan dan ulasan para peserta, efektivitas berlatih bahasa Jepang di aiseki izakaya sangat bergantung pada beberapa faktor:
- Anda memiliki kepribadian yang mudah bergaul.
- Anda memiliki penguasaan bahasa Jepang yang cukup untuk memperkenalkan diri dan memahami lawan bicara.
- Anda terbuka terhadap kemungkinan untuk mencari teman kencan.
- Anda siap berinteraksi dengan warga lokal yang mungkin tidak terlalu memikirkan soal pertukaran budaya.
- Anda adalah seorang wanita yang kebetulan sedang ingin menikmati makanan dan minuman gratis.
Bagi yang memenuhi kriteria tersebut, mencoba pengalaman ini setidaknya sekali merupakan hal yang patut dicoba sebagai pengalaman hidup yang unik. Dari sudut pandang murni pembelajaran bahasa, tersedia sarana lain seperti pertemuan komunitas atau platform daring, namun interaksi langsung di tempat seperti Aisekiya tetap menawarkan dinamika tersendiri.
Beberapa tips bagi yang ingin mencoba meliputi:
-
Perhatikan Demografi Wilayah: Pilihan lokasi memengaruhi tipe pengunjung. Sebagai contoh, kawasan Ginza cenderung memiliki pengunjung dari kalangan profesional yang lebih matang, sementara kawasan dekat universitas biasanya dipenuhi oleh mahasiswa.
-
Gunakan Ponsel Bila Perlu: Manfaatkan ponsel untuk mencari kosakata atau gambar guna membantu kelancaran percakapan, asalkan disampaikan kepada lawan bicara agar tidak disangka mengabaikan mereka.
-
Pilih Waktu Kunjungan yang Tepat: Pelanggan wanita biasanya lebih banyak datang pada awal jam operasional, sedangkan pelanggan pria cenderung datang lebih malam.
Hasil yang didapatkan setiap orang pasti akan beragam. Dengan sikap yang ramah dan terbuka, kunjungan ke tempat seperti ini bisa menjadi selingan yang menyenangkan sekaligus melatih kemampuan mendengar dan berbicara dalam situasi nyata.








