Gunung Fuji: Bentuk Ikonis dan Ancaman Letusan di Masa Depan
Bentuk Gunung Fuji yang sangat khas menjadikannya simbol utama bagi negara Jepang. Bersama dengan samurai dan sushi, siluet gunung ini begitu ikonik hingga mudah dikenali oleh banyak orang di seluruh dunia hanya dari bentuk lerengnya yang melengkung ke dalam.

Namun, kedamaian Gunung Fuji yang baru saja dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia ini mungkin tidak akan bertahan selamanya. Setelah lebih dari 300 tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan besar, para ahli berpendapat bahwa letusan berikutnya sudah sangat dinantikan dan bisa terjadi kapan saja.
Sejarah Pembentukan Gunung Fuji
Gunung Fuji yang kita kenal sekarang terbentuk melalui proses geologis yang panjang, melibatkan aktivitas vulkanik, pergerakan lempeng, dan gempa bumi. Sebelum wujudnya yang sekarang terbentuk, terdapat beberapa gunung berapi pendahulu di lokasi yang sama.
Gunung Berapi Komitake

Gunung Berapi Komitake membentuk bagian utara Gunung Fuji saat ini dan mulai aktif sejak 700.000 tahun yang lalu. Puncaknya masih dapat dikunjungi di stasiun kelima pendakian sisi utara Gunung Fuji, dengan ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut atau hampir separuh dari tinggi Gunung Fuji modern.
Fuji Lama
Sekitar 100.000 tahun lalu, aktivitas vulkanik muncul di sisi selatan Komitake, menghasilkan aliran lumpur vulkanik serta tumpukan abu dan lava yang membentuk gunung setinggi sekitar 3.100 meter.
Fuji Baru
Setelah periode tidak aktif selama ribuan tahun, aktivitas vulkanik kembali berlanjut antara 5.000 hingga 10.000 tahun lalu. Letusan besar memuntahkan magma, lava, dan abu yang menutupi struktur Komitake serta Fuji Lama, menciptakan gunung berapi gabungan yang jauh lebih besar.
Riwayat Letusan Fuji Baru
Masa aktif Fuji Baru dimulai sejak zaman Jomon di Jepang. Sejumlah letusan besar tercatat mengubah bentang alam sekitar, termasuk runtuhnya sisi timur gunung sekitar 2.300 tahun yang lalu yang memicu aliran lumpur besar hingga dataran rendah.

Catatan sejarah mengenai letusan menjadi jauh lebih akurat sejak abad ke-8 Masehi. Pada tahun 864 M, sisi timur laut gunung meletus selama sepuluh hari dan aliran lavasnya bahkan membagi sebuah danau besar menjadi dua, yang kemudian menjadi dasar bagi kawasan Hutan Aokigahara.
Setelah periode istirahat yang cukup panjang, letusan terakhir terjadi pada tahun 1707, hanya berselang seminggu setelah terjadinya Gempa Bumi Besar Hoei. Sejak saat itu, Gunung Fuji kembali memasuki masa tenang hingga hari ini.

Peningkatan Tekanan dan Tanda-Tanda Aktivitas
Kekhawatiran mengenai potensi letusan Gunung Fuji kembali meningkat menyusul Gempa Bumi Tohoku pada tahun 2011. Gempa besar diketahui mampu memicu aktivitas vulkanik, dan tekanan di ruang magma Gunung Fuji tercatat mengalami peningkatan signifikan setelah kejadian tersebut.
Selain tekanan magma, berbagai indikator fisik juga menunjukkan peningkatan aktivitas di sekitar gunung. Retakan di kerak bumi, pergeseran struktur yang menyebabkan kerusakan terowongan, serta peningkatan permukaan air dan suhu di danau-danau sekitar menjadi bukti bahwa gunung ini masih menyimpan energi besar.

Temuan sesar aktif baru di bawah Gunung Fuji juga memunculkan potensi gempa serta risiko longsor atau aliran lumpur seperti di masa lalu. Mengingat sejarah keruntuhan struktural yang pernah terjadi berulang kali, para ilmuwan sepakat bahwa pertanyaan utamanya bukan lagi apakah Gunung Fuji akan meletus, melainkan kapan peristiwa tersebut akan terjadi.







