Home / Travel / 10 Sterotip Jepang Paling Konyol yang Sering Disalahartikan

10 Sterotip Jepang Paling Konyol yang Sering Disalahartikan

Setiap kebudayaan di dunia pasti tidak luput dari berbagai stereotip, termasuk masyarakat Jepang. Sebagian dari anggapan keliru tersebut memang berakar dari secercah kebenaran yang dibesar-besarkan secara berlebihan, sementara beberapa mitos lainnya terdengar sangat tidak masuk akal.

Seiring dengan bertambahnya wawasan dan pemahaman mendalam mengenai kebudayaan Negeri Sakura, kita dapat melihat bagaimana stereotip-stereotip tersebut bisa terbentuk dan apa kenyataan sebenarnya di balik mitos tersebut. Mari kita bahas satu per satu.

10. Semua Orang Jepang Sangat Lancar Berbahasa Inggris

japanese man holding hand out next to man riding horse

Sama seperti sistem pendidikan bahasa asing di banyak negara, para pelajar di Jepang juga mendapatkan pelajaran bahasa Inggris selama bertahun-tahun di sekolah. Kendati demikian, fokus pembelajaran mereka lebih condong pada kemampuan menulis ketimbang percakapan lisan. Hanya mereka yang benar-benar memiliki ketertarikan tinggi dan mempelajari bahasa tersebut di luar jam sekolah yang biasanya menguasainya dengan baik.

Banyak siswa hanya belajar sekadar untuk lulus ujian, sehingga kemampuan itu berangsur-angsur pudar setelah mereka lulus. Ditambah lagi dengan minimnya kebutuhan penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berbahasa Inggris rata-rata warga Jepang berada pada tingkat dasar. Jadi, jangan merasa heran jika Anda tidak menemukan semua orang di sana dapat berbicara bahasa Inggris dengan fasih.

9. Warga Jepang Makan Daging Paus dan Lumba-lumba Setiap Hari

pair of jumping dolphins in foreground with island in background

Meskipun masyarakat Jepang memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mengonsumsi daging paus dan lumba-lumba dibandingkan bangsa lain, kebiasaan ini tidak sesering yang dibayangkan orang. Mengonsumsi daging paus di sana bisa disamakan dengan memakan daging aligator atau tupai di Amerika Serikat—cukup langka, tetapi tetap ada peminatnya.

Tradisi mengonsumsi daging paus telah berlangsung selama ratusan tahun di Jepang. Pada masa Perang Dunia II dan era pascaperang, daging paus menjadi sumber protein yang mudah didapat dan melimpah. Hingga kini, produk olahan daging tersebut masih bisa ditemukan di beberapa toko, namun tentu saja bukan merupakan menu harian yang dikonsumsi secara masif.

8. Restoran Panggangan Hibachi Menggunakan Nama yang Benar

white traditional hibachi fire bowl on bright orange background

Peralatan pada gambar di atas adalah sebuah hibachi asli. Panggangan yang biasa ditemui di restoran-restoran bertema hibachi sebenarnya adalah panggangan teppanyaki. Hibachi, atau yang berarti “mangkuk api”, merupakan alat pemanas tradisional Jepang berbentuk silinder atau kotak yang dilapisi bahan tahan panas untuk menampung arang yang menyala.

Di wilayah Amerika Utara, istilah hibachi keliru digunakan untuk menyebut kompor masak kecil berbahan bakar arang (yang di Jepang disebut shichirin) atau plat besi panas (teppan) yang dipakai dalam restoran teppanyaki.

7. Orang Jepang Sangat Menjaga Ruang Pribadi

japan stereotype of packed commuter train with japanese travellers

Banyak pihak menganggap orang Jepang cenderung kaku dan tidak suka bersentuhan fisik, terutama dalam hal kemesraan di depan umum seperti berpegangan tangan atau berciuman. Namun, pandangan ini runtuh seketika jika Anda melihat situasi komuter harian di dalam kereta pada jam sibuk.

Jepang adalah negara yang padat penduduk. Mobilitas yang tinggi menuntut setiap orang untuk berpindah tempat dengan cepat, sehingga berdesak-desakan di dalam kereta sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Demi bisa sampai ke tempat kerja atau sekolah tepat waktu, mereka tidak keberatan untuk berdesakan bagaikan ikan sarden.

6. Masyarakat Jepang Masih Menyimpan Dendam Perang Dunia II dan Bersifat Xenofobia

iwo jima japanese military men peering into distance

Anggapan bahwa seluruh warga Jepang masih memendam kebencian akibat Perang Dunia II atau memusuhi orang asing tentu sangat berlebihan. Pada kenyataannya, sebagian besar masyarakat Jepang saat ini sangat menyukai budaya Barat serta menyambut baik kedatangan pendatang dari berbagai belahan dunia.

Begitu pula dengan mitos yang menyebutkan bahwa warga asing mustahil bisa menjadi warga negara Jepang. Prosesnya memang membutuhkan usaha yang tidak mudah, tetapi hal tersebut sangat mungkin dilakukan, seperti dibuktikan oleh tokoh-tokoh seperti Donald Keene yang bahkan pernah menerima penghargaan langsung dari sang kaisar.

5. Olahraga Tradisional Jepang Hanya Bisa Dikuasai oleh Orang Jepang Asli

sumo match against japanese wrestler and foreigner wrestler

Ada segelintir orang yang meyakini bahwa hanya ras Yamato saja yang mampu menguasai aspek-aspek tradisional Jepang, mulai dari bahasa hingga olahraga. Faktanya, asumsi ini sama sekali tidak terbukti. Ambil contoh olahraga sumo yang sangat ikonik; dalam beberapa tahun terakhir, gelar tertinggi yokozuna justru banyak diraih oleh atlet asal Hawaii atau Mongolia.

Contoh lainnya adalah Jero, seorang penyanyi musik enka blasteran yang mencatatkan sejarah di industri musik Jepang. Hal ini membuktikan bahwa bakat dan keahlian tidak terbatas oleh latar belakang etnis.

4. Orang Jepang Selalu Bersikap Sangat Sopan Setiap Saat

barack obama being polite to japanese politicians with deep bow

Pengalaman berinteraksi dengan warga Jepang seringkali meninggalkan kesan bahwa mereka adalah orang-orang yang teramat ramah dan sopan. Walau keramahan tersebut memang nyata, tingkat kesopanan masyarakat Jepang pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Keberadaan bentuk bahasa khusus yang menjunjung tinggi kesopanan di dalam tata bahasa Jepang semata-mata merupakan bagian dari norma sosial mereka.

3. Warga Jepang Hanya Minum Sake dan Lemah Terhadap Alkohol

salaryman in suit asleep on train after too much sake

Masyarakat Jepang tentu saja mengonsumsi berbagai jenis minuman beralkohol selain sake, sama seperti orang Prancis yang gemar minum anggur atau warga Jerman dengan bir. Industri bir di Jepang bahkan berkembang sangat pesat dan dianggap serius.

Terkait anggapan bahwa orang Jepang tidak kuat meminum alkohol, hal tersebut berkaitan dengan kondisi biologis di mana sekitar 40 hingga 45 persen warga Asia memiliki kesulitan memproses alkohol yang sering disebut sebagai “Asian Glow”. Di luar kondisi tersebut, banyak warga Jepang yang memiliki toleransi tinggi terhadap minuman beralkohol.

2. Menu Makanan Harian Orang Jepang Selalu Sushi

variety of colorful japanese sushi arranged on tray

Meskipun sushi berasal dari Jepang dan memiliki cita rasa yang lezat, kuliner negara ini tidak hanya terbatas pada sushi saja. Masih banyak hidangan lain yang tidak kalah populer seperti tempura, gyoza, okonomiyaki, dan yakisoba. Bahkan, ada sebagian warga Jepang yang tidak menyukai sushi sama sekali.

Sebagai negara kepulauan, ketersediaan produk hasil laut di Jepang memang lebih melimpah, mirip seperti pasokan daging sapi yang berlimpah di Amerika Serikat.

1. Semua Orang Jepang Menonton Anime dan Membaca Manga

stereotypical otaku in japan reading manga surrounded by stuffed anime toys

Anak-anak di Jepang menggemari anime dengan tingkat antusiasme yang kurang lebih sama seperti anak-anak di Amerika Serikat menikmati serial animasi lokal. Seiring bertambahnya usia, sebagian dari mereka beralih membaca manga. Kegemaran ini sebenarnya mirip dengan budaya membaca buku komik di negara-negara barat.

Walaupun ada karya-karya universal seperti film dari Studio Ghibli yang dinikmati oleh berbagai kalangan usia, bukan berarti setiap individu di Jepang otomatis menjadi penggemar berat anime atau manga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *