Home / Travel / Namahage: Tradisi Unik Monster Tahun Baru Akita yang Menakut-nakuti Anak agar Berperilaku Baik

Namahage: Tradisi Unik Monster Tahun Baru Akita yang Menakut-nakuti Anak agar Berperilaku Baik

header 640x 4

Bagi sebagian orang, mendengar teriakan yang menanyakan apakah ada anak cengeng di dalam rumah pada malam Tahun Baru mungkin terdengar menyeramkan. Namun, warga Prefektur Akita, khususnya di Semenanjung Oga, memiliki pandangan yang berbeda. Namahage, sosok makhluk menyerupai sesepuh atau iblis tradisional Jepang yang sekilas mirip perpaduan antara Sinterklas dan Krampus, merupakan tamu tahunan yang dinantikan oleh penduduk di wilayah barat laut Pulau Honshu.

Beberapa tahun lalu, saat menjalani studi di Akita, perjumpaan dengan Namahage terjadi di berbagai tempat mulai dari jalanan hingga pusat perbelanjaan. Fenomena ini memicu rasa penasaran mengenai latar belakang dan asal-usul makhluk tersebut, yang akhirnya terjawab setelah mengunjungi museum khusus yang mengulas sejarah mereka secara mendalam.

Tradisi Menakuti Anak-Anak Selama Berabad-Abad

Red ogre mask with stringy hair
Source: Evan Blaser

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi Namahage telah eksis setidaknya sejak Periode Edo (1603–1868), merujuk pada tulisan seorang penulis perjalanan bernama Masumi Sugae, meskipun tradisi ini diyakini sudah ada jauh sebelum periode tersebut.

Dalam praktiknya saat ini, makhluk berwajah ogre ini memiliki misi yang cukup spesifik. Setiap malam Tahun Baru, mereka turun dari kawasan pegunungan, berparade di jalanan sambil membawa pisau mainan, lalu mendatangi rumah-rumah untuk memeriksa apakah anak-anak berperilaku baik sepanjang tahun. Sasaran utama Namahage adalah anak-anak yang malas, cengeng, atau tidak mendengarkan perkataan orang tua.

Bagi anak-anak yang menjadi berkelakuan baik dan keluarga yang menyambut mereka dengan hidangan makanan serta sake, Namahage diyakini akan memberikan perlindungan dari bencana alam, menjauhkan penyakit, serta membawa kesuburan bagi hasil panen. Di balik penampilannya yang garang, mereka membawa niat baik.

Meski tampak menakutkan bahkan traumatis bagi anak kecil, bagi para orang tua dan pemuda setempat yang mengenakan kostum tersebut, tradisi ini merupakan simbol kebersamaan yang dilestarikan secara turun-temurun.

Asal-Usul Namahage

Poster with information about namahage

Terdapat berbagai versi cerita rakyat mengenai kemunculan Namahage. Kisah yang paling populer adalah legenda “Tangga Batu 999”. Dalam cerita tersebut, seorang Kaisar Dinasti Han di Tiongkok mengirim lima ogre atau oni ke Semenanjung Oga untuk mencuri hasil panen dan wanita muda. Penduduk desa kemudian menantang para oni untuk membangun tangga batu sebanyak seribu buah menuju kuil di puncak gunung dalam waktu satu malam. Ketika tangga mencapai anak tangga kesembilan ratus sembilan puluh sembilan, seorang penduduk menirukan suara ayam berkokok untuk mengelabui para oni. Menyangka waktu telah pagi dan misi mereka gagal, para ogre tersebut pergi dengan marah meninggalkan tangga yang belum selesai.

Versi legenda lainnya menyebutkan bahwa Namahage sebenarnya adalah pelaut asing dari negeri seberang yang terdampar di pantai Semenanjung Oga. Penampilan fisik dan bahasa asing yang tidak dipahami oleh warga lokal membuat mereka disalahartikan sebagai makhluk demontrasi.

Ada pula teori yang menyatakan bahwa mereka adalah utusan dewa penghuni gunung atau para pendeta gunung yang mengenakan pakaian tahan cuaca ekstrem sehingga tampak seperti raksasa.

Cara Menjadi Seorang Namahage

Men in ogre masks beating drums
Source: Kanegen

Peran sebagai Namahage umumnya dimainkan oleh para pemuda setempat yang sewaktu kecil pernah merasakan ketakutan serupa dari tradisi ini. Selain berparade di rumah-rumah warga, banyak dari mereka yang juga menguasai tabuhan drum taiko dan tampil dalam berbagai festival sepanjang tahun.

Bagi pengunjung yang mendatangi Museum Namahage di Semenanjung Oga, tersedia fasilitas untuk mengenakan atribut lengkap dan berfoto. Perlengkapan standar yang wajib dikenakan oleh seorang Namahage meliputi:

Red and blue-faced ogre statues with knives and buckets
Source: kota i
  • men – Topeng khas yang terbuat dari kayu, bubur kertas, atau plastik, dengan desain yang bervariasi di setiap wilayah Akita.
  • kede ケデ – Jubah atau mantel jerami pelindung cuaca.
  • habaki ハバキ – Pelindung tulang kering dari jerami.
  • waragutsu わらぐつ – Sepatu salju jerami untuk melangkah di musim dingin Akita.
  • deba-bōchō 出刃包丁 – Pisau besar tiruan dari kayu yang dicat menyerupai golok.
  • gohei 御幣 – Tongkat ritual kayu yang biasa digunakan dalam tradisi Shinto.

Prosesi Ritual Namahage

Red and blue-faced ogres on an escalator
Source: Yasuhiro_S

Sebelum menjalankan tugasnya, para pemeran Namahage berkumpul untuk menyantap hidangan tradisional dan meminum sake. Mereka kemudian mengunjungi kuil setempat, seperti Kuil Shinzan, untuk memohon restu dan melakukan ritual menghentakkan kaki. Menghentakkan kaki bukanlah sekadar intimidasi, melainkan bagian dari prosesi penyucian dalam ajaran Shinto. Karena alasan kesucian ini pula, Namahage tidak akan mendatangi rumah yang baru saja mengalami kelahiran atau kematian dalam keluarga pada tahun tersebut.

Setibanya di rumah warga, kehadiran mereka biasanya diumumkan oleh pendamping manusia. Mereka akan menghentakkan kaki di pintu masuk dengan pola tertentu, lalu memeriksa perilaku anak-anak di dalam rumah. Anak-anak yang dinilai nakal berdasarkan laporan orang tua akan dikejutkan dengan suara keras, sementara anak yang baik akan menerima doa keselamatan untuk tahun yang baru.

Bowls and plates with fish and other food on red lacquer trays

Setelah sesi tanya jawab dan peringatan selesai, tuan rumah menyajikan hidangan khusus dan sake sebagai bentuk jamuan sebelum para Namahage melanjutkan perjalanan ke rumah berikutnya.

Menikmati Wisata Namahage Sepanjang Tahun

Traditional Japanese building with grass roof
Source: Iwao

Bagi wisatawan yang berkunjung di luar musim dingin, Museum Namahage di Semenanjung Oga tetap beroperasi sepanjang tahun. Tempat ini menawarkan informasi sejarah, pemutaran film dokumenter, serta pameran berbagai jenis topeng dan kostum.

White demon and ogre masks hanging on a wall

Pengunjung juga dapat mendatangi Museum Cerita Rakyat Shinzan untuk menyaksikan pertunjukan interaktif antara warga lokal dan pemeran Namahage.

Festival Sedo Namahage

A crowd of people standing in the snow, watching something burn
Source: Hildgrim

Setiap akhir pekan kedua di bulan Februari, Kota Oga menyelenggarakan Festival Sedo di Kuil Shinzan. Perayaan akbar ini menggabungkan unsur musik, tarian, dan prosesi ritual di tengah salju.

Puncak acara ditandai dengan turunnya para Namahage dari gunung sambil membawa obor menyala untuk berinteraksi langsung dengan pengunjung, sebelum akhirnya kembali ke area kuil untuk menerima goma-mochi dan mengakhiri ritual.

Pengaruh Namahage dalam Budaya Populer

Sebagai simbol budaya yang mengakar kuat di Prefektur Akita, citra Namahage dapat ditemukan di berbagai sudut wilayah tersebut.

Very large ogre statues near a road
Source: Iwao

Mulai dari patung raksasa di tepi jalan…

Small filled cakes in the shape of ogre heads

Kue tradisional berbentuk kepala ogre…

Kristen Dexter standing next to a cute blue ogre mascot

Hingga maskot daerah dan kolaborasi khusus seperti Hello Kitty edisi Namahage.

Hello Kitty dressed in a red ogre mask

Pada tahun 1978, tradisi Namahage di Oga secara resmi ditetapkan sebagai aset budaya rakyat takbenda nasional Jepang, mengukuhkan posisinya yang unik dalam warisan budaya Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *