Suatu hari, meskipun saya sudah berencana pergi bersama teman-teman selebritas saya, Johnny Depp dan Orlando Bloom, Profesor Anderson memberi saya PR: “Buatlah satu juta kalimat dalam bahasa Inggris.” Saat itu, kedua teman bintang saya tersebut sedang sangat sibuk syuting “Pirates of the Caribbean”, sehingga itu adalah satu-satunya kesempatan saya untuk bisa jalan bersama mereka berdua secara bersamaan. Kendati demikian, saya memilih untuk mengerjakan PR alih-alih pergi bermain karena saya begitu rajin. Saya masih bangga dengan momen saat saya membuat keputusan tersebut.

Cerita ini terdengar seperti mimpi, bukan? Saya berharap ini sungguh terjadi, namun sayangnya tidak demikian…
“Ceritakan kepada saya tentang momen terhebatmu sebagai seorang pelajar.” Itulah tugas dari sekolah ESL tempat saya biasa belajar. Seperti yang bisa Anda tebak, saya sebenarnya tidak terlalu ‘rajin’, dan itulah sebabnya saya mengarang cerita pendek yang konyol untuk PR tersebut. Mendapatkan nilai tinggi atau membuat presentasi yang luar biasa mungkin dianggap sebagai “momen hebat” bagi kebanyakan siswa, tetapi sejujurnya saya tidak dapat memikirkan contoh bagus apa pun pada saat itu betapapun kerasnya saya merenungkannya.
Pendidikan sering kali dianalisis dari segi pencapaian, hasil, atau sebagai sebuah proses. Namun di sini, saya ingin mengesampingkan asumsi tersebut dan hanya berfokus pada pengalaman itu sendiri, khususnya di Jepang. Tidakkah Anda ingin tahu seperti apa rasanya?
Sistem Pendidikan di Jepang

Sistem pendidikan di Jepang serupa dengan sistem di tempat tinggal saya saat ini (Kanada):
- 6 tahun sekolah dasar
- 3 tahun sekolah menengah pertama
- 3 tahun sekolah menengah atas
- 4 tahun universitas
Struktur ini sebenarnya direformasi setelah Perang Dunia II dari sistem lama 6-5-3-3 menjadi seperti yang Anda lihat di atas. Dari jenjang-jenjang tersebut, sekolah menengah atas dan universitas tidak bersifat wajib, meskipun tingkat pendaftaran SMA secara nasional di hampir seluruh kota di Jepang mencapai lebih dari 96%. Sekitar 46% lulusan SMA di Jepang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi atau universitas.
Sebagian besar sekolah menggunakan sistem tiga triwulan dengan tahun ajaran yang dimulai pada bulan April saat bunga sakura bermekaran, dan berakhir pada bulan Maret tahun berikutnya. Oleh karena itu, pada bulan Maret diadakan upacara kelulusan, dan saya ingat banyak siswa menangis akibat demam serbuk sari sehingga menciptakan suasana yang sangat suram.
Ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa Jepang sebaiknya mengubah sistem tahun ajaran agar sama dengan Amerika Utara, karena perbedaan ini terkadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi para siswa yang ingin belajar di luar negeri seperti di AS, Kanada, dan wilayah lainnya. Masalah yang sama juga dialami oleh warga negara asing yang ingin menempuh pendidikan di Jepang. Mereka lulus sekolah pada bulan Juni atau Juli, tetapi harus menunggu hingga bulan April untuk bisa masuk ke sekolah di Jepang.
Secara pribadi, saya akan merasa sedikit sedih seandainya sistem tahun ajaran Jepang diubah. Sangat indah rasanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman di bawah naungan pohon sakura yang sedang mekar penuh. Ada begitu banyak lagu indah tentang kelulusan dan bunga sakura, dan semuanya akan rusak! Meskipun saya memahami perspektif dari sudut pandang pelajar, saya ingin mereka mempertahankan sistem tersebut sebagai bagian dari budaya Jepang.

さくら(独唱)」/森山直太朗
卒園式の歌(さよなら僕たちの幼稚園) 号泣
Jam Belajar yang Terlalu Panjang

Selain di kelas-kelas awal sekolah dasar, hari sekolah rata-rata pada hari kerja di Jepang berlangsung selama tujuh hingga delapan jam, tergantung pada sekolah dan tingkat kelas siswa. Durasi tersebut merupakan salah satu hari sekolah terpanjang di dunia! Meskipun demikian, kegiatan belajar seorang siswa biasanya belum selesai begitu jam sekolah usai. Mereka tidak hanya harus mengerjakan latihan soal dan PR sepulang sekolah, tetapi juga harus menghadiri kelas tambahan di sekolah negeri mereka atau di tempat bimbingan belajar swasta yang dikenal sebagai juku 塾. Terutama bagi para pelajar SMP dan SMA, sebagian besar waktu di luar jam sekolah reguler dihabiskan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk. Bahkan selama masa liburan (enam minggu di musim panas serta masing-masing dua minggu di musim dingin dan semi), sering kali masih ada PR yang harus dikerjakan dan tempat juku yang harus didatangi.
Jika ingatan saya tidak salah, saya mulai mengikuti bimbingan belajar sejak kelas tiga sekolah dasar. Saya masih ingat ketika kami mengadakan acara “belajar semalam suntuk menyambut Tahun Baru” atau toshikoshi tetsuya benkyoukai 年越し徹夜勉強会 saat saya duduk di kelas lima. Para guru menganjurkan agar kami tidak tertidur melainkan terus belajar hingga pagi hari. Tentu akan sangat menyenangkan bisa terjaga lebih larut bersama teman-teman, seandainya saja kami tidak sedang belajar. Kendati demikian, hatsuhi no de 初日の 出, yang berarti “matahari terbit pertama di tahun baru,” sangatlah berkesan dan membuat resolusi tahun baru semua orang menjadi sama: meraih nilai yang lebih baik dan belajar dengan giat. Awalnya saya merasa kegiatan itu cukup menyenangkan karena para guru juga menyiapkan sedikit permainan untuk kami. Namun, mungkin sekitar pukul satu malam, kelopak mata saya mulai terasa semakin berat. Saya mencoba belajar tetapi tidak lagi dapat berkonsentrasi, dan saya meragukan jika hal itu hanya terjadi pada saya seorang. Cara tersebut sama sekali bukan metode belajar yang efisien. Kegiatan itu sepenuhnya tentang disiplin.
Meskipun belajar itu sendiri bermanfaat bagi setiap orang, belajar secara berlebihan dapat memicu stres. Oleh karena itu, jika saya bisa mengubah sistem sekolah di Jepang, saya akan menghapus ujian masuk yang besar dan memangkas porsi pendidikan swasta, karena menurut saya hal tersebut merupakan beban kerja yang terlalu berat bagi anak-anak. Menempati posisi kedua setelah perundungan, jumlah anak yang melakukan bunuh diri akibat “kecemasan menghadapi masa depan” terus meningkat. Sebagian besar dari kecemasan ini timbul dari kekhawatiran tentang performa mereka dalam ujian.
Sistem Kelas di Jepang

Saya merasa terkejut mendapati bahwa banyak sekolah di Kanada tampaknya tidak memiliki ruang kelas tetap, sebab di setiap sekolah di Jepang setiap kelas memiliki ruang kelasnya sendiri. Dalam kebanyakan kasus di Jepang, para siswa mengikuti seluruh mata pelajaran di ruangan yang sama dengan teman sekelas yang sama, kecuali untuk kegiatan pelatihan praktikum dan pekerjaan laboratorium. Dalam kasus saya, kelas 3-4 serta kelas 5-6 menggunakan sistem ruang kelas tetap selama 2 tahun, meskipun biasanya sistem ruang kelas tetap hanya berlaku selama 1 tahun.
Di tingkat sekolah dasar, satu guru mengajar seluruh mata pelajaran di masing-masing kelas, sementara di tingkat SMP dan SMA guru yang mengajar akan berganti tergantung pada mata pelajarannya. Alih-alih para siswa yang berpindah-pindah ruangan menghampiri guru, justru para gurulah yang mendatangi para siswa (di luar pengecualian yang telah saya sebutkan sebelumnya).
Hal lain yang membedakan sistem kelas di Jepang adalah kebanyakan sekolah dasar dan/atau SMP menyediakan makan siang dengan menu terstandarisasi yang dikenal sebagai kyuushoku 給食. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang disebut han 班. Terkait makan siang, pembagian ini sangat penting karena satu kelompok han akan bertugas sebagai kyuushoku touban 給食当番. Tugas khusus kelompok han ini adalah bertanggung jawab penuh atas menu 給食. Mereka mengambil jatah makan siang teman sekelas di dapur sekolah atau area pengiriman makanan, membawanya ke ruang kelas, menyajikannya kepada rekan-rekan sekelas, memastikan makanan tersebut dikonsumsi dengan baik oleh setiap anak, dan kemudian mengembalikan semuanya ke dapur. Biasanya terdapat rotasi giliran selama kurang lebih seminggu bagi setiap kelompok han untuk bertugas sebagai kyuushoku touban 給食当番.
Jika kelompok Anda tidak sedang mendapat giliran tugas makan siang, kelompok han Anda bisa mengerjakan hal bermanfaat lainnya. Sebagai contoh, para siswa di sekolah Jepang bertanggung jawab untuk membersihkan sekolah mereka sendiri. Terkadang ada kelompok han yang mengambil tugas membersihkan lingkungan sekolah yang disebut souji 掃除, dan mereka dikenal sebagai soujitouban 掃除当番. Menurut saya ini adalah sistem yang luar biasa karena menjadi cara yang efektif bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan memupuk rasa tanggung jawab. Kegiatan ini juga membuat mereka lebih sadar agar tidak membuat kekacauan, karena mereka sendiri atau teman mereka yang harus membersihkannya nanti!
Seragam Sekolah

Beberapa sekolah dasar dan hampir seluruh sekolah menengah pertama serta atas mewajibkan siswanya mengenakan seragam sekolah. Dalam kasus saya, saya mengenakan seragam sekolah mulai dari taman kanak-kanak hingga SMA.
Meskipun sebagian orang berpendapat bahwa para siswa, atau setidaknya siswa SMA, seharusnya bebas memilih pakaian yang ingin mereka kenakan ke sekolah, saya pribadi beranggapan bahwa kebijakan terbaik adalah mengenakan seragam karena lebih terjangkau dan praktis.
Para remaja cenderung sangat memerhatikan mode dan keinginan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial, sehingga jika mereka diperbolehkan memilih pakaian sendiri ke sekolah, mereka akan lebih memilih pakaian bermerek. Sebagai contoh, saya ingat betul para siswi menghabiskan banyak uang untuk membeli kaus kaki merek ternama atau kaus kaki kendur (loose socks), yaitu jenis kaus kaki berukuran longgar. Sepasang kaus kaki terkadang berharga 1.000 hingga 2.000 yen. Sungguh harga yang tidak masuk akal! Untungnya kaus kaki adalah satu-satunya barang bermerek yang perlu kami kenakan berkat adanya seragam. Seandainya kami diizinkan memakai apa pun yang kami inginkan, orang-orang pasti akan menambah biaya pakaian hingga ratusan ribu yen dalam kurun waktu satu tahun saja.
Selain itu, seragam sangatlah praktis. Para siswa tidak perlu pusing memikirkan pakaian apa yang harus mereka kenakan ke sekolah. Sebagai ilustrasi, mereka tidak perlu mempertimbangkan warna apa yang cocok dipadukan, gaya seperti apa yang tampak paling bagus, atau apa penilaian teman sekelas terhadap pakaian mereka. Jika semuanya mengenakan seragam yang sama, seluruh pilihan tersebut telah ditentukan sebelumnya, sehingga Anda tidak perlu merasa risi atau cemas mengenai pakaian Anda. Hal ini menghemat lebih banyak waktu bagi para siswa sehingga mereka bisa lebih fokus belajar, meskipun bagi saya hal itu hanya membuat waktu tidur di pagi hari menjadi lebih lama.
Lebih lanjut lagi, seragam umumnya dibuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan. Saya mengenakan seragam dari taman kanak-kanak hingga SMA dan saya memiliki dua pasang seragam untuk masing-masing musim hangat dan musim dingin. Ketika salah satu kotor, saya tinggal mencucinya dan mengenakan yang satunya lagi. Dengan cara ini, pakaian sekolah saya selalu bersih dan siap dipakai. Seragam adalah pakaian yang sangat fungsional!
Meskipun demikian, seragam tidak selalu menyenangkan. Sebagaimana di banyak negara, peraturan mengenai seragam dipatuhi secara ketat. Ada ketentuan baku mengenai panjang rok, dan para guru bahkan mengeluarkan pita pengukur untuk memeriksanya. Jepang memiliki empat musim dengan cuaca serta suhu udara yang dapat bervariasi secara drastis. Namun, seragam biasanya hanya tersedia dalam dua jenis: musim dingin dan musim panas. Segala kondisi cuaca di antaranya terkadang membuat pakaian tersebut kurang nyaman dikenakan.
Saya juga ingat guru saya melarang saya mengenakan celana panjang demi mematuhi aturan seragam, meskipun hari itu cuaca sangat dingin. Kebijakan tersebut mungkin akan menjadi sedikit kurang praktis dan tidak seragam, tetapi menurut saya akan jauh lebih baik bagi kesehatan siswa untuk mengenakan pakaian yang lebih hangat pada hari yang dingin dan pakaian yang lebih ringan saat cuaca hangat. Lagipula, biarkan saja para anak laki-laki mengenakan rok di musim panas jika mereka memang menginginkannya! Saya tetap meyakini bahwa sirkulasi darah saya kurang baik hingga saat ini akibat terbiasa mengenakan seragam sekolah.
Perbedaan yang Signifikan

Perbedaan besar antara sistem sekolah di Jepang dan sistem sekolah di Amerika Utara adalah masyarakat Amerika Utara menghargai serta mendorong kemandirian, sementara masyarakat Jepang mengendalikan tanggung jawab individu dengan tetap mempertahankan aturan kelompok. Hal ini mencerminkan salah satu karakteristik perilaku sosial masyarakat Jepang (atau bahkan perilaku sosial masyarakat Asia pada umumnya).
Saya menyadari fakta ini saat belajar di sekolah ESL di Kanada. Terdapat siswa dari berbagai belahan dunia di dalam kelas: Arab Saudi, Brasil, Spanyol, Tiongkok, Korea, dan saya sendiri dari Jepang. Ketika guru sedang berbicara, saya serta para siswa asal Tiongkok dan Korea tidak pernah menyela untuk bertanya atau mengutarakan pendapat kami. Kami menunggu sampai guru tersebut benar-benar selesai berbicara, sementara para siswa dari negara lain dapat berbicara kapan saja.
Kami pernah mendiskusikan hal ini di dalam kelas dan menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut dipicu oleh sistem sekolah masing-masing negara: di Asia, sebagian besar pelajaran disampaikan melalui metode ceramah, sementara di negara-negara lain mereka menghabiskan banyak waktu dengan metode pembelajaran diskusi.
Sebuah Lelucon
Sebagai penutup artikel ini, saya ingin membagikan sebuah lelucon terkenal berjudul A Brilliant Japanese Student In An American Classroom. Saya ingin tahu apakah Anda menemukan kejanggalan dalam lelucon ini… Anda sudah menemukannya? Ya, pemuda Jepang bernama Hideo berbicara terlalu aktif, bukan? Hal itu sangat berbeda dengan apa yang telah Anda pelajari mengenai para pelajar Jepang dari artikel ini. Saya rasa rata-rata pelajar Jepang tidak akan sering mengacungkan tangan seperti pemuda tersebut.
A BRILLIANT JAPANESE STUDENT IN AN AMERICAN CLASSROOM
Ini adalah hari pertama sekolah dan seorang siswa baru bernama Hideo, putra seorang pengusaha Jepang, masuk ke kelas empat. Guru tersebut berkata, “Mari kita mulai dengan mengulas kembali sejarah Amerika.”
Ia melihat lautan wajah tanpa ekspresi, kecuali Hideo, yang mengacungkan tangannya.
“Patrick Henry, 1775.” ujar Hideo.
“Bagus sekali! Siapa yang mengatakan ‘Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, tidak akan musnah dari muka bumi'”? Sekali lagi, tidak ada respons kecuali dari Hideo:
“Abraham Lincoln, 1863.”, ucap Hideo.
Guru tersebut menegur kelas, “Anak-anak, kalian seharusnya merasa malu. Hideo, yang merupakan pendatang baru di negara kita, tahu lebih banyak tentang sejarahnya daripada kalian.”
Ia mendengar bisikan keras: “Persetan dengan orang Jepang.”
“Siapa yang mengatakan itu?” tuntut sang guru.
Hideo mengangkat tangannya. “Lee Iacocca, 1982.”
Pada titik itu, seorang siswa di barisan belakang berkata, “Aku mau muntah.”
Guru tersebut mendelik dan bertanya, “Baiklah! Sekarang, siapa yang mengatakan itu?”
Sekali lagi, Hideo berkata, “George Bush, kepada Perdana Menteri Jepang, 1991.”
Dengan perasaan geram, siswa lain berteriak, “Oh ya? Isap ini!”
Hideo melompat dari kursinya sambil melambaikan tangan dan berteriak kepada guru, “Bill Clinton, kepada Monica Lewinsky, 1997!”
Kini, di tengah suasana yang hampir menyerupai histeria massa, seseorang berkata, “Kau anak keparat kecil, jika kau berani mengatakan hal lain lagi, aku akan membuatmu terbunuh.”
Hideo berteriak sekuat tenaga, “Gary Condit, kepada Chandra Levy, 2001.”
Sang guru pingsan.
Semoga Anda menikmati lelucon tersebut! Bagi saya, sistem pendidikan di Jepang memiliki kelemahan karena membuat para siswanya tumbuh menjadi semakin konservatif seiring berjalannya waktu. Saya berpendapat bahwa para pelajar Jepang seharusnya lebih berani bersuara dan berpartisipasi dalam percakapan seperti Hideo. Yah, mungkin Hideo terlalu berlebihan, tetapi setidaknya sedikit lebih aktif. Banyak di antara mereka yang juga tidak memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia luar ataupun ambisi untuk belajar di luar negeri.
Saya rasa masalah ini disebabkan oleh sistem ujian yang masif, karena anak-anak dipaksa masuk ke dalam lingkaran kompetisi demi bisa bersekolah di tempat yang lebih baik sejak usia yang sangat dini. Tujuan akhir mereka sering kali telah diset untuk masuk ke universitas terbaik oleh orang tua dan/atau guru mereka. Akibatnya, banyak dari mereka yang kehilangan rasa ingin tahu terhadap hal lain selain mengejar nilai bagus dan akhirnya bertindak bagaikan robot.
Saya yakin Anda semua pasti memiliki kisah pribadi yang menarik seputar pengalaman pendidikan masing-masing. Ceritakan kepada saya tentang sistem pendidikan di negara Anda. Bagaimana perbedaannya? Apa persamaannya? Apa yang Anda sukai atau tidak sukai? Saya percaya bahwa setiap sistem pendidikan di dunia memiliki sisi positif dan negatifnya, sehingga mungkin jika kita saling belajar satu sama lain, kita dapat menjadikan pendidikan di seluruh dunia menjadi lebih baik! Arigatou.








