Home / Travel / Fenomena Karoshi: Saat Orang Jepang “Mati-Matian” untuk Bekerja

Fenomena Karoshi: Saat Orang Jepang “Mati-Matian” untuk Bekerja

Masyarakat Jepang dikenal memiliki etos kerja yang tinggi serta dedikasi yang luar biasa terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. Jam kerja yang panjang dan loyalitas mutlak biasanya dibalas dengan jaminan pensiun yang layak, berbagai tunjangan, serta sistem pekerjaan seumur hidup, meski jaminan tersebut kini mulai bergeser. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar demi loyalitas tersebut, dan bagi sebagian orang, harganya adalah nyawa.

Fenomena bekerja hingga meninggal dunia bukanlah hal yang eksklusif hanya terjadi di Jepang, tetapi negara ini memandangnya dengan tingkat keseriusan yang jauh lebih tinggi. Dikenal dengan istilah karoshi (過労死) yang bahkan sudah masuk ke dalam kamus bahasa Inggris, kematian akibat terlalu lelah bekerja telah menjadi masalah sosial yang kerap disoroti oleh media lokal maupun internasional. Masalah kesehatan yang timbul akibat stres tingkat tinggi dalam jangka panjang biasanya memicu serangan jantung dan stroke. Selain itu, tekanan ini juga dapat mendorong seseorang melakukan bunuh diri, yang memiliki sebutan tersendiri yaitu karojisatsu (過労自殺).

Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang (MHLW), kematian mendadak pada karyawan yang bekerja rata-rata 65 jam seminggu atau lebih selama lebih dari 4 minggu, atau rata-rata 60 jam seminggu selama lebih dari 8 minggu, dapat dikategorikan sebagai karoshi.

Seberapa Serius Masalah Ini?

Japanese man suffering from karoshi
Sumber: Héctor García

Kasus karoshi pertama tercatat pada tahun 1969, dan istilah tersebut resmi diciptakan sekitar satu dekade kemudian pada tahun 1978. Buku berjudul Karoshi yang diterbitkan pada tahun 1982 berhasil mengangkat isu ini ke permukaan, namun masalah ini baru benar-benar diakui sebagai krisis sosial yang besar pada era Bubble Economy di tahun 1980-an.

Kematian sejumlah petinggi perusahaan secara mendadak tanpa riwayat penyakit sebelumnya memicu kehebohan di media dan menciptakan kekhawatiran di tengah masyarakat. Publik merasa cemas karena mereka sendiri menjalani jam kerja yang tidak kalah panjang dari para eksekutif tersebut. Situasi ini mendesak pemerintah untuk turun tangan dan mulai mencatat serta mempublikasikan data resmi mengenai karoshi sebagai salah satu penyebab kematian.

Berdasarkan data Labor Force Survey, hampir seperempat pekerja pria di Jepang atau sekitar 7,8 juta orang menghabiskan lebih dari 60 jam per minggu di tempat kerja pada tahun 1988. Angka tersebut melonjak hingga 2,4 kali lipat dibandingkan tahun 1975. Meskipun batas statistik minimal berada di angka 60 jam, durasi kerja mingguan yang normal bagi banyak pekerja bisa mencapai 70 hingga 90 jam. Budaya hidup untuk atasan dan perusahaan membuat mereka merasa harus menunjukkan loyalitas semacam itu. Sering kali, pekerjaan tambahan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau yang disebut furoshiki, di mana karyawan bekerja di luar jam resmi tanpa tercatat dan pihak perusahaan pura-pura tidak tahu.

Survei pemerintah menunjukkan bahwa 90 persen pekerja tidak memahami konsep keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Bahkan, empat dari lima orang mengaku sanggup membatalkan janji atau rencana pribadi jika atasan mereka meminta untuk lembur.

Statistik yang lebih baru membuktikan bahwa situasi ini belum banyak berubah. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat bahwa 28 persen karyawan di Jepang bekerja selama 50 jam atau lebih dalam seminggu pada tahun 2001. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa seperti Jerman (5,3 persen), Finlandia (4,5 persen), Swedia (1,9 persen), dan Belanda (1,4 persen). Jepang berada di tingkat yang serupa dengan Amerika Serikat sebagai negara maju dengan durasi kerja terlama, meskipun banyak pihak meyakini bahwa jam kerja nyata di Jepang jauh lebih tinggi karena banyaknya jam lembur yang tidak tercatat.

Pada tahun 2005, MHLW melaporkan ada 328 kasus karyawan yang mengalami karoshi, meningkat lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan tahun 2000.

Kendati demikian, angka statistik resmi tersebut diyakini masih jauh dari realitas di lapangan. Banyak keluarga memilih berduka dalam diam dan tidak memperpanjang masalah ini, sementara sebagian besar perusahaan enggan mengakui tanggung jawab atas kematian tersebut. Para pengacara dan akademisi memperkirakan jumlah korban karoshi setiap tahunnya bisa mencapai sekitar 9.000 jiwa, angka yang hampir setara dengan jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

Man in suit collapsed on train station floor
Sumber: Héctor García

Untuk memahami betapa parahnya budaya kerja berlebihan ini, kita dapat melihat kisah Hiraoka Satoru yang pernah dimuat dalam surat kabar Chicago Tribune pada November 1988 dengan tajuk Japanese Live and Die for their Work. Sebagai seorang pengawas di pabrik bantalan bola, Hiraoka biasanya bekerja selama 12 hingga 16 jam sehari, yang jika ditotal mencapai 72 hingga 95 jam dalam seminggu. Dalam tiga tahun menjelang kematiannya, ia mencatatkan jam kerja tahunan hampir mencapai 3.700 jam, jauh melampaui jam kerja standar tahunan sekitar 2.080 jam tanpa libur.

Ironisnya, sebagian besar korban karoshi ini tidak pernah menerima kompensasi yang layak untuk jam lembur yang telah mereka habiskan.

Bagaimana Cara Menangani Karoshi?

man in suit about to die from karoshi
Sumber: Héctor García

Sejumlah perusahaan di Jepang mulai berupaya mengurangi kasus karoshi serta mempromosikan keseimbangan hidup bagi para karyawannya. Toyota, misalnya, menetapkan batasan ketat maksimal 360 jam lembur dalam setahun. Selain itu, beberapa kantor memutar rekaman suara setiap jam di petang hari untuk mengingatkan para pegawai agar segera pulang dan beristirahat. Ada pula perusahaan yang memberlakukan aturan bebas lembur di mana semua karyawan wajib meninggalkan kantor pada pukul 17.30 sore.

Namun, kebijakan yang diterapkan terkadang masih belum cukup membantu para pekerja. Meskipun di atas kertas perusahaan tampak mengakui adanya masalah, lingkungan kerja yang kompetitif sering kali mengucilkan mereka yang mencoba memanfaatkan kebijakan tersebut. Sebagai contoh, program dari Mitsubishi UFJ Trust & Banking yang mengizinkan karyawannya pulang tiga jam lebih awal untuk merawat anak atau kerabat lanjut usia hanya diminati oleh 34 orang dari total 7.000 karyawan.

Merasa frustrasi dengan kondisi yang ada, semakin banyak pekerja beserta keluarga mereka yang berani menyeret perusahaan yang lalai tersebut ke ranah hukum.

Sebagian individu memilih menghindari sistem korporat ini sepenuhnya dengan mengambil pekerjaan paruh waktu alih-alih menjadi roda gigi yang aus di perusahaan besar. Walaupun besaran gaji dan fasilitas yang didapatkan tidak setara dengan kompensasi korporat, kualitas keseimbangan hidup yang mereka peroleh jauh lebih baik.

Ada sebuah ungkapan yang sering digunakan untuk membedakan budaya kerja di Amerika Serikat dan Jepang dengan gaya Eropa: masyarakat Amerika Serikat dan Jepang hidup untuk bekerja, sementara orang Eropa bekerja untuk hidup. Setiap orang tentu dianjurkan untuk memberikan usaha terbaik dalam pekerjaannya, tetapi membiarkan kesehatan memburuk hingga berujung pada kematian tentu bukanlah keputusan yang sepadan. Kesadaran akan hal ini perlahan-lahan mulai tumbuh di kalangan masyarakat Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *