Musim panas di Jepang selalu identik dengan kemeriahan festival tradisional atau yang dikenal sebagai matsuri. Setiap tahunnya, berbagai perayaan meriah digelar di seluruh penjuru negeri, menawarkan pengalaman budaya yang unik dan sulit ditemukan di tempat lain. Dari tradisi leluhur hingga jajanan kaki lima yang menggugah selera, festival musim panas memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapa saja terpesona.
Festival-Festival Besar Musim Panas
Di balik semaraknya stan makanan dan warna-warni pakaian tradisional, matsuri umumnya memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang kuat. Berikut adalah beberapa perayaan utama yang hampir selalu hadir saat musim panas di Jepang.
Tanabata Matsuri (七夕祭)

Tanabata, yang berarti “Malam Ketujuh”, biasanya dirayakan pada bulan Juli. Berdasarkan legenda rakyat, dua dewa bintang yaitu Orihime dan Hikoboshi yang disimbolkan oleh bintang Vega dan Altair terpisahkan oleh Bima Sakti dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali pada hari ketujuh di bulan ketujuh. Perayaan ini dulunya dirayakan berdekatan dengan festival Obon pada periode Edo.

Selama festival Tanabata berlangsung, masyarakat menuliskan berbagai harapan di atas secarik kertas warna-warni lalu menggantungkannya pada pohon bambu dengan harapan impian mereka dapat terwujud. Pemandangan hiasan bambu dan kertas warna-warni yang meriah dapat ditemui di berbagai sudut kota.
Obon (お盆)

Obon merupakan salah satu perayaan musim panas terbesar di Jepang. Meskipun bukan hari libur nasional resmi, sebagian besar pekerja mendapatkan jatah libur sekitar tiga hari untuk memperingati tradisi ini. Pada periode Obon, masyarakat memberikan penghormatan kepada arwah leluhur melalui tarian khusus yang disebut Bon Odori serta mengunjungi makam keluarga.
Apa yang Membuat Matsuri Begitu Istimewa?
Terdapat sejumlah elemen khas yang membedakan festival di Jepang dengan perayaan di negara-negara lainnya.
Pilihan Busana Tradisional

Yukata adalah pakaian tradisional Jepang yang sering dijuluki sebagai kimono musim panas. Busana ini hadir dalam beragam warna dan corak menarik. Mengenakan yukata saat mendatangi festival musim panas memberikan nuansa autentik sekaligus memperkuat suasana perayaan.
Kendati demikian, memakai yukata memiliki beberapa tantangan tersendiri, seperti memerlukan bantuan orang lain untuk mengenakannya, langkah kaki yang harus dibuat kecil, hingga kerumitan saat harus pergi ke kamar kecil. Kainnya pun kerap kali bergeser dari ikatan sabuk obi. Namun, justru itulah bagian dari gaya klasiknya.
Penampilan dengan yukata juga biasanya disempurnakan dengan tatanan rambut ke atas yang dihiasi jepit rambut dekoratif.

Bagi pria, yukata versi maskulin kini lebih jarang dipakai namun tetap tersedia, dengan letak sabuk obi yang lebih rendah serta warna yang cenderung lebih netral.

Sebagai alternatif yang lebih santai dan praktis bagi kaum pria, tersedia pula jinbei dengan tampilan yang tidak kalah menarik.

Jinbei versi wanita juga mulai populer belakangan ini, tampil beda dengan warna-warna cerah yang feminin serta tambahan aksen renda.

Bagi anak-anak atau remaja yang menginginkan kenyamanan tanpa ribet, gaun yukata bergaya modern kini menjadi pilihan favorit.

Mengenakan pakaian biasa tentu tetap diperbolehkan jika tidak ingin repot, meski mengenakan busana tradisional tentu memberi pengalaman yang lebih berkesan.
Pesta Kembang Api (花火大会)

Pertunjukan kembang api atau hanabi di Jepang dikenal sangat spektakuler dengan durasi yang panjang, ukuran yang besar, serta warna yang memukau. Terkadang, bentuk kembang api bahkan menyerupai karakter populer seperti Hello Kitties, Anpanman, hingga Doraemon.
Momen menonton hanabi selalu dinantikan banyak orang dan kerap menghadirkan suasana romantis di tengah ramainya penonton.
Mikoshi (神輿)

Pada hari pertama festival bernuansa Shinto, warga setempat biasanya bergotong royong memikul mikoshi atau kuil portabel berkeliling lingkungan sekitar menuju lokasi acara. Tradisi ini dipercaya membawa dewa dari kuil menuju tempat perayaan, diiringi teriakan semangat dari para pembawanya.
Tradisi memikul mikoshi mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan dan kerja sama dalam masyarakat Jepang, di mana pekerjaan berat terasa lebih ringan bila dikerjakan bersama-sama.
Musik Festival
Suasana jalanan selama musim panas disemarakkan oleh alunan musik tradisional yang dimainkan oleh grup musik lokal menggunakan instrumen seperti drum taiko dan seruling fue, diselingi berbagai pertunjukan panggung mulai dari tarian hingga atraksi seni.
Ikut serta dalam kelompok musik tradisional lingkungan setempat merupakan salah satu cara terbaik untuk meresapi semaraknya musim panas.
Tarian Festival
Tarian Bon Odori yang ditarikan secara melingkar mengelilingi panggung yagura menjadi pemandangan yang lazim dijumpai. Gerakan tari dan iringan musiknya berbeda di tiap daerah, bahkan terkadang menggunakan lagu anak-anak.
Secara historis, tarian ini awalnya dilakukan untuk menyambut arwah para leluhur selama festival Obon, berakar dari kisah seorang murid Buddha yang menari penuh sukacita setelah ibunya terbebas dari penderitaan.
Kuliner Khas Matsuri
Berjalan-jalan menyusuri festival tentu menguras tenaga dan membuat perut keroncongan. Sebagian besar stan yang dipadati pengunjung di area festival adalah stan kuliner.
Yakisoba

Mi yakisoba yang gurih, hangat, dan berpadu dengan saus manis asin mampu mengenyangkan perut. Hidangan ini biasanya disempurnakan dengan tambahan mayones, serpihan rumput laut, serta jahe merah acar.
Taiyaki

Kue berbentuk ikan ini dimasak menggunakan cetakan khusus dengan isian pasta kacang merah atau krim manis di bagian dalamnya, menawarkan tekstur luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut.
Permen dan Kudapan Manis

Berbagai stan menawarkan aneka jajanan manis seperti harum manis, es serut, buah berlapis sirup gula, hingga permen kenyal yang menggugah selera.
Takoyaki

Bola-bola adonan berisi potongan gurita ini disajikan hangat dengan siraman saus takoyaki, mayones, taburan katsuobushi, dan rumput laut kering yang membuat ketagihan.
Camilan Tusuk

Makanan yang disajikan dengan tusukan bambu menjadi pilihan praktis untuk dinikmati sembari berjalan-jalan menikmati festival. Mulai dari mentimun dingin, buah nanas, sosis, daging panggang, hingga pisang lapis cokelat beku dapat ditemukan dengan mudah.
Aktivitas Seru di Festival
Selain menikmati makanan, pengunjung dapat menikmati berbagai permainan karnaval dan berburu suvenir.

Anak-anak maupun orang dewasa sering kali membeli topeng plastik karakter anime favorit untuk dipakai di wajah atau diselipkan di bagian belakang kepala.
Permainan Tradisional
Berbagai permainan ketangkasan seperti lempar gelang dan permainan berhadiah turut memeriahkan suasana. Salah satu permainan klasik yang populer adalah kingyo sukui, yaitu kegiatan menangkap ikan mas menggunakan jaring kertas tipis yang mudah robek jika terkena air terlalu lama.

Menangkap satu atau dua ekor ikan tentu memberikan kepuasan tersendiri bagi yang berhasil, meski tantangan sebenarnya adalah cara merawat ikan tersebut agar tetap bertahan hidup di rumah.
Nikmati Keseruan Natsu Matsuri
Bagi yang belum berkesempatan mengunjungi Jepang secara langsung, nuansa matsuri tetap bisa dinikmati lewat suasana santai di rumah sambil mencicipi mi khas dan menyaksikan tayangan kembang api secara daring. Namun, jika memiliki kesempatan untuk mendatangi festival musim panas secara langsung, pastikan untuk tidak melewatkan pengalaman luar biasa tersebut!







