Home / Travel / Seni Melamar Wanita Jepang: Berdebar Rasanya! Ya, Ya, Seribu Kali Ya!

Seni Melamar Wanita Jepang: Berdebar Rasanya! Ya, Ya, Seribu Kali Ya!

header 640x 38

Menjalin hubungan dengan perempuan Jepang tentu memiliki dinamika budayanya sendiri. Kendati demikian, jika Anda berniat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, proses melamar di Jepang memerlukan pemahaman tersendiri mengenai kebiasaan setempat. Anda mungkin tidak perlu khawatir harus mengikuti aturan yang sangat kaku, tetapi mengetahui cara yang tepat untuk menyampaikan niat baik tentu akan sangat membantu.

Cara Melamar Tradisional di Jepang

A bowl of miso soup

Kekasih Anda tentu paham bahwa Anda bukan orang Jepang, sehingga ia mungkin tidak mengharapkan lamaran bergaya tradisional. Faktanya, perempuan Jepang masa kini justru menganggap cara lama tersebut terasa kuno. Pada masa lalu, ungkapan lamaran disampaikan secara tidak langsung, seperti meminta dibuatkan sup miso setiap hari. Ungkapan klasik lainnya yang bernada puitis namun terkesan suram adalah mengajak pasangan untuk tidur di makam keluarga yang sama sebagai simbol pernikahan. Dewasa ini, mengaitkan pernikahan dengan kematian atau sekadar urusan dapur tentu sudah tidak relevan lagi.

Cara Melamar Modern di Jepang

Person putting a ring on their lover's finger

Sebagian perempuan mungkin masih menerima kalimat romantis sederhana seperti ajakan untuk menua bersama, tetapi perempuan Jepang modern umumnya mengharapkan sesuatu yang lebih terus terang. Saat ini, banyak pria Jepang memilih cara yang lebih ekspresif, misalnya melamar di tengah kemeriahan festival kembang api. Tidak ada aturan baku dalam hal ini. Seorang pria bahkan pernah melamar kekasihnya di taman usai menyanyikan lagu romantis menggunakan gitar dalam bahasa Inggris. Jadi, lakukan saja cara yang paling sesuai dengan kepribadian Anda berdua.

Perlukah Meminta Restu Orang Tua Terlebih Dahulu?

A small toy of an anthropomorphic box in a field

Sebaiknya Anda meminta izin kepada orang tuanya sebelum meminang putri mereka. Meskipun bukan sebuah keharusan mutlak, banyak ayah di Jepang akan merasa tersinggung jika dilewati. Menikah di Jepang berarti Anda juga menjadi bagian dari keluarga besar mereka. Oleh karena itu, meminta restu adalah langkah awal yang tepat untuk membangun hubungan baik.

Idealnya, Anda sudah pernah bertemu dengan orang tua pasangan sebelumnya. Pertemuan yang dilakukan sejak awal juga membantu Anda menilai kesiapan keluarga tersebut, karena beberapa orang tua mungkin masih memegang erat nilai-nilai tradisional yang konservatif terkait pernikahan lintas budaya.

Keluarga Adalah Prioritas Utama

Japanese family walking through a field

Keluarga memegang peranan yang amat penting di Jepang. Penolakan dari orang tua dapat menjadi hambatan besar bagi kelanjutan hubungan. Selain orang tua, restu dari kerabat lain yang memegang pengaruh dalam keluarga juga terkadang menjadi penentu.

Kekhawatiran Utama Orang Tua

A private jet landing at sunset

Tantangan terbesar saat meminta izin kepada orang tua biasanya adalah kendala bahasa. Anda perlu mempersiapkan diri untuk berbicara dalam bahasa Jepang. Hal utama yang menjadi kekhawatiran mereka bukanlah latar belakang Anda, melainkan masa depan putri mereka: di mana kalian akan tinggal, apakah mereka masih bisa melihat cucu mereka, dan apakah pernikahan ini berarti mereka harus berpisah jauh dari anak kesayangan mereka. Pastikan Anda menyampaikan bahwa keputusan ini telah dibicarakan bersama secara matang.

Upacara Pertunangan di Jepang

A couple holding hands forming a heart shape

Dalam keluarga tradisional Jepang, pertunangan diresmikan melalui sebuah upacara khusus bernama yuinou 結納ゆいのう. Skala acara ini bervariasi tergantung usia dan status sosial. Pasangan dari kalangan kelas menengah biasanya cukup mengadakan acara makan malam keluarga yang lebih informal, sementara keluarga berada dapat menggelar upacara tradisional yang memakan biaya besar.

“Saya adalah pimpinan di perusahaan saya, jadi acara seperti itu memang diharapkan. Dan itu sangat mahal!” ujar seorang pengusaha Jepang.

Upacara tradisional biasanya melibatkan seorang nakoudo 仲人なこうど atau perantara yang membantu mengatur jalannya pertemuan kedua keluarga. Dalam acara tersebut, pihak pria akan membawakan sejumlah hadiah simbolis kepada pihak wanita. Ragam hadiah tersebut memiliki makna tersendiri:

  • Katsuobushi 勝男武士かつおぶし: Ikan bonito kering yang melambangkan vitalitas.

  • Naganoshi 長熨斗ながのし: Sejenis kerang kering yang melambangkan penolakan terhadap nasib buruk.

  • Surume 寿留女するめ: Cumi-cumi kering yang melambangkan keawetan pernikahan.

  • Konbu 子生婦こんぶ: Rumput laut yang melambangkan kesuburan dan keturunan yang sehat.

  • Yanagidaru 家内喜多留やなぎだる: Tong sake mini berlapis pernis sebagai simbol keharmonisan rumah tangga.

  • Suehiro 末広すえひろ: Sepasang kipas yang melambangkan kemakmuran.

  • Tomoshiraga atau takasago 高砂たかさご: Benang rami putih atau sepasang boneka yang melambangkan harapan untuk menua bersama.

  • Kinpoudzutsumi atau kosoderyou 小袖料こそでりょう: Uang lamaran yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan finansial pihak pria.

Mengingat biaya dan kerumitannya, masyarakat Jepang modern kini lebih sering memilih acara makan malam sederhana untuk saling mengenalkan keluarga tanpa pertukaran hadiah yang rumit. Sebagai warga negara asing yang keluarganya tinggal di luar negeri, Anda mungkin tidak akan diwajibkan mengadakan upacara formal ini. Namun, menunjukkan apresiasi terhadap budaya Jepang tentu akan meninggalkan kesan yang sangat baik di mata calon mertua.

Awal dari Perjalanan Baru

Flower petals at a wedding ceremony

Terlepas dari berbagai tradisi pertunangan tersebut, melamar seorang perempuan Jepang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan di tempat lain. Kendala bahasa bukanlah halangan besar jika Anda menunjukkan ketulusan dan niat baik. Tantangan yang sebenarnya justru baru akan dimulai setelah Anda resmi bertunangan dan bersiap memasuki kehidupan pernikahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *