Home / Travel / Alasan Jepang Secara Historis Membenci Kumis (dan Semua Bulu Wajah Lainnya)

Alasan Jepang Secara Historis Membenci Kumis (dan Semua Bulu Wajah Lainnya)

header 640x 17

Jika berkunjung ke Jepang, Anda mungkin akan langsung menyadari bahwa sebagian besar pria di sana, terutama para pekerja kantoran atau salaryman, tidak memelihara kumis atau janggut. Meskipun mencukur bulu wajah terkadang bisa merepotkan, tampil dengan kumis di Jepang justru dapat memicu masalah besar. Keputusan untuk datang ke tempat kerja dengan kumis bukan sekadar ditegur oleh atasan, tetapi bahkan berisiko kehilangan pekerjaan. Kenyataan ini memang terdengar menyedihkan, namun itulah yang terjadi.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Di negara yang modern seperti Jepang, bukankah seharusnya masyarakat lebih terbuka dan tidak menghakimi seseorang hanya karena bulu di wajah mereka? Mari kita telusuri sejarah perjalanan rambut wajah di Jepang, mulai dari masa lalu hingga era modern, untuk memahami fungsi dan pandangan masyarakat terhadapnya.

Kosakata Bahasa Jepang untuk Rambut Wajah

mustache embroidery
Source: Hey Paul Studios

Berbeda dengan bahasa Inggris yang memiliki banyak istilah untuk setiap jenis rambut wajah, bahasa Jepang hanya menggunakan satu kata utama untuk menyebut kumis, janggut, cambang, dan bulu di sekitar mulut, yaitu hige. Meskipun praktis, penggunaan kanji untuk masing-masing jenisnya memiliki perbedaan:

  • Kumis: ひげ
  • Bulu pipi: ひげ
  • Janggut dagu: ひげ

Selain itu, terdapat pula istilah spesifik yang lebih rinci:

  • Kumis di atas bibir: kuchi hige 口髭くちひげ
  • Bulu di pipi: hoohige 頬鬚 ほおひげ
  • Bulu di dagu: ago-hige 顎髯あごひげ

Sebagai catatan, istilah hige akan digunakan secara umum dalam artikel ini untuk mencakup kumis, janggut, maupun cambang.

Gaya kumis yang tumbuh tepat di atas bibir atas dikenal sebagai kuchi-hige dan merupakan jenis yang paling umum. Beberapa gaya populernya meliputi kumis model stang sepeda atau gaya Kaiser yang disebut kaizeru hige カイゼル髭ひげ, kumis sikat gigi atau chobi hige ちょび髭ひげ, serta kumis tipis seperti pensil yang disebut dojou hige 泥鰌髭どじょうひげ.

Sementara itu, ago-hige mencakup rambut wajah yang tumbuh di area dagu, bibir bawah, pipi bagian bawah, dan leher. Gaya janggut kambing atau goatee diterjemahkan sebagai yagi-hige 山羊髯やぎひげ.

Bahkan, ada pula gaya cukuran yang dibentuk menyerupai Gunung Fuji, yang dinamakan Fuji-hige 富士髯ふじひげ.

variations of japanese hige

Untuk rambut di sisi wajah dekat telinga, istilahnya sedikit berbeda dengan cambang biasa. Bagian yang berada tepat di sebelah telinga disebut momiage もみあげ, sedangkan rambut yang memanjang ke arah pipi dinamakan hoo-hige.

Kombinasi antara kumis dan janggut melingkar juga cukup sering ditemui, yang dikenal dengan sebutan round hige ラウンド髭ひげ atau kakomi 囲み.

karl no ojiisan beard hige

Terakhir, rambut wajah yang tumbuh tidak beraturan atau berupa bayangan janggut sore hari masing-masing disebut sebagai bushou-hige 無精髭ぶしょうひげ dan ao-hige 青髭あおひげ.

Sejarah Hige di Jepang

hige medieval art
Source: mils cfg

Pada masa abad pertengahan hingga awal Periode Edo di Jepang, para samurai diwajibkan untuk memelihara hige. Seorang samurai yang tidak memiliki kumis atau janggut akan menjadi bahan ejekan. Oleh karena itu, mereka yang kesulitan menumbuhkan rambut wajah, seperti Toyotomi Hideyoshi, bahkan menggunakan hige palsu.

Ketika Keshogunan Edo memasuki masa pemerintahan sipil yang disebut bunchi-seiji 文治政治ぶんちせいじ, semangat juang yang ditunjukkan lewat rambut wajah mulai dianggap sebagai tanda niat untuk melakukan pemberontakan. Akibatnya, para penguasa mulai mencukur kumis mereka dan hanya menyisakan mage, yaitu ikatan rambut di bagian belakang kepala. Pemerintah akhirnya melarang warga memelihara hige demi menjaga moral publik, kecuali bagi mereka yang memiliki bekas luka di wajah untuk disembunyikan.

Memasuki paruh kedua abad ke-17, wajah yang bersih tanpa bulu menjadi standar di kalangan warga sipil Jepang. Sementara itu, kelompok masyarakat adat Ainu di Hokkaido tetap memelihara hige. Hal ini sempat memicu pandangan merendahkan dari masyarakat daratan utama terhadap kebudayaan mereka.

Pengaruh budaya Barat pada abad ke-18 dan Era Meiji (1868–1912) sempat membuat tren hige kembali populer di kalangan pejabat tinggi Jepang. Salah satunya adalah Gaishi Nagaoka, seorang perwira militer yang memelihara kumis hingga sepanjang 70 sentimeter.

Gaishi Nagaoka mustache

Tren ini kembali meredup pada Era Taishou ketika gaya pria modern tanpa kumis mulai digemari. Meski sempat bangkit sebentar pada Era Shouwa yang militeristik, penyebaran pisau cukur aman pascaperang akhirnya menjadikan wajah bersih sebagai standar profesionalisme bagi para salaryman.

Hige di Jepang Kontemporer

Embed for https://www.youtube.com/watch?v=VNJgL3n7eWQ no longer exists

Meskipun penerimaan terhadap rambut wajah perlahan mulai meningkat, jumlah pria Jepang yang berwajah bersih tetap jauh lebih mendominasi akibat sisa-sisa pandangan lama bahwa rambut wajah dianggap tidak profesional.

Aturan perusahaan di berbagai sektor—seperti perbankan, transportasi, ritel, perhotelan, hingga industri makanan—umumnya melarang karyawannya memelihara hige. Sejumlah pekerja yang tidak terima dengan aturan tersebut bahkan sempat membawa permasalahan ini ke jalur hukum, yang dikenal sebagai hige-saiban atau pengadilan kumis.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa larangan memelihara rambut wajah di lingkungan kerja masih menjadi isu yang diperdebatkan di Jepang. Pepatah takaga hige, saredo hige yang berarti “ini sekadar kumis, tapi bisa menjadi hal yang sangat penting” mencerminkan bagaimana urusan rambut wajah memiliki makna sosial yang mendalam di negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *