Kata baka 馬鹿 dalam bahasa Jepang berarti bodoh. Istilah ini berakar dari kata dalam bahasa Sanskerta, yakni “baka”, yang bermakna “kebodohan” dan “ilusi”. Penggunaan kata ini di Jepang mulai berkembang menjelang akhir periode Kamakura (1185–1333). Saat ini, masyarakat Jepang menggunakan aksara Tionghoa untuk menuliskan kata tersebut, dengan arti harfiah dari kanji 馬 (kuda) dan 鹿 (rusa). Konon, pemilihan kanji ini semata-mata didasarkan pada pelafalannya untuk menyesuaikan bunyi “ba” dan “ka”. Kendati demikian, menurut sebuah naskah berjudul Bummei-bon Setsuyōshū yang disusun pada pertengahan periode Muromachi (1392–1573), kata baka dulunya ditulis dengan beberapa variasi aksara yang berbeda:
- 母娘 (Ibu-Anak Perempuan)
- 馬娘 (Kuda-Anak Perempuan)
- 破家 (Rumah Runtuh)
Jika diajukan pertanyaan mengenai siapa yang menyukai orang bodoh, sebagian besar orang tentu akan menjawab “tidak ada”. Namun, situasinya cukup berbeda di Jepang. Terdapat sebuah ungkapan yang cukup populer di sana:
- 女は馬鹿な方がいい
- Perempuan bodoh itu lebih baik
Sayangnya, pertanyaan semacam ini masih kerap ditemukan di dunia maya:
Lebih memilih perempuan bodoh atau perempuan cerdas?
Anda tentu tidak perlu menjawabnya.
Perempuan Bodoh versus Perempuan Cerdas

Pada tanggal 16 Januari 2013, rubrik Oshiete Watcher milik Goo mengadakan sejumlah wawancara guna mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Jawabannya tentu terbagi menjadi dua kubu: mereka yang mengidamkan perempuan cerdas dan mereka yang lebih menyukai perempuan bodoh. Alasan dari para pria yang memilih perempuan bodoh antara lain:
Saya lebih memilih perempuan bodoh karena saya merasa takut dengan perempuan cerdas.
Jika merunut pada kepribadian saya sendiri, saya sebenarnya adalah orang yang bodoh, jadi saya lebih suka pendamping yang mirip dengan saya.
Sementara itu, para pria yang lebih memilih perempuan cerdas mengungkapkan pandangan berikut:
Saya lebih menyukai perempuan cerdas. Jika dia cerdas, maka saya bisa bersikap bodoh. Sebaliknya, jika saya melakukan tindakan konyol di depan perempuan bodoh, hal itu justru bisa memicu pertengkaran.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat:
Saya jelas lebih memilih perempuan cerdas yang tahu cara pura-pura bodoh untuk menyemangati saya.
Saya menyukai perempuan yang cukup cerdas untuk tahu kapan harus bersikap konyol dan membuat ekspresi wajah lucu (hengao). Kalau perempuan itu memang benar-benar bodoh, dia tidak akan tahu situasi yang tepat untuk bersikap seperti itu. Oleh karena itu, saya lebih memilih perempuan cerdas.
Namun, mari kita renungkan kembali. Apa sebenarnya makna dari “pura-pura bodoh”? Meskipun mereka mengaku menyukai perempuan cerdas, bukankah pada akhirnya mereka tetap menyukai figur perempuan yang tampak bodoh?
Fenomena Obaka
Di Jepang, bahkan muncul sebuah kategori figur publik yang dikenal sebagai obaka-talent (talenta bodoh) atau obaka-chara (karakter bodoh). Para perempuan ini sengaja menampilkan tingkah laku keanak-anakan dan berpura-pura dungu demi menciptakan kesan yang “menggemaskan”. Mereka biasanya tampil dalam acara kuis atau program komedi bertema trivia, di mana mereka diminta untuk memberikan jawaban yang konyol agar menjadi bahan tertawaan. Fenomena yang dikenal sebagai demam talenta bodoh ini telah memiliki banyak penggemar sejak sekitar tahun 2007.
Menanggapi tingginya permintaan terhadap figur “perempuan bodoh” ini, seorang perempuan Jepang bernama @ya yang menikah dengan pria berkebangsaan Inggris dan menetap di sana, sempat merasa terkejut saat mengetahui bahwa para pria di Inggris tidak menyukai perempuan bodoh.
Di Inggris, para pria memilih pasangan secara selektif, dan sebagian besar pertimbangannya didasarkan pada kemampuan sang perempuan. Sebagai contoh, seorang pria yang serius berkarier cenderung mencari pasangan yang memiliki kapasitas setara. Banyak pria di sana tidak hanya melihat penampilan fisik semata, melainkan menimbang keseimbangan antara penampilan, pendapatan, serta kemampuan—di mana dua faktor terakhir mendapat porsi lebih besar. Tentu saja, perempuan juga menyeleksi pria dengan cara yang sama. Perempuan yang populer di kalangan para pria umumnya adalah sosok yang aktif secara sosial dan cakap dalam pekerjaannya. Memiliki kesehatan fisik dan mental yang prima tentu menjadi nilai tambah yang besar. Sebaliknya, perempuan yang hanya bisa tersandar tanpa memiliki pendapatan maupun opini pribadi biasanya dianggap biasa saja dan kurang diminati. Meskipun demikian, Anda akan selalu menjadi primadona di mana pun jika memiliki paras jelita dan tubuh yang memukau.
Perspektif Seorang Dokter Pria Jepang
Lantas, apakah para pria Jepang benar-benar beranggapan bahwa perempuan seharusnya bersikap bodoh? Sebagai seorang perempuan, saya secara pribadi menentang gagasan tersebut dan merasa perlu menegaskan bahwa pola pikir semacam itu seharusnya tidak dibenarkan, meski hal itu dianggap sebagai salah satu daya tarik seksual. Saya awalnya merasa heran mengapa ungkapan tersebut bisa tercipta, hingga saya membaca sejumlah tulisan blog dari seorang dokter bedah plastik yang mengupas alasan di balik pandangan “perempuan bodoh itu lebih baik” serta pengakuannya sendiri yang kerap mendaku bahwa perempuan bodoh itu lebih menggemaskan.
Pada awal tulisannya, sang dokter menegaskan bahwa ia tidak pernah meremehkan kemampuan perempuan atau menganggap kedudukan mereka lebih rendah daripada pria. Ia kemudian menjelaskan pokok pemikirannya dari sudut pandang seorang tenaga medis.
Di Jepang, pembagian peran dalam keluarga antara pria dan perempuan masih sangat tradisional: para pria bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, sementara para perempuan mengurus urusan rumah tangga. Sistem ketenagakerjaan di Jepang memang dirancang untuk kaum pria, sementara fasilitas pendukung bagi perempuan untuk tetap bekerja sambil mengasuh anak belum sepenuhnya tersedia. Di negara seperti Amerika Serikat, di mana masyarakat dapat memperkerjakan tenaga kebersihan rumah tangga dari luar negeri, perempuan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan tinggi justru memiliki angka pernikahan yang lebih tinggi. Sebaliknya, di Jepang, meskipun seorang perempuan lulus dari universitas bergengsi dan bekerja di perusahaan terkemuka, seringkali tidak ada jaminan posisi bagi mereka untuk kembali bekerja setelah memutuskan berhenti demi menikah atau melahirkan. Akibatnya, jika pada akhirnya seorang perempuan terpaksa menjadi ibu rumah tangga meskipun telah mengerahkan segenap usahanya, masyarakat menyimpulkan bahwa menjadi perempuan yang bodoh namun menggemaskan jauh lebih baik daripada menjadi perempuan cerdas. Saya yakin jika sistem sosialnya diubah, perempuan cerdas akan jauh lebih diminati oleh para pria, sebagaimana yang sudah mulai terlihat di dunia medis. Pendapatan kami cukup tinggi untuk membiayai pekerja rumah tangga, sehingga para istri tidak harus terpaku menjadi ibu rumah tangga semata dan dapat terus melanjutkan karier mereka. Oleh karena itu, para dokter pria cenderung memilih untuk menikahi sesama dokter perempuan atau profesional cerdas lainnya daripada menikahi perempuan yang sekadar berwajah manis namun bodoh.
Penjelasan tersebut disampaikan dengan cukup runtut, meski saya pribadi belum sepenuhnya merasa yakin. Mari kita telaah lebih dalam lagi mengenai pernyataan tersebut.
Lingkungan Kerja

Meski banyak perusahaan telah berupaya melakukan pembenahan, sebagian lingkungan kerja di Jepang masih belum ramah bagi pekerja perempuan. Saya sendiri pernah bekerja di perusahaan pialang saham dan investasi terbesar di Jepang, menempati posisi yang menuntut mobilitas tinggi ke mana pun perusahaan menugaskan saya. Perusahaan memang menyediakan posisi lokal, namun untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi seperti manajer cabang atau manajer area, seseorang harus bersedia untuk dimutasi. Saya tahu banyak perusahaan Jepang lain menerapkan sistem serupa, termasuk perusahaan IT tempat saya bekerja dulu. Intinya, sangat sulit bagi perempuan untuk mempertahankan jenjang kariernya setelah membangun keluarga di bawah sistem seperti itu.
Saya memiliki seorang rekan senior perempuan yang sudah menikah dan memegang jabatan yang sama dengan saya ketika ia mendapati dirinya hamil. Tak lama setelah mengetahui kehamilannya, perusahaan memerintahkannya untuk pindah tugas dari Kyoto ke Tokyo, kendati ia dan suaminya bertempat tinggal di Osaka. Alhasil, hingga masa cuti melahirkan tiba, ia harus bekerja di Tokyo dan hidup terpisah dari suaminya. Selepas cuti melahirkan, ia terpaksa memboyong bayinya ke Tokyo tanpa didampingi suami demi mempertahankan kariernya. Kebijakan mutasi semacam itu tergolong keras, namun dari sudut pandang perusahaan, aturan tersebut dinilai adil karena begitulah standar penugasan bagi karyawan laki-laki. Oleh karena itu, saya sepakat bahwa mempertahankan pekerjaan setelah menikah atau memiliki anak merupakan tantangan yang amat berat bagi perempuan.
Apakah hal ini berarti bahwa ungkapan “Perempuan Bodoh Itu Lebih Baik” muncul karena masyarakat Jepang telah terbiasa menerima kenyataan bahwa lingkungan kerja mereka belum sepenuhnya siap mengakomodasi perempuan? Apakah solusi dari masalah ini adalah dengan terus memperjuangkan hak-hak perempuan—termasuk penyediaan fasilitas penunjang agar mereka dapat kembali bekerja setelah melahirkan—demi mewujudkan masyarakat yang lebih adil di mana perempuan bebas bekerja di mana saja dan kapan saja? Jawabannya mungkin akan mengejutkan Anda, sebab hal tersebut belum tentu menjadi dambaan dari sebagian besar perempuan Jepang sendiri.
Istri Jepang Berarti Ibu Rumah Tangga?

Berdasarkan survei resmi yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan Jepang pada bulan Maret 2013, yang melibatkan lebih dari 3.000 responden berusia 15 hingga 39 tahun, tercatat sebanyak 19,3% pria Jepang masih mengharapkan pasangan mereka untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Kondisi lingkungan kerja yang telah diuraikan sebelumnya diyakini menjadi salah satu faktor pendorong mengapa para pria ingin istri mereka berdiam di rumah, sebab jika tidak demikian, frekuensi pertemuan mereka akan menjadi sangat terbatas. Prioritas utama sebagian besar pria Jepang adalah pekerjaan, namun jika sang istri turut mengejar karier, hal itu berarti sang istri juga harus menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utamanya.
Menariknya, kondisi ini ternyata tidak hanya diinginkan oleh para pria saja, melainkan juga banyak kaum perempuan. Menurut riset yang sama, 1 dari setiap 3 perempuan lajang di Jepang berkeinginan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, di tengah gelombang tuntutan agar perempuan lebih aktif berpartisipasi di dunia kerja Jepang yang didominasi kaum pria.
Dari data tersebut, terlihat sebuah fenomena yang cukup menarik: jumlah perempuan yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga justru lebih tinggi daripada jumlah pria yang mengharapkan istrinya berhenti bekerja. Ini mengindikasikan bahwa para perempuan itu sendiri memang memiliki keinginan kuat untuk mengurus rumah tangga. Lantas, apa alasannya?
Alasan Perempuan Ingin Menjadi Ibu Rumah Tangga
Berdasarkan studi penelitian lain yang dilakukan oleh U-Can dan I-Share pada tanggal 16 hingga 20 Juli 2010 terhadap 1.243 responden perempuan, sebanyak 53,9% menyatakan keinginan mereka untuk menjadi ibu rumah tangga.
- Sebesar 55,2% menyatakan bahwa alasannya adalah “karena ingin fokus mengurus pekerjaan rumah tangga dan membesarkan anak.”
- Sebesar 25,5% ingin memusatkan perhatian pada hobi pribadi mereka.
- Sebesar 15% mengaku menghendaki hal tersebut lantaran tidak menyukai dunia kerja.
Kendati menyimpan keinginan demikian, 68% dari perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga mengaku bahwa mewujudkan impian tersebut pada masa kini tergolong sulit akibat tanggungan finansial keluarga. Kenyataannya, semakin banyak istri yang terpaksa tetap bekerja semata-mata demi memenuhi kebutuhan materi. Sebanyak 85% responden menyatakan bahwa mereka akan mencari pekerjaan jika diminta oleh suami mereka karena tidak memiliki pilihan lain, sementara 42,7% lainnya memilih pekerjaan paruh waktu (arubaito) agar memiliki fleksibilitas waktu serta lokasi yang memungkinkan mereka untuk tetap berada dekat dengan rumah. Langkah ini dianggap sebagai jalan tengah yang paling ideal di antara dua dunia.
Stereotip yang Masih Bertahan

Oleh karena itu, terlepas dari tuntutan untuk tetap bekerja atau tidak, peran sebagai ibu rumah tangga—baik sebagai keinginan pribadi maupun harapan dari pihak suami—masih menjadi dambaan bersama bagi sebagian besar pria dan perempuan Jepang. Kondisi ini terkadang memicu perbedaan cara pandang ketika seorang warga Jepang menjalin hubungan asmara dengan warga negara asing. Sebagai gambaran, perhatikan komentar dari seorang pria Jepang berikut ini:
Kekasih saya berasal dari Irlandia-Skotlandia. Kami telah tinggal bersama selama setengah tahun, dan saya tidak menemukan banyak perbedaan antara dirinya dengan perempuan Jepang. Jika harus menyebutkan satu hal yang menonjol, mungkin pandangannya mengenai pekerjaan sedikit berbeda. Dia mengaku tidak habis pikir mengapa seseorang harus berhenti bekerja hanya karena menikah.
Jika faktor lingkungan kerja bukanlah satu-satunya alasan, apakah situasi ini murni mencerminkan preferensi kaum pria? Menurut daftar 10 hal yang paling dibenci oleh perempuan asing terhadap pria Jepang versi Rocket News24, sikap “berlagak lebih hebat daripada perempuan” menempati peringkat kedelapan. Bersikap sedikit konyol dalam acara pesta atau situasi santai tertentu mungkin terasa menyenangkan, namun terus-menerus dicap sebagai orang “bodoh” tentu sama sekali tidak menyenangkan.
Bagi saya sendiri, saya tidak yakin apakah saya pantas disebut sebagai orang cerdas karena saya kerap melakukan dan mengucapkan hal-hal konyol. Namun, saya tidak akan pernah mau berpura-pura bodoh semata-mata demi menyenangkan kaum pria. Jika saya melakukan tindakan bodoh, saya ingin hal itu terjadi karena alasan yang tepat—seperti membuat teman-teman saya tertawa bersama saya, alih-alih menertawakan saya.
Membahas topik ini mengingatkan saya pada mantan kekasih saya yang tidak menyukai saat saya memberikan saran kepadanya. Sebagai contoh, ketika ia mengeluhkan atasannya di kantor, ia sebenarnya hanya mengharapkan saya untuk tersimpum dan mendengarkan keluh kesahnya dengan penuh empati. Pada saat itu, kami bekerja di perusahaan yang sama, sehingga saya justru memberikan pandangan objektif saya setelah ia meluapkan keluh kesahnya, yang pada akhirnya berujung pada kandasnya hubungan kami. Ia mengatakan bahwa seorang perempuan yang terlalu banyak memiliki pendapat bukanlah tipe idealnya. Rupanya, ia memang termasuk dalam deretan pria yang menyukai perempuan berkarakter obaka. Jika dipikir-pikir kembali, pola pikir mantan saya itu memang sangat cocok dengan tema artikel ini: BODOH! Hehehe.








