Bagi siapa saja yang merencanakan perjalanan ke Jepang, Tokyo dan Kyoto hampir selalu menjadi dua destinasi utama yang direkomendasikan. Meskipun Tokyo memiliki tempat tersendiri di hati, pilihan akan selalu jatuh ke Kyoto jika harus memilih salah satu. Kota ini menawarkan suasana yang lebih tenang, jejak sejarah yang lebih kental, serta kemudahan untuk menjelajah dengan berjalan kaki ke mana pun.
Sebelum membahas lebih jauh, ada beberapa hal mendasar mengenai gaya bepergian penulis artikel ini:
- Tidak begitu menyukai percakapan dengan banyak orang.
- Sangat mencintai alam dan tempat-tempat sunyi untuk menikmati waktu sendiri.
- Menjalani pola makan vegetarian, sehingga lebih memilih tempat makan khusus vegetarian atau yang menyediakan opsi ramah vegetarian.
Oleh karena itu, panduan ini dirancang khusus sebagai “Itinerari Satu Hari di Kyoto untuk Vegetarian Pemalu”. Panduan spesifik ini dibuat karena informasi perjalanan yang sesuai dengan preferensi semacam ini cukup sulit ditemukan. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi pelancong lain yang memiliki karakter serupa.
Titik awal: Itinerari ini sangat ideal jika Anda menginap di sekitar area Kyoto Imperial Palace.
Sarapan: Choice Cafe and Restaurant (09.00 – 10.00 pagi)

Meskipun bukan penggemar sarapan berat, menyusuri kota asing dengan perut kosong tentu bukan keputusan yang bijak. Pemberhentian pertama adalah Choice Cafe and Restaurant untuk menikmati camilan vegan praktis sebagai sumber tenaga.
Lokasinya hanya berjarak kurang dari lima menit berjalan kaki dari Stasiun Sanjo. Anda cukup berjalan ke arah timur selama hampir satu blok, lalu berbelok ke kiri. Pintu masuknya mudah dikenali dari papan hitam bertuliskan “CHOICE” berwarna putih. Jika Anda sampai di bar “Feel 京 Good”, artinya Anda sudah terlewat dan harus berbalik arah.
Kafe ini mengusung konsep modern dan bersih dengan dominasi warna putih dan hijau. Tersedia menu berbahasa Inggris serta berbagai buku tentang kesehatan, makrobiotik, dan veganisme. Menu andalan di sini adalah piring keju vegan yang terdiri dari keju keras dan lunak buatan sendiri, disajikan bersama tomat ceri.
Selain keju, tersedia pula risotto keju, burger keju dengan berbagai pilihan saus, serta menu pagi yang lebih ringan seperti kue kismis rum dan mangkuk acai. Tujuannya adalah mengisi perut secukupnya agar tidak pusing selama berjalan kaki, karena masih banyak petualangan kuliner menanti.
Jalan-jalan di Sepanjang Sungai Kamo Bagian 1 (10.00 pagi – 12.00 siang)

Dengan tenaga dari keju yang sudah di dalam perut, saatnya menikmati cuaca musim semi yang cerah dengan berjalan ke arah utara menyusuri Sungai Kamo. Pada musim ini, pohon-pohon ceri di sepanjang tepian sungai biasanya sedang mekar penuh, menciptakan pemandangan yang luar biasa.
Jalur pejalan kaki memang cukup ramai oleh anak-anak, remaja, dan wisatawan, tetapi tidak pernah sampai mendesak. Perjalanan ini sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit jika terburu-buru, namun jauh lebih menyenangkan jika dinikmati perlahan sambil duduk santai dan menikmati minuman dingin dari mesin penjual otomatis.
Salah satu tempat yang selalu dikunjungi adalah Kamogawa Park, yaitu titik pertemuan antara Sungai Kamo dan Sungai Takano, di mana anak-anak sering terlihat meniti batu-batu pijakan.
Biasanya perjalanan dilakukan di sisi timur sungai, namun terdapat banyak jembatan jika ingin menyeberang ke sisi sebaliknya. Salah satu titik favorit adalah Kamogawa Park, muara pertemuan Sungai Kamo dan Sungai Takano, tempat burung-burung air berenang dan kucing liar kerap terlihat bersantai di bawah jembatan.
Makan Siang: Falafel Garden (12.00 – 13.00 siang)

Menjelang siang, perut mulai terasa lapar kembali dan makanan segar adalah pilihan yang paling pas. Destinasi berikutnya adalah Falafel Garden yang terletak di sebelah timur Kamogawa Park.
Restoran ini menyediakan menu set lengkap dengan kentang goreng atau nasi dan salad. Namun, kombinasi favorit yang selalu dipesan adalah satu sandwich falafel, satu sandwich alpukat dengan keju, serta minuman jahe kering. Menu sayuran di sini selalu menggunakan bahan-bahan segar yang kaya rasa.
Menyusuri Kyoto (13.00 – 14.00 siang)

Setelah kenyang menikmati hidangan khas Timur Tengah tersebut, perjalanan dilanjutkan ke arah timur menyusuri jalan raya 101 selama kurang lebih 45 menit menuju destinasi berikutnya.
Ginkaku-ji (Paviliun Perak) (14.00 – 15.00 sore)

Ginkaku-ji atau Paviliun Perak adalah kuil zen indah yang terletak di sudut timur laut Kyoto. Kompleks abad ke-13 ini biasanya lebih tenang dibandingkan Kinkaku-ji (Paviliun Emas). Di sini terdapat taman pasir luas dengan tumpukan pasir berbentuk menyerupai Gunung Fuji.
Suasana di kuil ini terasa sangat damai. Pengunjung cenderung merendahkan suara mereka, dan pengunjung dapat berjalan ke area belakang kuil untuk menikmati pemandangan seluruh kompleks serta kota Kyoto dari ketinggian. Tersedia pula toko suvenir yang menjual berbagai jenis omamori penolak bala.
Jalur Filsuf / The Philosopher’s Path (15.00 – 16.00 sore)

Inilah bagian paling berkesan dari itinerari ini, yaitu The Philosopher’s Path atau dalam bahasa Jepang disebut tetsugaku no michi 哲学の道. Jalur sepanjang dua kilometer ini dinamai dari seorang filsuf Jepang, Nishida Kitaro, yang biasa bermeditasi sambil berjalan di sepanjang sungai ini menuju Universitas Kyoto pada awal tahun 1900-an.
Meskipun saat musim bunga ceri jalur ini dipenuhi kelopak merah muda, pemandangan hijau subur di bulan Mei juga menawarkan keindahan tersendiri.
Jalur ini menawarkan ketenangan yang luar biasa dengan bangku-bangku batu serta kuil kecil di sepanjang jalan bagi pejalan kaki yang ingin beristirahat.

Setelah jalur tersebut berakhir, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan melewati berbagai kuil menuju destinasi berikutnya.
Kiyomizudera (16.00 – 17.00 sore)

Kiyomizudera 清水寺 adalah kompleks kuil Buddha bersejarah yang sangat populer. Meskipun menjadi salah satu titik yang paling ramai dikunjungi wisatawan, suasananya tetap memukau, terutama saat memandang lanskap Kyoto yang dikelilingi rimbunnya pepohonan hijau.
Area ini juga menjadi tempat yang tepat untuk berburu oleh-oleh atau omiyage. Toko-toko di sepanjang jalan menuju kuil menawarkan berbagai pilihan barang, mulai dari makanan, kerajinan tembikar, hingga masker tradisional.
Jalan-jalan di Sepanjang Sungai Kamo Bagian 2 (17.00 – 17.30 sore)

Dengan kantong berisi oleh-oleh di tangan, perjalanan berlanjut kembali ke arah barat menuju Sungai Kamo sebelum menyusuri jalanan kota yang mulai memasuki waktu senja.
Makan Malam: Mumokuteki Cafe & Foods (17.30 – 19.30 malam)

Perhentian terakhir malam ini berada di kawasan perbelanjaan Shinkyogoku. Mumokuteki Cafe & Foods sepintas tampak seperti toko pakaian, namun papan menu dan replika makanan di depan pintu masuk akan menuntun Anda ke tempat yang tepat.
Kafe kecil ini begitu berkesan hingga menjadi pilihan tempat merayakan ulang tahun pada tahun lalu.
Restoran ini menyediakan menu berbahasa Inggris lengkap dengan ikon khusus untuk menandai hidangan yang menggunakan kaldu ikan. Menu andalan di sini adalah set burger alpukat yang menggunakan patty tahu, mayones kedelai, roti buatan sendiri, disajikan dengan salad dan kentang wedges. Tersedia pula hidangan penutup seperti kue keju dan tiramisu yang lezat. Mengingat tempatnya yang cukup kecil, pengunjung mungkin perlu menunggu beberapa saat jika kursi penuh.
Menikmati Matahari Terbenam

Rangkaian perjalanan hari itu pun selesai. Dari kawasan pusat, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik bus kembali ke tempat menginap. Sesampainya di kamar, waktunya melepas lelah dengan berendam air hangat, membaca buku, dan menikmati ketenangan setelah seharian menyusuri keindahan Kyoto.








