Jika seseorang di Okinawa sedang menghadapi masalah kesehatan, nasib buruk, atau bahkan kehilangan barang, salah satu solusi yang kerap ditemui adalah meminta nasihat dari seorang yuta. Yuta merupakan medium spiritual perempuan yang telah hadir di masyarakat selama berabad-abad, meskipun perjalanan sejarah mereka tidak selalu berjalan mulus. Sebagian besar orang mungkin familiar dengan pengadilan penyihir Salem atau kasus persekusi serupa dalam sejarah Barat, tetapi hanya sedikit yang mengetahui bahwa peristiwa serupa pernah terjadi di Okinawa. Faktanya, sebelum tahun 1879, Okinawa merupakan sebuah negara terpisah dari Jepang yang dikenal sebagai Kerajaan Ryukyu, lengkap dengan bahasa serta kebudayaan yang khas.
Yuta, Noro, dan Kehidupan Religius di Kepulauan Ryukyu

Masyarakat Ryukyu memiliki sistem kepercayaan yang unik. Agama Buddha memang ada, namun pengaruhnya tidak sebesar di Jepang atau Tiongkok. Sementara itu, ajaran Konfusianisme masuk dari daratan Tiongkok dan mulai berkembang pesat pada abad ketujuh عشر (ketujuh belas), yang kemudian menjadi salah satu pendorong utama di balik persekusi terhadap para yuta. Kendati demikian, fondasi spiritual yang paling mengakar di sana adalah animisme lokal. Mirip dengan tradisi Shinto di Jepang, penduduk Ryukyu mempercayai keberadaan banyak kami, yang meliputi roh-roh penjaga wilayah hingga dewa-dewa yang lebih tinggi. Salah satu yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari adalah hi nu kan, yaitu roh tungku yang disimbolkan melalui tiga buah batu kecil di dapur rumah.
Selain di tiap rumah, terdapat pula hi nu kan tingkat komunitas yang ritualnya dipimpin oleh seorang pendeta perempuan bernama noro. Para noro adalah pemuka agama resmi di Kerajaan Ryukyu. Jika raja dan para menterinya memegang pemerintahan sekuler, maka para noro membentuk hierarki keagamaannya sendiri. Pemimpin tertinggi mereka disebut kikoe ōgimi, yang biasanya dijabat oleh saudari kandung atau kerabat perempuan sang raja. Meskipun posisi politik sang pendeta agung ini secara teori setara dengan raja, kedudukan noro secara umum sangat dihormati karena bertugas menjaga kesejahteraan spiritual masyarakat serta merawat tempat pemujaan komunitas.
Jika dibandingkan, terdapat perbedaan kontras antara noro dan yuta. Secara mendasar, noro adalah pendeta resmi yang posisinya diwariskan secara matrilineal dalam sebuah sistem terstruktur. Sebaliknya, yuta adalah individu yang “mendapatkan panggilan” akibat kepekaan spiritual atau psikis yang muncul dari diri mereka sendiri. Menjadi seorang yuta bukanlah profesi yang diatur oleh institusi resmi, melainkan panggilan hidup tanpa syarat kualifikasi formal. Siapa pun yang menghadapi masalah dapat membayar seorang yuta untuk berkomunikasi dengan para roh guna mencari jalan keluar.
Sebuah Anugerah atau Kutukan?

Meskipun profesi ini mendatangkan banyak klien, kehidupan seorang yuta tidak selalu mudah. Dalam catatan pengadilan Kerajaan Ryukyu, khususnya dari akhir abad ketujuh belas hingga awal abad kedelapan belas, terdapat beberapa kasus di mana kematian misterius atau pembunuhan dituduh sebagai akibat dari kutukan yuta. Mereka kerap dituduh sengaja memanggil roh-roh jahat untuk mencelakai orang lain atas permintaan klien maupun karena dendam pribadi. Dalam kebanyakan kasus tersebut, pemerintah kerajaan akan melakukan investigasi setelah menerima laporan, lalu menyeret perempuan yang dituduh tersebut keliling desa sebelum akhirnya dihukum pancung atau diasingkan.
Tekanan terhadap yuta semakin meluas akibat situasi politik saat itu. Pada tahun 1609, Klan Shimazu dari Kyushu selatan melakukan invasi dan menaklukkan Kepulauan Ryukyu. Alih-alih menghapus monarki Ryukyu dan menganeksasi wilayah tersebut sepenuhnya, Klan Shimazu memilih untuk mempertahankan kerajaan tersebut demi kepentingan perdagangan dengan Tiongkok, sambil menyembunyikan status taklukan tersebut dari pihak Kekaisaran Tiongkok. Kondisi ini terus berlanjut hingga Jepang secara resmi mencaplok Okinawa pada tahun 1879.
Selama masa dominasi Klan Shimazu, segala hal yang berbau Tiongkok sangat didorong di Ryukyu, sementara pengaruh Jepang ditekan guna memperkuat hubungan bilateral dengan Tiongkok serta meredam pengaruh Jepang. Pada era inilah ajaran Konfusianisme berkembang pesat di kalangan masyarakat luas. Para sarjana Konfusian di lingkungan istana pun merasa memiliki kewajiban moral untuk memberantas hal-hal yang mereka anggap sebagai bentuk takhayul.
Menentang Keberadaan Roh

Para sarjana Konfusian tidak hanya mempermasalahkan yuta dari sudut pandang filosofis, tetapi juga memberikan argumen rasional yang bersifat praktis. Pandangan ini tercermin jelas dalam pengantar Toki Yuta Togasadame, sebuah dekret pelarangan terhadap toki dan yuta yang dikeluarkan oleh pemerintah kerajaan pada tahun 1728. Toki sendiri adalah peramal (yang umumnya laki-laki) yang biasa dimintai petunjuk untuk menentukan hari baik dalam melaksanakan berbagai kegiatan.
Toki dan yuta telah ada di masyarakat kita sejak zaman kuno, bahkan pernah diakui di dalam struktur pemerintahan kerajaan. Namun akhir-akhir ini, jumlah mereka meningkat drastis dan menjadi hambatan bagi ketertiban sosial. Karena keterlibatan mereka di desa-desa pertanian, timbul situasi yang sangat merugikan di mana ternak seperti sapi, babi, dan ayam hilang serta biaya hidup membengkak, yang pada akhirnya memiskinkan para petani.
Contoh kritik lain dari pandangan Konfusianisme dapat ditemukan dalam Go-kyōjō, sebuah panduan perilaku yang diterbitkan oleh pemerintah kerajaan untuk dibacakan secara berkala oleh para pejabat lokal. Dokumen tersebut menegaskan bahwa para peramal dan yuta hanyalah penyebar kebohongan.
Karena orang-orang yang disebut toki dan yuta hanya memikirkan kelangsungan hidup mereka sendiri, menyebarkan berbagai kebohongan, serta menipu masyarakat, maka keberadaan mereka dilarang keras. Mereka mengacaukan tatanan dunia dan mulai sekarang dilarang secara mutlak. Selain itu, orang-orerang yang mudah tertipu oleh mereka juga tidak ada gunanya.
Di rumah orang sakit, mereka melakukan tindakan seperti memanggil hantu dan roh sambil gemetar ketakutan. Dikatakan bahwa roh pendendam menggunakan ilmu hitam untuk mengganggu manusia, namun tidak ada hal seperti itu. Jika roh benar-benar memiliki kekuatan sebesar itu, tentu dalam masa perang mereka bisa mengutuk dan membunuh tentara musuh. Kenyataannya, perang berdarah di dunia tidak pernah berhenti karena kekuatan semacam itu memang tidak ada.
Meskipun para pejabat pemerintah melarang yuta atas dasar pertimbangan biaya dan takhayul, kelompok pemuka agama perempuan lainnya yaitu noro tidak pernah menghadapi persekusi serupa. Perbedaan utamanya terletak pada kenyataan bahwa para noro berada di bawah kendali langsung pemerintah kerajaan, sementara yuta bertindak secara independen di luar kendali penguasa.
Kendati pemerintah berupaya keras menekan keberadaan mereka, usaha untuk membasmi yuta tidak pernah sepenuhnya berhasil. Tingginya tingkat kepercayaan masyarakat membuat mereka sulit untuk dihilangkan begitu saja. Meskipun kerap dituduh melakukan pelanggaran hukum, yuta terus dikonsultasikan oleh berbagai lapisan masyarakat Ryukyu, termasuk oleh sebagian sarjana istana yang seharusnya memahami larangan tersebut. Hingga hari ini, praktik-praktik yuta bahkan masih dapat ditemukan di Okinawa.








