Saya pindah ke Jepang tanpa memiliki kemampuan menyetir sama sekali. Saya awalnya mengira akan hidup dikelilingi oleh sistem kereta yang luar biasa canggih. Kenyataannya, saya justru menetap di Hokkaido, sebuah wilayah di mana perjalanan kereta sering kali terganggu akibat tumpukan salju atau kemunculan rusa. Setelah bertahan selama dua tahun tanpa kendaraan pribadi, saya akhirnya harus mengakui bahwa memiliki kemampuan mengemudi adalah sebuah keharusan agar bisa bertahan hidup di daerah pedesaan Jepang.
Memahami Esensi Semangat Keselamatan Berkendara

Dalam beberapa hal, proses pendaftaran di sekolah mengemudi menjadi tantangan terberat. Ini adalah tempat kursus di kota kecil yang belum pernah menerima murid asing sebelumnya, dan tidak ada satupun staf yang menguasai bahasa Inggris selain kata “car”. Pimpinan sekolah yang tampak sangat tegas harus memberikan izin terlebih dahulu. Ia berbicara dalam bahasa Jepang dialek orang tua yang cukup sulit saya pahami. Pada pertemuan perdana, ia menyatakan bahwa proses ini akan sangat sulit, yang sebenarnya merupakan cara halus untuk mengatakan “tidak”. Saya memilih mengabaikannya sambil tersimpulkan dan menjawab “Ganbarimasu” (saya akan berusaha sebaik mungkin) secara berulang-ulang.
Namun, ada satu kekhawatirannya yang membuat saya sadar bahwa sekolah mengemudi di Jepang akan sangat berbeda jauh dengan pengalaman di negara asal saya, Inggris.
“Saya khawatir Anda tidak akan mampu memahami esensi dari semangat keselamatan berkendara,” ujar sang kepala sekolah.
Saya sempat bingung harus merespons apa. Esensi semangat keselamatan berkendara? Hal puitis seperti itu jelas tidak pernah ada dalam silabus kursus mengemudi di Inggris.
Saya akhirnya diterima setelah tiga kali kunjungan untuk membuktikan keseriusan saya. Tugas nyata pertama saya tidak berjalan mulus. Saya harus mengisi kuesioner untuk menentukan profil pengemudi seperti apa saya nantinya. Saya diminta menggambar puluhan lingkaran dan menghitung garis, dilanjutkan dengan 50 pertanyaan psikologis (seperti apakah saya mudah terdistraksi atau sering merasakan amarah yang besar) dengan skala penilaian ‘Ya’, ‘Kadang-kadang’, dan ‘Tidak’. Tunangan saya, yang kemampuan bahasa Jepangnya jauh lebih baik, turut mendampingi dan membantu menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Apakah Anda bisa mengenali dari arah mana suara berasal?” tanya kuesioner itu.
“Ya,” jawab saya dengan penuh percaya diri.
Instruktur yang mengawasi ujian tersebut menatap saya dengan terkejut. “Benarkah?”
“Ya, saya yakin,” balas saya.
“Tunggu sebentar,” kata tunangan saya sambil membaca ulang pertanyaan tersebut. “Di sini tertulis, ‘Apakah Anda mendengar suara-suara dari ketiadaan? Maaf.”
“Ah! Tidak, tidak, tidak!” saya langsung panik mencoba menjelaskan bahwa kondisi mental saya baik-baik saja.
Saya meninggalkan sekolah mengemudi dengan perasaan sedih. Mungkin sang kepala sekolah memang benar sejak awal, dan saya tidak akan pernah bisa belajar menyetir di Jepang. Namun, saya sudah membayar lunas biayanya dan uang tersebut tidak dapat dikembalikan. Biaya kursus mengemudi di Jepang tergolong mahal, yakni sedikit di bawah 300.000 Yen atau sekitar 3.000 dolar AS.
Akhirnya Turun ke Jalan Raya

Saya dipasangkan dengan seorang instruktur yang terkenal sangat ekspresif dalam menggunakan gestur tubuh. Para instruktur lain bahkan sering menirukan gaya bicaranya. Memang benar gerakan tubuhnya sangat berlebihan, tetapi itu justru sangat membantu saya. Meskipun saya belum mengerti arti istilah “makikomikakunin”, saya bisa menangkap maksudnya ketika sang instruktur memutar seluruh tubuhnya dan menunjuk dari matanya ke arah jendela kiri belakang. Setelah awal yang cukup menegangkan, sesi pelajaran berkendara selanjutnya berjalan jauh lebih lancar. Para instruktur di sana terbukti sangat ramah dan sabar.
Selama dua bulan pertama, saya menghabiskan waktu berkendara di sirkuit latihan khusus menggunakan mobil taksi tua yang telah dimodifikasi. Lintasan tersebut dilengkapi lampu lalu lintas, tanjakan, pelintasan kereta api, dinding logam besar untuk mensimulasikan gundukan salju tebal saat musim dingin di Hokkaido, serta serangkaian tikungan tajam yang disebut “The Crank”. Saya mengelilingi sirkuit itu secara berulang-ulang selama berminggu-minggu, mempraktikkan berbagai teknik manuver yang nantinya akan diujikan.
Tidak ada unsur spontanitas dalam ujian tersebut. Saya telah berlatih berkali-kali dan menghafal seluruh rute yang harus dilalui. Kegagalan dalam ujian ini memang tetap ada, namun peluang untuk lulus sangat besar. Sistemnya persis seperti ujian sekolah di mana guru memberikan daftar pertanyaan yang sama persis dengan yang telah dipelajari di kelas. Saya tidak dituntut untuk menggunakan penilaian atau inisiatif sendiri, karena keputusan itu sudah ditetapkan sebelumnya. Tugas saya hanyalah mengikuti prosedur yang ada.
Pendekatan ini terasa cukup kontras jika dibandingkan dengan sistem pendidikan di Inggris, namun saya segera bisa memahami sudut pandang para siswa. Suasananya terasa lebih santai karena saya tidak perlu berpikir terlalu rumit, melainkan hanya mengulang tindakan yang telah diajarkan.
Tahap ini merupakan ujian pertama yang memberikan saya izin untuk berlatih di jalan raya umum. Sirkuit latihan tertutup ini sebenarnya adalah sistem yang sangat ideal, karena memungkinkan saya menguasai kendali kendaraan tanpa harus merasa cemas menghadapi lalu lintas sungguhan.
Setelah lulus dari ujian sirkuit, saya mendapatkan izin untuk berkendara di jalan raya. Dokumen izin tersebut harus saya ambil setiap kali hendak berlatih di sekolah mengemudi. Akibat aturan ini, saya tidak diizinkan berlatih bersama teman di luar jam sekolah, meskipun secara hukum hal tersebut sebenarnya diperbolehkan. Tanpa dokumen resmi dari sekolah, jam latihan saya terbatas hanya pada jadwal yang disediakan lembaga kursus. Kebijakan ini sudah menjadi standar di seluruh sekolah mengemudi di Jepang, jadi jangan berharap bisa menambah jam terbang secara mandiri di luar jadwal kursus.
Latihan di jalan raya pada dasarnya mengulang sistem yang sama seperti di sirkuit, hanya saja ditambah dengan tantangan nyata berupa kehadiran pengemudi lain. Siapa pun yang pernah mengemudi di Jepang, khususnya di Hokkaido, pasti paham bahwa pengendara lain bukanlah faktor sepele. Saya dengan cepat belajar untuk tidak meniru gaya berkendara orang lain agar tidak mendapat teguran dari instruktur. Saya terus mengulang rute dan berbagai manuver yang pada akhirnya akan diujikan kembali dengan metode yang serupa seperti di tempat latihan.
Balap Liar Gaya Era 80-an

Selain praktik lapangan, terdapat pula sesi kelas teori. Ruang kelas mengemudi tersebut menyerupai ruang kelas sekolah pada umumnya, lengkap dengan papan tulis hijau, deretan meja dan kursi yang berjarak, serta sebuah podium. Di sudut ruangan, terdapat sebuah boneka menyeramkan yang diikat pada kursi anak. Terkadang kelas diisi oleh beberapa peserta lain, namun ada kalanya saya belajar seorang diri. Modul pelajaran ini bisa diambil secara bebas tanpa harus berurutan.
Setiap sesi selalu mengikuti format yang sama. Kami diwajibkan menonton sebuah video—yang paling berkesan adalah film jadul bertema penyesalan balap liar dari era 1980-an yang diputar menggunakan kaset VHS karena belum pernah diperbarui. Setelah itu, instruktur mengulas materi yang sama dari buku teks selama 15 menit terakhir. Saya memiliki tiga buku panduan; dua di antaranya berbahasa Jepang, sementara satu buku lainnya merupakan edisi dwibahasa yang menyajikan materi dalam bahasa Jepang di satu sisi halaman dan bahasa Inggris di sisi sebaliknya. Tanpa buku dwibahasa tersebut, saya pasti akan kewalahan. Saya menandai hampir seluruh halaman buku itu dengan stabilo.
Terdapat dua jenis ujian pilihan ganda dengan jawaban benar atau salah, yakni ujian untuk mendapatkan izin jalan raya dan ujian akhir untuk surat izin mengemudi penuh. Saya mendapati bahwa strategi terbaik untuk menjawab soal-soal tersebut adalah dengan mengingat perilaku pengendara yang biasa saya saksikan di jalanan kota, lalu menuliskan jawaban yang merupakan kebalikan persis dari tindakan mereka. Saya sempat terkejut mengetahui bahwa banyak kebiasaan berkendara yang lazim saya lihat—seperti memarkir kendaraan dekat persimpangan atau membiarkan mesin menyala saat parkir—ternyata merupakan pelanggaran. Ada pula satu pertanyaan unik yang hanya bisa ditemukan di Jepang, yaitu apakah pengemudi diperbolehkan mengenakan geta (sandal kayu tradisional Jepang) saat mengemudi dengan pilihan benar atau salah.1
Menjadi Manekin Uji Tabrak

Ada pula beberapa sesi pelajaran yang menyimpang dari pola biasa. Semua calon pengemudi di Jepang diwajibkan mengikuti kursus pertolongan pertama. Secara teori, ini adalah gagasan yang sangat bagus. Namun, setelah menyaksikan performa peserta lain yang tampak kurang bersemangat dan tidak dikoreksi saat melakukan teknik CPR pada manekin latihan, saya merasa kurang begitu yakin dengan efektivitasnya.
Pelajaran tidak biasa lainnya bertujuan untuk menunjukkan bahaya mengabaikan sabuk pengaman. Tiga siswa lainnya bersama saya dibawa ke sebuah bangunan mirip gudang di bagian belakang kompleks sekolah mengemudi. Di sana, kami diminta naik ke sebuah mobil yang diangkat menggunakan dongkrak hidrolik, lalu dilepas meluncur di jalur pendek hingga menabrak pembatas. Wahana tersebut merupakan roller-coaster paling singkat dan paling tidak menyenangkan di dunia. Benturan saat kendaraan melaju dengan kecepatan sekitar 7 km/jam terasa cukup menyakitkan, meskipun kami sudah mengenakan sabuk pengaman. Sebagai tugas akhir dari sesi ini, kami harus menulis esai mengenai pengalaman tersebut.
Gaya Pendidikan Jepang yang Mendukung Siswa
Terlepas dari penulisan esai tadi, saya sempat menduga bahwa instruktur akan sering melemparkan pertanyaan atau menguji pemahaman kami. Kenyataannya, seluruh materi teoretis disampaikan secara satu arah. Instruktur memberikan penjelasan, dan kami mendengarkan. Siapa pun yang pernah merasakan atmosfer ruang kelas sekolah menengah di Jepang pasti sangat akrab dengan sistem ini.
Di satu sisi, metode ini terasa cukup santai karena saya tidak perlu khawatir membuat kesalahan akibat kemampuan bahasa Jepang saya yang terbatas. Namun, di sisi lain, hal ini terasa cukup menjenuhkan secara intelektual. Sangat mudah terjebak dalam kebiasaan tidak menyimak, sebab materi yang terlewat nantinya pasti akan diulang kembali atau bisa dipelajari secara mandiri. Saya melihat lebih dari satu siswa tertidur di kelas. Rajin atau tidaknya seseorang menyimak tidak memengaruhi hasil akhir; Anda tetap akan mendapatkan stempel kehadiran pada lembar catatan waktu belajar.
Menyadari hal ini, saya akhirnya mengerti mengapa para pelajar yang tumbuh dengan sistem pendidikan seperti ini terkadang sulit termotivasi. Apa gunanya mencurahkan perhatian penuh jika hasil akhirnya tetap sama? Metode yang sama yang sempat membuat saya frustrasi di kelas sekolah Jepang justru memberikan keuntungan selama masa kursus mengemudi, memungkinkan saya menutupi momen-momen ketika saya tidak memahami materi. Selama saya bisa lulus ujian akhir, proses di tengah jalan tidak menjadi masalah besar.
Apakah Semua Usaha Ini Sepadan?

Setelah melewati dua ujian praktik, puluhan kali simulasi ujian teori, dua ujian teori resmi (dalam bahasa Inggris), lima kali tes penglihatan (termasuk satu momen ketika saya begitu terkejut diminta menyebutkan warna hingga lupa kosakata bahasa Jepang dan Inggris untuk warna ‘merah’), serta kunjungan ke pusat pengujian untuk menempuh ujian teori akhir, SIM saya akhirnya terbit.
Kendati demikian, saya belum merasa memiliki pengalaman berkendara yang cukup pada saat itu. Butuh waktu berbulan-bulan berkendara di jalanan yang sepi serta membiasakan diri mengambil keputusan sendiri untuk membangun rasa percaya diri di jalan raya. Meskipun demikian, saya merasa bersyukur telah belajar menyetir di Jepang. Orang-orang sering membicarakan tentang keinginan mendapatkan pengalaman autentik di Jepang. Sekolah mengemudi di sini mungkin jauh dari kesan glamor, tetapi tempat ini menawarkan pengalaman yang benar-benar autentik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pada akhirnya, sang kepala sekolah yang tegas dengan bangga menyatakan bahwa saya telah memahami esensi dari semangat keselamatan berkendara—meskipun sampai sekarang saya masih belum sepenuhnya paham apa arti ungkapan tersebut secara tepat. Kini, saya merasa jauh lebih percaya diri menjalani berbagai aktivitas menggunakan bahasa Jepang, dan kebebasan yang diberikan oleh kendaraan pribadi benar-benar luar biasa.
Ingin Belajar Menyetir di Jepang?
Jika Anda telah memiliki surat izin mengemudi dari negara asal, Anda sangat beruntung! Jepang memiliki perjanjian pertukaran SIM dengan banyak negara, sehingga Anda dapat menukar SIM lama Anda dengan SIM Jepang tanpa banyak kerumitan (meskipun warga negara Amerika Serikat tetap harus mengikuti ujian singkat). Namun, jika Anda belum pernah berada di balik kemudi sama sekali seperti saya, jangan khawatir, belajar mengemudi di Jepang bukanlah hal yang mustahil!
Hal-hal yang Anda perlukan:
-
Kemampuan bahasa Jepang dasar: Meskipun tidak harus fasih, Anda memerlukan tingkat pemahaman yang memadai. Kosakata seputar berkendara akan cepat Anda kuasai seiring waktu. Tidak semua prefektur menyediakan ujian teori dalam bahasa Inggris. Jika Anda memiliki kepercayaan diri yang lebih baik dalam membaca aksara Jepang, Anda bahkan mungkin bisa lebih mudah lulus ujian berbahasa Jepang karena materi soal dapat dihafal sebelumnya.
-
Waktu: Menjalani kursus secara paruh waktu di malam hari dan akhir pekan memakan waktu sekitar empat bulan. Jika jadwal Anda lebih fleksibel, proses ini bisa diselesaikan dalam tiga bulan. Bagi yang memiliki waktu luang lebih, beberapa sekolah bahkan menyediakan program pelatihan intensif asrama selama dua minggu dari awal hingga selesai.
-
Biaya: Belajar mengemudi di Jepang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, berkisar antara 200.000 hingga 300.000 yen. Mengambil transmisi otomatis biasanya lebih murah daripada manual. Buku teks dan biaya ujian juga memerlukan tambahan dana, meski beberapa sekolah sudah memasukkannya ke dalam paket harga keseluruhan.
-
Kartu Penduduk / Residence Card
-
Stempel pribadi (inkan)
-
Kacamata jika Anda menggunakannya
-
Resep kacamata jika diperlukan
-
Kartu asuransi kesehatan
-
Formulir pendaftaran dari sekolah mengemudi
-
Kesabaran: Proses belajar mengemudi akan melibatkan berbagai prosedur birokrasi khas Jepang. Sangat disarankan untuk datang bersama teman yang fasih berbahasa Jepang pada kunjungan pertama guna mempermudah proses pendaftaran Anda.
-
Sebagai catatan akhir, jika Anda berasal dari negara yang memiliki perjanjian pertukaran SIM dengan Jepang, aturan tersebut biasanya berlaku timbal balik (pastikan untuk memeriksa ketentuan dari badan penerbit SIM di negara asal Anda). Dengan demikian, keterampilan mengemudi yang Anda peroleh di Jepang dapat dibawa pulang ke tanah air!
-
Jawaban: Salah – Anda tidak diperbolehkan mengemudi sambil mengenakan geta! ↩








