Invasi alien sedang terjadi di sekitar kita, mencemari laut, hutan, taman, hingga sumber makanan manusia. Tentu saja, makhluk-makhluk ini bukan berasal dari luar angkasa, melainkan spesies invasif yang berasal dari Bumi sendiri. Spesies ini dibawa ke lingkungan asing yang bukan habitat aslinya sehingga memicu kerusakan yang signifikan. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari Jepang dan memiliki karakteristik yang sangat menarik perhatian.
Japanese Beetles

Sekilas, kumbang ini tampak cantik dengan cangkang berwarna hijau berpendar dan tembaga. Namun, kehadiran mereka dalam jumlah banyak dapat mendatangkan malapetaka bagi tanaman di pekarangan rumah.
Makhluk ini adalah Popillia japonica, atau yang lebih dikenal sebagai Japanese beetle. Di Jepang, mereka disebut sebagai mamekogane yang berarti “emas mini.” Ancaman kumbang ini telah meluas ke berbagai negara seperti China, Rusia, Portugal, Kanada, dan Amerika Serikat. Pertama kali ditemukan di New Jersey pada tahun 1916, serangga ini diduga masuk sebagai larva yang terbawa dalam pengiriman umbi iris impor sebelum peraturan ketat diberlakukan pada tahun 1912. Selama beberapa dekade berikutnya, mereka telah menyebar ke lebih dari tiga puluh negara bagian.

Sepanjang siklus hidupnya yang berlangsung selama satu tahun, hama ini menjadi ancaman di berbagai fase. Setelah menetas, larva atau grub memakan akar rumput dan berpotensi merusak rumput halaman dari bawah tanah. Memasuki bulan Juli, mereka berubah menjadi kumbang dewasa dan mulai merusak daun dari lebih dari 300 spesies tanaman. Mereka memakan bagian daun di sekitar tulang daun hingga hanya menyisakan kerangka saja. Kumbang dewasa biasanya hidup selama kurang lebih 60 hari untuk makan, berkembang biak, dan bertelur. Dalam periode tersebut, seekor betina dapat menghasilkan hingga 60 butir telur.

Berbagai upaya dilakukan untuk membasmi hama ini, mulai dari penggunaan racun hingga perangkap kimia. Di habitat aslinya di Jepang, populasi mereka dikendalikan oleh predator alami seperti burung gagak, tikus tanah, kelabang, dan semut pada fase larva, serta burung, lalat perampok, dan tawon dari keluarga Scoliidae pada fase dewasa. Karena banyak dari predator ini juga ditemukan di wilayah tempat mereka menginvasi, alasan di balik ledakan populasi mereka di luar negeri masih menyisakan tanda tanya.
Kudzu

Tanaman merambat ini menjalar secara perlahan namun pasti, menutupi pepohonan, dinding, hingga kendaraan dan bangunan terbengkalai sampai semuanya tertutup rapat oleh lautan hijau.
Kudzu adalah sebutan untuk beberapa tanaman merambat dari genus Pueraria yang namanya diambil dari istilah Jepang untuk tanaman ini, yaitu kuzu. Kudzu pertama kali diperkenalkan ke Amerika Serikat pada tahun 1876 dalam acara Centennial Exposition di Philadelphia, disusul wilayah Tenggara pada tahun 1883. Pada paruh pertama abad ke-20, pertumbuhan tanaman yang sangat cepat ini sempat dianggap sebagai keunggulan, sehingga dimanfaatkan sebagai pakan ternak sekaligus tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. Baru pada tahun 1953 Departemen Pertanian Amerika Serikat mencabut kudzu dari daftar rekomendasi tanaman penutup, dan resmi menggolongkannya sebagai gulma pada tahun 1970 ketika penyebarannya sudah tak terkendali.

Tanaman ini mendapat julukan “tanaman merambat yang melahap wilayah Selatan,” dengan estimasi cakupan lahan mencapai lebih dari 3.000.000 hektar. Dalam kondisi ideal, kudzu dapat tumbuh hingga sepertiga meter dalam sehari. Pertumbuhan ini membuatnya mampu menutupi tanaman lain dan mengancam keanekaragaman hayati. Selain itu, tanaman ini sangat tangguh dan tahan terhadap herbisida. Membasminya secara manual tergolong sangat sulit karena harus mengangkat bagian mahkota tanaman serta membuang dan membakar seluruh batangnya agar tidak tumbuh kembali.

Berbagai jenis serangga dan jamur kini sedang diuji untuk mengendalikan kudzu. Patogen jamur myrothecium verrucaria menunjukkan efektivitas yang tinggi, namun memiliki kelemahan berupa tingkat toksisitas yang tinggi bagi mamalia. Sejauh ini, metode yang paling efektif adalah mengerahkan kambing atau domba untuk merumput karena kawanan hewan ini mampu membersihkan lahan yang luas dalam waktu singkat.

Meskipun menjadi gulma yang merusak, kudzu memiliki beberapa kegunaan praktis. Batangnya dapat dianyam menjadi keranjang, seratnya diolah menjadi kertas atau kain, dan akarnya yang kaya pati dimanfaatkan di Jepang untuk membuat berbagai hidangan seperti kuzumochi, kuzumanju, kuzukiri, serta minuman hangat kuzuyu.
Japanese Knotweed

Satu lagi tanaman herbaceous asal Jepang kini menjadi masalah di berbagai wilayah di Amerika Serikat, Inggris, dan Selandia Baru. Serupa dengan kudzu, Japanese knotweed atau Fallopia japonica memiliki pertumbuhan yang sangat cepat serta sistem akar yang kuat sehingga mampu merusak jalan raya, fondasi beton, dan struktur bangunan lainnya.
Meskipun dinamai demikian, tanaman ini juga berasal dari China dan Korea. Di Jepang, tanaman ini lebih dikenal dengan nama itadori. Di Inggris, penyebaran Japanese knotweed menjadi sangat parah hingga beberapa bank dan lembaga pemberi pinjaman menolak pengajuan KPR apabila ditemukan tanaman ini di properti tersebut atau bahkan di properti tetangga.

Pengendalian Japanese knotweed tergolong sangat sulit karena pembasmiannya harus mencakup seluruh jaringan akar yang sangat besar. Akar tanaman ini dapat menembus tanah hingga kedalaman tiga meter, dan potongan akar yang sangat kecil saja sudah cukup untuk memicu pertumbuhan kembali. Berbagai metode telah dicoba, mulai dari penggunaan herbisida, penggalian akar, penutupan dengan lempengan beton, hingga penyuntikan uap ke dalam tanah, namun belum ada yang memberikan hasil 100 persen. Di Jepang, sejenis jamur bintik daun terbukti cukup ampuh melawan tanaman ini dan penelitian lanjutan sedang dilakukan di luar negeri.
Wakame

Makhluk berwarna hijau berlendir ini mungkin tampak tidak berbahaya saat mengapung di dalam mangkuk sup miso. Namun, alga yang dikenal sebagai wakame ini telah menyebar ke berbagai perairan dunia selama lebih dari tiga dekade.
Berasal dari kawasan pantai Jepang, Korea, dan China, wakame merupakan jenis rumput laut cokelat dengan nama ilmiah Undaria pinnatifida. Serupa dengan alga lainnya, wakame tidak memiliki akar sejati melainkan organ pelekat yang memungkinkannya menempel pada batu, kerang, tiang pancang, pelampung, serta rantai jangkar kapal. Kemampuannya bertahan hidup dalam rentang suhu dan tingkat salinitas yang beragam turut mendukung invasi spesies ini ke wilayah perairan baru.

Wakame diyakini menyebar ke berbagai wilayah baru melalui lambung kapal atau air balast. Begitu memasuki lingkungan baru, mereka berkembang biak dengan cepat melalui spora mikroskopis dan membentuk hutan rumput laut yang lebat, yang kemudian mengurangi intensitas cahaya dan memperlambat arus air di habitat tersebut.
Kehadiran wakame telah terdeteksi di Australia, Selandia Baru, Italia, Meksiko, Argentina, serta beberapa negara Eropa setelah diperkenalkan di Prancis pada tahun 1983. Di pesisir barat Amerika Serikat, khususnya Teluk San Francisco, tanaman ini menjadi perhatian para ilmuwan seperti Dr. Chela Zabin dari Smithsonian Environmental Research Center, yang menyadari potensi ancaman ekologisnya sejak pertama kali ditemukan di sana pada tahun 2000.
Tsunami Invaders

Dampak bencana tsunami di Jepang pada tahun 2011 tidak hanya dirasakan di wilayah setempat, tetapi juga menjangkau pesisir barat Amerika Utara melalui arus laut yang membawa berbagai serpihan puing serta spesies laut asing lintas Samudra Pasifik.
Selain wakame, arus tersebut turut membawa organisme lain seperti bintang laut Pasifik Utara, kepiting pantai Asia, kerang biru Mediterania, dan berbagai spesies invasif lainnya. Puing-puing sisa tsunami diperkirakan masih akan terus terdampar di daratan Amerika Utara selama bertahun-tahun. Otoritas setempat mengandalkan laporan dari masyarakat pesisir untuk memantau kedatangan material asing tersebut, sehingga kewaspadaan terhadap potensi kemunculan spesies invasif baru tetap harus dijaga.







