Makanan selalu menjadi media terbaik untuk memperkenalkan kebudayaan, namun terkadang proses adaptasinya tidak selalu berjalan mulus. Serupa dengan karya seni, setiap budaya memiliki standar dan preferensi tersendiri. Apa yang dianggap lezat oleh suatu masyarakat bisa jadi terasa kurang menarik bagi masyarakat lainnya. Ditambah dengan faktor ketersediaan bahan baku yang dipengaruhi musim, harga, serta perbedaan teknik pengolahan, kuliner pun dapat mengalami pergeseran makna ketika melintasi batas negara.
Jepang sering kali dianggap memiliki hidangan yang tidak biasa, padahal kuliner tersebut sebenarnya hanyalah bentuk interpretasi ulang yang disesuaikan dengan selera lokal. Kita kerap masih bisa mengenali esensi dari hidangan aslinya. Melalui penelusuran asal-usul ini, kita juga bisa memahami bagaimana makanan khas luar negeri yang kita konsumsi sehari-hari sering kali telah dimodifikasi demi menyesuaikan dengan lidah masyarakat setempat.
1. Pizza

Saat pertama kali berkunjung ke Jepang, rekan-rekan keluarga di sana berniat menyambut saya dengan menyajikan makanan “Amerika” agar perut saya bisa beradaptasi dengan perbedaan zona waktu dan cuaca. Hidangan yang tersaji ternyata adalah pizza dengan topping mayones, jagung, dan sosis. Bahan-bahan tersebut belum pernah saya temukan sebelumnya pada sepotong pizza di Amerika Serikat. Alih-alih langsung melayangkan protes, saya teringat pada sushi gaya California dan bagaimana seorang teman Jepang pernah mengeluhkan tentang makanan Jepang yang sudah dimodifikasi di luar negeri. Saya pun memilih untuk menerima perbedaan tersebut dan mencicipinya.
Pizza menjadi titik awal yang menarik karena hidangan ini bersifat universal sekaligus unik. Tidak banyak yang tahu bahwa ada standar resmi mengenai apa yang bisa disebut sebagai Neapolitan pizza yang autentik. Peraturan ketat ini bahkan mengatur asal daerah bahan-bahan bakunya. Hal ini tentu membuat warga Amerika sendiri sulit untuk mengatakan apakah mereka pernah mencicipi pizza yang benar-benar asli.
Seorang pengamat kuliner menyebut bahwa pizza pada dasarnya adalah makanan rakyat yang awalnya hanya terdiri dari adonan roti, keju, dan bahan apa pun yang tersedia di sekitar. Uniknya, tomat yang menjadi komponen utama pizza sebenarnya berasal dari Benua Amerika. Jadi, meski lahir di Italia, bentuk pizza yang kita kenal saat ini adalah hasil modernisasi. Oleh karena itu, tidak perlu heran jika masyarakat Jepang menggunakan berbagai topping non-tradisional seperti udang, tuna kaleng, alpukat, rumput laut, hingga tinta cumi pada pizza mereka.
Perbedaan antara gaya pizza Italia modern dan pizza Amerika—yang juga mencakup sebagian besar pizza di Jepang—terletak pada ketebalan adonannya yang dipanggang dengan kayu, penggunaan saus tomat yang lebih sedikit namun segar, keju yang lebih ringan, serta pilihan topping daging yang terbatas. Di Italia, pepperoni bukanlah sejenis daging, melainkan istilah untuk paprika.
Dalam konteks ini, baik pizza gaya Jepang maupun Amerika sebenarnya sama-sama unik sekaligus wajar. Unik karena warga Italia mungkin akan terkejut melihat jagung menjadi topping pizza terfavorit di Jepang. Namun, semangat dasar pembuatan pizza untuk memanfaatkan bahan-bahan lokal yang lezat tetap dipertahankan.
2. Keju

Foto di atas menggambarkan jenis keju yang paling sering ditemui di Jepang di luar toko-toko impor: keju olahan dalam kemasan plastik tanpa nama spesifik. Sebagian besar orang di sana akan mendeskripsikannya sebagai keju berasa “ringan” ketika ditanya jenisnya, yang kurang lebih berarti tidak memiliki rasa yang kuat.
Sebagai keju olahan, produk ini mirip dengan apa yang disebut sebagai keju Amerika. Proses pasteurisasi susu yang digunakan bertujuan untuk mencegah bakteri berbahaya, namun hal tersebut turut mengubah cita rasa keju itu sendiri.
Jepang memiliki sejarah yang cukup panjang dengan keju, meskipun sempat terhenti akibat pengaruh Buddhisme yang melarang konsumsi hewan berkaki empat hingga tahun 1867. Sebelum era tersebut, sapi lebih banyak difungsikan sebagai hewan pekerja. Meskipun baru benar-benar populer pada zaman Meiji, catatan sejarah menunjukkan bahwa keju sebenarnya sudah masuk ke Jepang dari China sekitar tahun 700 Masehi. Wajar jika keju yang populer di Jepang saat ini umumnya adalah jenis keju olahan yang bertekstur lembut.
3. Mexican Food

Hidangan satu ini sudah cukup dikenal luas, yaitu takoraisu atau taco rice. Ini adalah kuliner bernuansa Meksiko yang lahir di Okinawa dan sangat digemari oleh pendatang asing. Saus salsa yang digunakan biasanya terasa manis menyerupai saus tomat, tidak selalu menggunakan keju, dan terkadang mengganti selada dengan kol. Sebagian besar taco yang dikenal di Amerika Serikat sebenarnya merupakan hidangan Tex-Mex, yang kemudian diadaptasi kembali di Jepang. Dua petunjuk utamanya dapat dilihat dari penggunaan jintan dan daging sapi dalam resep taco rice.
Para juru masak asal Meksiko kerap menyatakan bahwa hidangan tradisional Meksiko umumnya tidak menggunakan daging sapi atau jintan. Daging yang biasa dikonsumsi masyarakat Meksiko adalah ayam dan babi. Sementara itu, jintan merupakan rempah yang relatif baru dalam tradisi kuliner Meksiko karena dibawa dari India melalui Amerika Serikat atau Inggris.
Hal ini menjelaskan mengapa hidangan bertema Meksiko di Jepang terasa sangat berbeda dibandingkan hidangan Meksiko autentik. Selain itu, karena masyarakat Jepang tidak terlalu menyukai makanan pedas, tingkat kepedasan pada hidangan ini disesuaikan dengan selera lokal.
4. Corn Dogs

Di Jepang, camilan ini dikenal dengan sebutan “American dog”. Jajanan ini sebenarnya diciptakan oleh para imigran Jerman di Texas yang ingin menjual lebih banyak sosis. Resep aslinya menggunakan tepung jagung, meskipun kini masyarakat Jepang justru menggunakan tepung terigu untuk membuat American dog versi lokal mereka.
5. Sausage

Masyarakat Jepang pada umumnya lebih menyukai cita rasa yang tidak terlalu tajam atau pedas. Sosis pertama yang saya coba di Jepang memiliki karakteristik rasa yang lebih mirip dengan hot dog ketimbang sosis tradisional Eropa. Hot dog sendiri merupakan jenis sosis dengan bumbu ringan yang terbuat dari daging cincang halus dan biasanya dijual dalam kondisi yang sudah matang.
6. Bacon

Definisi bacon dapat berbeda di setiap negara, namun secara umum bahan ini berasal dari daging babi yang diawetkan melalui proses penggaraman dan pengasapan. Di Amerika Serikat, bacon umumnya diambil dari bagian perut babi, sementara bacon Kanada menggunakan bagian punggung.
Bacon di Jepang sering kali membuat bingung pendatang asing karena produk yang dijual sudah melalui proses pemasakan matang sehingga bisa langsung dikonsumsi dari kemasannya. Karakteristik ini membuat rasanya lebih mendekati produk ham olahan ketimbang bacon mentah yang biasa dimasak sendiri oleh warga Amerika.
7. Curry

Kari merupakan hidangan pokok di India selama ribuan tahun yang secara tradisional diracik menggunakan jahe, kunyit, dan bawang putih. Versi kari di Jepang memiliki perbedaan yang cukup signifikan karena diperkenalkan oleh bangsa Inggris. Menariknya lagi, kari ala Jepang menggunakan teknik pembuatan roux yang diadopsi dari tradisi kuliner Prancis.
Kari India menggunakan ragam rempah yang lebih kompleks dan cenderung lebih ramah bagi vegetarian dibandingkan kari Jepang. Dari segi bahan tambahan, kari Jepang sering kali memadukan buah-buahan, kecap Worcestershire, serta mi udon, yang menghasilkan profil rasa lebih manis.
8. Char siu

Char siu adalah metode memasak daging babi khas Kanton yang menghasilkan cita rasa gurih, sedikit manis, dan beraroma asap. Di Jepang, hidangan ini diadaptasi menjadi chashu. Alih-alih dipanggang di atas api terbuka, daging babi bagian pinggang digulung lalu direbus perlahan dengan bumbu tanpa menggunakan campuran bumbu ngohiong dan gula merah seperti versi aslinya.
9. Cheesecake

Kue keju atau cheesecake di Jepang memiliki karakteristik yang jauh berbeda dari sajian serupa di Amerika Serikat yang dikenal padat dan kaya rasa. Versi Jepang umumnya dibuat lebih ringan menggunakan tambahan gelatin, yogurt, atau susu.
Varian yang paling unik adalah Japanese souffle cheesecake. Kue ini mengombinasikan krim keju dengan tambahan krim asam, yogurt, serta tepung kue untuk menciptakan tekstur yang sangat ringan dan lembut, jauh dari kesan kue keju tradisional Amerika yang padat.
10. Western Breakfast

Pancake dan waffle di Jepang umumnya disajikan sebagai hidangan penutup yang manis, lengkap dengan buah dan krim kocok, alih-alih disandingkan dengan sirup maple, mentega, dan bacon seperti menu sarapan ala Barat. Meski demikian, beberapa tempat kini mulai bereksperimen dengan menyajikan pancake gurih bertema kari atau tomat.
Sementara itu, wafel di Jepang memiliki tekstur yang lebih lembut dan mirip kue, menyerupai jenis wafel Liège asal Belgia yang padat dan kaya rasa, alih-alih wafel gaya Amerika yang tipis.
Bon Appétit

Itulah sepuluh jenis makanan dari berbagai penjuru dunia yang telah mengalami penyesuaian budaya di Jepang. Semoga hal ini dapat memberi sudut pandang baru saat Anda menikmati hidangan lintas budaya di masa mendatang!








