Home / Travel / Belajar Bahasa Isyarat Jepang dan Kehidupan Tunarungu di Jepang: Tingkatkan Kemampuan Bahasa Jepang Sekaligus Pelajari Hal Baru!

Belajar Bahasa Isyarat Jepang dan Kehidupan Tunarungu di Jepang: Tingkatkan Kemampuan Bahasa Jepang Sekaligus Pelajari Hal Baru!

header 640x 12

Mempelajari Bahasa Isyarat Jepang atau Japanese Sign Language (JSL) ternyata bukan hal yang instan. Meskipun hanya memerlukan beberapa gerakan dasar, merangkainya secara luwes membutuhkan latihan yang cukup. Beruntung, instruktur dan rekan-rekan di kelompok belajar JSL sangat sabar membimbing proses adaptasi tangan untuk membentuk isyarat huruf hiragana.

Akar Sejarah dan Sang Dewa yang Tuli

Isu disabilitas rungu di Jepang memiliki akar sejarah yang sangat panjang, bahkan terekam hingga dalam Kojiki, salah satu naskah Shinto tertua. Berdasarkan mitologi penciptaan, sepasang dewa-dewi bernama Izanagi dan Izanami turun tangan membentuk kepulauan Jepang. Setelah daratan terbentuk, mereka berencana melahirkan dewa-dewi penerus melalui sebuah ritual mengelilingi pilar.

Dalam prosesi tersebut, Izanami menyapa Izanagi terlebih dahulu yang dianggap melanggar aturan ritual. Akibatnya, mereka melahirkan “anak lintah” atau leech child—sesosok bayi tanpa tulang yang langsung dilarung menggunakan perahu buluh. Setelah mengulang ritual dengan tata cara yang benar, mereka akhirnya sukses melahirkan jajaran dewa lainnya.

Meski sempat dibuang, anak lintah tersebut tumbuh dewasa dan menjelma menjadi Ebisu, dewa Shinto yang menaungi para nelayan, pedagang, serta keberuntungan. Menariknya, Ebisu digambarkan memiliki telinga yang besar namun mengalami tuli, sebuah efek samping dari asal-usulnya. Meski demikian, masyarakat tradisional percaya bahwa mereka tetap bisa menarik perhatian sang dewa dengan memukul-mukul panci atau wajan.

Jejak Kelam Pendidikan Disabilitas Rungu di Jepang

Mengingat Ebisu adalah dewa yang dihormati meski tuli, orang mungkin mengira sejarah kaum rungu di Jepang akan berjalan mulus. Kenyataannya, sebelum periode Meiji, informasi mengenai kaum tuli sangat minim dan kehidupan mereka jauh lebih berat dibandingkan penyandang disabilitas lainnya.

Jika penyandang tunanetra di masa lalu masih bisa bekerja sebagai pemijat shiatsu, pemain alat musik tradisional, atau pemberi pinjaman uang, kaum rungu tidak memiliki hak istimewa serupa. Sebagian besar dari mereka hanya bisa mengandalkan pekerjaan kasar seperti bertani.

Situasi mulai bergeser pada tahun 1862 ketika Keshogunan Tokugawa mengirim delegasi ke Eropa untuk mempelajari penanganan disabilitas rungu, termasuk mengunjungi sekolah khusus. Salah satu delegasi, Yozo Yamao, melihat anak-anak perempuan tuna rungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat di sebuah pabrik di Inggris. Terinspirasi dari pengalaman tersebut, ia bersama tokoh-tokoh lain mendirikan sekolah khusus rungu pertama di Jepang, seperti Kyoto Mouain.

Seorang tokoh bernama Tashiro Furukawa ditunjuk untuk mengajar tiga anak tuna rungu menggunakan metode yubimoji (mengeja dengan jemari), membaca, serta menulis bahasa Jepang. Sistem fingerspelling inilah yang kemudian menjadi fondasi JSL modern.

Namun, perkembangan pendidikan ini tidak serta-merta menghapus diskriminasi sosial. Menjelang era Taisho, sekolah tuna rungu mulai memisahkan diri dari sekolah tunanetra dan meninggalkan bahasa isyarat demi fokus pada metode membaca gerak bibir serta artikulasi lisan yang disebut kouwa. Disabilitas rungu kerap dipandang sebelah mata sebagai sebuah penyakit atau kekurangan yang membuat penyandangnya terisolasi.

Perjuangan Hukum dan Kasus Pembunuhan 1965

Ketidakadilan yang dialami komunitas rungu mencapai titik krusial pada tahun 1965. Dua pria tunarungu, Kido Takashi dan Sato Yoshikazu, dituduh melakukan pembunuhan terhadap pemilik restoran sushi. Insiden tersebut bermula dari keributan di restoran akibat ejekan terhadap bahasa isyarat yang mereka gunakan.

Pemilik restoran yang marah sempat memukul salah satu dari mereka menggunakan sandal sebelum akhirnya terjatuh dan tewas akibat benturan di kepala. Sementara para pelaku penyerangan yang bisa mendengar melarikan diri, kedua pria tunarungu tersebut justru diseret ke jalur hukum dengan tuduhan pembunuhan.

Komunitas rungu dan media massa berupaya menggalang dana serta mencari juru bahasa. Sayangnya, banyak pengacara enggan terlibat karena stigma negatif terhadap terdakwa tunarungu, sementara juru bahasa yang ada belum memahami istilah hukum formal. Selama interogasi kepolisian, hak mereka atas pendampingan komunikasi yang layak diabaikan, dan keterlibatan juru bahasa dibatasi secara sepihak.

Kedua terdakwa sempat dijatuhi hukuman penjara hingga akhirnya kehadiran pengacara tunarungu pertama di Jepang, Matsumoto Masayuki, berhasil meringankan hukuman mereka. Kendati demikian, keringanan tersebut diberikan bukan karena mereka terbukti tidak bersalah, melainkan karena anggapan bahwa kapasitas mental mereka dianggap lambat—sebuah kemenangan kecil yang menyisakan kepahitan.

Dinamika Organisasi: JFD versus D PRO

Di tengah berbagai tantangan sosial, para aktivis mendirikan Japanese Federation of the Deaf (JFD) pada akhir 1940-an untuk memperjuangkan hak-hak sipil serta merangkul komunitas tuna rungu secara luas. Prinsip utama JFD adalah bahwa penyandang tunarungu pada dasarnya adalah warga Jepang yang kebetulan tidak bisa mendengar, mencakup mereka yang menggunakan alat bantu dengar maupun implan koklea.

Di sisi lain, dekade 1980-an melahirkan kelompok tandingan bernama D PRO. Berbeda dengan JFD, D PRO memposisikan diri sebagai bagian dari kelompok budaya dan linguistik yang sepenuhnya terpisah dari masyarakat umum. Mereka meyakini bahwa identitas utama seorang tunarungu adalah budayanya, dan individu yang lahir dari orang tua tunarungu serta terbiasa menggunakan bahasa isyarat dianggap memiliki kemurnian budaya yang lebih tinggi.

Perdebatan sengit kerap terjadi di antara kedua kubu, terutama mengenai definisi dan kemurnian JSL. D PRO bersikeras bahwa JSL adalah bahasa mandiri yang terpisah total dari struktur bahasa Jepang lisan. Sementara itu, JFD memandang isyarat sebagai bentuk lain dari bahasa Jepang, sebuah strategi pragmatis yang turut mempermudah pengajaran JSL di sekolah umum tanpa memicu penolakan dari birokrasi pendidikan.

Karakteristik Unik JSL dan Pengaruh Budaya Pop

Sebagai bahasa yang hidup, JSL sangat erat kaitannya dengan nuansa budaya Jepang. Contohnya, jika bahasa isyarat Amerika (ASL) mengisyaratkan kata “halo” dengan gerakan mirip penghormatan militer di dekat dahi, JSL menggunakan gestur dua jari telunjuk yang saling mendekat dan membungkuk, menyerupai gestur orang Jepang yang saling membungkuk hormat.

Dalam proses pembelajaran, penutur JSL sering kali meminjam elemen onomatope gaya manga untuk mengekspresikan emosi atau suara tertentu. Kosakata baru juga terus lahir setiap tahunnya melalui riset yang dilakukan oleh JFD guna mewadahi istilah-istilah modern yang belum memiliki padanan isyarat tradisional.

JSL mengenal beberapa komponen utama dalam penggunaannya:

  • Yubimoji (Mengeja Jari): Abjad visual Jepang di mana satu bentuk tangan mewakili satu bunyi fonetik, biasanya dipakai untuk kata serapan asing, nama keluarga, atau istilah asing.
  • Kuusho (Menulis di Udara): Teknik melukiskan bentuk kanji di ruang kosong untuk memperjelas makna kosakata tertentu.
  • Kouwa (Gerakan Bibir): Warisan era Taisho di mana pengucapan bentuk bibir tetap disertakan untuk membedakan kanji yang memiliki pelafalan serupa.

Masa Depan Bahasa Isyarat di Jepang

Situasi bagi kaum tunarungu di Jepang berangsur-angsur membaik seiring dengan pengesahan regulasi pemerintah yang mendukung penyediaan juru bahasa isyarat di berbagai sektor publik. Lembaga pelatihan resmi serta keterlibatan figur publik, seperti anggota Kekaisaran Jepang termasuk Putri Akishino dan putrinya Putri Kako yang aktif mempelajari serta menggunakan bahasa isyarat, turut mendongkrak kesadaran masyarakat luas.

Bagi siapa pun yang tertarik mendalami komunikasi visual ini, berbagai sarana penunjang kini semakin mudah diakses, mulai dari komunitas lokal, kanal video edukasi, aplikasi seluler, hingga kamus digital interaktif. Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap JSL, jurang komunikasi perlahan-lahan runtuh, membuka jalan bagi masyarakat yang lebih inklusif bagi seluruh warga Jepang, baik yang bisa mendengar maupun yang tidak.

[[MEDIA_0]]

[[MEDIA_1]]

[[MEDIA_2]]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *