Mengenal Konsep Neraka dalam Tradisi Jepang
Jika seseorang menyuruh Anda pergi ke neraka, memesan tiket penerbangan ke Jepang mungkin bukan ide yang buruk. Pasalnya, ada banyak sekali versi neraka yang bisa Anda temukan di sana. Perpaduan antara tradisi keagamaan, cerita rakyat, dan aktivitas vulkanik alami di Jepang telah melahirkan berbagai gambaran akhirat yang memesona sekaligus mengerikan. Mari kita jelajahi jika Anda memiliki cukup keberanian.
Neraka Shinto

Mari kita mulai penjelajahan ini dari dunia bawah tanah dalam agama asli Jepang, Shinto. Yomi-no-Kuni adalah alam baka Shinto seperti yang dikisahkan dalam Kojiki, kronik tertua di Jepang yang menjadi sumber berbagai keyakinan Shinto lintas generasi. Tempat ini terkadang hanya disebut sebagai Yomi, sebuah wilayah kematian yang lebih mirip dengan konsep akhirat Yunani atau Romawi kuno daripada neraka Kristen atau Buddha.
Neraka versi Shinto sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Tidak ada api atau siksaan di sana. Yomi digambarkan sebagai daratan orang mati yang diselimuti bayangan di bawah permukaan bumi, membentuk bagian dari trilogi alam semesta dalam mitologi Shinto, di samping Takamahara di langit dan Ashihara-no-Nakatsukuni di bumi. Penguasa Yomi-no-Kuni adalah Izanami, salah satu dewa pencipta dalam mitologi Jepang.
Kisah paling terkenal mengenai Yomi melibatkan Izanagi, dewa pencipta yang berusaha menyelamatkan Izanami setelah kematiannya. Sesampainya di sana, Izanami memperingatkan Izanagi agar tidak melihat wujudnya karena ia telah memakan makanan dunia bawah. Namun, karena penasaran, Izanagi melanggar janji tersebut dan menyalakan obor kecil. Ia terkejut mendapati tubuh Izanami yang sudah membusuk dan dipenuhi belatung. Merasa ngeri, ia langsung melarikan diri.
Izanami yang murka karena janji suaminya diingkari lantas mengirimkan para hantu wanita dunia bawah dan dewa petir untuk mengejar Izanagi. Beruntung, Izanagi berhasil lolos dan menutup rapat pintu masuk Yomi-no-Kuni menggunakan batu raksasa. Dari balik batu tersebut, Izanami bersumpah akan mencabut nyawa seribu orang setiap hari, yang dibalas oleh Izanagi dengan janji akan menghadirkan seribu lima ratus kehidupan baru setiap harinya. Sejak saat itu, Shinto menganggap segala hal yang berkaitan dengan kematian sebagai sesuatu yang najis dan tidak suci.
Neraka Buddha

Berbeda dengan Shinto, Jigoku atau neraka Buddha jauh lebih menyeramkan dengan kehadiran para demon, kobaran api, dan berbagai bentuk hukuman fisik. Di Jepang, terdapat berbagai aliran Buddha yang mengajarkan bahwa perbuatan seseorang selama hidup akan menentukan bentuk reinkarnasi mereka. Jika hidup dalam kebajikan, seseorang akan terlahir kembali di alam yang lebih baik hingga mencapai Nirwana. Sebaliknya, perilaku buruk akan membawa mereka jatuh ke dalam Jigoku.
Gambaran mengenai neraka Buddha dapat disaksikan melalui gulungan lukisan kuno abad ke-12 yang dikenal sebagai jigoku-zōshi. Gulungan ini mendokumentasikan delapan neraka utama beserta enam belas neraka pendukung dengan berbagai siksaan yang spesifik. Mulai dari Neraka Awan Pasir Hitam, Kuali Perunggu, hingga Neraka Ayam Jantan Berapi, setiap nama menyiratkan bentuk hukuman yang harus ditanggung oleh para pendosa.
- Toukatsu Jigoku – Neraka Kebangkitan
- Kokujou Jigoku – Neraka Tali Hitam
- Shugou Jigoku – Neraka Penghancuran
- Kyoukan Jigoku – Neraka Jeritan
- Dai-kyoukan Jigoku – Neraka Jeritan Dahsyat
- Jounetsu Jigoku – Neraka Pembakaran
- Dai-jounetsu Jigoku – Neraka Pembakaran Dahsyat
- Mugen Jigoku – Neraka Penderitaan Tanpa Akhir
Setiap tingkat neraka disesuaikan dengan jenis pelanggaran yang dilakukan semasa hidup, mulai dari membunuh makhluk hidup hingga perbuatan tercela lainnya.
Birokrasi Neraka

Sistem pengadilan di alam baka Buddha ternyata diatur dengan sangat terstruktur. Raja Enma memimpin para penguasa neraka lainnya untuk mengadili jiwa-jiwa yang baru datang. Pengadilan ini tidak bersifat abadi; arwah yang masuk ke Jigoku masih memiliki kesempatan untuk kembali ke siklus reinkarnasi melalui serangkaian persidangan yang diadakan pada interval waktu tertentu setelah kematian, mulai dari seratus hari hingga puluhan tahun kemudian, yang juga dibantu oleh doa dari sanak saudara yang masih hidup.

Sementara para raja sibuk di ruang pengadilan, tugas penyiksaan dijalankan oleh makhluk berbernama Oni. Sering diterjemahkan sebagai demon atau ogre, oni digambarkan bertanduk, berambut liar, serta membawa gada berduri. Meskipun bertugas menyiksa para pendosa di neraka, citra oni dalam budaya populer Jepang cukup beragam dan sering muncul dalam cerita rakyat ramah anak maupun perayaan tradisional seperti Setsubun, di mana orang-orang melempar kacang kedelai untuk mengusir nasib buruk.
Neraka di Dunia Nyata

Bagi Anda yang ingin menyaksikan wujud “neraka” secara langsung, Jepang menawarkan beberapa destinasi wisata vulkanik yang dijuluki sebagai neraka atau jigoku karena lanskap uap panas dan air mendidihnya.
Beppu
Terletak di Prefektur Oita, Kyushu, Beppu terkenal dengan mata air panas vulkaniknya yang menghasilkan pemandangan lumpur mendidih dan uap mengepul. Tempat ini dulunya sering direkomendasikan sebagai lokasi refleksi diri bagi para peziarah untuk merenungkan perbuatan hidup mereka.
Noboribetsu
Berlokasi di Hokkaido, Noboribetsu memiliki kawasan bernama Jigokudani atau Lembah Neraka. Tempat ini dipenuhi lanskap bebatuan belerang dengan aroma khas yang menyengat. Selain menikmati resor pemandangan air panas, pengunjung dapat menjumpai berbagai patung oni yang tersebar di penjuru kota serta festival musim panas unik yang merayakan tema dunia bawah.
Kurume
Di kota Kurume, Prefektur Fukuoka, terdapat sebuah kuil yang menawarkan pengalaman unik berupa replika neraka animatronic di bagian bawah tanahnya. Melalui model bergerak, pengunjung diperlihatkan berbagai adegan penyiksaan pendosa sesuai dengan ajaran Buddha sebagai bentuk peringatan moral.
Yomotsu Hirasaka
Jika Anda tertarik dengan mitologi Shinto, lokasi gerbang legendaris Yomi-no-Kuni dapat dikunjungi di Prefektur Shimane. Meskipun jalan masuknya telah ditutup oleh batu raksasa menurut kisah mitologi, area sekitar situs ini tetap menghadirkan nuansa kuno yang kental dengan sejarah para dewa.







